I WANNA RESET

I WANNA RESET
dendam #42



Dengan patuh ia mendudukkan dirinya di suatu bangku, ya tentu seperti itu.


"Untuk mengawali pembicaraan kita, saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu"


"Levi, anda bisa memanggil saya begitu"


"Oh" singkat kiraa.


"langsung inti bisa?" benak kiraa sedikit tak sabaran.


"Nama anda?"


"Ya seperti yang anda tahu" irit nya.


"Anda sangat menarik sekali"


Ucapnya dengan senyuman tipis.


Kiraa memejamkan matanya, dan mengerutkan alisnya, menahan rasa kesalnya saat ini.


Bukan karna perkataan lelaki itu, kiraa hanya ingin mempercepat perbincangan ini, dan segera membantu temannya, hanya itu.


Dan sekarang malah orang di depannya sengaja memperlambat perbincangan dengan kata-kata anehnya.


"Ada apa ya sebenarnya?"


"Sampai menyuruh anggota osis sendiri yang memanggil saya"


"Maaf sebelumnya jika mengganggu"


"kau memang pengganggu."


"Akhir-akhir ini,saya melihat kedekatan anda dengan leona"


"Dan saya bisa menyuruh anda untuk kesini melalui leona"


"tolonglah! aku tidak pernah belajar tata krama sejak kecil!"pekik kiraa dalam hati, ia juga menambahkan ringisannya untuk menggambarkan kesedihannya.


"jadi apa yang mengharuskan saya untuk kemari?"


"Ya sebenarnya ini tidak di haruskan untuk anda"


"yausudah! aku keluar saja!"


"Tapi ini demi kepentingan semua murid di sekolah ini, jadi kau harus kesini"ia terus menerus menatap kiraa dengan ramah, malah sebaliknya kiraa menatap lelaki itu dengan tajam.


"bicara apa sih!"


"Jadi apa?"


"Anda harus mengumumkan ke semua murid untuk libur sekolah sekitar beberapa hari"


"Di saat libur itu juga,pihak sekolah ingin menambah beberapa tambahan di taman atau kelas, jadi mungkin sedikit lama"


"Tapi begini, kenapa harus saya yang mengumumkannya?"


"Dan tolong beri waktu yang benar agar saya mudah untuk mengumumkannya" jelasnya.


"Anda bisa mempercayai saya"


"5 hari waktu murid untuk libur"


"Anda juga harus menjawab pertanyaan saya yang tadi"


"Hmm?" ia tetap tersenyum tipis kearah kiraa.


"Kenapa harus saya?"


"Karna kelihatannya kau baik baik saja"


"Anggota OSIS akan rapat sebentar lagi untuk merencanakan


Perbaikan sekolah, dan guru juga begitu"


"jawaban macam apa itu hah!,yang lain ada yang masih sehat tapi kenapa harus aku!"ia terus saja memarahi lelaki didepannya tanpa ampun.


"Oh ya,tolong beri tau leona agar tidak perlu ikut rapat nanti, setau saya lengannya lebam, dan lebih baik istirahat dulu untuk sejenak"


"Baik..." pasrah kiraa.


Setelah itu ia beranjak dari duduknya dan langsung menuju pintu keluar.


Sekarang masalah terbesarnya adalah bagaimana cara mengumumkan waktu libur itu.


Masa ia harus memberi tahu satu-satu semua murid, kan tidak mungkin, apa lagi ia orangnya tidak mudah untuk bergaul dengan orang baru.


"Kyaa!!"teriak seorang gadis yang tak terlalu jauh dari daun telinga kiraa.


"ya ampun, cantiknya tulisanmu! "Kagum gadis yang satu lagi. saat melihat karya temannya di dinding.


"iya dong, kan untuk orang yang dicintai"ia berkacak pinggang dengan bangga.


*cling!!


Merasa mendapatkan sebuah ide, kiraa langsung berbinar-binar menatap 2 gadis yang di mabuk cinta itu.


---


"wah..."


"Libur nih?"ia tampak lesu, beberapa murid lain juga ikut bersedih.


Sedih karna kehidupan sekolahnya akan tertunda,apa lagi beberapa hari kemudian kelas terakhir akan ujian.


Hari-hari yang menyenangkan itu seolah berlalu begitu cepat.


Sedih, terharu, sedikit senang, semua mereka rasakan,mereka yang tidak sedih adalah orang yang masih di anggap adik kelas, yang hanya bengong menatap kakak kelasnya yang saling berpelukkan.


"wah, kier, kau pintar membuat seseorang menangis"pujinya.


