I WANNA RESET

I WANNA RESET
tempat yang jauh dari keramaian #7



"ini tentang biaya minumannya. apa kau tidak ingin membantuku membayarnya?" dia menunjuk ke arah minumannya berada.


'dasar lelaki sakit jiwa.'


"berapa harganya?" Kiraa dengan kasar menarik tas nya dan mencari-cari uang miliknya.


"hmm... 5 juta"


*Ohok!


"Hey anda!"


'apa-apaan harga itu?, apa benar harga teh cafe bisa mencapai harga rumah sewa di kehidupanku sebelumnya??'


"maaf ya, apa anda ingin merampok saya dengan cara seperti ini?, mana mungkin ada minuman dengan harga sebesar itu??"


harga yang sebesar itu menohok dirinya dan dompetnya.


"yaa.." dia melipat tangannya dan bersender pada punggung kursi.


"kenyataannya minuman milik anda dan milik saya seharga 5 juta, dan anda tidak memiliki wewenang untuk protes kepada saya".


'lelaki ini...'


'setelah menjadi anak yang di buang, tentu saja aku tidak memiliki uang sebanyak itu!. apa lelaki ini akan mengambil organ ku sebagai gantinya??'


"oh dan juga, meskipun sekedar duduk, kau harus tetap membayarnya. jika tidak percaya bisa tanya langsung ke manajem-"


-"hey, hey!! baiklah"


kiraa berjalan menuju meja tadi dan langsung menggebrak meja tersebut di depan mata lelaki tak bernama itu.


"kau, menginginkan apa." ia menatap nya begitu tajam.


Dengan tatapan itu, siapapun yang melihatnya akan merasa bahwa Kiraa sedang berusaha menatap lurus ke dalam jiwa orang tersebut. dan itu sangat mengerikan.


"cukup mudah. setujui apa yang saya tawarkan tadi dan, semua hutang anda lunas tanpa sisa."


"baiklah-baiklah, setuju" Kiraa menjawab dengan cepat.


'sebenarnya apa keuntungan baginya jika aku masuk ke sebuah sekolah yang dia maksud?'.


"Apa kau memiliki nomor ponsel?. kau tahu? andai-andai jika kau berusaha menipuku..."


"haish, haish.., berikan aku ponsel mu!!"


***


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, lelaki itu berdiri lalu berjalan mengarah ke pintu cafe dengan senyuman puas seakan-akan semuanya benar-benar berlalu.


namun sebelum itu, ia berkata lagi untuk terakhir kalinya...


"ngomong-ngomong, nama om adalah Eldian.., panggil saja Dian."


ketika Dian sudah nampak begitu jauh dan hendak pergi, Kiraa baru tersadar akan sesuatu.


"anda- eh maksutnya om!!"


"minuman nya tidak perlu aku bayar lagi, 'kan?!".


Suara dari ketakutan dan keraguan keluar dari mulut Kiraa... Dian yang mendengarnya menoleh.


"huh.."


"cepat lah pergi sebelum pelayan menagih!" jawab Dian dengan senyuman merekah.


Dengan cepat, Kiraa berlari melewati Dian tanpa perlu berpikir panjang lagi.


Ia tak mau membayar minuman itu yang harganya tidak manusiawi dan menohok kantong miliknya.


Setelah berada diluar, Kiraa 'pun berhenti. kini ia baru sadar bahwa ia berlari ke taman disekitar sana dengan sendirinya ...


***


Dan tentu saja ketika Kiraa sudah melewati musibahnya, Rara baru memunculkan diri dan menanyakan keadaan.


*wushh..


"Kierra, apa kau baik baik saja??"


"APA??"


"aku baru saja di landa musibah tetapi kau malah tidak ada dan meninggalkan aku. apa kau dalam posisi yang aman untuk menanyakan keadaanku??", ia merasa sebal.


"maafkan Rara.., Rara takut jika dia curiga dengan kita. dan juga, Kierra bakal terganggu kalau ada Rara.."


"oh.., kau benar juga"


"nah, itulah yang aku pikirkan!".


"lalu bagaimana ini??"


Ketika semuanya telah terjadi, penyesalan 'pun baru terpikirkan.


"apa yang kau maksud bagaimana?" Rara merasa pusing.


"ya mulai dari saat ini kita terhubung dengan lelaki yang terlihat cukup kaya-raya itu. Sebelumnya aku hanya berniat hidup dan bekerja tanpa terlibat apapun"


"tetapi semuanya terlambat..."


"hmm, tentang pria itu, ya?"


"tetapi, ini tidak sepenuhnya buruk... jika dipikirkan lagi, yang perlu dilakukan Kierra hanyalah menganggap pilihan ini sebagai peluang dan bukannya kesialan."


