Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Michael Tampubolon



Cerita Ini Hanya Fiksi Semata jadi jangan dimasukkan ke hati dengan lubuk paling dalam... Terimalah sebagai hiburan saat ngabuburit... ( apaan sih mbak Hana tuh )... 😁😁😁


Oke lanjut!


Michael Tampubolon pun memasang flashdisk di MacBook yang terhubung ke layar proyektor. Disana ada rekaman dari lima tahun lalu berasal dari pendahulu Lucas.


"Mr Santoso, sudah kami selidiki, tidak ada kaitannya dengan Triad Wong!"


"Mr Santoso disini adalah Hendra Santoso, Deputi Bidang Luar Negeri sebelum saudara Lucas Syahputra" ucap Michael Tampubolon yang kemudian melanjutkan rekamannya.


"*Bagaimana tidak ada kaitannya dengan Triad Wong?" tanya Hendra Santoso


"Tidak ada Mr Santoso. Korban hanya berteman dengan orang yang salah dan itu bukan Triad Wong*!"


Michael Tampubolon menatap semua orang di ruang pengadilan. "Apakah anda ada yang mengenali suara pria yang sedang berbicara dengan Deputi Hendra Santoso?"


Semua anggota HKSS dan kepolisian Hongkong menunduk karena tahu suara siapa itu.


"Tuan jaksa? Anda mengenali nya bukan? Oke saya buka saja. Itu adalah suara Jendral Polisi Miu Chiao Wei, jendral kepolisian Hongkong. Anda semua yang berhubungan dengan beliau pasti mengenali suara nya bukan?" senyum Michael Tampubolon yang entah mengapa tampak menyeramkan.


"Anda tidak berhak merekam... BIN tidak berhak merekam percakapan itu!" hardik jaksa penuntut umum. "Yang mulia hakim!"


"Semua agen intelijen berhak merekam semua kegiatan mereka dan itu sudah disahkan di udang-udang hukum internasional di dewan keamanan PBB. Dan apa yang dilakukan oleh Deputi Hendra Santoso, itu legal" jawab Hakim.


Jaksa penuntut umum tampak kesal karena dia tidak bisa mendapatkan bukti yang merupakan arsip dari badan intelijen, bersifat rahasia dan hanya bisa dikeluarkan jika memang diperlukan. Dan sekarang sangat diperlukan.


"Kejadian itu terjadi pada tiga tahun lalu dan disaat itu Deputi Hendra Santoso sudah menangani kasus 18 orang warga negara Indonesia dibunuh dengan organ tubuh hilang. Bahkan kepolisian Hongkong mengatakan bahwa ada pembunuh berantai berkeliaran... Yeah right!" sindir Michael Tampubolon.


Pria bertubuh kekar dan berwajah khas Batak itu lalu menghampiri Lucas. "Mr Syahputra, apa yang terjadi saat anda melakukan serah terima jabatan dengan deputi Hendra Santoso?"


"Pak Hendra waktu itu hanya bilang untuk mengawasi Triad Wong karena tahu, mereka dilindungi oleh otoritas tertinggi dari pemerintah Hongkong" jawab Lucas.


"Dan selama anda menjabat biro di Hongkong?"


"Saya kehilangan 12 warga negara Indonesia dalam dua tahun jabatan saya. Itu pun yang dilaporkan ke kedutaan besar Republik Indonesia."


"Apakah anda juga berkoordinasi dengan HKSS dan kepolisian Hongkong?"


"Absolutely. Saya dan anak buah saya bekerja sesuai dengan prosedur namun salah satu anak buah saya yang senior mengatakan bahwa sejak jaman pak Hendra menjabat, tidak ada closing di berbagai kasus."


Michael mengangguk. "Bagaimana anda bisa bekerjasama dengan FBI, Mossad dan BND? Kenapa biro federal lainnya tidak ikut serta?"


"Semua bermula dari saya bertemu dengan salah satu agen Mossad dan kami sama-sama memiliki persamaan kasus ditambah kami pun sama-sama seperti diblokir oleh HKSS dan kepolisian Hongkong jika sudah menyangkut pembunuhan ditambah dengan hilangnya organ tubuh. Dari situ, kami mencari tahu Intel mana yang juga memiliki kasus yang sama. BND dan FBI maju. Kami mulai membangun kasus bersama dan berusaha mencari semua bukti yang berpusat ke Triad Wong."


