I WANNA RESET

I WANNA RESET
kelicikan kierra? #48



"FLORA!!"


bersamaan dengan rara, kiraa menoleh.


dari kejauhan seseorang menghampiri mereka berdua, dia terlihat seperti terburu-buru dan sedikit keringat membasahi dahinya.


"dari mana saja?"


"kau tidak liat sebanyak apa pengunjung hari ini?!"


"ya.. aku lihat."


"tadi aku sedang berbelanja, maaf"jawab kiraa.


"hah.. sudah lah, dari pada itu lebih baik bantu paman, cepat!"ucapnya.


setelah berbicara, lelaki itu meninggalkan kierra tanpa mengatakan sepatah kata pun.


'paman?'


"seharusnya dia memberi tahu ku sesuatu, setidaknya apa yang harus aku lakukan 'kan?"


sambil menatap orang-orang yang tertawa leluasa, ia mematung.


"oh ya, kamu 'kan pasti tahu hal-hal yang ada disini bukan?"


"apa yang harus aku lakukan?"


kierra memutar badannya menghadap rara yang berada di sampingnya dengan harapan teman kecilnya itu dapat membantu di keadaan membingungkan seperti ini.


"ee.." rara menggaruk kepalanya.


".. kalau tentang yumami, itu pemberian dari ketua, aku tidak pernah membelinya"


"nama makanan yang aneh." gumam kierra dengan suara kecil, 'apakah rasanya juga akan aneh?'


"tapi kurasa kamu harus menanyai apa yang mereka mau"


"yang kau maksud 'pesanan' mereka?"


"ha!- ya!, seperti itu"jawab rara dengan yakin.


Dengan bahasa rara yang kaku memang sedikit sulit untuk dipahami oleh orang moderen sepertinya, tetapi seiringnya waktu yang berjalan.. itu tidak lah menjadi masalah..


Setelah merasa tidak ada urusan lagi dengan rara, kierra segera mengambil tindakan dan melakukan rencana permulaan. ntah ia akan kembali atau tidak, ia berharap di 'dunia' ini kierra mendapat sesuatu pelajaran untuk ia bawa ke dunia moderen-nya.


ngomong-ngomong tentang dunia moderen.. aku punya masalah lebih besar dari hal ini, apa baik-baik saja jika di tinggal?


***


"permisi, ada yang bisa saya bantu, tuan?"


dengan sopan kierra menyapa orang yang sedari tadi melamun di meja bagian ujung.


"oh..tidak ada"


"apakah saya boleh duduk disini untuk beberapa waktu kedepan?" lelaki berperawakan muda itu mengarahkan senyumnya ke arah kierra, dan dibalas kembali dengan senyuman rara yang sudah pasti tidak dapat dilihat.


".."


"ya, silahkan. jika ada sesuatu yang anda inginkan, anda bisa memanggil saya"


sekitar beberapa detik kierra menatap lelaki itu, ia hanya ingin memastikan bahwa tuan itu tidak menginginkan apapun, namun bukannya pesanan yang ia dapat, malah lelaki itu membalas tatapan kierra dengan senyuman yang lebih menyilaukan dari sebelumnya.


tak mau berlama-lama dengan keadaan yang canggung itu, kierra dan rara segera berbalik arah.


"tidak membeli?" ucap rara sembari menatap kedua orang itu secara bergantian.


"ya mau bagaimana lagi."


*tap, tap...


"apa wanita itu gila? dia berbicara dengan siapa?"


"haa, kau benar. apapun itu, dia terlihat sangat aneh dari biasanya"


ketika melewati meja-meja, banyak perkataan yang terdengar jelas mengenai kierra yang 'katanya' saat itu terlihat berbeda dari biasanya. memungkin kan jika orang-orang ini adalah 'pembeli-tetap' tempat makan itu.


"kierra.. aku kira hanya wanita bangsawan yang bisa berburuk sangka, ternyata lelaki juga bisa!"


"cih, aku benar-benar ingin memukul mulut mereka!!"cibir rara yang ikut mendengar.


"sudah lah, lagian yang mereka maksud adalah flora"


"dan tidak ada yang berubah meskipun mereka berkata seperti itu, rara."


rara yang mendengar namanya disebut oleh kiraa dengan santai diakhir kalimatnya membuat dirinya porak-poranda, ia sangat malu dan bahagia karna hubungannya dengan kiraa lumayan dekat akhir-akhir ini, tidak seperti dulu.


"permisi, ini adalah pesanan beberapa orang disana, setelah selesai tolong berikan pesanannya kepadaku" ia meletakkan kertas tulisannya kemeja, dan tentu saja itu adalah makanan yang ia inginkan sendiri, bukan pesanan para pembeli. hehe..


"kiraa sangat licik!, tetapi tidak apa-apa sih, aku juga lapar.."


melihat reaksi rara yang begitu menggemaskan, kierra tertawa kecil.


secara mengejutkan terdengar suara teriakan yang berasal dari luar tempat makan.


kierra langsung bergegas keluar dengan buru-buru melihat apa yang baru saja terjadi dan begitu ia mencari sumber suara tersebut, ia terbingung menatap lelaki tak dikenal dengan pakaian aneh di tengah jalan. lelaki itu menarik tangan seseorang dihadapannya secara paksa dan mengingat keduanya menjadi satu di balik punggung.


"emmh, ra"


"apa kau kenal orang-orang ini?"


"hmm, mungkinkah ksatria? eh, bisa jadi penjaga keamanan.., ntah lah"


"huh, kau tidak tau?" ejek kiraa.


"mungkin saja penjaga karna mereka memakai pedang dan seragam seperti seorang pen-"


Tiba-tiba perkataannya terpotong,dan bergantian dengan rara yang membatu dengan tatapan tak percaya yang tertunjuk jelas di wajahnya.


...


"ra? kau tidak apa-apa?"


"oh, itu.. mereka bukan berasal dari sini.."


"kalau tidak salah seragam yang mereka kenakan berasal dari kerajaan hitam"


"ha? kerajaan hitam?" seru kiraa dengan tak percaya, bahwa ada tempat seperti itu disini.


"yap, itu bukanlah nama asli dari kerajaan itu. namun seperti namanya, kerajaan itu sangat gelap dan tidak ada tumbuhan yang bertahan lama disana" jelas rara.


"jadi, kau bilang mereka semua berasal dari sana?"


rara mengangguk.


'hmm'


jika mereka berasal dari sana, kenapa berada disini, ya?. apa karna orang yang mereka tangkap itu?.


terlalu asik berpikir ini-itu, ia sampai tak sadar kalau lelaki yang berada disana mulai membelokkan kepalanya dan menatap ke kiraa dengan tatapan tak dapat dimengerti. sontak ia membulatkan matanya ketika sadar.


"nona flora!!" panggil pelayan.


'untungnya.'


"iya?!" kiraa kembali masuk dan meninggalkan orang asing itu begitu saja.


"ini, pesanan-nya"


dengan penuh senyuman kiraa mengambil mangkuk 'khas' yang berisi makanan yang disebut..


"YUMAMII!!!" antusias rara.


karna kiraa satu-satunya seseorang yang dapat mendengar dan melihat rara, telinganya sungguh sakit saat mendengar teriakan makhluk itu.