Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Duo Vampir dan Kedua Gadisnya



Kediaman Keluarga Abisatya Manchester Inggris


"Ya ampun Jayde! Kasihan Inggrid ih..." desis Natasha yang melihat putranya dengan cueknya tidur diatas paha gadis yang menjadi sahabatnya.


"Tidak apa-apa Tante Natasha. Jayde biasa seperti ini kok dari awal kami kuliah" senyum Inggrid.


"Grid, Tante mau tanya..."


"Tanya apa, Tante?"


"Bagaimana hubungan kamu dengan Jayde?" Natasha menatap gadis cantik yang tampak sayang ke putranya.


"Jayde bilang ingin kami menjadi pasangan kekasih, bukan sahabat lagi... Naik level katanya."


"Kamu sendiri bagaimana?"


Inggrid menatap wajah damai Jayde yang sedang tertidur. "Masih memantapkan hati Tante. Kalau kami misal menjadi pasangan kekasih, Opa Simon yang paling berbahagia."


"Kenapa?"


"Apa Tante tahu, Jayde adalah satu-satunya teman pria aku yang diijinkan berteman dekat denganku. Grandpa Simon sangat menyukai Jayde. Tante ingat saat Jayde aku ajak ke acara ulang tahun Grandpa dan selama pesta berlangsung mereka berdua tampak asyik mengobrol. Kami yang Keluarga, diacuhkan."


"Inggrid, jika kamu nanti akhirnya menjadi kekasih Jayde, Tante akan merasa senang sekali karena Jayde memilih wanita yang sudah kamu kenal lama. Mungkin kami sama dengan kakekmu juga" senyum Natasha.


Inggrid tidak menjawab tapi hanya tersenyum manis. Sejujurnya selama ini Jayde selalu ada bersamanya bahkan disaat dirinya ribut dengan kakeknya, pria itu selalu ada disisi nya. Bisa dikata Jayde selalu berada di saat senang dan sedih, begitu juga sebaliknya. Tapi pada saat itu Inggrid menganggap bahwa itulah sahabat apalagi Jayde juga sikapnya seperti teman bukan kekasih.


Apa ini yang membuat lama-lama perasaannya Jayde bergeser dari sayang sahabat menjadi pria yang mencintai seorang wanita? Inggrid mengusap rambut Jayde lembut. Jujur Jayde, jika aku boleh memilih, aku ingin kamu yang menjadi pasangan aku. Tapi ijinkan aku menata semua perasaan ku yang selama ini hanya seorang sahabat.


***


Jayde mengerjapkan matanya dan melihat wajah cantik Inggrid yang sedang menatap nya.


"Ya ampun Grid, maaf ya. Aku ketiduran." Perlahan pria itu bangun. "Apakah pahamu semutan? Dimana mommy? Aku tidur berapa lama?"


"Ada mungkin satu jam... Aduh..." Inggrid mengerenyitkan alisnya. "Semutan... semutan..." Gadis itu mengelus pahanya.


"Maaf Grid..." Jayde menatap Inggrid concern. "Entah kenapa melihat pahamu kok rasanya ingin merebahkan kepala aku disana. Ada perasaan nyaman yang aku rasakan..."


"Jayde..."


"Ya?"


"Tadi Tante Natasha bertanya soal hubungan kita."


"Lalu?"


"Aku jawab apa adanya kalau kamu ingin menaikkan level hubungan kita."


"Apa tanggapan mommy?"


"Mommymu tampak senang dan setuju mendengar jika kita berpacaran dan sejujurnya aku yakin Grandpa langsung lega kalau aku dan kamu bersama. Grandpa kan sayang sekali padamu..."


Jayde menatap intens ke Inggrid. "Bagaimana dengan perasaan kamu sendiri Grid? Apakah kamu sudah bisa bergeser dari sobat menjadi sobit?" senyum pria itu lembut.


"Sobit?" Natasha membalas tatapan Jayde dengan wajah bingung.


"Atasnya Sobat..." cengir Jayde.


"Kamu tuh..." kekeh Inggrid.


"Eh mommy kemana?" Jayde celingukan mencari Natasha.


"Tante Natasha ke perusahaan dan dikawal Scotland Yard. Aku melihat nya sendiri Jayde."


Jayde menyandarkan kepalanya di atas sofa sambil menatap Inggrid. "Mau sampai kapan sih mereka harus mengawasi kami?"


"Jayde, anggap saja mereka sekalian mengawal kedua orang tua mu" senyum Inggrid.