"ada saat nya dimana penyesalan adalah awal, dan itu berlaku untuk penyesalan yang Kierra rasakan saat ini"


...


Mendengar perkataan Rara, Kiraa kembali berpikir.


"perkataanmu benar-benar tepat. mencari tempat tinggal dan pekerjaan itu sulit, tetapi kita juga tidak bisa memercayai seseorang yang asing",


"setidaknya kita harus mencobanya meski hasilnya tidak memuaskan, benarkan?"


"wahh... Kierra sangat cepat tanggap, ya!" *prok, prok, prok.


"ehem, Rara yakin kita pasti bisa!!". jauh dari dugaan Kiraa, Rara memang lah tidak membantu dalam mendapatkan ide, tetapi sangat berguna karena dia sangatlah menghibur.


"Hah. kau sangat berguna, ya!!"


Kiraa memeluk erat tubuh Rara. ternyata tidak terlalu buruk juga memiliki makhluk sepertinya.


"GWAHH!!, JANGAN TERLALU ERAT!!!!"


"eh, kenapa?


bukannya bagus jika kau tambah mengecil, sehingga aku lebih mudah untuk memakan mu?"


"ihh, tetap saja aku adalah pasangan kontrak mu, KIERRA!!"


"hahaha... ".


Hari yang panjang seperti daun yang terjatuh ini tidak disia-siakan oleh kedua orang itu. pagi, siang, bahkan sore 'pun mereka selalu bersenang-senang dan menjelajahi sesuatu yang baru, juga membicarakan hal-hal yang tak penting.


Untuk pengelolaan uang biarlah Kiraa yang memikirkannya. lagian mereka hanya berdua, dan itu tidak seberapa, hanya seperti memberi makan dirinya sendiri tetapi melebihkan sedikit untuk Rara.


teman hidup barunya.


Dia juga sebenarnya tidak keberatan jika kedepannya harus bekerja sebagai pembantu untuk mencukupi kebutuhan. selagi pekerjaannya adalah hal yang cukup menyenangkan dan Rara juga mau membantu... ia pasti sanggup melakukannya.


tetapi mengeluarkan uang untuk rencana licik sekaligus aneh lelaki tadi... ck!, ia tidak akan pernah sudi.


---


*krikk... krikk...


Suara berisik jangkrik yang terdengar seperti berada di sebelah telinga membuat Kiraa terbangun.


"hoam... "


"hhmm, sudah malam??" sontak ia langsung berdiri dan melihat ke sekeliling nya.


Dan sesuai dugaan..., langit yang oren seperti terakhir kali ia melihatnya, telah berubah menjadi biru yang gelap.


kondisi taman 'pun sudah tidak ramai, hanya terlihat cahaya terang kendaraan yang berkelap-kelip menghiasi jalan raya.


"jadi aku tidak sengaja tertidur dari sore sampai malam di taman ini?!" Ia cepat-cepat mencari ponsel nya yang ada di tas kemudian mengecek jam.


...


"apa aku baik-baik saja?"


"pakaian ku tetap pada tempatnya..., dan tidak ada yang salah juga. baguslah"


Kiraa menoleh ke samping. Dia melihat tubuh Rara yang tertidur di sebelahnya, meskipun tidak ber-alas apapun selain dinginnya kursi taman yang terbuat dari besi, makhluk itu tetap terlihat begitu nyaman tertidur hingga mengeluarkan suara dengkuran.


"RARA!!!"


"uwoo?, ada apa?" "API???"


"sadar lah Rara!, tidak ada api disini."


"HOAMM!!, lalu mengapa?..."


Kiraa mengangkat ponselnya lalu menunjukkannya kepada Rara.


"ini sudah hampir jam DUA BELAS!!"


"....?"


"jadi?"


"Ck. bagaimana menjelaskan hal se-sederhana ini?", Kiraa ber-decak kesal.


"hmm, dengarkan aku. aku tidak tahu sebutan ini di tempat mu tetapi, ini sudah 'malam', artinya dalam beberapa waktu kedepan adalah 'fajar' atau 'pagi'"


"ohh?, Kierra berkata apa?"


Dengan segala kesabaran yang ia punya, Kiraa menarik nafasnya begitu dalam, sedalam rasa kemanusiaan seseorang lalu menjelaskannya sekali lagi.


"kita tidak bisa disini lebih lama, sebab.. kalau kita masih tidak pindah dari tempat ini, suatu-waktu pasti ada penjahat yang akan memakan kita"


"hah?, benarkah?!!!, memakan kita???"


hanya dengan hasutan kecil, makhluk itu langsung percaya dalam sekejap, membuat Kiraa tersenyum pahit.