Menurut kiraa, itu bukan lah pujian yang pantas untuk di lontarkan kepada dirinya yang dengan susah payah mengumumkannya.


"Aku ke dapur dulu,kata anggota osis mereka akan mengadakan rapat, kau tidak perlu ikut!"teriaknya, ia melambaikan tangannya tanpa melihat ke arah orang yang ia lambaikan.


"Oh" dingin leona.


-


"Pegal sekali tubuh ini, besok pagi olahraga saja lah!"


"Tubuh masih mulus begini, tapi terasa sudah tua!"ia mencibir tubuhnya sendiri.


Setelah melakukan beberapa peregangan, kiraa melepaskan jaketnya yang membuat gerah.


"emhh! baunya!"


Setelah menaruh jaketnya, tiba-tiba saja ada angin yang masuk melalui jendela dan menghembuskan bau jaket itu.


Karna matahari yang bersinar sangat terik, kiraa sangat kehausan, apa lagi setelah berlari kesana kemari.


Membuatnya ingin pingsan.


Tangan kiraa terulur, membuka kulkas yang nampak sangat menggoda di pandangannya.


*glek! Glek!


Sudah beberapa tegukan,namun ia merasa kurang jika hanya segitu.


Karna tidak ada kerjaan ia menyimpan air putih itu di mulutnya, membiarkan air dingin itu menyentuh setiap gusi dan giginya.


"ahh, dinginnya~"


karna terlalu sibuk dengan air di mulutnua, tiba-tiba saja botol yang ia pegang di tarik paksa seseorang.


Tentu ia kesal.


Dengan cepat ia membuka mata, di atasnya, lebih tepatnya di depan mata kiraa, telihat wajah seseorang yang sedang meminum air dari botol yang sama.


*byurr!


Karna kaget kiraa tak sengaja menyemburkan isi mulutnya ke wajah orang itu.


Seketika orang yang sedang minum itu terdiam, dengan posisi yang sama.


Setetes, dua tetes, air yang kiraa semburkan menetes hingga ke wajahnya.


Karna malu, ia meluruskan kepalanya kembali dan berbalik hendak pergi, namun dada bidang lelaki itu seperti menahan dirinya.


"ya ampun, keningku..." ringisnya.


Lelaki itu benar benar seperti patung, walau di tabrak oleh kiraa, tubuhnya tetap tegap, tidak ada guncangan sama sekali.


Bukan sampai disitu saja otak nya bekerja.


Ia segera berbelok ke kiri, namun ia terhalang pintu kulkas yang sedang di pegang lelaki itu.


"seharusnya kau tutup dulu tadi!" ia merutuki kebodohannya itu.


Saat ingin berbelok ke kanan, ia terhadang oleh kaki kiri lelaki itu yang tak lain adalah reno.


SIAL.


satu kata untuk nasibnya kali ini.


Dengan canggung, kiraa meluruskan tubuhnya untuk berhadapan dengan tubuh reno.


Kiraa diam membisu.


"harus apa aku?"


bingungnya


"Permisi"


"Bisakah kau meminggir?" ucap kiraa sembari senam jantung.


Matanya ikut bekerja sama, sama-sama membuat kiraa semakin canggung.


Dengan tingkah seribu makna yang tak pernah terbayangkan, reno mendekatkan wajahnya ke wajah kiraa.


Sontak kiraa memundurkan wajahnya, bahkan dinginnya kulkas ia bisa rasakan, sedikit nyaman sih, namun tetap saja tak bisa membuat kiraa membaik.


"Kau kepanasan" ucap reno serba dadakan.


"-Kau salah lihat." jawab nya dengan cepat.


"Aku pernah ke rumah sakit dan memeriksa mataku, kata dokter, penglihatanku sangat tajam"


"Kau berani menyangkal?"


Walaupun reno berkata demikian dengan dingin, menurut pendengaran kiraa, ia seperti di teriaki oleh pak alex, karna bolos sekolah beberapa hari.


*byurr!


Mata kiraa menutup, merasakan air dingin yang menyentuh kulit wajahnya, bahkan ia bisa merasakan air liur yang tercampur menjadi satu.


Dengan cepat tangan kiraa menyelusup ke belakang, meraba-raba seisi kulkas.


*byurr!


Kiraa berjinjit, menuangkan jus jeruk ke kepala reno dengan kesal.


"jangan balas dendam dong!"


Teriaknya dalam hati.


Karna pertikaian yang menggunakan air sebagai senjata itu, membuat lantai menjadi basah.


Sebuah pencapaian bagi kedua orang itu dalam membuat masalah.