
"aku baru pertama kali duduk di kursi makan ini"ia memegang ujung kursi dan mulai mendudukkan bokongnya di kursi itu.
"selama disini, kau tidak pernah duduk disitu?"
"tidak" jujurnya, memang kenyataannya begitu.
"kasihan sekali"
leona berkata tanpa menghentikan aktivitasnya yang sedang memasak.
"ya gimana lagi,anak itu tidak bisa di ajak makan di sini" benak nya.
"oh ya,kau sudah pindah?"
tanya kiraa, padahal seingatnya, leona belum pindah ke asrama.
"iya dong!"
leona terus memotong dengan sangat ahli, kiraa akui, ia kagum dengan seseorang yang kini sedang memasak itu.
"coba saja pak alex melihat ku sedang memasak disini, bisa-bisa kena amukan lagi!"
"siapa suruh kau memasakkan makanan untukku!" cibirnya.
"yeh! untuk ku, ya!"
"bukan untuk mu!" balasnya lebih pedas.
kiraa tersentak, ia langsung bungkam begitu saja setelah mendengar perkataan leona.
iya juga sih, dirinya yang lapar, seharusnya jangan menyindir orang yang ahli masak, atau tidak akan bisa makan enak.
"iya deh, aku lapar!"
-
setelah beberapa menit kemudian, akhirnya masakan leona pun jadi.
belum juga di sajikan, aroma nya sudah menggugat selera.
leona pun menaruh masakan itu ke meja di hadapan kiraa.
"kau pintar memasak ya" pujinya.
"mungkin hanya kau yang mengatakannya"
"karna aku memasak untuk diriku sendiri"
ia membersihkan kedua tangannya menggunakan kain di sekitar sana.
"jadi aku tidak di kasih nih!"
"karna kau sakit, silahkan"
dengan senyuman yang sumringah, kiraa langsung mengambil, padahal demamnya tidak terlalu parah.
saat mulai mencicipinya,kiraa sangat kagum dengan masakan temannya itu.
ada berbagai hidangan yang di sajikan, termasuk roti yang berisi daging dan sayuran.
karna terlalu sibuk dengan makanannya, kiraa sampai tak memperhatikan leona yang tengah bingung menatap jendela.
beberapa menit kemudian, leona berteriak.
"kierra!!"
panggilnya dengan tangan yang menggapai gapai, mata nya terus terfokus ke arah jendela.
merasa terpanggil,ia segera membersihkan tangannya, kierra penasaran apa yang membuat leona kaget begitu.
ia mendekat kearah leona.
"ada apa sih?-"
"ha?!" ia membungkam mulutnya sangking tak percayanya.
"ya ampun! aku lupa kalau dia akan kesini"
"aku sudah izin juga!"paniknya.
"k-kier?"
"itu s-siapa?" ia menunjuk alya dan kiraa bergantian dengan wajahnya yang kebingungan.
"e-eheheh" ia tersenyum kaku.
-
"begitu onn... "
setelah menceritakan semuanya,kiraa akhirnya tenang saat melihat wajah leona yang memanggut-manggut mengerti.
kiraa menceritakan persis seperti yang di katakan rara, namun beda pembawaan, yang awalnya rara di ganti menjadi dirinya yang melihat langsung kejadian itu.
ia membicarakan itu sebab ia percaya kepada leona,entah kenapa saat berdekatan dengannya, kiraa merasa ada hawa dan aroma yang sama seperti rara,hawa-hawa itu berterbangan di sekeliling leona.
tapi itu masih pemikiran kiraa, tidak tau apa itu benar atau tidak.
"jadi kau tidak bisa keluar dengan penampilan mu ini?"
"ya,tidak bisa"
tiba-tiba leona berjalan mendekat ke arah kiraa.
"tadi dia keliatan berkeringat, seperti selesai kejar-kejaran"
"mungkin ibu-ibu itu jadi mengejarnya"ucap santai kiraa.
"oh iya, tadi kau tidak terkejut sama sekali saat aku membicarakan tentang iblis,kau tidak takut gitu?"
"eh!"
"aku pikir, kalau dia bisa menjadi kamu sangat mirip, kemungkinan dia melakukan hal 'itu', lagian didunia ini pasti ada hal yang semacam itu"
"dan kurasa itu hal yang biasa"
leona menarik kursi.
"berarti kau pernah melakukannya"
"ya bukan begitu!"
"katanya hal yang wajar" ia terus membantah.
"ya untuk dia!"
...---...
"kau mau pergi kemana?"
ia menyerahkan jaket di tangannya.
