
Aberdeen Skotlandia, Kastil Weston
Jayde menceritakan bagaimana dirinya dan Sadawira bisa terlibat dengan Triad Wong ke Simon Weston. Pengusaha berlian itu mendengarkan dengan penuh perhatian pria muda di hadapannya yang sudah membuat hatinya suka. Bagi Simon, tidak ada pria yang pantas untuk Inggrid selain Jayde.
Simon Weston, billionaire berlian itu tidak mudah percaya dengan orang baru tapi saat Inggrid membawa Jayde saat awal masuk kuliah dan memperkenalkan ke pria paruh baya itu, hatinya mengatakan bahwa putra Taufan Abisatya dan Natasha Neville itu adalah pria yang baik.
Simon pun menyelidiki siapa Jayde Neville dan mengetahui latar belakangnya serta keluarga besarnya, membuat pria berdarah Skotlandia - Inggris dan Jerman itu langsung auto menerima Jayde. Bahkan Inggrid tidak canggung membawa sahabatnya di setiap acara keluarga Weston. Bahkan Jayde yang menjadi penengah saat Simon ribut dengan Inggrid.
Disaat Simon dan Inggrid mengalami perang dingin, Jayde yang menjadi tempat Simon bertanya tentang keadaan cucunya itu.
"Astagaaaa demi semua leluhur Weston! Jadi bermula dari anak buah kakakmu yang menjadi korban, Jayde?" Simon menggelengkan kepalanya. Dirinya mengakui bahwa dia juga sadis dalam berbisnis sebab jika kamu tidak bisa menjadi singa di dunia bisnis yang kejam, kamu tidak akan bisa bertahan bahkan memiliki nama disana. Tapi bisnis perdagangan organ tubuh manusia itu diluar nalar dirinya!
"Iya Grandpa. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya bang Luke saat datang ke kamar mayat dan melihat jenazah bang Shota yang ternyata sudah kosong isinya."
Simon menghela nafas panjang berulang. "Tapi kalian sudah menghabisi orang-orang yang bertanggungjawab kan?"
"Sudah Grandpa. Dan kami juga sudah membuat Hongkong kebakaran jenggot" kekeh Jayde.
"Lalu uangnya bagaimana? Yang kalian ambil?" Simon menatap Inggrid.
"Ini sudah kami berikan kepada anggota keluarga korban secara bertahap. Pihak akuntan independen dibantu dengan pihak pengadilan Hongkong yang diawasi dengan ketat sudah memberikan data lengkap. Dan Alhamdulillah sudah berjalan termasuk dengan korban warga negara asing yang meninggal di Hongkong menjadi korban kekejaman Triad Wong."
Simon mengangguk lalu memeluk Inggrid. "Yang penting kalian sudah selamat, bisa pulang dan berkumpul kembali dengan keluarga." Kakek Inggrid itu mencium pelipis cucunya. "Kapan kalian akan menikah?"
Jayde melongo. "Hah? Grandpa ... tapi..."
"Aku tahu kamu dan Inggrid masih harus menyamakan perbedaan-perbedaan kalian kan?" senyum Simon.
"Grandpa tidak apa-apa?" tanya Inggrid ke Simon.
"Sayang, selama yang kamu pelajari itu memang keyakinan ke Tuhan, meskipun dengan cara yang berbeda dengan kami, tidak masalah. Tapi kalau yang kamu pelajari berhubungan dengan satanic, Grandpa akan marah besar!" ucap Simon tegas. "Meskipun Jayde kadang macam vampir sih..."
Jayde terbahak. "Grandpa harusnya melihat sepupu aku si Wira. Dia jauuuuuhhhh lebih vampir dari saya!"
"Aku percaya akan hal itu. Kalian kapan akan menikah, kabari saja. Sesiapnya kalian karena menikah itu bukan hal yang bisa dibuat mainan." Simon menatap Jayde dan Inggrid bergantian.
"Macam Grandpa yang memilih tidak menikah lagi usai grandma meninggal?" tanya Inggrid.
"Yes. Apalagi Grandpa sangat mencintai Grandma mu. Dia tidak tergantikan. Sekarang Grandpa memilih menikmati hidup disini yang tenang, bosan jalan-jalan atau berkuda apalagi udara disini jatuh lebih segar dan suasananya tenang. Grandpa sudah banyak menghabiskan waktu itu bekerja dari remaja. Waktu tua adalah waktu untuk beristirahat, menikmati semuanya."
