I WANNA RESET

I WANNA RESET
bibi sofia #35



"argg!!"ia menggaruk rambutnya dengan frustasi.


kemarin malam, karna terlalu kebawa suasana, kiraa sampai lupa waktu dan tidak sadar jika semua orang telah kembali ke asrama mereka masing-masing.


jadi ia terpaksa menginap di kamar cesa kembali, untungnya cesa tidak curiga atau semacamnya, ia tidak tau harus berkata apa.


dan sekarang, ia berada dikelasnya yang dingin, hening, hanya tersisa suara kertas yang bolak-balik.


"ngomong-ngomong, kenapa bapak kepala sekolah tidak meng tegur ku?oh ya pak alex juga!"


"kierra!"


"ah iya pak!"saut kiraa.


"kenapa melamun! coba maju kedepan!" bentak pak alex.


seketika nyali kiraa menciut.


dengan gemetar kiraa maju ke depan seperti perintah alex.


"ya pak..."


"buat soal beserta jawabannya di papan tulis!"


ia mengetuk papan tulis dengan ujung spidol, lalu spidol itu ia lemparkan ke kiraa.


"sekarang pak?" tanya kiraa.


"jika 2 tahun kedepan, saya sudah tidak mengajar disini!"


"ohhhh"


"sekarang pak?"


"sekarang pak?"


"kierra!"


"baik pak!"


dengan tangan bergemetar, kiraa mencoba mengangkat spidol itu agar menyentuh papan tulis.


keringat dingin yang ia rasakan,dengan mata menyipit ia berusaha agar spidol nya bersentuhan dengan papan tulis, namun ia terlalu gugup.


"bapak jangan memandangi saya seperti itu!" ia mengalihkan pandangannya dan menatap pak alex tajam.


*brak!


"KIERRA,SAYA DISINI TIDAK UNTUK MENATAPMU"


"JADI JANGAN BERBESAR HATI"


ia memancarkan senyum tertekan nya dengan sangat jelas.


"santai aja kali pak! siapa juga yang mau di liatin sama bapak!"


"KIERRA"


"bentar pak" kiraa mengangkat telapaknya dan menempatkannya di depan wajah alex.


sekarang alex benar-benar jengkel, mempunyai murid yang tidak memiliki sopan santun kepada gurunya.


"nah"


ia menaruh spidol tadi dan membersihkan telapaknya.


"begini kan pak?"


"kau menulis apa kier?"


"soal dan jawabannya"


"bapak tidak liat? 1+1\=2"


"kierraaaAaa" frustasinya, ia memandangi angka yang sangat mudah di tebak dan mudah mengerti itu.


"kan yang terpenting jelas,padat dan singkat"


ia menaikkan bahunya dengan bangga.


membuat guru frustasi adalah sesuatu yang harus di banggakan oleh kierra, setidaknya ia sudah membalas dendam terpendam nya.


"kierra, sekarang lebih baik kau duduk dan diam saja!" alex menyibak rambutnya, hingga terlihatlah kening yang sudah berdenyut-denyut tak karuan.


"okay" dengan hati yang gembira kiraa berjalan ke arah bangkunya.


"aku cukup terkesima"


ucap salah satu murid pindahan yang berada di depan bangku kiraa.


"aku tidak butuh pujian mu, terimakasih"


ia segera duduk.


"aku pun tidak membutuhkan jawabanmu" ia tersenyum miring.


"kau menang, oke?" ia melemaskan tubuhnya.


*tok! tok!


suara ketukan pintu.


dengan cepat alex menoleh ke arah pintu, semua murid pun memindahkan tatapan mereka ke pintu.


"ya?" bingung alex.


orang itu sempat berfikir, lalu berjalan ke arah pak alex.


"begini...."


"hah?..." bingung alex.


"mereka berdua bicara apa sih?" gumam kiraa.


ia mendekatkan telinganya untuk memperjelas pendengaranmya, sialnya, ia menabrak kepala seorang perempuan di depannya, hingga meringis.


"ouchh!..."


"eh! -"


"kau! -"


"oh baik, saya panggilkan" ucap alex datar.


"kierra!" panggil alex.


"kan mau di bantuin! -"


"eh pak... "


pertengkaran antara sesama perempuan itu terhenti ketika mendengar suara pak alex yang menyebutkan nama kiraa.


"KIERRA! SOPAN SANTUN MU HILANG KEMANA?"


"eh-"


"a-ada apa pak?" ucap kiraa terbatah-batah.


"ada seseorang yang mau berbicara denganmu"


"ha?" bingung kiraa.


kiraa berdiri ia menatap seseorang yang baru saja datang.


