
Markas Triad Chen Hongkong Malam Harinya
Seorang pria bertubuh tinggi besar khas Italia dengan mata coklat yang bersinar tajam dan cerdas, berjalan dengan pedenya bersama dengan seorang pria Asia bermata tajam yang masih memiliki wajah cantik meskipun sudah berumur, berjalan dengan langkah lebar-lebar masuk ke dalam sebuah bangunan tiga lantai di jantung kota Hongkong.
"Welcome Mr Bianchi, Mr Reeves" sapa penjaga pintu. "Dozou."
"Xie Xie" jawab pria Italia itu sedangkan pria berwajah cantik hanya mengangguk dengan wajah dinginnya.
Keduanya diantar oleh dua orang pria dengan wajah dingin masuk ke dalam lift. Sesampainya di lantai tiga, lift terbuka dan langsung ke sebuah ruang kerja yang besar dan mewah disana.
"Silahkan."
Pria Italia dan Pria Asia itu pun melangkah keluar dari lift yang langsung disambut oleh seorang pria China dengan senyum merekah.
"Oom Luca, Oom Quinn. Apa kabar?" salam Sky Chen sembari menyalami kedua pria paruh baya yang menolak tua itu.
"Never better" senyum Luca. "Kalian bertiga, bagaimana?" Pria Italia itu menoleh ke arah ketiga orang yang sedang menikmati makan malam.
"Alive and kicking..." senyum Kalila dan Jayde.
"Lenganmu bagaimana?" tanya Hoshi.
"24 jahitan. Cool" seringai Jayde.
"Nice!" kekeh Luca. "So, dimana anak-anak yang main hajar bleh?"
"Penjara."
***
Penjara Federal Hongkong
Nadya dan Chisato berada dalam satu sel bersama dengan Katrin Jaeger sedangkan lainnya berada dalam sel tiga sampai empat orang.
Sadawira sendiri sudah berganti baju dengan baju tahanan karena bajunya berlumuran darah dan dia satu sel bersama Damian, Gabriel dan Omar Zidane.
Luke sendiri satu sel bersama dengan Pedro dan Lucas sedangkan Bayu bersama Radeva. Gasendra dan Ken di dalam satu sel. Hidetoshi sendiri bersama dengan Hunter dan Doogie. Eli Yaqub ditahan bersama dengan empat agen mossad lainnya. Beberapa agen BND dan BIN pun berada di sel lainnya.
"Bagiamana lenganmu OZ?" tanya Damian.
"Hanya keserempet kok." Omar Zidane pun sama dengan Sadawira harus memakai baju tahanan karena bajunya bersimbah darah.
Sadawira memeriksa luka lengan Omar. "Tadi sempat diobati Ken?"
"Yup. Tadi Ken sempat mengobati aku."
"Syukurlah..." senyum Sadawira.
"Semua barang-barang kita diambil ya. Termasuk GPS kita" keluh Damian yang harus merelakan jam Hublot nya yang seharga 1,3 miliar ditahan bersama dengan jam merek yang sama milik Sadawira yang harganya di bawah Emir Blair itu.
"Earpiece, cincin tunangan, Glock..." gumam Gabriel.
"Lha kamu tuh dah tahu mau nikah bulan depan, masih saja ngeyel ikut!" hardik Damian.
"Aku penasaran Dam..." cengir Gabriel.
"Yah, dia sudah ketularan adrenalin junkie" kekeh Damian.
Tak lama terdengar suara adu ngorok di sel lainnya membuat keempat orang yang berada dalam satu sel hanya saling berpandangan.
"Yup, seperti Opa Ezra bilang, dipenjara sama dengan pindah tidur. So, kita pindah tidur lah..." kekeh Damian.
***
Keesokan Harinya di Markas Triad Chen Hongkong
Para generasi kelima sudah datang ke markas Triad Chen dan semuanya mendengarkan cerita Jayde, Kalila dan Alexander.
"Jadi mereka semua dipenjara?" tanya Joey.
"Dan anakku kena tembak?" sahut Luca. "Dan Wira memakai bisa black mamba?"
"Iya Oom. Wira membunuh Bramastyo Abraham, mantan sahabatnya, Jayde juga membunuh Mark Wong" lapor Kalila. "Mereka berdua terpaksa melakukan karena pembelaan diri."