"Jika kami sudah siap menikah, kami akan mengabari Grandpa" jawab Jayde.
"Good. Ayo, kita makan siang. Aku sudah lapar!" ajak Simon sambil berdiri.
***
Jakarta Indonesia, Mansion Giandra
Sadawira melongo membaca email dari fakultas Medical Jurusan Forensik Maryland University yang meminta pria itu harus tiba di Amerika Minggu depan. Padahal dirinya Minggu depan sudah berencana untuk pergi ke Tokyo untuk menemui Chisato karena belum adanya pemberitahuan dari kampus yang ditujunya.
"Lha mendadak banget!" umpat Sadawira yang sedang berada di ruang tengah bersama dengan para opa dan Omanya.
"Ada apa Wira?" tanya Arum.
"Wira harus terbang ke Maryland, Oma."
"Kapan?" tanya Iwan.
"Minggu depan harus sudah datang untuk wawancara dan daftar ulang, Opa."
"Ya sudah, lusa kamu ke Maryland dan sekalian cari apartemen dekat kampus. Minta bantuan Nadira dan Pedro, Wira" ucap Bara. "Kamu sudah baikan?"
"Alhamdulillah sampun Opa. Padahal aku tidak mengharapkan secepat ini mendapatkan kabar karena masih ingin disini dan rencananya mau ke Tokyo Minggu depan."
"Wira, berangkat!" ucap Arum tegas. "Bukankah itu yang kamu mau?"
"Kamu berangkat lah!" suara Pandega Yustiono yang baru masuk ke dalam rumah usai praktek bersama Anjani membuat Sadawira menatap ayah dan ibunya sambil tersenyum.
"Soal Chisato, dia pasti paham kan kondisinya" ucap Anjani.
"Tapi... aku pasti tidak bisa datang ke acara pernikahan Mbak Mintang dan bang Raj."
"Tidak apa-apa. Mereka pasti paham kok. Lagian mereka kan menikah bulan depan, tepat saat kegiatan perkuliahan dimulai" senyum Bara. "Toh kami juga tidak ke Brussels daripada pulang-pulang malah teler."
Sadawira mengangguk. Dalam hatinya dia sangat senang akhirnya bisa keterima di kampus yang diidamkan. Oma Alexandra, aku pasti akan bisa lebiu dari Oma!
***
Kamar Sadawira
"Ah ... Omedetō ( selamat )! Akhirnya bisa masuk Maryland ya Mas Wira" ucap Chisato sambil bertepuk tangan saat Sadawira melakukan panggilan video.
"Tapi aku batal ke Tokyo Minggu depan soalnya harus ke Maryland lusa. Visa dan tiket sudah di tangan."
"Mas Wira nggak pakai pesawat pribadi?" tanya Chisato.
"Lha ngapain? Mending naik pesawat komersial, cuma aku doang kok!" jawab Sadawira yang menurut nya tidak praktis.
"Oh kirain. Terus disana ketemu sama mbak Nadira dan Bang Pedro?"
Chisato sekarang diwajibkan Sadawira dan Luke memanggil para generasi keenam seperti mereka memanggil tapi jika dalam lingkungan keluarga saja. Di pekerjaan, Chisato tetap memanggil Luke seperti biasa.
"Yup. Kata mbak Dira ada apartemen yang bagus dan dekat dengan kampus."
"Ganbatte kudasai ( selamat berjuang )!" senyum Chisato.
"Domo Arigato Anata ( terimakasih Sayang - Jepang )" senyum Sadawira membuat wajah Chisato memerah.
Chisato Kuchiki yang dipanggil sayang
Vampir yang jadi Uwu-uwu
***
Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta
Sadawira menunggu di ruang tunggu sambil membalas chat para sepupunya terutama yang tinggal di New York karena mereka excited pria vampir itu hendak datang ke Amerika Serikat.
Ketika pria itu sedang duduk manis menunggu panggilan masuk pesawat, matanya melirik dari layar ponselnya ke arah dua orang bule yang duduk tidak jauh darinya. Sadawira melihat keduanya tampak mengawasi dirinya dengan tidak kentara tapi sebagai anggota keluarga Pratomo yang terbiasa berlatih bela diri, Sadawira tahu mereka bukan orang sembarangan.
Sadawira memasukkan ponselnya ke dalam tasnya lalu menghampiri dua orang itu.
"Hei kalian berdua! Kalian itu FBI, CIA atau NSA?" tanya Sadawira dingin membuat kedua orang itu terkejut.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️