
Dengan jantung yang berdetak sangat kencang, kiraa menggenggam tangan anak kecil itu dengan hati yang pasrah.
Bagaimana mungkin kan, jika dirinya meninggalkan anak kecil, terlebih lagi seorang gadis yang sedang menangis.
Jika ada yang melihat, mungkin ia akan di amuk waktu itu juga.
"Apa masih jauh?..." tanya kiraa dengan hati-hati, takut saja jika anak itu akan tersinggung dengan perkataannya.
"Aku juga tidak tau..."ia sedikit gugup, seperti mendapat tekanan dari kiraa.
"jangan tertekan begitu dong, aku merasa bersalah"
Setelah pembicaraan itu, keduanya tidak berani memulai pembicaraan kembali.
dua-duanya sudah tenggelam dalam pikiran mereka sendiri.
Kiraa celingak-celinguk mencari keberadaan ibu dari anak yang sedang berada di sampingnya itu.
Namun, walau ia sudah memperhatikan setiap sudut jalanan, toko dan lain-lainnya, ia tidak melihat apapun yang mencurigakan.
Malah, ia menjadi sorotan orang-orang yang berada disana, mungkin mereka mengomentari kiraa,berpikir itu anak nya.
kalau aku mempunyai anak sebesar ini, umur berapa aku hamil?!"
"Apa kau yakin, ibumu atau orang tuamu di sekitar sini?..."
"gegara anak ini, aku tidak bisa leluasa!!" kesalnya.
"Kakak... Coba cari ibu"
Tutur nya tanpa mengetahui seberapa kesal orang yang menggenggamnya.
"ini lagi di cari nak!" teriak kiraa dalam hatinya.
Ia melepas genggamannya, dan Langsung menatap bola mata gadis itu.
"Terakhir kau liat,dimana?"kata kiraa di buat selembut mungkin.
"aku tidak tau"
"Aku melihatnya sekitar 3 tahun lalu"
Secepat kilat kiraa membulatkan matanya,ia sangat kaget dengan ucapan gadis itu.
"Umur mu?"
Bentuk tubuh yang mungil, sekitaran tubuh anak yang berumur 6 tahun.
Namun dengan santai mengatakan kata-kata yang menyayat seperti itu, mungkin benar apa yang ia katakan, ia terlantar beberapa tahun dengan kehidupan yang sulit.
Kan biasanya anak kecil tidak mungkin berbohong.
"6 tahun..."
"ahh!! sesuai dugaan! "
"Kau ingat rumah terakhir keluarga mu?" ia menyelipkan sehelai rambut anak itu yang menutupi mata indahnya, walaupun matanya sedikit aneh dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
"Aku tidak ingat..."
Kini kiraa benar-benar putus asa, satu-satunya cara adalah mencari seseorang yang dekat dengan gadis itu, setidaknya orang yang pernah melihatnya.
Kiraa meluruskan punggungnya sejenak,berkelut resah dengan pikirannya, kemudian kembali membungkuk.
"Apa yang kau ingat? Apapun." ia menekan kata 'apapun', agar tidak terlalu membuat anak itu tertekan.
Namun lagi-lagi anak kecil di hadapannya terdiam,antara bingung atau memikirkan sesuatu.
"Akhh!" kesalnya, ia benar-benar buntu.
"bisa tidak,kutinggalkan anak ini,agar seseorang yang tidak mudah emosi membantunya saat melihatnya!"
niatnya ingin melepas masalah di dalam otaknya, tapi ia malah mendapat masalah baru.
Namun,tiba-tiba anak itu meraih pergelangan kiraa, lalu menarik paksa ke arah yang tidak kiraa ketahui.
"Hey! Hey! Pelan-pelan!"
"Kita mau kemana?!" teriaknya.
Namun tidak di dengarkan oleh anak itu.
Semakin di teriaki semakin erat genggaman itu, seperti menandakan agar kiraa sebaiknya diam saja.
Setelah melewati beberapa toko,akhirnya tapakan kaki gadis kecil itu merenggang, tidak sekencang tadi.
"Sudah selesai?" tanya kiraa, bermaksud menyindir.
Tanpa bergeming, anak itu melepas genggamannya perlahan lahan,dan tangan satu nya ia angkat untuk menunjuk lurus kedepan.
Kiraa seolah mengerti, ia mengikuti arah tunjuk anak itu.
Seperti menemukan secercah cahaya, kiraa menatap binar, wanita paruh baya yang sedang membeli apel di sebuah toko.
sedikit bingung sih, bukannya kata anak itu, ibunya sekarat.
namun dengan cepat ia menggeleng.
"Itu ibu mu?"
"Iya..."
Tanpa mengajak anak itu, kiraa langsung saja berlari menghampiri wanita yang di tunjuk dengan hati yang lega.
"Permisi!..." sopannya.
Tentu saja wanita yang mungkin sudah berkepala tiga itu menoleh.
"Iya ada apa ya?" ia tersenyum bingung ke arah kiraa.
"Apa anda mempunyai anak?"
"Eh-... Iya..." lagi-lagi ia bingung dengan ucapan kiraa yang mendadak itu.
"Ah, benar saja!" gumam kiraa, ia merasa lega.
"Ada apa ya?"
"Begini, saya menemukan anak anda yang hilang itu"
"Saya tidak sengaja menemukannya saat sedang berjalan-jalan"
"Ha?" wanita itu bertambah bingung, ketika kiraa membicarakan tentang anak hilang.
"Dia tampak sehat, dengan baju yang masih bersih" lanjutnya.
"tapi..."
