I WANNA RESET

I WANNA RESET
iblis aneh #36



*srupp!


"bagaimana?"


kini kiraa dan rara berada di suatu tempat yang cukup aman ,tentu yang maksudnya aman adalah tempat yang sepi dan tidak dikunjungi satu orang pun .


"hih! sangat menyeramkan kier!"ia mendekap dirinya sendiri dengan mata yang ia pejamkan, menunjukkan seberapa takutnya ia.


"heh? gimana-gimana?" kata kiraa dengan penuh rasa penasaran.


"dia bekerja sama dengan iblis!"


"hah?"


"iblis?"


kiraa tau apa itu iblis, namun ia tidak pernah mempercayai keberadaannya.


sudah sangat jelas kan jika yang begituan hanya ada di sebuah dongeng, eh-...


"iya, saat aku mengikutinya..."


-


"kemana sih orang itu!" jengkel rara.


sudah semenit-an ia berkeliling mencari keberadaan gadis yang dikatakan oleh kiraa, namun ia tidak segera melihat keberadaan orang itu.


"jika masalah kecil seperti ini tidak bisa, apa kata ketua!" gumamnya,terus merutuki kebodohannya.


"ray!"panggil seseorang.


"eh, ngapain dia disini?" rara meminggir, bersembunyi di balik dinding.


Tiba-tiba sebuah asap muncul, dan di lanjutkan dengan kemunculan seseorang yang sangat tampan.


"hmm? kenapa alya?"


orang itu bersikap santai dan kembali menggigit apelnya,yang belum sempat bersentuhan dengan giginya.


dan anehnya apel itu berwarna agak kehitaman setelah ia gigit, seperti terkena sihir.


"berhenti bersantai-santai!"


"kau mempunyai tugas baru!"


"hm?"


"bayarannya?"


"jangan seperti tahun lalu, yang lebih bagusan dong!"


"lebih, akan lebih dari sebelumnya!" ucapnya dengan tegas, ia sangat yakin kepada perkataannya.


"hemm? oke?"


"apa?" ia mendekatkan wajahnya.


"e-anu!"


"buat aku seperti seseorang!"


bola matanya tak bisa diam, ia merasa gugup walau sudah berkali-kali bertemu dengan orang pesuruhnya ini, yang malahan lebih kuat darinya.


"seseorang?"


"siapa?"


"kierra!"ucap alya dengan lantang.


"kierra? siapa itu?" bingungnya, ia mengernyitkan alisnya dan menggerakkan ekornya.


"kau sangat banyak bertanya"


"kau sangat ingin mati,ya?"


"t-tidak!"ucap alya takut.


"makanya!"


lelaki itu menajamkan matanya.


"apa kau bisa?"ia segera mengalihkan pembicaraan yang sudah kelewat jalur.


"tentu"


"kau punya fotonya?"


"ada"


"sebentar!"


"hey? dari mana ia mendapatkannya?!" benak rara kesal.


"ini"


"wah, dia sangat cantik ya"


"cepat lah!" kata alya tak sabaran.


"iya iya!"dengan cepat ia mengambil foto itu.


"bagaimana caranya?"


"ikuti saja perintahku"


*Srak!!


bagai pedang yang sangat tajam, ekor lelaki itu menyayat pergelangan tangannya sendiri, dan yang lebih anehnya, darahnya berwarna ungu, tidak seperti manusia biasanya..


darah itu menetes hingga menyentuh foto kiraa yang melayang di hadapan alya dan dia.


"potong tanganmu!"


"ha!"


"maksudnya tetaskan darahmu ke foto ini!"frustasinya.


"okay"


"sini ekormu"


sesuai kemauan alya sendiri yang sangat nekat, ekor lelaki tadi pun menggores pergelangan alya, ia sedikit meringis kesakitan ketika tangannya sudah robek cukup dalam dan mengeluarkan darah segar.


lelaki itu tidak main-main untuk menggoresnya.


"ck ck ck! kata ketua,perjanjian dengan iblis itu membutuhkan imbalan yang besar,apa gadis itu tidak mengerti?" gumam rara tak percaya.


darah segar itu menyatu, hingga membuat sebuah cahaya yang sangat amat terang, hingga menyilaukan mata seseorang yang melihatnya.


setelah beberapa detik menutup mata, akhirnya cahaya itu redup menyisakan abu foto kiraa yang berada di tanah.


*tuk!


sebuah topeng jatuh di depan kaki alya.


"hah! apa itu!"


"itu wajahmu"


"jika kau memasangnya lagi,wajahmu akan kembali"


"wah!" ia merasa takjub dengan kekuatan iblis di depannya itu.


"tapi kau tidak bisa mengganti wajahmu setiap saat!"


"jadi aku sudah menjadi kierra?!" girang nya tanpa mendengar perkataan ray, ia menyentuh-nyentuh wajahnya yang terasa berbeda dari sebelumnya.


"iya tapi-"


"ray! kau sangat mengagumkan, aku tak salah memilihmu!" ia melompat-lompat kegirangan dengan penampilan barunya.


"aku akan membawa topeng wajahku dan segera kembali!"


"kekuatan yang begitu aja senang, cuih!"


"aku pun lebih hebat!"sombong rara, tak kuasa menahan rasa kekesalnya yang mendalam.


*dug!


karna terlalu banyak gerak, sebuah kardus ia senggol dan mengakibatkan suara.


"suara apa itu?"


-


"jadi begitu kier!"


"untung aku kabur!"


"pengecut banget kamu ra!"


"katanya lebih hebat!" sindir kierra sambil memakan nasinya.


"ih, bukan begitu!" ia menggeleng kan kepalanya dengan pipi yang berwarna merah padam seperti tomat.


