Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Menjadi Saksi



London Inggris, Bandara Heathrow


Pagi ini Jayde tampak sumringah karena setelah sekian lama, akhirnya Inggrid pun pulang ke Inggris. Dari yang hanya dua bulan di Mekkah, malah akhirnya semakin lama karena gadis itu sangat senang berada disana untuk belajar apalagi ada princess Alesha, kakak Emir Alexander Khalid yang membantu gadis itu semakin yakin memeluk keyakinan Jayde.


Jayde yang sengaja datang sendirian, menunggu dengan sabar sambil bermain ponselnya dan menikmati kopi hitam kesukaannya. Pria berwajah dingin itu tersenyum smirk saat membaca berita bahwa sepupunya, Sadawira Yustiono, maju menjadi saksi kasus pembunuhan mu*tilasi yang ditanganinya bersama Dokter Deborah Pounder.


"Alamat Wira bisa masuk FBI benar nih ke bagian Forensik" kekeh Jayde. "Jangan-jangan malah jadi anak buahnya Bang Pedro nanti."


Jayde lalu membaca berbagai berita dari ponselnya termasuk berita Luke Bianchi mengadakan pertemuan dengan para Yakuza lainnya di Okinawa Jepang. Pertemuan damai yang disebut pertemuan kekeluargaan membuat Yakuza Takara memiliki sekutu dari semua keluarga Yakuza lainnya.


"Diplomasi nya bang Lukie bagus."


Mata Jayde terbelalak saat membaca bahwa terjadi kericuhan antara keluarga Bianchi - Mancini dengan Ferrara berkaitan dengan harga wine di pasaran serta harga buah anggur produksi Italia.


"Semoga bisa segera selesai permasalahannya..." Entah kenapa Jayde merasa takut permasalahan wine akan menjadi panjang. Jayde tahu bagaimana kedua kakaknya, Dante Mancini dan Antonio Bianchi berusaha mempertahankan harga sesuai dengan kwalitas wine mereka.


Keluarga Inggrid adalah salah satu penggemar wine keluarga Turin dan Jayde mengakui bahwa rasa nya sangat enak dibandingkan wine Perancis saat ini.


Suara pengumuman pesawat yang membawa penumpang dari Dubai sudah mendarat, membuat Jayde tersenyum. Inggrid memang menghabiskan seminggu terakhir di Dubai untuk bertemu dengan keluarga Jayde disana.


Jayde menghabiskan kopinya, memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang nya dan berjalan menuju pintu kedatangan sambil menunggu gadisnya. Pria yang seperti tanpa ekspresi itu hingga dijuluki Vampir oleh para sepupunya, menatap ke arah pintu.


Tak lama, gadis yang ditunggunya pun muncul membuat wajah dingin Jayde berubah menjadi hangat dan Inggrid pun datang menghampiri kekasihnya.


"Jayde, sayang" senyum Inggrid sambil memeluk pria itu.


Jayde pun mencium bibir Inggrid lembut yang kemudian sedikit panas hingga gadis itu menepuk pelan dada prianya.


"Sorry... Aku kangen sama kamu" ucap Jayde sedikit memburu nafasnya.


"Jayde..."


"Yes baby?" Mata Jayde menatap Inggrid penuh cinta.


"Bibirmu rasa kopi."


***


Pengadilan Tinggi Maryland


Sadawira dan Dokter Deborah Pounder dijadwalkan akan menjadi saksi kasus pembunuhan disertai mu*tilasi pada Helena Petit oleh suaminya, Marcel Petit.


Sadawira penasaran alasan si suami yang ternyata sudah dalam kondisi berpisah tapi masih tega membunuh mantan istrinya yang juga ibu dari anaknya.


Kami memberikan bukti ini, your honor. Bukti surat aduan ke kepolisian Delaware dan Pennsylvania dimana sebelumnya pasangan Petit tinggal bahwa Mr Petit adalah seorang abuser." Jaksa penuntut umum menunjukkan setumpuk surat pengaduan ke polisi. "Tapi Mrs Petit menarik aduannya karena Mr Petit berjanji tidak akan mengulangi lagi tapi janjinya adalah palsu !"