"iya, maka dari itu kita harus cepat-cepat mencari tempat berlindung agar kita tidak dimakan oleh penjahat seperti itu", ia memperagakan cara binatang buas menerkam.


"lalu kita harus bagaimana?" khawatir Rara.


Melihat Rara yang mudah dihasut, kiraa menjadi sedikit merasa bersalah sudah membohongi makhluk itu, tapi mau tidak mau ia harus mengajarkan tentang kejamnya kehidupan ini.


"Ra, maaf ya... " ia memegang pipi Rara dengan lembut.


"kenapa meminta maaf?, kau tidak akan menampar ku 'kan?"


"bukan begitu..."


"akhh.. sudahlah, kau mengesalkan."


"huh???"


***


*drttd... drttdd...drttddd.


"umm, halo? .. om?"


"..."


"kau memang bisa menelpon saya kapan saja, tetapi saya tidak pernah terpikir bahwa kamu akan menelpon di tengah malam seperti ini"


"ha, ha, ha.. sangat lucu. bukankah anda yang menelpon?"


"kau lah yang pertama kali berkata ingin membicarakan sesuatu... bukannya tadi aku hanya mempermudah perbincangan kita?",


"jadi, apa yang kamu butuhkan?"


Kiraa melepaskan nafasnya yang sangat berat.


"seperti ini..., saya tidak memiliki tempat untuk tidur malam ini, apa saya bisa menumpang?"


"ohh?, dimana kau berada saat ini?"


"hmm, saya tidak tahu anda mengetahui tempat ini atau tidak, tetapi saya berada di taman kota"


"huftt... saya akan mengirim lokasinya. jadi, datangi alamat yang saya berikan"


"selamat malam."


*tutt.... tut..tut...


..


Kiraa membatu.


setelah tersadar ia langsung menatap layar ponselnya.


"Huh???"


Kiraa tak mengerti apa yang dikatakan lelaki itu.


apakah lelaki itu akan memberikannya tempat untuk beristirahat atau tidak?


"Kiraa, ada apa?"


"dan 'sesuatu' apa yang kau pegang itu?"


"kau tidak tahu ponsel?"


"kau pasti sudah melihat ini sebelumnya. benda ini yang sangat sering manusia bawa, benarkan?"


"iyaa!"


"nah, nama benda ini adalah ponsel, ini bisa digunakan untuk menulis sebuah pesan dan berbicara dengan seseorang secara cepat."


"wah!! menakjubkan, seperti kekuatan Retta(kekuatan pengantar pesan), aku pikir 'mereka' berdua memiliki kesamaan"


'Retta?, Huh?.. apa yang diucapkan makhluk ini??'


*tingg....


Ponsel Kiraa berbunyi.


dengan kebingungan Kiraa 'pun melihat apa yang baru masuk ke ponselnya.


"sebuah alamat?, pasti alamat yang tadi lelaki itu katakan..."


Meski alamat itu sungguh mencurigakan dan terlebih lagi Kiraa tidak pernah berjalan kesekitar sana, ia tak sedikitpun merasa ragu untuk mengikuti apa yang sudah dituliskan.


dan setelah berjalan kesana-kemari, akhirnya dia sampai di tempat yang dituju.


"waah, ini rumahnya?"


'sangat besar ya...'


Demi memastikan tempat yang ia lihat didepannya bukanlah tempat yang salah, Kiraa melihat ponselnya lagi.


"huwee, kenapa jalanan tadi begitu menyeramkan dan begitu sepi!!?"


"tentu saja karena ini sudah hampir fajar, Ra"


Kiraa memasukkan ponselnya kedalam tas dan menatap Rara yang sepertinya baru menyadari bangunan besar di depan matanya.


"woahh!!, apa ini rumah lelaki tadi?, apa dia juga sangat kaya raya?"


"mungkin saja begitu".


-


"ehem-ehem!"


Karena terlalu asik berbincang, Kiraa maupun Rara tidak menyadari seseorang yang sedari tadi memerhatikan gerak-gerik Kiraa.


"kenapa anda ada disini di malam selarut ini?, apa anda ingin bertemu seseorang?" tanya pak penjaga.


"eh, benar..., saya ingin bertemu seseorang yang bernama Dian- oh!, Eldian maksud saya"


mendengar itu sontak pak penjaga itu terkejut. dan mulai menitiskan keringat dingin.


"e- eh, jadi anda ingin bertemu tuan?... silahkan-silahkan, Tuan besar sudah menunggu anda...".


Dengan perilaku aneh yang tiba-tiba, Kiraa tahu bahwa lelaki itu sedang ketakutan..., tetapi apa yang membuatnya takut?