"aku tidak mengenalnya"benaknya.


seolah mengerti, kiraa menaikkan sebelah alisnya, sambil melihat epalan tangan reno yang menyentuhnya.


"berkaca lah"


"apa?"


"kau tidak ingin kan jika wajahmu berpindah, wajahmu terlalu jelek untuk ternodai" ucap reno dengan maksud yang misterius.


"kau! -"


"kierra!" panggil pak alex tak sabaran.


kiraa pun segera menghentakkan tangannya, hingga genggaman reno terputus.


dengan jalan yang sedikit cepat, ia menghampiri pak alex.


"ikuti saya" orang yang baru masuk ia menunduk pelan lalu menuntun kiraa untuk keluar dari kelas.


"ikutlah, untuk ini kau tidak di hukum" ucap alex dengan nada pelan.


-


"katanya di wajahku ada sesuatu" pikirnya sambil terus berjalan.


"mohon maaf, bisa kah anda pergi sendiri? saya harus ke toilet sebentar..."


"ah, iya, nanti datang lah ke ruang kepala sekolah, ada yang ingin berbicara"


"oh"


"iya..."


orang tadi pun melanjutkan perjalanannya, namun kiraa berhenti di depan kamar mandi untuk mengecek apa yang di katakan lelaki itu benar.


dengan segera ia masuk ke kamar mandi perempuan.


ia memandangi kaca.


"oohh~"gumamnya, terukir lah senyuman kecil.


"wah kau benar-benar mirip sekali~"


"namun kierra memakai ikat rambut yang berwarna merah loh"


"sini aku pakaikan"


"terimakasih" ucapnya.


kiraa pun melepas ikat rambutnya dan bersiap siap untuk mengikat rambut orang di depannya.


gadis itu terkaget, ia langsung memutar badannya dan menatap kiraa seperti menatap malaikat maut.


"kenapa? kau melihat sesuatu di belakangku?"ucap kiraa.


tetapi gadis itu malah semakin menatap kiraa dengan tatapan aneh.


"ada apa? kutu buku?" ia menekan kalimat terakhir dengan senyuman manisnya.


gadis tadi menundukkan pandangannya sambil memegang erat wastafel di belakangnya.


"tunggu!"


"kau sudah mirip sekali dengan ku"


"hanya saja kau memakai kaca mata buruk itu"


ia melepaskan kaca mata yang bergantung di bawah mata seseorang didepannya.


"wah, sangan mirip!"


"kau seharusnya tidak memakai kacamata bulat itu,jadi kau bisa melihat siapa kierra yang sebenarnya"


"aku beri tau ya"


"bukannya menyinggung, tapi dalam segi pandang manapun kau tidak bisa menjadi seperti aku"


kiraa mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi gembung gadis itu,namun ia segera mendapat tepisan dan senggolan kasar-


*bruk!


-hingga bayangan gadis itu tak terlihat lagi.


"sepertinya marah" ia kembali menatap pantulan dirinya di cermin.


"rara!" panggil kiraa.


"y-ya!"


"ya ampun!" kaget kiraa saat melihat gelas yang melayang di sampingnya.


"ah! maaf aku tidak menunjukkan diriku!"


"berbahaya tau jika kau membawa gelas dengan tidak ada wujud!"


"tapi berbahaya juga aku menunjukkan wujud ku"


"ya tidak usah bawa gelas!"


"maaf maaf!..." ia meminta maaf sambil memutari kiraa.


"iya iya!"


"kau ada tugas, ikuti gadis tadi yang baru saja meninggalkan toilet ini"


"untuk ap-"


"ssttt... " ia membekap mulut kecil rara.


"aku ada urusan!"


...---...


"permisi..."


kiraa masuk perlahan.


"kenapa dia ada di sini?"bingung kiraa saat melihat seseorang lelaki yang tengah duduk di sofa.


"k-kalian bisa bicara berdua disini" ucap pak kepala sekolah.


bapak kepala sekolah dan orang pesuruhnya pun keluar dari ruangan itu, kiraa juga akhirnya duduk di sofa berhadapan dengan lelaki tadi.


"ada apa?"


"kau tidak berniat melanjutkan penyamaranmu?"ucapnya.


"kau sendiri?"


"a-apa?"


"aku akan melanjutkannya nanti, disini adalah duniaku"


"saat aku kembali, nanti pakai alasan apa?"


"..." lelaki itu hanya terdiam tak bergeming.


kiraa menghampiri lelaki itu, lalu menepuk bahunya dengan pelan.


"kalau ada waktu, selesai sekolah kita pergi ke rumah bibi sofia"


"untuk apa?" bingungnya.


"ntah lah, menurutmu?" bukannya membalas,ia malah menanyakan pertanyaan yang berhasil membungkam lelaki itu.