"bahaya jika dua kierra berkeliaran di satu tempat"ucapnya dengan tenang.
leona masih terus menatap kiraa lekat-lekat, tidak ada niatan untuk dirinya memalingkan pandangannya.
"..."
"setidaknya aku harus jauh beberapa meter dengan kierra dua"
"siapa namanya"dengan tiba-tiba leona menanyakan hal itu,yang membuat kiraa sedikit kaget.
"ha?"
"kau tidak perlu tau, dia seseorang yang seharusnya tidak di kenal oleh kita"
kiraa memasang jaketnya, namun seketika ia terhenti di saat tangan leona memegang lengannya.
"dia harus di keluarkan, karna melakukan hal yang mencelakai sekolah kita, dan juga dirinya sendiri" ucap leona dengan tatapan seriusnya.
"jadi kau tau akibatnya?"
"apa?" bingungnya.
"tidak apa, aku pergi dulu" ia melambaikan tangannya.
dan langsung pergi dari hadapan leona.
jika leona mengerti akibatnya, setidaknya ia pasti tau tentang sihir, itu yang berada di pikiran kiraa.
jauh dari kebosanannya, ia sebenarnya penasaran apa yang akan terjadi jika ia meninggalkan area sekolahannya.
apa alya akan mendapat masalah?, mungkin iya.
dengan langkah yang lebar kiraa berjalan keluar dari area itu.
"aku ingin mencoba beberapa sihir yang diajar kan rara, siapa ya korban pertama..."
"oh ya! ngomong-ngomong,bagaimana kabar om dian ya?apa aku datangi saja?"ia terus berbicara sendiri.
*dorr!
kiraa langsung menoleh ke arah sekolahannya, suara tembakan itu benar-benar dari bangunan itu.
kiraa terus terdiam mendengarkan kembali suara itu, namun bagai angin yang lewat saja, suara itu tidak terdengar, kembali.
dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.
" mungkin aku berhalusinasi karna kurang tidur..."ucapnya sembari memejamkan kedua matanya.
ia merasa sedikit pusing sih.
"semoga aku tidak pingsan di jalan..."
"aku belum mandi juga!..." lanjutnya di dalam hati.
setelah menghembuskan nafas beratnya, kiraa kembali melangkahkan kakinya dengan pelan.
menikmati kebebasannya sembari mencoba-coba kekuatan kecilnya yang di ajarkan rara semalam.
"hiks... hiks..."
tak di sengaja, kiraa mendengar suara isakan seseorang anak kecil dari kejauhan.
semakin di perjelas,semakin menyayat ke hati.
"apa lagi ini!..." gumamnya.
ia menggelengkan kepalanya,mungkin ini bagian halusinasinya sebelum pingsan, namun walau beberapa kali ia menggeleng, suara itu masih terdengar begitu jelas.
"asli?"ia membelalakkan matanya dengan bingung..
"aAAAaaaaA!"
tiba-tiba ada anak kecil yang merengek berlari ke arahnya.
dan langsung memeluk kaki kiraa dengan erat.
"hiks! kakak!!"rengek nya lebih keras.
"a-ah! kau siapa!" kiraa berusaha melepas pelukan erat anak itu, namun tenaga anak itu lebih kuat.
"ibu!.... hiks.."
gadis kecil itu menangis, kiraa bahkan bisa merasakan air mata di kulit kakinya.
"a-aa,ada apa dengan ibu mu?"
"ibu ku- hiks.... berada disana!..." ia menunjuk ke arah jalanan yang terlihat sangat ramai dari kejauhan.
kiraa menyipitkan matanya, dan kembali menatap anak itu.
"terus?"
"dia... sekarat..."
"ha?"
"kecelakaan?!"
"emm... bukan.."
"terus?"
bukannya menjawab, anak itu malah menangis se jadi-jadinya di kaki kiraa.
mau tak mau harus begini...
"kalau begitu a-ayo kita datangi ibu mu..."
gadis itu mengangguk.
ia melepaskan pelukannya dan mengusap sisa air matanya.
"sini, berikan tanganmu"
dengan senang hati anak itu menautkan tangannya ke tangan kiraa.
"tanganmu terasa dingin..."
"mungkin karena aku terlalu lama berdiam di situ"
"ya, mungkin..." percaya kiraa, namun dalam hatinya ia bingung, tidak mungkin pengaruh cuaca bisa membuat tangan anak kecil mendingin seperti mayat hidup.
m-mayat hidup?, seketika kiraa berkeringat dingin saat mengingat pikirannya asalnya tadi.