I WANNA RESET

I WANNA RESET
kesalahan #27



"benar, walau kemungkinan kecil rasa bencinya, namun itu bisa berguna"


"hm, kalo begitu ajaklah dia, buat dia mau mengikuti jalan kita" ia membuka pintu mobil tersebut.


"kau mau kemana?"


"memperkenalkan diri, agar dia tau siapa musuhnya diarea pertempuran"


kiraa tersenyum kemudian ia pergi masuk ke sekolah itu yang mulai sepi, untungnya disini tidak ada peraturan yang menutup gerbang sekolah.


"gadis aneh"pikir lelaki itu.


-


kiraa tersenyum.


"agar rencana berhasil, kita harus menguasai orang di sekitarnya"


"setelah itu biarkan mereka bekerja, sedang kan aku harus berpura pura"


"rencana yang sangat bagus untuk permulaan"


"hai!" sapa rara dengan gembira.


"ya ampun, kau ini!"


"kau tidak muncul jika di perlukan, sekali muncul membuat orang kaget!" kesalnya.


"hehe, akhir-akhir ini aku sibuk membuat ramuan"


"ramuan apa?"


"emm, aku tidak bisa jelaskan semuanya"


"intinya setelah ramuan itu jadi, aku akan mengajarimu beberapa sihir"


"benarkah?!" mata kiraa seketika berbinar binar mendengar kata sihir.


"tau aja mana yang berguna!" sindirnya.


-


"dimana sih kelasnya!"


"bukannya di sana ya?" ucap rara.


"bukan,itu ruang guru!"


"beda ya?"


"ngajak kamu benar-benar bikin pusing tau gak"


"eh-"


kiraa terdiam di tempat,ia merasa ada yang ia lewatkan, dengan cepat kiraa menoleh.


ia melihat seseorang yang dari tadi ia cari, sofia, orang itu tertunduk, sontak kiraa tersenyum puas,dan melihat ke atas.


"benar ini kelas nya"


"woah, ini kelasnya?"


"ayo ra, kita pergi" kiraa berjalan dengan santai, ia puas saat melihat sofia yang menunduk dan tak berani melihat, biarlah, biar ia penasaran.


"loh, bukannya kita mau kesana?"


"tidak,sebenarnya aku cukup malas melihat wajahnya,kau tau kemarin ia bersikap seolah oleh dia benar-benar berkuasa"


"oh begitu..." rara hanya memanggut manggut karna sebenarnya ia tidak mengerti.


"sepertinya aku terlalu lama membuat ramuan, jadi tidak mengerti apa apa"


"eh! kier ada apa di kening mu?" ia panik melihat luka yang belum sembuh sepenuhnya.


"tidak apa gadis kecil" ia mengangkat tubuh mungil yang ringan itu menggunakan jarinya.


"hey!" ia memberontak.


"aku hanya sedikit terluka, kau jangan terlalu mencemaskan nya" ia tertawa kecil melihat tingkah peri kecilnya.


-


"woah,banyak orang ya!" girangnya.


"kau sih, jarang ada jika jam istirahat!"


"hehe..."


"ada keributan tuh"


"kayaknya orang itu ngesenggol sofia, nona kebanggaan sekolah"


"iya deh, rasain tuh, makanya jangan berurusan dengan sofia"


mereka berbisik bisik menanggapi pertengkaran itu.


"ada apa itu?" bingung rara.


"ohh, namanya sofia"


"apa masih sakit?"


ia ingin menyentuh lengan sofia, namun dihentikan.


"tidak, aku tidak apa apa"


"aku turut kasihan padamu, nona"


sofia terdiam, dia membelalak saat mendengar suara itu.


-


"kenapa luka mu digituin!" marah rara.


"ini adalah rencana ku, agar dia di hantui rasa menyesal"


"ha? emang kalian ngapain?"


"nanti ku ceritakan"


"sekarang aku harus mengatur rencana untuk menculiknya"


"gimana?"


"ya tutup mulutnya dari belakang, karna aku tidak tau banyak cara untuk menculik seseorang"


rara memutar bola matanya.


"kita sembunyi dimana?"


