I WANNA RESET

I WANNA RESET
loker #11



"eh... iya iya! pilih lah bangkumu..."gelagapnya.


"emh... disana!" kiraa menunjuk ke arah bangku paling ujung dengan telunjuknya.


semua orang melihat arah telunjuk kiraa lalu mereka membelalakkan matanya.


seorang perempuan berdiri,membuat yang lainnya menoleh melihat kearah perempuan tersebut.


"hey, kalau kau mau deket-deket itu ngomong aja, gak usah pake acara polos-polos gitu!" bentak perempuan itu.


semua orang kaget tercampur dengan rasa ngeri karna bentak an perempuan tersebut, berbeda dengan kiraa yang santai, 'apa salah ku?'.


"Etanis!!"


"ck!" ngeck tanis.


"apa kau tidak keberatan jika duduk dibangku lain?"tanya lelaki tersebut,sepertinya ia guru muda, pikir kiraa.


sebelum itu kiraa tak sengaja melihat seseorang yang duduk di samping bangku pilihannya, dia! kiraa membulatkan matanya.


dengan cepat ia menormalkan raut wajahnya.


"bangku pojok yang berdekatan dengan jendela, apa masalah?"


guru itu pun cengo,ia bingung bagaimana caranya menjawab pertanyaan dari pertanyaan.


"gak bisa! pokoknya gak bisa!"


"gak boleh ada yang dekat dengan nya!"


"siapa?" tanya kiraa.


"apakah dia?" ia menunjuk ke samping bangku pilihannya.


"p-pokoknya gak bisa!" bentak tanis.


"ck, menyusahkan"


"kalau kau gak mau ya suruh dia duduk di samping mu"ia menunjuk dengan bola matanya.


"ck,ganti di tempat lain"


lelaki tersebut berkata dengan aura yang dingin, kesan pertama-- ah bukan...tidak lah baik.


"terserah,aku tetap akan duduk disitu sih" kata kiraa tak peduli.


"sudah sudah, kierra, duduk lah dimana saja yang kau mau, kita tidak ada waktu lagi untuk berbincang" ia melihat jam di pergelangan tangannya.


dengan teliti ia berjalan menuju tempat duduknya, ia sempat melihat ke arah lelaki yang di bangku sebelahnya.


di setiap kelas terdiri dari beberapa murid, bangku mereka disusun terpisah, satu deretan mempunyai 6 orang, total seluruhnya 24.


jujur kiraa benar-benar bosan, ia mengulangi hal yang dulu ia sering lakukan, ia tau dulu ia tidak pandai dalam semua pelajaran, tetapi sekarang pun ia malas untuk menjadi pandai.


kiraa menatap keluar jendela sambil merebahkan kepalanya ke meja belajarnya.


"lebih baik aku tidur saja, siapa juga yang dari awal mau menyetujui hal ini?" pikirnya sambil berusaha tidak mendengar ocehan gurunya.


perlahan-lahan mata kiraa terpejam dengan pasti, tetapi ia terbangun lagi ketika mendengar gurunya berteriak memanggil namanya.


seketika kelas yang sunyi memudar setelah mendengar teriakan tersebut.


"kierra, ini waktunya untuk belajar bukan untuk tiduran, apakah belum cukup tidur dirumah!"


"pak, mengertilah bahwa bukan hanya aku yang begini" ia rasanya ingin mencekik gurunya itu, tau kok kalau dirinya seharusnya tidak tidur disaat kelas berlangsung, tetapi ia bosan lah.


"bapak tidak usah teriak teriak begitu, kesehatan telingaku normal kok" ia menutupi telinganya yang berdengung sambil menunjukkan wajah yang datar.


"sekarang bawa kertas kertas laporan ini ke kantor kepala sekolah, tau kan dimana!" ia menekan setiap perkataannya.


"ish,aku menyesal telah menonton bola sialan itu" pekiknya.


dengan terpaksa ia menyeret kakinya ke depan kelas, ia mengambil catatan yang berisikan laporan-laporan yang ia tidak ketahui maksutnya, ia hanya seorang guru les dulu yang hanya sekedar mengajarkan anak TK untuk menghitung dan membaca.


ia pun keluar dari kelas tersebut, ada rasa lega dalam hatinya.


