I WANNA RESET

I WANNA RESET
rara dan kiraa terikat? #45



Karna bosan, kiraa berjalan ke arah taman yang berada di belakang sekolah.


Keadaan disana benar-benar sangat sepi, tidak ada satupun orang yang berkeliaran.


Kiraa mendekat ke arah pohon besar yang membuatnya penasaran.


Ntah mengapa aura disana sangat kuat, padahal kiraa sendiri tidak tau apa aura yang ia rasakan.


"Kertas apa ini?"


Saat di perhatikan dari dekat, kiraa melihat bermacam-macam kertas yang bergantung di ranting-ranting pohon.


"Sebuah permohonan?" ucap kiraa saat memegang kertas tersebut.


"Lumayan menarik..."


Gumamnya.


Kiraa mengedarkan pandangannya, memastikan tidak ada satupun orang yang berada disana.


"Hmm..." ia menunjuk dagunya.


Memikirkan sebuah ide yang gila agar menghapus kebosanannya.


Bertambahnya hari, bertambah pula ia merasa bukan seperti dirinya yang dulu.


Terbuktikan dari sifatnya yang mudah bosan, lebih tertarik dengan sihir, dan lain-lain.


-


Saat merasa dirinya kehabisan ide, kiraa memilih untuk meningkatkan kekuatannya saja dari pada berdiam diri.


Ia melangkah-kan kakinya, menepis jarak antara dirinya dan pohon besar itu.


Setelah menemukan tempat yang nyaman, kiraa segera duduk bersila di atas rerumputan yang bersih dan tidak terlalu panjang itu.


Sepertinya anggota club garden sangat menjaga tempat terindah mereka dengan baik.


Dengan perlahan, mata kiraa terpejam,mencoba mengkosongkan pikirannya.


Dan itu berhasil.


Dunia terasa melambat, dedaunan yang jatuh pun seperti enggan untuk menyentuh tanah.


Namun udara yang kiraa hirup masuk keparu-parunya dengan lancar tanpa hambatan.


Tiba-tiba secercah ingatan tentang masa-lalunya kembali hadir di kepalanya.


Membuat wajahnya belumuran keringat dan tidak konsentrasi.


Terpaksa kiraa harus mengakhiri nya.


Padahal belum lebih dari 2 menit.


"Susah juga ya..." ia mengelap keringatnya dengan kasar.


menarik nafas,meluruskan kakinya,menikmati udara yang meraba kulitnya.


*wush!!


Dengan gerakan cepat kiraa memiringkan kepalanya, karna sesuatu dengan kecepatan tinggi mengarah padanya.


Jantung kiraa berdetak cepat, ia mematung sejenak sebelum akhirnya menoleh kebelakang.


"Pisau?..." ia melihat sesuatu yang menancap di pohon belakangnya, air berwarna bening keluar setelah beberapa detik kiraa menatapnya.


"Darah pohon?"


"Aku baru pertama kali melihatnya..."ia mengerutkan alisnya.


*wush!!


Lagi-lagi sebuah angin mendekat ke arah kiraa kembali.


Ia memegang kepalanya dan menunduk.


"apa ini semua?!!" ringisnya.


Bahkan sehelai rambut kiraa tertarik hingga terlepas dari kepalanya.


Dengan cepat ia berdiri, menjauh dari pohon itu.


"Apa ini ulah lucy karna sudah kepepet?"


-


"Fyuh..." ia bernafas lega.


Setelah berpamitan dengan kiraa, rara langsung saja membuat portal ke dunia asalnya.


Dan tanpa di inginkan, ia malah ter-teleport ke hutan yang penuh hewan buas. tentu dibantu hawa-hawa jahat, hutan itu menjadi gelap.


Dengan bantuan kunang-kunang, rara akhirnya sampai ketempat kelahiran ketuanya.


Disana tampak ramai walau hari sudah menjelang malam.


Para pedagang masih senantiasa berjualan, walaupun ada beberapa yang sudah mau tutup.


"Miaww"


"Ha?!" kagetnya.


"Kau!" ia memukul kucing itu dengan keras.


"Aouchh!!" pekiknya.


"Tau pulang juga kau!" ketusnya.


"Kalau bukan karna ada keperluan, aku mana mau kembali, huh!" balasnya tak kalah ketusnya.


"Yasudah, ada perlu apa?"


"Hey! Aku mau berbicara dengan ketua, bukan kau!" ia memalingkan wajahnya.


"Ya ada apa?!"


"Ketua sedang ada di kerajaan tetangga!"


"Ini perihal tuan ku"


"Tuan?"


"Kau sudah mendapatkan tuan?"dia mendekatkan telinganya.


"Sudah dong!"bangganya.


"Jadi kapan ketua kembali?"


"Mungkin sebentar lagi" ia menjilat punggung tangannya yang mungil.


"Oh..."


Rara terdiam, ia tidak tau harus berkata apa lagi.


"Ayo, matahari sudah terbenam, lebih baik masuk terlebih dahulu"ajaknya.


---


" silahkan tuan..."ia membungkuk.