"Aku ganti baju dulu Grid" ucap Jayde sambil berdiri.


"Mau kemana?"


"Ajak kamu makan siang lah!" Jayde mencium kening Inggrid. "Kan kita mau berkencan?"


Inggrid melongo.


***


Tokyo Jepang


Sadawira dan Chisato menikmati acara jalan-jalan di area Shibuya di malam hari. Keduanya ingin berduaan sembari memanfaatkan waktu yang ada karena lusa Sadawira sudah kembali ke Jakarta.


"Iya. Aku merasa tidak bisa seperti Ken yang memang jiwanya healer dan aku lebih psycho dibandingkan Ken jadi aku memilih forensik."


"Kata Hidetoshi-kun, nenek buyut anda juga dokter forensik?"


"Oma buyut Alexandra? Iya. Oma memang dokter forensik NYPD di New York dulu dan disana juga Oma bertemu dengan Opa Ghani. Mereka itu bagaikan Tom dan Jerry karena Oma merasa Opa selalu bawa korban kejahatan banyak-banyak" kekeh Sadawira. ( Baca The Detective and The Doctor ).


"Bukankah New York termasuk kota dengan tingkat kejahatan yang tinggi juga?" celetuk Chisato.


"Iya. Jangan samakan dengan Tokyo yang angka kejahatannya hanya 0,1% dari Amerika." Sadawira menatap Chisato lembut.


"Wira-san..."


"Hhhmmmm..."


"Apakah Tuan Ega dan Nyonya Anjani tidak keberatan..."


"Chisato..." potong Sadawira dengan nada dalam. "Jangan sok formal memanggil kedua orangtuaku."


"Demo ( tapi )..."


"Chisato, kamu itu sekarang pacar aku, dan Harusnya kamu memanggil kedua orangtuaku macam bang Luke. Panggil saja biasa, Oom Ega dan Tante Anjani. Capek dengernya kalau formal." Mata hitam Sadawira menatap serius ke Chisato yang wajahnya memerah.


"Baik Wira-san..."


"Mas Wira..."


"Eh?" Chisato terkejut.


"Panggil saja mas Wira daripada pening kupingku mendengar 'Wira-san'..." sungut Sadawira sambil manyun.


Mulut Chisato menganga. Dirinya tidak menyangka kalau pria dingin di hadapannya ini bisa bersikap receh. "Apa? Mas Wira?"


"Yup. Toh sama saja artinya Chisato."


"Tapi Wira-san, aku orang Jepang dan cara kami memanggil..."


"Mas Wira" eyel Sadawira membuat Chisato terkejut lagi.


"Oh ya ampun, ternyata vampir bisa lucu ya?" kekeh Chisato.


"Vampir satu ini minta dipanggil Mas Wira, Chisato!"


Gadis berambut hitam panjang itu cekikikan karena tidak menduga kalau Sadawira yang kakunya minta ampun bisa menjadi manja. Mungkin ini yang dimaksud bahwa pria bisa berubah jika bersama dengan wanita yang disukainya, begitu juga dengan wanita.


"Iya deh, Mas Wira ..." Chisato akhirnya mengalah karena wajah Sadawira tampak menggemaskan.



Muka dan Bibir tolong dikondisikan bang...


"Ternyata ya, tuan Sadawira yang dingin, bisa manyun juga" kekeh Chisato.


"Memangnya aku tidak bisa manyun Chisato?" sungut Sadawira.


"Bukannya vampir tidak bisa manyun?" goda Chisato. Melihat bagaimana kekasihnya semakin menggemaskan membuat jiwa usil gadis itu keluar setelah sekian lama menghilang karena kematian Shota Iwasaki.


"Apa kamu mau aku menggigit lehermu seperti vampir dan menghisap darah mu?" senyum Sadawira.


"No, mas Wira. Belum boleh ya!"


"Chisato, aku nanti akan meminta ke Bang Luke untuk tidak memakai dirimu sebagai pemancing musuh."


Chisato tersenyum. "Tanpa kamu minta, Luke-sama sudah mengatakan bahwa aku harus pensiun menjadi Mai Shiranui karena aku sudah menjadi kekasih mu."


"Alhamdulillah... Jujur aku tidak suka melihat kamu menjadi Mai Shiranui. Bagaimana pun, kamu sekarang sudah tidak sendirian, sudah ada aku sebagai kekasih mu." Sadawira menggenggam tangan Chisato. "Tapi aku tidak melarang untuk menghajar musuh bang Luke."


Chisato tertawa lembut.


Dasar!


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️