Michael berbalik dan menatap generasi kelima dan keenam keluarga Pratomo yang sering dia dengar sebagai pengusaha yang bersih tapi kali ini mereka bertindak melebihi mafia. "Bagaimana kalian bisa bekerjasama dengan keluarga Pratomo?"


"Kami mendengar dari FBI disini bahwa agen FBI Omar Zidane dan Pedro Pascal ikut dalam rombongan keluarga Pratomo. Mereka punya kepentingan sendiri kami pun juga. Mereka bisa kami percaya, begitu juga dengan mereka yang mempercayai kami. Karena kami semua sudah tidak ada yang percaya dengan kepolisian Hongkong." Lucas tersenyum ke arah Hoshi yang hanya mengedipkan sebelah matanya.


"Tuan Jaksa penuntut umum, apakah akan menanyakan ulang?" tanya Michael Tampubolon.


"Iya. Saya hendak menanyakan ulang."


"Mr Syahputra, saat penyerangan ke markas Triad Wong, anda tidak ikut menyerbu?"


"Tidak" jawab Lucas.


"Kenapa?"


"Karena saya dan Agen FBI Pedro Pascal bertugas sebagai liaison officer ( petugas penghubung ) dengan pihak otoritas Hongkong."


"Baik. Selama dua tahun anda menjabat sebagai deputi BIN, apakah anda juga dipersulit dalam mengusut kasus anda?"


Lucas menatap ke arah belakang pengunjung sidang. "Kapten Hui bilang itu semua kesalahan warga negara saya!" tuding Lucas. "Jangan dikira aku tidak merekam semunya. Officer Liu yang menerima semua barang bukti, secara 'tidak sengaja' menghilangkan."


Dua orang yang ditunjuk Lucas langsung memucat. Mereka tidak menyangka akan dituding oleh agen BIN itu.


"Anda jangan sembarang menuduh, Mr Syahputra!" tegur Jaksa penuntut umum.


"Cek CCTV kepolisian Hongkong, cek body cam saya yang sudah saya berikan pada pengacara BIN." Lucas menatap tajam ke kedua orang itu.


"Apakah ada, tuan pengacara?" tanya Hakim.


"Ada yang mulia. Saya arsipkan rekaman body cam deputi Lucas Syahputra bukti nomor 81." Michael memperlihatkan rekaman body cam Lucas lengkap dengan tanggal dan jamnya.


Lucas tampak mendatangi ke kantor kepolisian Hongkong untuk melaporkan kasus hilangnya satu keluarga warga Indonesia yang menghilang. Disana Kapten Hui mengatakan sebagai turis, suka seenaknya sendiri jadi kalau hilang salah mereka.


Lucas terdengar protes dan dengan ogah-ogahan wajah Kapten Hui bilang akan menyelidiki kasus itu. Lucas dan salah satu anak buahnya memberikan barang bukti kepada officer Liu. Pada saat itu Lucas bilang akan datang tiga hari lagi untuk menanyakan perkembangan.


Body cam Lucas menyala kembali tepat tiga hari kemudian untuk menanyakan perkembangan. Apa yang kemudian terjadi, officer Liu mengatakan dengan entengnya bahwa barang bukti tersilap entah kemana.


Semua orang disana menoleh kearah kedua orang itu. Setelahnya terdengar kemarahan Lucas dan terjadi adu mulut. Yang membuat generasi kelima dan keenam tersenyum, terdengar bagaimana Lucas memaki dua petugas kepolisian itu dengan semua ucapan kasar dalam bahasa Indonesia dan Jawa.


Lucas hanya menggaruk kepalanya. "Oooppss."


"Saya minta kepada petugas pengadilan untuk menahan dua petugas kepolisian, kapten Hui dan officer Liu dengan dakwaan menghilangkan barang bukti!" ucap Hakim tegas membuat empat petugas pengadilan langsung menahan kedua orang petugas kepolisian Hongkong itu.


Jaksa penuntut umum bersama dengan asistennya menatap tidak percaya ke arah Michael Tampubolon. "Kalian memiliki berapa banyak barang bukti?"


Michael Tampubolon hanya tersenyum. "Banyak hingga mampu membuat publik semakin tidak percaya dengan kepolisian Hongkong. Jika maaf ada gunanya, untuk apa ada polisi?"


Dan kali ini pengadilan terdengar suara tawa karena Michael mengambil kalimat klasik dari manga Hana Yori Dango atau drama Meteor Garden.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️