Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Baru Terbuka Sedikit



Hari Kedua Sidang Pengadilan Hongkong


"Jadi saudara Sadawira Yustiono adalah saksi saat terjadinya penyerahan human organ itu ke dokter Huang." Travis memperdengarkan rekaman percakapan antara dokter Huang dengan tiga orang anggota Triad Wong.


"Mereka tahu, korban adalah Shota Iwasaki, anak buah Yakuza Takara pimpinan Luke Bianchi. Tapi mereka tidak perduli karena Shota memiliki golongan darah langka. Jika mereka saja tidak perduli Shota yang anak buah Yakuza, apalagi dengan orang biasa? Berapa banyak yang menjadi korban bisnis ini? Apalagi dari hasil penyelidikan kami, sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun sejak Terry Wong hidup!"


Mata biru Travis menyapu ruang sidang. "Dan bisnis ini dilanjutkan oleh kedua anaknya Gary dan Mark Wong."


Pihak jaksa penuntut umum menatap dingin ke arah Travis.


"Dan disaat ayah mereka dalam kondisi sekarat, Gary dan Mark Wong menggelapkan uang sebesar HK$100 juta melalui akun milik saudara Jayde Neville Abisatya. Semua ada di bukti nomor 30."


"Alasan Mark dan Gary Wong memilih Jayde karena Jayde bukanlah anggota keluarga Pratomo yang terkenal. Jayde adalah seorang akuntan di PRC Group Manchester Inggris tapi Jayde memiliki akses membuat akun di bank Swiss tanpa pertanyaan lebih lanjut karena Jayde anggota keluarga Pratomo. Itu yang diincar Triad Wong. Akun di bank Swiss yang tidak bisa diutak Atik oleh pemerintah Hongkong sekalipun!" lanjut Travis. "Motif mereka sebenarnya keserakahan, yang mulia hakim tapi mereka memilih keluarga yang salah."


Travis menyelesaikan openingnya dan waktunya sekarang untuk menanyakan kepada terdakwa.


Jaksa penuntut umum pun memanggil Sadawira Yustiono. Setelah diambil sumpahnya, Sadawira pun duduk di kursi saksi. Wajah dinginnya membuat para sepupunya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Dasar Vampir!


"Saudara Yustiono, mengapa anda tidak melaporkan kepada pihak kepolisian Singapura jika anda melihat kejahatan seperti itu?" tanya Jaksa.


"Dengan bukti seperti itu? Bukannya saya tidak percaya dengan kepolisian Singapura, tapi dokter Huang adalah dokter yang disegani disana. Sudah pasti saya tidak akan dipercaya dan keluarga saya akan menjadi incaran Triad Wong" jawab Sadawira.


"Tapi anda kan belum mencobanya?"


"Sebelum saya mencobanya, dokter Huang sudah mengancam saya. Dan saya harus bermain smart agar kedua orangtua saya tidak terkena imbas dari kasus ini."


"Dan kedua orangtua anda kembali ke Jakarta tanpa mengetahui kejadian sebenarnya?"


"Yes. Saya tidak ingin kedua orang tua saya menjadi korban karena kasus ini." Sadawira menatap jaksa penuntut umum itu datar.


"Dan apa yang terjadi setelah itu ?"


"Jayde menghubungi saya dan ternyata kami mendapatkan kasus yang sama. Dan tidak lama saya didatangi oleh agen HKSS bernama agen Lee. Dia memberikan surat bertanda tangan dari Gubernur Hongkong dan Jendral Polisi Hongkong."


Jaksa menunjukkan bukti surat itu kepada hakim dan hakim pun mengangguk.


"Apa tujuan Agen Lee memberikan surat itu?"


"Agar saya memberikan semua bukti pengiriman organ tubuh manusia ke Singapura melalui dokter Huang."


"Dan anda melakukan nya?"


"Tentu saja saya harus melakukannya. Karena saya juga diancam oleh agen Lee. Jika tidak percaya, silahkan dengar rekaman nya" jawab Sadawira dingin.


Jaksa penuntut umum itu pun memerintahkan pegawai pengadilan untuk memutar rekaman percakapan antara Sadawira dan Agen Lee di kedai kopi di Singapura.


"Di rekaman itu anda menuduh agen Lee dan semua jajaran hukum mendapatkan suap. Itu tuduhan yang sangat serius!"


