Jayde and Wira Stories

Jayde and Wira Stories
Omar Pusing



Bandara Internasional Hongkong


Tepat pukul dua pagi waktu Hongkong, pesawat Gulfstream milik Emir Al Jordan Dubai tiba di bandara internasional Hongkong. Bayu yang membawa dua pengawal kepercayaan, Doogie O'Leary dan Hunter McDouglas, langsung keluar bersama dengan Luke Bianchi untuk menemui agen mossad Eli Yaqub, agen BND Katrin Jaeger dan agen BIN Lucas Syahputra.


"Akhirnya saya bertemu dengan keluarga yang terkenal dengan hobi gegerannya" senyum Lucas Syahputra.


"Bagaimana?" tanya Luke tidak paham.


"Saya Lucas Syahputra, cicit keponakan Almarhum Irjen Manggala Saputra. Saya putra AKP Thomas... Oom Quinn tahu lah pasti" senyum pria muda itu.


"Oh ya ampun! Kamu kan masih kecil waktu nikahannya Oom Ayrton" ucap Luke.


"Masih ingat saja mas Luke" kekeh Lucas.


"Samar-samar sih! Senang bisa bekerja sama dengan orang yang dikenal keluarga" senyum Luke sambil bersalaman.


"Mr Bianchi, anda datang dengan berapa orang?" tanya Eli Yaqub.


"Banyak!" cengir Luke.


Ketiga agen federal itu melihat rombongan Luke dan Bayu yang mulai turun satu persatu.


Emir Dubai pun ikut?


***


Rumah Yang Disediakan Oleh Triad Chen


Sky Chen menyambut rombongan sahabatnya dengan wajah sumringah. Dan dirinya surprise melihat Nadya Blair ada dalam rombongan.


"Nadya!" panggil Sky Chen.


"Lha? Sky Chen itu kamu rupanya?" tanya Nadya surprise. Omar Zidane tampak tidak suka melihat interaksi antara Nadya dan Sky Chen.


"Kalian kenal?" tanya Luke.


"Nadya menolong aku waktu hampir mati dihajar pemabuk. Aku baru saja keluar dari sebuah bar dekat kampus Harvard dan ternyata ada yang tidak suka dengan ucapanku dan aku dikejar lalu dikeroyok. Nadya kebetulan lewat dan membantu aku dengan baton nya. She's so badass!" kekeh Sky Chen.


"Aku tidak tahu dia namanya Sky Chen soalnya habis itu aku telpon polisi terus pas polisi datang, aku kasih keterangan, pulang" jawab Nadya.


"Ternyata kalian sudah pernah ketemu..." gumam Omar dengan nada dingin.


"Tenang OZ, Sky sudah menikah! Apa kamu tidak lihat ada cincin kawin melingkar di jari manisnya?" bisik Gasendra usil.


Omar Zidane melirik jari manis Sky yang melingkar cincin kawin berwarna emas. Alhamdulillah, dia sudah punya istri.


"Baik, kita mulai saja briefing nya." Agen BND, Katrin Jaeger memulai acaranya. Wanita Jerman itu sangat sistematis dalam menerangkan operasi penggrebekan besok.


"Kami sengaja tidak meminta backing dari kepolisian Hongkong dan HKSS, karena kami tidak mau ada pembocoran rencana kita" ucap Katrin dengan nada tegas khas Jerman.


"Semua senjata yang kalian pinta, sudah aku siapkan. Dan jangan ditanya, aku dapat dari mana ya?" senyum Sky Chen.


"Tidak bakalan aku tanya, Sky" kekeh Luke.


Semua orang disana lalu mengambil senjata masing-masing sesuai dengan favoritnya. Luke dan Bayu lalu memberikan kevlar buatan GM buat semua orang. Rompi peluru itu mampu menahan peluru jenis terbaru yang dikenal cop killer bullet.


Jayde dan Sadawira saling menatap satu sama lain seolah mengatakan take it or leave it. Omar Zidane melihat bagaimana Nadya dengan terampilnya memeriksa Glock Meyer 22 yang dipegangnya secara detail lalu memeriksa Pistol jenis FN 57.


"Kamu bawa pistol apa Omar?" tanya Nadya sambil menyiapkan pistol cadangan di pergelangan kakinya.


"Glock 17, Glock 22 dan ini..." Omar menunjukkan pistol di pergelangan kakinya.


"Wah GSH-18. Awesome!" senyum Nadya.


Omar tercengang. "Kamu tahu?"


"Seriously Omar! Apa kamu lupa vault kami di New York?" kekeh Radeva yang menyiapkan senjatanya.