"terus gimana?"


"oh ya, kau bisa mengajari aku tentang sihir kan?ayolah, aku tidak sabar" ia menatap rara dengan penuh binar.


"yeeey!" teriak kiraa dengan gembira.


"terus gimana tentang kembaranmu itu?"


"santai aja,kemungkinan besok ia akan memakai statusku"


"jadi apa yang harus kita lakukan~?"


"membuatmu miskin, tidak punya rumah, dikeluarkan dari sekolah,jelek, tidak berperasaan"


"ternyata kau sangat kejam ya,ra."


 


-


"hai!" sapa kiraa.


ia menaruh sebuah kardus kecil di hadapan lucy.


seolah mengerti, lucy beranjak dari duduknya dan menatap kiraa seperti menerka-nerka sesuatu.


"jangan curiga seperti itu"


"kita kan teman" ia menunjukkan senyum khasnya.


bukannya merasa tenang, lucy semakin curiga dengan senyuman 'itu', pasti memiliki makna tersendiri yang ia tidak ketahui.


"apa?" tanya lucy dengan sombong.


"kau duduk lah"


"lebih baik berbicara dengan elegan bukan?"


"cepat lah, aku tidak mempunyai waktu"


ia menjatuhkan dirinya di kursi tadi, dan menghembusjan nafas kasarnya.


"tadi pagi minta-minta agar aku masuk ke perkumpulanya, sekarang sudah sombong!"


"jika kau menyempatkan waktumu untukku, sepertinya kau senggang" ucap kiraa sambil tersenyum-senyum.


"jangan membuat ku marah, cepat katakan atau aku pergi?"


"ah iya iya, memang kau tidak penasaran dengan apa yang ingin aku sampaikan?"


benar sih jika dirinya sangat penasaran.


karna malu ia memalingkan wajahnya, namun wajahnya kembali lurus saat ia merasa jika kiraa tidak segera duduk.


dengan tatapan mencurigai,lucy menyindir kiraa.


"kursi sangatlah banyak!"


"a-ah bukan b-begitu!"gugupnya.


"terus kenapa kau tidak duduk?"ia menatap tajam bola mata kiraa.


"j-jangan terlalu curiga!"


"bagaimana aku bisa kabur jika aku duduk?" dengan ke tenangan yang tersisa, ia terus tersenyum kaku ke arah lucy.


"hehe..."


"cepat!"


"jadi begini..."


"jadi hari ini hari apa?"


"ha? kau mau berbicara apa sih!"ia lagi-lagi mengernyitkan alisnya


"yaaah,aku sekedar tanya kok"


"jadi hari apa?"


"yaa! y-ya mana kutahu!"


niatnya untuk membuat lucy marah, namun tak disangka-sangka ia malah mendapatkan fakta lucu.


"kau tidak tau?" kaget kiraa, sebenarnya ia ingin sekali tertawa, namun ia tutupi.


sebelumnya kiraa berpikir, 'si penyebar rumor' yang sering memegang ponsel akan selalu memantau aktivitas baru yang menarik.


namun ternyata terlampau dari pikiran kiraa, lucy selalai itu.


mereka benar-benar hanya menggunakan harta.


"kau mau bicara apa sih!"


kiraa menarik nafas dan menghembuskannnya, ia mempersiapkan diri dan mentalnya untuk nanti.


lucy semakin curiga, dan semakin takut.


"kau mau kopi?"


"kierra!"


"bisa tidak perkataanmu yang beharga sedikit hah?!"


"kau itu-"


"ya ya! aku keluar"akhirnya ia mengatakannya, dengan nada sedikit tinggi. sebenarnya ia ingin sekali menampar orang di depannya, karna terlalu jengkel,walau wajahnya datar bagai tembok, dalam hatinya ia sudah mengkomat-kamit tidak jelas.


sontak lucy terdiam, mendengar penuturan kiraa.


"ha?" ia mendongak.


"kau bicara apa?"


"aku keluar dari perkumpulan mu itu"


"ya?"


"ya, aku hanya ingin bicara tentang itu saja"


"permisi"dengan sekuat tenaga kiraa berlari keluar.


sebelum terkena amukan.


"ha? keluar apa?" ia masih belum mencerna perkataan kiraa.


"apa! keluar?!"


"KIERRA!!!"


...---...


"gimana?"


"hanya beberapa... huh!"ia menghirup angin sebanyak mungkin.


"wah, sangat berguna sekali kamu ra!" bangga kiraa, ia melihat rara yang menenteng beberapa pakaian seseorang,ntah itu milik siapa.


hari sudah mulai menggelap, bukannya pulang, kiraa malah pergi ke perumahan terdekat untuk mencuri beberapa pakaian.


sengaja, agar di hari esok 'ia' di kejar-kejar beberapa ibu-ibu yang menjadi korbannya.


"ini akan di taruh mana?"


"aku juga tidak tau ra"


benar, ia tidak tau harus di kemanakan keranjang yang berisi baju ini, kata lainnya, ia melakukan semua ini tanpa berpikir kedepannya.


"hais!"


"bantuin dong ra!" rengek kiraa, ia menggoyangkan tubuh rara dengan sangat kencang.


"ih! lepasin!"


"rara!!" rengeknya kembali.


"iya iya, lepasin dulu!"


"okay!"


ia segera melepas genggamannya, merasa berhasil,ia tersenyum puas.


"begini, barang-barang ini aku akan bawa ke dunia ku"


"bagaimana?"


"ide bagus!"


"tapi tidak akan ketahuan kan?"


"tidak"


"nanti akan ku kembalikan saat kau memintanya"


"jika benar-benar bisa, terimakasih"


"sekalian bantu kierra tentang sihir, sih"


"oh? itu beneran?"