"Tapi benar kan?" jawab Sadawira sinis. "Pikir saja, kalian kepolisian Hongkong sudah tahu soal ini lama!" Sadawira menatap semua petugas kepolisian Hongkong dan agen HKSS dengan berani padahal mereka membalas dengan penuh kebencian ke dokter muda itu. "Am I right?"


Para ayah menoleh ke belakang tempat para polisi dan agen HKSS itu duduk. Aura permusuhan terlihat jelas di ruangan persidangan itu.


"Saudara Yustiono, ingat anda masih di ruang persidangan."


"Justru karena kita berada di ruang persidangan, kenapa tidak sekalian saja kita buka-bukaan! Biar publik yang menilai apakah salah jika saya membela diri saya sendiri? Bahkan saya pun nyaris tewas!" balas Sadawira dengan nada paling dingin yang pernah didengar oleh siapapun.


Ega hanya bisa menutupi wajahnya dengan tangan karena tidak menyangka putranya akan jauh lebih dingin darinya dan Iwan Yustiono, sang opa.


Jaksa penuntut umum itu melanjutkan mengajukan pertanyaan kepada Sadawira yang membuat pria dingin itu dikondisikan sebagai biang dari semua ini namun Sadawira menanggapi semuanya dengan datar dan dingin.


"Saudara Yustiono, apakah anda tidak merasa menyesal sudah membunuh sahabat anda Bramastyo Abraham?"


Semua generasi kelima dan keenam hanya tersenyum smirk mendengar ucapan vampir satu itu.


***


Nelson Blair mendapatkan giliran untuk menanyakan ke Sadawira.


"Apa kabar Mr Yustiono?" sapa Nelson formal.


"I'm fine Pengacara" jawab Sadawira dengan wajah melunak. Dirinya akan selalu hangat jika bersama dengan keluarganya.


"Oke, kita mulai flashback. Apakah kamu ingat saat di Jakarta, Triad Wong mengirimkan orang mengawasi dirimu di rumah Mr Ramadhan?"


"Yes. Ada dua orang yang mengawasi di rumah Opa Arya Ramadhan."


"Apa yang kamu lakukan?"


"Kembalikan ke Hongkong."


Nelson tersenyum smirk karena tahu mereka dikirim menggunakan peti mati meskipun sampai Hongkong masih hidup tapi lemas.


"Dan apa yang terjadi di Jurong?"


Sadawira menceritakan kembali kronologis dirinya dan Jayde yang menemukan akan ada transaksi di Jurong lalu mereka memutuskan untuk menyelidikinya.


"Kamu memakai peralatan apa?" tanya Nelson.


"CCTV yang aku tempelkan ke jendela pondok."


"Apalagi?"


"Teropong canggih yang bisa melihat thermal orang didalam benteng sekalipun." Sadawira menatap Jang Geun-moon yang tersenyum ke arah keponakannya seolah memberikan support.


"Yang mulia hakim, saya setelkan bukti nomor 48 dari teropong dan kamera CCTV yang dipasang oleh Saudara Yustiono."


Semua orang menahan nafas ketika hasil rekaman teropong Sadawira yang terhubung live di cloud nya memperlihatkan bagaimana Agen Lee dan Agen Tang berada disana bersama dengan Dokter Huang dan Bramastyo Abraham.


Terdengar suara Sadawira dan Jayde yang berbisik tertahan saat melihat dua agen HKSS itu. Sadawira menatap ke arah agen HKSS dan anggota kepolisian Hongkong yang terkejut bahwa rekan mereka benar-benar bagian dari Triad Wong.


Bahkan rekaman CCTV Sadawira itu masih merekam saat dia dan Jayde terjun ke laut, setelahnya terdengar suara tembakan.


"Apakah saat itu anda terjun ke laut?" tanya Nelson.


"Ya. Dan kami ditembaki oleh orang-orang itu."


"Apakah anda terluka?"


"Tidak, tapi tangan Jayde terserempet peluru."


Nelson berbalik menatap pengunjung ruang sidang dengan wajah dingin. "Masih menganggap rekan kalian tidak bersalah?" ucapnya ke para agen HKSS dan Kepolisian Hongkong. "Ini baru satu kotak Pandora yang terbuka."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Maaf sidangnya agak lama biar make sense dikit


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️