I WANNA RESET

I WANNA RESET
nobar #8



kiraa dan rara pun masuk ke lingkungan rumah tersebut, terlihat banyak sekali penjaga padahal sekarang ini sudah lebih dari jam 12 malam.


"kenapa sih penjaga itu, kita jelmaan hantu ya?"kata kiraa bingung, haruskah ia merasa senang atau enggan.


"ntah"


setelah memberanikan diri ia berjalan maju menuju pintu yang sangat besar.


"nggak papa ini kalo kita langsung masuk" bisiknya.


"ayo langsung masuk aja lah" muak rara.


*kritt...


pintu terbuka, di dalam rumah itu tidak ada sama sekali pencerahan semacam lampu.


kiraa bingung apa ia masuk saja atau kembali.


*clikk...


tiba-tiba lampu menyala dan di sambut oleh pembantu yang usianya lebih tua dari kiraa.


"eh nona, ada masalah apa?"


"emm itu, saya di undang untuk datang ke rumah ini, ini pesan nya" ia menghampiri pembantu tersebut lalu memperlihatkan layar HP nya.


pembantu tersebut membulatkan matanya lalu tersenyum manis.


"oh, nona di undang tuan untuk kesini ya~"


kiraa mengangguk.


"mari saya antarkan nona bertemu dengan tuan" pembantu tersebut membuka jalan.


kiraa pun mengikuti pembantu paruh baya di depannya.


.


.


mereka pun sampai di suatu ruangan yang terdapat sofa dan tv, sofa dan tv tersebut membelakangi mereka.


tv itu menyala dan menampakkan berita acara.


"tuan berada di sana"ia menunjuk dengan kedua matanya.


"ahh, terimakasih"kata kiraa.


kira pun berjalan sambil melihat sekitar-kitar yang banyak sekali benda-benda bersinar, kiraa bisa menebak semua benda tersebut sangat lah mahal, mana mampu ia membelinya walau bertahun tahun dengan gaji yang ia peroleh saat bekerja di sebuah toko.


walaupun begitu kiraa tidak terlalu norak, sedang kan rara sangat terkagum kagum dengan apa yang ia liat.


"wahh, apakah ini istana...?"kagum rara.


" tidak tahu, tetapi aku juga mengira seperti itu"jawab kiraa yang sama kagum nya.


kiraa pun mendekati sofa, ia berjalan pelan pelan.


"oh, Hai"


"huwaa" kata kiraa dan rara bersamaan.


"pff, jangan sekaget itu" katanya sambil tersenyum.


"gimana gak kaget?!"


"ehe, i-iya om"kiraa tersenyum kecut sambil mengangguk-angguk.


"silahkan duduk"kata dian.


kiraa pun melihat lihat kearah yang lain, dan ia melihat sofa, ia pun duduk dengan sopan padahal dalam hati nya mengarah kemana mana.


suasana pun hening, hanya ada suara tv.


"emm, kenapa om mengajak aku kesini?" kiraa membuka suara.


"oh iya, tetapi kita minum dan makan sesuatu dulu, om laper!" kata dian sambil memegang perutnya.


"hais! intinya aja lah! udah malem ini!"


"bi!"


dengan cepat pembantu tadi yang menuntun kiraa pun datang.


"kau ingin sesuatu"


"apa ada susu, om?"


kiraa merasa sungkan, tetapi mau bagaimana lagi, ia sangat lah suka dengan susu putih.


"seperti nya kau menyukainya"


"hehe iya om, kiraa suka"


"jadi nama mu kiraa?"tanya dian.


"eh"


"bukan bukan..." kiraa gelagapan.


"terus?"


"emm..." "gimana nih, kenapa pake acara keceplosan segala!"


"terus?" kata dian ke 2 kalinya.


karna kata tersebut, kiraa pun buyar dari bengongnya.


"itu om, k-kierra."


"oh kierra..."


"mau makan apa?" lanjutnya.


kierra pun menoleh ke arah tv, lalu ia melihat sekitar untuk memastikan sesuatu.


"om apa ada popcorn?"bisik kiraa.


"ha? popcorn?"


"iya om, hari ini ada pertandingan bola"


"maaf loh kalau ngerepotin"kiraa pun duduk seperti semula.


"ahaahahaah"


dian tertawa hingga suara itu menggema.


