
Kamar Sadawira di mansion Giandra Jakarta
Sadawira memilih untuk tiduran di tempat tidur dan Anjani mengelus kepala putranya seperti saat dia masih kecil.
"Mom..."
"Ya Wira?" Anjani tersenyum melihat wajah putranya. Mau anaknya sudah dewasa pun, tetap saja dimata Anjani, Sadawira masih saja seperti anak kecil. Sadawira hanya manja kepadanya tapi jika berdua saja, di depan publik putranya langsung bersikap cool dan dingin.
"Wira sudah punya pacar..."
Anjani terkejut. "Siapa gadis itu nak?"
"Namanya Chisato Kuchiki. Asistennya Bang Lukie."
"Gadis Jepang?" tanya Anjani memastikan lagi.
"Iya. Sudah yatim piatu dan waktu kecil diangkat menjadi bagian Yakuza Takara."
"Apa dia yakin mau sama kamu?" tanya Anjani dengan nada skeptis.
"Apa maksud mommy?" Sadawira menatap ibunya bingung.
"Secara, kamu kan mirip vampir, dingin, saingan dengan salju gunung Fuji... Yakin dia bakalan tabah sama kamu" kekeh Anjani yang diam-diam senang putranya bisa membuka diri dengan seorang gadis.
"Chisato sama dinginnya kalau bekerja mommy jadi kami bisa tahu lah..." jawab Sadawira sambil cemberut.
"Owalah, 11-12 rupanya..." Anjani tersenyum. "Tapi Wira, kamu kan mau ke Maryland buat ambil forensik. Tidak apa Chisato kamu tinggal di Tokyo?"
"Chisato sudah tahu kok mom."
"Kapan kamu kenalkan ke kami, Wira. Mommy tahu kalian baru jadian tapi boleh kan kami tahu siapa gadis yang membuat kamu sedikit menjadi manusia?" goda Anjani.
"Moooommmm..." rengek Sadawira membuat Anjani tertawa.
"Ya ampun anak Lanang... Kamu istirahat ya Wira. Kalau kamu butuh healing, bilang sama mommy dan Daddy."
"Yang penting aku sudah bersama dengan keluarga aku, itu sudah membuat aku ayem, mom."
Anjani mencium kening Sadawira. "Kamu istirahat dulu. Nanti mommy masakan makanan kesukaan kamu."
"Lasagna? Macaroni Schotel?" Sadawira menatap ibunya dengan penuh harap.
"Macaroni schotel sudah siap di kulkas tinggal lasagna. Enak panas kan?" jawab Anjani sambil berdiri dan berjalan menuju pintu kamar.
"Bangunin ya mom kalau sudah siap..." gumam Sadawira dengan nada mulai mengantuk. Merasa dirinya sudah berada di lingkungannya, keluarganya, kedua orangtuanya, membuat Sadawira merasa nyaman, aman dan ... mengantuk.
"Ya sayang." Anjani pun membuka pintu lalu keluar dari kamar dan menutupnya pelan. Wanita ayu itu pun berjalan menuju ruang tengah.
"Lho Hoshi kemana?" tanya Anjani yang tidak melihat iparnya.
"Hoshi sudah pulang. Katanya dia juga teler dan ingin beristirahat" jawab Bara.
"Bagaimana Wira, An?" tanya Danisha yang sangat khawatir dengan mental Sadawira.
"Alhamdulillah baik tapi memang mentalnya lelah. Setidaknya sepulang dari Hongkong, ada yang bisa membuatnya kuat."
"Katanya sudah punya pacar ya?" tanya Arum.
"Iya Tante Gendhis. Wira sudah tidak menjadi vampir ..." gelak Anjani.
"Namanya Chisato Kuchiki. Asistennya Luke, pa" jawab Anjani.
"Orang Jepang?" seru para opa dan Oma.
"Iya. Kata Wira sama vampirnya dengan dia."
Bara dan Arum hanya tersenyum kecil sedangkan Iwan dan Danisha melongo. "Astaghfirullah!"
***
Manchester Inggris, PRC Group Building
Setelah seminggu meliburkan diri setelah tiba dari Hongkong, Jayde pun akhirnya masuk ke kantor bersama dengan Natasha yang masih khawatir putranya masih berkutat dengan PTSD nya.
"Kamu sudah sanggup bekerja, Jayde?" tanya Natasha.
"Insyaallah sanggup mom." Jayde tersenyum. "Lagipula, bekerja bisa membuat aku lebih konsentrasi dan bisa menghilangkan PTSD ku pelan-pelan."
"Kamu kuat, Jayde. Mommy dan Daddy selalu support kamu, apalagi ada Inggrid sekarang."
"You're right mom. Kalian semua adalah penyokong hidup aku supaya tidak berkepanjangan terkena mental breakdowns." Jayde merangkul Natasha dan mencium pelipis ibunya.
"Kalau kamu membutuhkan sesuatu, kami semua akan selalu ada di sisi kamu karena itulah gunanya keluarga. Even you're doing something bad, your family is never left you ( meskipun kamu berbuat sesuatu yang buruk, keluarga mu tidak akan pernah meninggalkanmu)" ucap Natasha.
"Thanks Mom. I really appreciate ( aku sangat menghargai nya )."
***
Ruang Kerja Jayde Abisatya
Jayde baru saja meletakkan tas ranselnya dan ponselnya ketika benda pipih itu berbunyi dan tampak dilayar terdapat nama 'Kakek Simon'.
"Halo kakek Simon. Apa kabar?" salam Jayde usai menggeser tombol hijau.
"Jayde, apakah Sabtu ini kamu bisa ke Skotlandia? Kakek rindu mengobrol denganmu. Bawa Inggrid sekalian" ucap Simon, kakek Inggrid.
"Ada apa ya kek?"
"Kakek ingin tahu bagaimana kamu bisa terlibat dengan kejadian Hongkong hingga menyeret Inggrid juga!"
Jayde tersenyum kecut. "Baik kek, Sabtu besok kami akan ke Skotlandia."
"Good. Kakek tunggu!" ucap Simon sambil mematikan panggilannya.
Jayde menatap layar ponselnya yang sudah berganti menjadi wallpaper. Ada apa kakek Simon kepo?
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️