"akhirnya! udara segar!" ntahlah maksutnya.


ia dengan sangat berhati hati saat mengangkat laporan laporan tersebut hingga sampai.


disisi lain, etanis dan lainnya saling mengetik pesan saat dikelas, padahal ia tau di sekolah ini dilarang menggunakan handphone dan semacamnya di saat pelajaran mulai kecuali hal penting atau memang di haruskan.


etanis dan lainnya sedang mengetik sesuatu kalimat dan sekali kali saling menatap.


ia berdiri tegap "pak!" kata tersebut yang keluar dari mulut etanis.


hal itu membuat sebagian besar murid menatap etanis bingung begitu pula dengan orang yang sedang menulis di papan tulis.


etanis tidak menghiraukan apapun yang mereka liat.


"saya ingin ke toilet sebentar, apa boleh?" katanya sambil senyum seceria mungkin,kalau saja kierra berada disini ia akan muntah pelangi, pasti jadi pemandangan yang menarik.


"kau sendiri?"


"tidak, aku bersama ela" senyumnya semakin mencerah saat ia merangkul tangan sahabatnya itu.


ela yang di tatap oleh guru hanya mengangguk angguk untuk mempercayai gurunya.


"baiklah, jangan terlalu lama" ia langsung meneruskan tulis menulis di papan tulis yang sangat besar itu, pekerjaannya hanya satu mengajarkan hal-hal yang baru sambil mengingatkan pelajaran yang lalu, tidak ada yang harus ia campuri.


dengan mata berbinar etanis berjalan keluar sambil merangkul ela yang hanya nurut nurut saja.


...-----...


"eh, tau gak hari ini ada murid baru di kelas gue"


"ha? murid pindahan?"


"gak tau, yang pasti dia kecentilan liat yang ganteng"


mereka pun masuk kedalam toilet khusus perempuan.


"jangan bilang si pangeran sekolah pujaan lo"


"ck.siapa lagi? lagian ya pasti bukan 'dia' aja yang di pepet.


"haha, ada ada aja!" kata ela.


ya disinilah mereka, yang sedang merendahkan kierra, etanis ela dan yang lain.


mereka tertawa ria mendengar candaan mengejek dari salah satu orang yang berada di situ.


"oh ya, lo bawa gak 'sesuatu' yang gw suruh?" kata tanis melihat teman dari kelas lainnya.


"tentu dong,jangan meremehkan ahli ginian" katanya.


"udahlah, kita mulai aja mendekorasi loker si kecentilan itu" ketawanya sangat menggema di toilet tersebut dan disusul yang lain.


ela pun membawa 'sesuatu' yang di minta etanis, itupun suruhan nya.


mereka pun keluar bersama-sama dan tidak mempedulikan toilet tadi.


*bug...(suara sesuatu yang terjatuh)


"ouch... sampai kapan aku akan di kerjain ya?" senyum orang tersebut.


ia habis jatuh dari toilet yang tertutup, tak sia sia ia datang ke toilet karna panggilan alam yang tiba-tiba, sesuatu yang kebetulan kan?.


"hmm...coba aku liat apa yang kau rencanakan"ia tersenyum miring "sejak kapan aku se mengerikan ini?" kiraa mengutuki dirinya, bukan seperti ini lah pemula.


"biasanya seperti kisah-kisah buku yang awalnya harus membiasakan diri itu kenapa tidak terjadi dengan ku,apa dendam ku terlalu besar?xixixi".batinnya


...disinilah ia berada, di kelas....


"sudah selesai?" tanya nya ketika mendapatkan sosok kierra yang berjalan ke arah bangkunya.


kiraa berhenti sebentar.


"belum" setelah itu ia kembali duduk.


"huh..." hembusan nafas berat itu sangat terdengar jelas sampai keteliga kiraa.


"beban pikiran~"


*kringgg.... kringgg..


"apa apaan-" gumam kiraa, baru saja ia duduk nyantai.


"sepertinya ini hari buruk bagi saya, dan hari yang beruntung bagimu, kierra!" guru itu menatap sinis ke arah kierra sembari memijat keningnya.


kierra yang di tatap hanya menunjukkan senyum tanpa dosanya.


guru itu berjalan ke arah pintu tetapi ia terhenti tiba-tiba, sepertinya ia ingat sesuatu.