"Damn it aku lupa!"


***


Hongkong, pukul 5.00 dekat markas Triad Wong


Sepuluh mobil menuju markas Triad Wong dan langsung Bayu bersama Hunter dan Doogie dibantu tiga anggota agen Mossad langsug membuat parameter dengan memarkirkan mobil mereka untuk menutup akses agar warga sipil tidak masuk ke tempat kejadian.


Informasi yang diterima dari Eli dan Lucas, Gary Wong berada disana dengan 30an anak buahnya. Dokter Huang dan Bramastyo juga berada disana untuk menyelesaikan transaksi.


"Kalian ke sayap kiri, aku ke sayap kanan. Kita lakukan sesuai rencana" ucap Luke ke Nadya, Omar, Jayde, Wira dan Chisato yang berada dalam satu tim.


"Oke."


Semunya masuk dengan senjata siap di tangan masing - masing. Eli dan Lucas menembak pengawal gerbang dengan peluru bius melalui pistol yang sudah diberikan peredam. Rata - rata senjata pertama mereka diberikan peredam agar tidak terdengar. Setelahnya mereka berpencar.


Tim itu dibagi menjadi lima dan masing - masing menyerbu dari berbagai arah. Tim Jayde menyerbu dari sisi kiri yang merupakan bangunan tempat penghitung uang dari hasil rentenir mereka.


Omar mengintip dari jendela kecil dan tampak ada sekitar lima orang wanita sedang menghitung uang hanya mengenakan pakaian d@lam dengan dikawal sekitar sepuluh orang bersenjata lengkap.


Pria jangkung itu memberikan kode bahwa ada sepuluh orang disana lalu meminta agar mereka bersiap.


Tak lama Omar mendobrak pintu itu dan semua pengawal menembak ke arah kelima orang itu tapi mereka kalah cepat dengan kesiapan agen FBI dan cicit klan Pratomo yang terlatih itu.


"Kalian baik - baik saja? Nad?" tanya Omar setelah melumpuhkan kesepuluh orang itu dengan peluru black mamba..


"Fine. Jay? Wir? Chis?" tanya Nadya.


"We're good! Wow, that was fun!" seringai Jayde.


Omar cemberut. "It's no fun Jayde!! Not fun at all!"


Chisato dan Nadya lalu menghampiri para wanita yang ketakutan di bawah meja.


"没关系。你现在安全了。来,我们现在出去。- Méiguānxì. Nǐ xiànzài ānquánle. Lái, wǒmen xiànzài chūqù ( tidak apa-apa. Kalian aman sekarang. Ayo, kita keluar )" ucap Chisato membantu para wanita itu.


"Guys, tolong lempar jaket-jaket disana supaya para ladies ini bisa keluar" pinta Nadya ke Jayde dan Wira, sedangkan Omar berkoordinasi dengan agen Mossad dan BND yang berjaga untuk mengamankan kelima wanita itu.


Setelah para wanita itu keluar, Omar dan timnya masuk ke dalam gedung dan terdengar suara baku tembak di gedung sebelah.


Tiba-tiba di sebuah lorong, mereka melihat lima pengawal Wong keluar dengan menggunakan katana dan pedang. Sadawira, Chisato dan Nadya yang penggemar kendo, langsung mengeluarkan baton mereka. Baton baja itu sangat kuat hingga pedang pun tidak bisa membelahnya.



Omar Zidane baru kali ini melihat Nadya memainkan batonnya, hanya bisa menatap kagum bagaimana gadis itu bisa berkoordinasi dengan kompak bersama Sadawira dan Chisato. Gadis itu tanpa ragu mengayunkan batonnya bersama dengan Chisato. Keduanya bagaikan menari sambil menghajar tanpa ampun dan langsung kena titik lemah mereka leher serta kepala. Lima orang itu pun langsung terkapar membuat ketiga orang itu menyimpan baton sticknya.


"Kenapa tidak langsung ditembak saja sih?" tanya Omar ke Nadya kesal.


"Gak seru! Lagian, hemat peluru dan lumayan buat lemasin badan yang belum olah raga ini" jawab Nadya cuek lalu mengambil Glocknya dari tempatnya di pinggang. "Ayo!" Nadya memberikan kode untuk maju dan melihat Sadawira menyuntikkan sesuatu di kelima orang itu.


"Jangan bilang kamu suntik serum black mamba lagi?" ucap Omar.


"Yup" jawab Sadawira dingin.


"Sabar ya Bro" kekeh Jayde sambil menepuk bahu Omar.


"Astaghfirullah..." Omar menghela nafas dengan perasaan kesal.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️