"ketua!" panggil rara, dia langsung berdiri saat mendengar suara yang tak asing di telinganya.


"Rain?!"


"Mengapa kau disini?"kagetnya, walau wajahnya tak begitu menunjukkan ekspresi kaget.


Lelaki itu langsung menghampiri peri kecilnya dengan perasaan bingung.


"Aku ingin membicarakan sesuatu" rara langsung melayang ke arah lelaki yang ia sebut 'ketua' itu.


"Sini-sini" ia merentangkan tangannya, yang membuat rara lebih cepat menghampiri.


"Umhh, peri kecilku kau mau membicarakan apa?"


Rara melepas pelukannya.


"Tapi..." ia melirik siluman kucing yang bersamanya tadi.


"Ahh, Ayo keruangan ku" ajaknya.


Rara pun mengangguk. Melewati lorong yang panjang dengan dinding yang diliputi lukisan-lukisan indah.


Dan tak lama setelah itu, mereka berdua sampai diruangan pribadi ketua rara.


"Kau ingin berbicara apa?"


Tanya lelaki itu kembali.


"Begini ketua"


"Aku kan sudah memiliki tuan, masalah tuan ku itu rumit... Sedikit..."


Tentu saja menurut rara masalah kierra rumit, karna ia juga masih pemula yang tak sengaja menteleport diri ke dunia manusia.


dari dulu, ia tidak pernah diperbolehkan melakukan misi oleh ketuanya.


Dengan kata lain, ia mendapatkan misi dan tuan untuk pertama kalinya.


"Huh..."


"Masalah apa?"


namun setelah berbincang sebentar walau sekedar di alat komunikasi, akhirnya ketua menyetujui rara yang sudah 'terlanjur' itu.


"Ini"rara mendekat dan memberikan kantong merah miliknya.


"ha?"tentu saja lelaki itu bingung.


"ini adalah sisa foto dari pemilikku"


"Foto?" ia bertambah bingung dengan perkataan rara.


"Ah! Foto itu seperti lukisan yang menangkap sebuah momen..aaa.. Seperti shiye"  rara membicarakan kartu yang bisa menangkap gambar apapun, didunia nya.


"Shiye?" ia memperjelas perkataannya sambil mengingat-ingat.


"apa mirip dengan batu zeze?" video.


Setelah itu, ia langsung meraih kantong merah yang diberikan rara.


Dia membukanya.


"Sisa?"


"Apa ketua bisa merasakan aura-aura?"


"Emm..."


Rara menegang.


"Tidak tuh" jelasnya sambil menatap rara dengan malas.


"Tidak ya?..."


"Memang kenapa?"lelaki itu menaikkan sebelah alisnya.


"itu loh, ada seseorang yang mengikuti penampilan tuan ku"rara menautkan jarinya.


"Ha?"


"Iya! Dia melakukan ritual dengan iblis!"ia langsung menaikkan nada suaranya.


" iblis? Kau bilang iblis?"


"Iya ketua, aku melihatnya langsung!"


"Kau bisa menceritakannya?" pandangannya seketika menjadi serius setelah mendengar kata 'iblis' dari bibir peri kecil itu.


"Jadi..."


"Oh begitu..." ia menunduk dengan jari yang menaut dengan dagu.


"Ambilkan boneka di lemari ku" suruh lelaki itu.


Dengan patuh rara mengambilnya, untungnya ia masih mengingat arah rumah besar itu.


"Ini" katanya ketika kembali.


"Baiklah"


Lelaki itu berjalan menghampiri meja, ia mengambil sesuatu yang seperti mangkuk dengan ukuran yang lebih besar.


Dengan kekuatannya, ia mengambil gelas minum dan menuangkannya di mangkuk tadi.


"Taruh bonekanya"


Rara pun menaruh boneka itu.


Setelah rara manaruhnya, 'ketua' menaruh abu sisa foto kiraa di mangkuk itu juga.


Tidak terjadi apapun.


Rara sedikit bingung, ia kira akan terjadi ke ledakan atau hal ajaib lainnya, namun tidak.


"Hmm" lelaki itu mengambil boneka yang baru saja ia taruh, dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Ketua apa yang kau lakukan?!" teriak rara sambil menarik lengan ketuanya.


Pasalnya, lelaki yang menjadi ketua rara itu tiba-tiba menggenggam pisau di tangannya.


Mengarahkan benda tajam itu ke boneka.


Tentu rara langsung heboh, walaupun pengetahuannya di bawah rata-rata dari semua teman sepeguruannya, setidaknya ia tahu menahu dengan ritual-ritual aneh.


Dan tiba-tiba lengan rara tertarik benang merah.


Rara tau, itu pasti ikatan antara dia dan kiraa, tuannya.


Saat melihat itu, lelaki yang tak bisa di anggap tua ataupun muda itu pun tersenyum aneh.


Dengan cepat ia menghilangkan pisaunya.


"Oh ternyata kau benar-benar punya tuan..." katanya dengan tenang.


"Jadi ketua tidak percaya dari tadi?!"