"Hmm?" ia membundarkan matanya,yang tampak begitu lugu.
ia diam menunggu wanita di depannya mengeluarkan suaranya.
"Iya saya mempunyai anak..."
"6 tahun?" ucap kiraa cepat.
Ia membalikkan badannya.
"Loh!" ia mengedarkan pandangannya.
"anak itu!,pergi kemana dia?"
Ia terus memperhatikan tempat terakhir anak itu tapaki.
"Saya memang, mempunyai anak..."
"Namun 3 tahun lalu... Ia sudah tiada..." ia menundukkan wajahnya, seperti ingin menangis.
Kiraa yang tak paham dengan situasi ini dan masih linglung atas kepergian anak 'itu' pun panik.
"E-eh!" ia melayangkan tangannya hendak menenangkan wanita itu, namun,ia masih ragu-ragu.
"Ma-maaf, saya tidak berniat membuat Anda sedih!"ucapnya dengan cepat.
"Tidak apa..." ia mengusap ujung matanya sambil tersenyum manis ke arah kiraa.
"Jangan menangis ya..." canggung kiraa, ia menurunkan tangan nya perlahan-lahan.
"Apa Anda bisa melihat roh anak saya?"
"Saya?" tunjuk kira kepada dirinya sendiri.
"Ya?"
"Tidak tidak!" elaknya sambil tersenyum canggung.
"Tapi kenapa Anda tahu anak saya?"
"Emmm..."
Seperti tertangkap basah menjadi seorang penipu yang sengaja mengada-ngada, kiraa tampak kesusahan menjawab pertanyaan itu.
Ia masih memikirkan kejadian tadi.
"berarti dari tadi, aku bergandengan dengan hantu?!" ngerinya.
"...Yang terpenting kau tidak apa-apa..."ucapnya seperti enggan membahas kembali kata-katanya.
"A-ahah! Tentu saja saya tidak kenapa-napa..."ia menggaruk leher nya yang sama sekali tak gatal.
"Namun saya pikir, kau tidak berbohong tentang tadi..."
"Ha?"
"Apa kau melihat nya dengan keadaan normal?"
"Ya... Begitulah..."sungguh, ia tidak tau harus berkata apa kali ini.
Mereka berdua pun saling melempar senyum.
"Berita siang ini, sekolah olyn yang didirikan oleh pak merlin mengalami kejadian yang tak mengenakan di area sekolahannya, penyergapan yang tiba-tiba dari sekelompok orang tak di kenal membuat beberapa barang-barang disana rusak, dan parahnya beberapa murid juga ikut terluka akibat berdesakkan saat jam istirahat, ...."
karna mendengar berita semacam itu, ibu paruh baya tadi sontak terkejut, ia teringat anak nya yang masih bersekolah juga.
"Ya ampun, semoga anak anak yang berada disana tidak terluka parah..." ia memegangi pipinya.
"Hey nak, apa kau bersekolah disan-"
Perkataan nya terpotong, saat ia menoleh kesamping dan tak menemukan gadis tadi yang mengobrol dengannya.
"Apa aku berhalusinasi?" bingungnya.
-
Dengan sekuat tenaga kiraa berlari ke arah sekolahannya, ia melihat banyak orang yang berada disana, ia juga melihat beberapa tim medis berdatangan.
Kiraa langsung menyerobot masuk, mencari 2 temannya dari sekian banyak nya orang.
"Hey! Dari mana saja kau!"
Saat sedang asik mengamati, tiba-tiba seseorang mendekati kiraa.
Tentu ia langsung menoleh ke arah sumber suara.
Setelah melihat wajah dingin leona, kiraa lega, kalau dia masih bisa menunjukkan raut wajah seperti itu, berarti dia baik-baik saja.
"Dari mana saja kau, sekolah nya di serang tapi kau malah lehai-lehai diluar!" cibir leona pelan.
Tentu, karna status kiraa sudah terancam saat ini.
"Hais! Kau tidak kenapa-napa?"
"Aku baik baik saja!"
"Seharusnya kau yang patut di khawatirkan!" walaupun begitu ia masih senantiasa dengan raut wajah datarnya.
Kiraa hanya mampu melempar senyuman tertekan ke arah leona.
"Apa ada yang luka?"
"Sedikit..."
"Karna saat jam makan siang tadi aku sempat keluar dan memakai baju yang biasa saja."
"Kau tidak takut ketahuan?"
Padahal leona bilang, ia akan kena amukan jika pak alex melihatnya melakukan rutinitas seperti biasanya.
"Yang penting tidak ketahuan toh!"
"Iya iya... Mana luka mu?"
"Hanya lebam karna terkena ujung meja"
Dengan cepat ia menghampiri orang-orang yang bekerja mengobati murid-murid yang terluka.
Dan meminta sebuah obat.
"Kemarikan lengan mu" perintah nya, ia bahkan sudah berada di kursi taman yang tersisa.
Dengan malas leona menghampiri kiraa.
"Terkadang 'hati'nya berganti-ganti" ia meringis saat bayang-bayangan tentang kejadian yang membuat leona gagap.
Namun sekarang, kiraa tidak dapat melihatnya kembali.
"Tidak perlu"
"Aku tau, kau anggota OSIS"
"Pekerjaanmu jauh lebih sulit di bandingkan dengan ku"
"Jadi sesekali biarkan murid biasa ini membantumu, dan menjadi seseorang pahlawan bagi seseorang yang istimewa"
"aku tidak terharu."
Walaupun begitu,ia tetap duduk di kursi yang sama dengan kiraa tanpa penolakan.