Travis dan Nelson bersama Steven Hamilton dan putranya Phoenix tampak mempelajari hukum Hongkong dan internasional untuk bisa membebaskan putri, adik, keponakannya dan sepupu mereka. Dua surat asli dari pemerintah Hongkong dan Jendral Polisi Hongkong adalah bukti otentik bahwa Sadawira dan Jayde adalah informan pemerintah Hongkong. Semua bukti-bukti yang diberikan Sadawira dan Jayde, dikumpulkan termasuk yang sudah diberikan ke agen Tang dan agen Lee.
Jayde memberikan semua datanya yang disimpan di akun cloudnya di ponsel dan iPadnya yang berada di tasnya. Semua koper dan tas para generasi keenam berada di markas Triad Chen. Kelima orang itu bekerja keras di bidang legal dan hukum sedangkan Abiyasa, Luca, Hoshi, Ayrton, Joey dan Pandu berangkat dengan dua rombongan. Satu ke markas besar kepolisian Hongkong, sedangkan satunya ke penjara.
***
Markas Besar Kepolisian Hongkong
Ketiga orang dengan fisik berbeda tapi memiliki aura yang sama, dengan pedenya mendatangi markas besar kepolisian Hongkong dengan didampingi Sky Chen dan beberapa anak buah nya.
Para anggota kepolisian tampak terkejut melihat pengusaha terkenal itu datang bersama dengan kepala keluarga Triad Chen. Semua orang tahu siapa mereka dan tanpa memperdulikan tatapan semua orang, Abiyasa, Hoshi dan Luca mendatangi ruang jendral polisi.
"Saya Abiyasa O'Grady, CEO MB Enterprise dan PRC Group, hendak bertemu dengan Jendral Miu Chiao Wei" ucap Abiyasa sembari meletakkan kartu namanya ke sekertaris jendral polisi Hongkong. "Dan jika beliau tidak mau menemui kami, jangan salahkan kami jika semua aib nya kami sebar ke seluruh dunia." Abiyasa lalu memberikan beberapa foto tidak pantas ke wanita itu. Tampak wajah sekretaris itu memucat.
Sekretaris itu bergegas masuk ke dalam ruangan jendral polisi Hongkong itu.
Hoshi dan Luca hanya tersenyum smirk. "Lu udah ngerjain pe er tho mas?" bisik Hoshi dengan wajah menyeringai licik.
"Sejak kapan kita maju tanpa persiapan Hosh?" balas Abiyasa.
Luca hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Sky Chen tertawa kecil.
"Benar kata papaku, kalian mengerikan" gumam Sky.
"Ini belum seberapa Sky" kekeh Abiyasa.
***
Penjara Federal Hongkong
Ayrton, Joey dan Pandu tiba di penjara Federal Hongkong dan mendapatkan kesulitan untuk bisa bertemu dengan anak - anak dan keponakan mereka. Hingga akhirnya Ayrton harus menggunakan kekuatan diplomatik nya. Hanya Damian dan Gasendra yang diijinkan untuk bertemu dengan mereka.
Kedua Emir itu langsung memeluk ayah dan Oom mereka lalu kelimanya duduk di ruang yang telah disediakan.
"Berapa lama kita akan disuruh pindah tidur?" tanya Damian. "Jujur semalam bagaikan orkestra, semua orang nyaris pada mengorok. Kayaknya pada kelelahan setelah main PUBG..."
Joey terbahak. "Seriously Dam, PUBG?"
"Apa Metal Gear Solid?" kekeh Gasendra.
"Metal Gear Solid itu kamu berusaha Stealth, bukan frontal Bambaaaanngggg!" hardik Ayrton.
"Lha lupa, papa dulu main game itu ya?" cengir Gasendra.
"Kalian satu sel sama siapa?" tanya Pandu.
"Aku, Wira, Gab dan Omar Zidane" jawab Damian.
"Aku bersama Ken. Kalau Radeva sama mas Bayu, Oom" jawab Gasendra.
"Mereka sehat-sehat kan?" tanya Pandu lagi. Jujur dia lebih khawatir dibandingkan Reana yang tenang-tenang saja. Apalagi Raveena, lebih santai lagi. Beneran deh, wanita di sekeliling aku itu keterlaluan cueknya! Aku tahu Deva pemberani tapi kan tetap saja dia putraku!
"Tenang Oom, lagi menghitung jumlah penjaga supaya bisa kabur..." gelak Gasendra.
"You've got be kidding me!" pendelik Ayrton.
"Joking papa... It's just a joke!" Gasendra mengkeret juga melihat tatapan dingin ayahnya.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️