Sadawira dan Dokter Deborah menoleh ke arah pria yang tidak ada ekspresi. Benar-benar psikopat !


"Inti dari semua ini adalah Mr Petit merasa Cemburu... Dimana Mrs Petit sudah menggugat cerai, bisa move on dan tidak bisa dikendalikan lagi oleh Mr Petit. Jadi Mrs Petit pindah dari Pennsylvania ke Maryland untuk memulai hidup baru. Disaat Mrs Petit mendapatkan kekuatan untuk pergi dari suami perudungnya, saat itu juga Mr Petit sudah memendam dendam mendalam ke istrinya."


Sadawira mengusap wajahnya dan merasa dirinya tidak habis pikir dengan pria pecundang macam Marcel Petit. Tapi biasanya itu yang terjadi dengan orang-orang yang biasa abuse dan saat obyek bullying nya berhasil pergi dan merasa kuat, mereka kehilangan dan menjadi kerdil. Para abuser tidak bisa menunjukkan kekuatannya karena aslinya mereka adalah orang-orang yang pengecut, tidak percaya diri, dan tidak mampu apa-apa.


"Your honor, saya memanggil Dokter Deborah Pounder sebagai saksi yang mengautopsi potongan tubuh Mrs Petit di dalam sebuah koper yang dibuang di tempat sampah dekat SPBU." Jaksa penuntut umum menatap ke arah dokter forensik berkulit hitam itu.


Dokter Deborah pun berjalan menuju kursi saksi dan diambil sumpahnya diatas Bible. Jaksa penuntut umum menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan kondisi jasad dan perkiraan senjata yang digunakan. Setelah terjadi tanya jawab dengan pihak pengacara Marcel Petit, dokter Deborah pun turun.


"Saya memanggil saksi Dokter Sadawira Yustiono, asisten Medical Examiner."


Sadawira pun menuju kursi saksi dan diambil sumpahnya dengan Al Qur'an.


"Dokter Yustiono, bagaimana anda mengetahui siapa korban?" tanya Jaksa penuntut umum.


"Awalnya kami, saya dan Dokter Pounder tidak mengetahui siapa korban tapi saya berhasil menemukan tattoo yang cocok dengan laporan orang hilang bernama Helena Petit. Lt Ahmed Ja'far pun bisa mengkonfirmasi siapa pemilik potongan tubuh itu" jawab Sadawira.


"Potongan tubuh yang anda dan dokter Pounder temukan?"


"Potongan tubuh sebatas leher hingga pinggang kebawah tanpa kepala, kedua tangan, dan kedua kaki. Dan bisa dilihat bahwa korban pernah melahirkan yang bisa dilihat dari bekas sayatan operasi Caesar disana." Sadawira menunjuk ke arah perut.


"Maafkan dengan gambar yang menganggu tapi ini semua demi kelangsungan persidangan ini your honor" ucap jaksa penuntut umum ke majelis hakim. "Tuan pengacara, ada pertanyaan?" Jaksa itu menoleh ke arah pengacara Marcel Petit dan dijawab dengan gelengan. "Baik dokter Yustiono, anda boleh turun karena saya tidak ada pertanyaan lagi, begitu juga dengan pihak pengacara."


Sadawira pun turun dari kursi saksi sambil menatap tajam ke arah Marcel Petit tanpa mengatakan apapun. Sadawira bisa melihat Marcel Petit menundukkan wajahnya karena merasa terintimidasi dengan tatapan dingin pria yang dijuluki Vampir di keluarga besar klan Pratomo.


Sesampainya di kursi pengunjung sidang, Sadawira berbisik tertahan. "Loser !" umpatnya.


Dokter Deborah hanya menepuk bahu anak didik nya guna memenangkan emosinya.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂 ❤️