
Penjara Federal Hongkong
Pagi ini Ayrton, Travis dan Steven Hamilton mendatangi kepala penjara Federal untuk membebaskan Gabriel Luna dan segera dideportasi ke Dubai. Garvita sudah marah-marah saja saat tahu calon suaminya tidak bisa pulang. Dan bagi Ayrton, lebih baik Gabriel yang kena amuk putrinya daripada dirinya.
"Hanya Mr Gabriel Luna?" tanya Kepala Penjara itu.
"Hanya Gabriel Luna. Dan disitu disebutkan bahwa Gabriel Luna dilarang masuk Hongkong selama lima tahun" jawab Travis tegas.
Kepala penjara Federal Hongkong tidak bisa berbicara banyak karena surat yang ditandatangani oleh Gubernur Hongkong adalah keputusan final.
"Baik. Saya akan bawa Gabriel Luna. Tahanan lainnya tetap maju sidang kan?"
"Iya. Hanya Gabriel Luna yang dideportasi duluan."
Kepala penjara Federal itu memberikan kode kepada anak buahnya untuk mengeluarkan Gabriel Luna dari sel.
***
Blok Sel tempat para generasi keenam ditahan.
Semua orang tahu kalau hari ini Gabriel yang akan dikeluarkan dari penjara berkat informasi dari Nelson dan bagi mereka bukan suatu masalah karena memang sewajarnya Gabriel keluar lebih dahulu karena dia akan menikah bulan depan.
Gabriel menatap teman satu selnya, Sadawira, Omar Zidane dan Damian.
"Kalian tidak apa-apa aku tinggal pulang?" tanya Gabriel saat dua sipir penjara datang menjemputnya.
"Harusnya kita yang khawatir sama kamu. Belum tentu kamu selamat sama Garvita" kekeh Damian.
Gabriel hanya tersenyum kecut lalu menyalami teman satu sel lalu keluar.
"Good bye Gab. Berdoalah supaya Garvita tidak menyiksa mu" gelak Gasendra.
"Oh please, Sendra..." Wajah Gabriel memucat. Jujur aku lebih nyaman dipenjara daripada kena tinju, tendangan dan bantingan nona manja itu.
Para kakak Garvita tertawa terbahak-bahak melihat wajah Gabriel tampak pias.
"Salam buat Oom Ay dan Oom Travis ya Gab" ucap Bayu.
Gabriel hanya berjalan gontai menuju keluar dari blok sel mereka.
***
Gabriel tersenyum melihat calon ayah mertuanya berdiri di sana dan langsung memeluk Ayrton. Gabriel pun menyalami Travis dan Steven. Dirinya dibawa ke ruang kepala penjara Federal dan melihat tas nya ada disana.
"Untung masih boleh diberikan baju ganti ya Gab" kekeh Ayrton.
"Katanya Sky Chen pakai acara berantem dulu untuk memberikan baju kepada kami. Dan semua baju diperiksa detail" senyum Gabriel sambil mengingat banyaknya kardus berisi baju mereka tapi sudah dibongkar saat diterima.
"Ini tiket dan paspor kamu, Gab." Ayrton menyerahkan dua berkas itu. "Itu tas mu. Kamu langsung ke bandara, karena hari ini sebelum jam 12 malam harus sudah keluar Hongkong ke Dubai."
Gabriel melongo. "Now, Sir?"
"Yes. Anak buah Sky sudah ada di depan. Sudah kamu pergi sekarang!" usir Ayrton.
Gabriel mengambil tas nya lalu berpamitan ke semua orang dan berjalan keluar penjara. Rasanya dadanya merasa lega bisa keluar dari tempat sesak itu. Jadi begini rasanya napi yang dipenjara. Padahal aku baru semingguan tapi rasanya sudah lama sekali.
"Mari Mr. Luna, kita harus segera ke bandara" ucap salah satu anak buah Sky Chen yang membukakan pintu mobilnya.
Gabriel pun mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
***
"Apakah kami boleh bertemu dengan klien kami? Karena kami hendak memberitahukan jadwal persidangan mereka semua." Travis menatap kepala penjara Federal itu. "Dan saya hendak ke blok wanita untuk menemui klien saya yang bernama Nadya Blair dan Chisato Kuchiki."
Jujur Travis merasa cemas dengan putri bungsunya. Selama ini dirinya merasa tenang karena Nadya bersama dengan para kakaknya dan Omar Zidane. Tapi sekarang Nadya hanya dengan Chisato yang dia tidak kenal. Hanya sekedar anak buahnya Luke yang membantu Sadawira dan Jayde.
"Boleh tapi hanya sepuluh menit!"
***
Blok Sel Wanita
Nadya dan Chisato sedang berlatih krav maga yang diajarkan oleh Katrin Jaeger untuk menghilangkan rasa bosan. Ketiga wanita itu sengaja diletakkan dalam satu sel dengan dua tempat tidur susun.
Bagi ketiga wanita itu, dipenjara bagaikan healing dari pekerjaan yang memusingkan tapi Penjara juga membuat mereka bosan. Glundang glundung tidak jelas membuat Nadya dan Chisato mencari kegiatan yang berfaedah. Mengetahui Katrin menguasai krav maga, kedua gadis itu pun antusias minta diajarikan, apalagi mereka memiliki basic kendo yang mempermudah mereka belajar jurus.
Suara langkah kaki membuat Nadya dan Chisato mengentikan kegiatan nya lalu menunggu siapa yang datang karena mereka tahu ini bukan jam makan siang.
Begitu tahu siapa, Nadya tampak bahagia melihat ayahnya datang.
"Daaaaddd!" teriak Nadya heboh sambil mengulurkan tangannya dari jeruji besi.
Travis memegang tangan anak gadisnya yang memberikan pipinya untuk dicium oleh sang ayah. "Are you okay? Sehat?" tanya Travis yang melihat anak gadisnya hanya memakai tank top dan celana training serta berkeringat. Mata biru pria itu juga melihat Chisato dengan pakaian yang sama sedangkan seorang wanita lebih tua memakai kaos rumah dan celana panjang training.
"Habis latihan krav maga. Dad, ini Chisato Kuchiki dan Katrin Jaeger. Kami sudah jadi BESTie inmate" cengir Nadya. Inmate yang dimaksud adalah tahanan.
"Sayang, Minggu depan kalian semua akan disidangkan di pengadilan tinggi Hongkong dengan basic hukum lokal dan internasional" ucap Travis.
"Apakah kami juga mendapatkan pengacara, Mr Blair?" tanya Katrin.
"BND sudah mengirimkan pengacara dan sedang berkoordinasi dengan putra saya Nelson dan keponakan saya Phoenix yang satu tim pengacara keluarga Pratomo. Kami dengan pengacara dari Mossad, BIN dan FBI sudah mempersiapkan diri" jawab Travis.
Nadya menoleh ke arah Chisato dan Katrin. "Aku yakin kita semua akan pergi dari sini."
Chisato dan Katrin tampak antusias.
***
Blok Sel Pria
Gasendra tampak senang melihat ayahnya datang begitu juga para pria lainnya bisa bertemu wajah yang mereka kenal baik.
"Boys, Senin depan, kalian semua akan disidangkan secara rombongan. Para agen FBI, BIN, Mossad dan BND sudah ada pengacara yang saling berkoordinasi dengan kami" ucap Steven Hamilton.
"Kita bakalan dideportasi semua kan?" tanya Bayu.
"Yup. Kemungkinan besar seperti itu dan bisa jadi ada biaya ganti rugi..."
"WHAAATTT?!" teriak semua pria disana.
"Kagak ikhlas gue! Tujuh turunan kagak ikhlas!" teriak Radeva.
"Sedang Oom kalkulasikan Deva" senyum Steven.
"Sudah begini saja, kita lihat di persidangan. Aku yakin, kalian para kaum bapak sudah persiapan. Betul?" ucap Luke.
"Tentu saja Luke. Kita buka-bukaan saja di pengadilan. Boys, kalau kalian dilarang masuk Hongkong bagaimana?" tanya Ayrton.
"Bodo Amat!" ucap generasi keenam kompak.
Omar Zidane dan Lucas Syahputra hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Dasar!
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️