
"beneran kita latihan malam-malam begini?"
ia terus menerus mengusap kedua matanya secara bergantian.
lelah dan mengantuk menjadi satu, namun ia tetap harus terjaga, karna, rara akan pergi besok, dan mungkin akan sedikit lama dari sebelum-sebelumnya.
"maaf kier, kau pasti lelah kan?" ia menatap kiraa dengan mata sayunya, mana mungkin ia tega membiarkan kierra tidak tidur.
"terserah kamu sih, mau gimana"
ia melempar pilihan kepada kiraa, sekarang semua pilihan di tentukan oleh kiraa.
ingin tidur namun tidak bisa berlatih dan mengucapkan perpisahan sementara kepada rara atau memilih berlatih dan merelakan rasa kantuknya.
kini kepala kiraa bertambah sakit, di saat-saat seperti ini, otaknya bahkan tidak bisa mendukung.
"kan tambah sakit kepala! gara-gara kamu sih! "
pekiknya.
"loh kok aku yang disalahin?"
sungguh rara tak Terima ia di salahkan begitu.
"aku berlatih aja lah!"
"setidaknya aku bisa bertahan hidup sendiri setelah kau tinggalkan!"
"dari pada kau pergi tapi aku tidak bisa apa-apa"
"benar juga sih..."
"tapi kierra tidak apa-apa, liat itu di bawah matamu ada hitam-hitamnya?"
"ayo!"
ia bangkit, jemari-jemarinya berusaha membuka kelopak matanya yang sangat lengket.
melihat tingkah kiraa, rara tersenyum simpul, ia ingin tertawa, namun jika tertawa mungkin ia akan di amuk kembali seperti tadi.
jam 00:34,mungkin yang lain sudah tertidur pulas namun berbeda dengan 2 perempuan ini, lampu belajar di hidupkan untuk menjadi cahaya satu satunya dan mereka terus menerus melakukan percobaan.
bahkan ada yang gagal, benar-benar gagal.
"tutup mata... lancarkan pernafasan mu... dan kosongkan pikiranmu"
"..."
"pfff-"
"kierra! ini yang kelima loh..." ucapnya dengan nada sedih, tak sanggup ia mengajarkan kierra yang terlampau dari kata ’siap' menajadi ahli sihir.
"maaf-maaf... aku terus keingat hal-hal yang lucu" ia terus tertawa kecil, apalagi saat melihat wajah frustasi rara, benar-benar menyenangkan.
"Ahhh! udah lah, ganti!"
"coba yang ini" ia menunjuk buku tebalnya.
"tenangkan dirimu... bernafas dengan teratur.."
"apa kau merasa sekarang jantung mu berdetak teratur?"
"ya"
"apa kau bisa mendengar isi hatiku?"
"menurutku ini mudah, namun karna aku mengantuk jadi aku tidak tau apa isi hati mu"
"..."
"sungguh kier,aku merasa sia-sia telah mengajarimu"
"haha! jangan marah dong"
...---...
*wush~
"tempat ini terlihat menyeramkan jika malam ya...hi!..."ia memegangi tubuhnya yang menggigil.
"iya, tapi tidak terlalu gelap"
kiraa dan rara pergi kesekolah untuk menyelipkan sebuah surat kepada pak alex, ya guru kelas kiraa.
ia meminta izin untuk tidak sekolah nanti karna sepertinya ia lelah dan akan sakit, jadi agar terhindar dari amukan, lebih baik menaruh sebuah surat ke meja pak alex.
"apa kau akan segera pergi ra?"
"tidak"
"saat kau tidur, aku baru pergi"
"ya ampun, gadis bodoh ini ternyata perhatian"
"aku tidak bodoh!"
*dug!
"kyaa!" kaget rara dan kiraa serentak.
"ra apa itu!"ia dengan erat memeluk rara.
"ya aku tidak tahu!"
"kau kan bisa terbang, kenapa takut sih!"
ia terus menerus memegangi rara, kiraa tidak berani menghidupkan lampu kelas itu.
"oh ya juga ya, aku bisa langsung pergi"
"ey ey, mau kemana? jangan di tinggalin!"
dengan bersusah payah kiraa mengulurkan tangannya untuk memencet lampu kelas itu.
*klek!
lampu menyala, terlihat seekor tikus yang sedang berjalan-jalan kesana-kemari dengan kaki mungilnya, akhirnya kiraa dan rara bernafas lega.
ternyata hanya seekor tikus.