"bi, siap kan yang di katakan kiraa dan siapkan beberapa minuman soda"


"baik, tuan!"


"ada yang lain, tuan?"


"tidak ada, silahkan pergi"dian mengibas-ngibas kan tangan nya.


"baik, permisi"


"jika tuan tertawa, sungguh mengerikan..." bulu kuduk nya pun berdiri.


.


.


"kiraa apa kau menyukai bola?" kepo dian.


"lumayan"


ia masih trauma jika lelaki yang tidak tau asal usulnya tertawa seperti tadi.


"owhh, terus channel apa?"


kiraa pun langsung menyapu sekeliling dengan kedua matanya, ia mencari sosok remote.


"ah, ketemu"


"sebentar, nah ini loh!!" ia bersorak ketika melihat pemain bola kesukaannya.


"oh ini, om juga suka ini, apa lagi yang rambutnya suka tuing-tuing itu"


"loh om aku juga suka itu, siapa itu namanya! lupa ih"ia menatap dian dengan gembira.


"neldo!"


"nah, bener tuh"


"udah berapa itu score nya?"


"3/1, om"


"wah,the best lah,jangan kasih kendor!"


"neldo..neldo.. ayo!!" kata kiraa dengan nada suara rendah.


"itu, dikit lagi, dikit lagi tuh!"


neldo pun menggocek gocek sambil berfikir.


"ayo goal, biar dapet duit, ntar dapet duit dapet anak!" batin pemain bola yang terkenal itu.


saat bola masuk ke gawang dengan kecepatan tinggi.


"goall!!"


"yes, goall!!'teriak kiraa tak kalah nyaringnya.


pembantu tersebut tersenyum melihat kegembiraan di wajah mereka.


"tuan nona, silahkan" ia menaruh nampan yang di atas nya ada secangkir susu hangat dan beberapa pesanan yang lain.


"hemm, terimakasih bi" kata dian sambil menatap pembantu itu.


"Terima kasih!"kiraa juga.


pembantu tersebut menjawabnya dengan senyuman manis di wajahnya.


1 jam pun berlalu.


sekarang mungkin orang orang akan bangun untuk memulai aktivitas seperti biasa, namun beberbeda dengan kiraa dan rara.


mereka benar-benar lelah setelah teriak teriak tidak jelas.


dian tak sengaja menoleh, ia melihat kiraa yang terkantuk-kantuk.


"kiraa, tunggu sebentar"kata om dian.


"ada apa om?"


kiraa berkata sambil mengucek matanya yang terlihat sayu.


"jangan disini tidurnya"


"ha?"


"masih kuat jalan?"


"emm"


ia berdiri melihat kakinya lalu menatap dian.


"masih kok om, ada apa ya?"


"oh ya ini sudah larut malam, kalau begitu aku pulang dulu, om"


"eitss"


"siapa yang suruh pergi?"dian melipat tangannya.


"lah kalau gak pulang ngapain dong?"


"ini udah larut malam bahkan mau pagi, jadi tidur disini dulu"


"lah kenapa sih om om ini"


"hoamm... kalau pagi bagus dong udah terang, dari pada jam 12 an pas aku kesini om"


"ck"


"gak papa, disini aja masa kamu mau nolak sih?" cemberut nya.


"om om ini kerasukan apaan ya"


tiba-tiba dian mendekat lalu menarik tangan kiraa, seketika kiraa terbengong.


dian menarik lengan kiraa dengan lembut, ia menuntunnya sampai di depan suatu kamar yang berada di lantai dua.


"hoamm..." uap kiraa.


"ini kamar untuk malam ini"


"semoga kiraa nyaman dan menyukainya"


kiraa tidak menjawab, ia hanya terus terusan menguap dan mengkucek matanya.


dian mengangkat tangannya lalu menempatkannya di atas kepala kiraa.


"masuk lah"


"terimakasih om"


"hemm"


saat didalam ia langsung mengunci pintunya, ia juga mengarah ke tempat tidur,masa bodo lah kalau harus kagum lagi.


kiraa langsung ambruk dengan posisi tengkurap.


"hah... orang yang melelahkan"


kata itulah yang terakhir kali kiraa ucap kan, dan seterusnya ia sudah masuk ke dalam mimpi.


dan rara?.


ia terus menempel ke kiraa dengan wujud hantunya(tak terlihat) rara juga sama sama tertidur tanpa mementingkan dimana ia berada.