"ayo pulang aja lah, ra!"
jika terus berada disini, bisa-bisa ia akan gila di sekolah ini.
"ayo"
-
dengan pelan-pelan kierra naik kekasurnya, walau kamarnya tak rapi, setidaknya enak di buat untuk tidur.
"perhatian banget sih" ia menaik turunkan alisnya.
"ih, siapa juga yang perhatian!"
"orang yang di depan ku"
"kierra!"
"udah sana biar cepet-cepet dapat pengetahuan baru tentang sihir" usirnya.
"iya iya!"
di malam yang menjelang pagi ini memang tidak banyak pembicaraan antara 2 orang itu, mereka berdua sama-sama lelah sehabis latihan tadi.
walaupun sebenarnya hanya tawa yang memenuhi kamar kiraa,namun itu juga termasuk menguras tenaga.
...---...
"..."
matahari sudah bersinar sangat terang.
beberapa kali kiraa menutupi dirinya dengan selimut halusnya karna terlalu silau, namun ia tetap terus terkena cahaya itu.
"hey! sstt!..." bisik seseorang.
kiraa terdiam, bukan sengaja mengabaikan, namun ia sudah terlelap kembali ke alam mimpinya.
"hey! kierra!"panggil orang itu kembali.
karna tak ada jawab, ia naik ke kasur dan menikam kiraa.
*bruk!
*bruk!
*bruk!
pergulatan yang sangat sengit antara leona dan kiraa terus berlangsung, mereka saling menendang, menampar, memukul, melempari bantal.
mereka sama-sama memiliki alasan tersendiri hingga pergulatan itu terus berlangsung.
tidak ada satu pun yang ingin mengalah.
"aduh!" ringis mereka berdua ketika jatuh dari atas kasur.
"kau kenapa sih ona?"
"pagi-pagi buat memar aja!"
"heh! aku kesini karna kau tidak ada di sekolahan"
"katanya kau sakit? "
"mau apa?" ia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.
"jawab dulu!"
"iya iya, sakit!" pasrah nya.
"sudah makan?"
dengan pelan kiraa berdiri.
"dari pagi tadi aku tidur dan sama sekali tidak keluar"
"apa yang kau harapkan!"
kiraa mengambil selimutnya kembali dan naik menuju kasurnya.
ia merebahkan diri disana, namun dengan cepat leona menarik lengan kiraa dengan kuat, dia memang sangat kuat bahkan uratnya terlihat samar-samar di kulit mulusnya.
"hey pemalas!"
"bangun gak?!"
pantang menyerah, ia terus menarik tangan kiri kiraa, hingga sang empu terangkat dengan keadaan mata tertutup.
"biarin aja ih" kiraa terus saja melemas dan tidak bertenaga, dihari yang begini kiraa berniat sehari hanya di kasurnya.
"ayo cepetan!"
"aku tadi sengaja izin pakai alasan sakit agar bisa kesini loh!"
"terus kenapa?" ia tetap tidak ingin membuka mata.
"hargai!"teriaknya.
pikiran leona buntu, jalan satu-satunya adalah memaksa kiraa hingga kebawah.
meskipun kiraa di seret hingga ke lantai, namun ia tetap masih setia memegang selimutnya.
"kierra, aku tidak akan segan-segan menyeret mu hingga keluar!"ancam nya, leona terlalu lelah menyeret gadis yang bertubuh mungil di depannya,namun aneh nya kiraa terasa sangat berat.
"iya iya! lepasin dulu!"
leona pun melepaskan genggamannya dari tangan kiraa, seketika kiraa terjatuh, ia melempar selimutnya.
"kasian banget ya tempat tidurmu" leona bersedekap dada melihat kasur kiraa yang tak terurus.
"aku tidur lagi loh!!"
...---...
saat keluar kiraa dan leona mendapat banyak perhatian dari seisi asrama itu.
hanya mereka berdua yang di asrama itu.
"aku akan lapor sih, kenapa aku harus di tempat kan disini"
"eh-"
leona menoleh.
"t-tidak perlu!" elaknya.
"hah, kenapa kau gugup?" ia menyipitkan matanya, mencoba mencari kebenaran dari mata leona.
"b-bukan begitu..."
"ah! aku akan buat makanan untuk mu yang belum sempat sarapan!"dengan cepat ia mengalihkan pembicaraannya dan segera ke dapur utama.
karna perut kiraa ynag berbunyi, dengan terpaksa ia mengikuti leona, walau di benaknya tersirat rasa bingung dengan sikap leona yang aneh.