"tidak usah repot repot, kita hanya perlu melihatnya dari belakang"


"apa tidak ketahuan?"


"tenang saja"ia meyakinkan.


saat melihat mobil yang ia kenal, kiraa langsung berjalan mengarah ke gadis berkaca mata hitam itu.


"emhh!" sofia ingin berteriak, namun dekapan kiraa sangat kuat sampai sampai ia tergeletak tak sadarkan diri.


"bantu angkat!"


...---...


"permisi"


"eh,ya apa?"


"boleh minjam toiletnya?"


penjaga itu terdiam.


"eh, b-boleh"


"terimakasih"ucap kiraa.


kiraa akhirnya keluar dari toilet kecil itu, ia keluar dengan menggunakan baju yang berbeda, saat di dalam rumah tadi kiraa memakai baju tidur, sekarang berganti menjadi baju seragam, ya hari ini ia harus masuk sekolah, hari kemarin ia lewatkan untuk mempersiapkan rencana.


"om jemput di toko bunga aja, nanti kiraa kesana"ucap kiraa saat menelpon om dian.


"iya, om segera kesana!" kata dian dari seberang telepon.


"huh!" kiraa membuang nafas leganya.


"temen nona sofia ya?" kata pak petugas tiba tiba.


sontak kiraa kaget dan sedikit canggung.


"emm, ya!" kiraa mengangguk cepat.


"oh~"


"eh, pak saya sudah di jemput, saya pergi dulu ya,permisi"


"eh iya"


dengan langkah kecil namun terkesan cepat, ia menuju ke toko bunga yang sempat ia lihat kemarin.


"huh!..." suara deru nafas kiraa.


*(tinn!)


dian membuka pintu mobilnya.


"masuk!"


tanpa basa-basi kiraa langsung masuk dan memasang sabuk pengamannya.


"om dian bawa tas?"ia menatap dian.


"ada di belakang" singkatnya tanpa melirik kiraa.


"oh"


sesampainya di tempat yang tak terlalu jauh dari sekolah, ia segera turun dan mengambil tasnya yang berada di kursi belakang.


"terimakasih" ucap tulus kiraa untuk dian.


namun dian malah cengengesan saat mendengar kata 'terimakasih' dari kiraa.


"om baru tau kau sebaik itu, sudah sudah sana"


"apaan sih!" bingungnya.


--


*(brak!)


guru yang sedang mengajar pun tersentak, seketika kelas itu sunyi saat melihat kedatangan kiraa.


"e-eh?"


"waktu yang salah!"


"kierra!" ucap pak guru dengan nada tinggi.


"ehehe" ia tersenyum gugup.


---


"kenapa terlambat?"ia bersedekap dada dengan mata yang terus menuju ke kiraa.


"emm,itu..."


"kenapa kemarin tidak hadir?"


lagi-lagi pertanyaan yang pak alex lontarkan membuat kiraa bungkam.


ia tidak salah, namun ia belum mendapatkan alasan yang tepat.


"hah" desahnya.


"jam istirahat kau ke ruang bapak!" tegasnya lalu kembali membenarkan posisi duduknya.


dengan cepat kiraa berjalan menuju bangkunya, sepertinya ia harus mempunyai nomer HP seseorang di kelasnya.


"eh, kenapa tidak titip dengan cesa atau leona?"


"aduh!,bodohnya aku!" ia mengutuki dirinya yang tidak mempersiapkan semuanya dengan matang.


alhasil ia harus mendapatkan konsekuensi.


--


"untuk pelajaran hari ini sampai disini"


"jam pelajaran selanjutnya kalian ke aula basket"


sebelum pak alex keluar, ia melirik kiraa.


"gimana ini..." lirihnya, sesekali menendang bangku depannya untuk meluapkan kekesalannya.


ia pun bangkit dari duduknya, ia berniat mempasrahkan diri, namun sebelum itu kiraa harus mengisi perutnya yang berbunyi,ah... sangat menyiksa!.


dengan langkah yang malas ia melewati bangku-bangku teman sekelasnya, walau kiraa selalu dianggap seperti angin lalu, setidaknya ia tidak di bully,untuk saat ini sih...


kiraa melangkahkan kakinya melewati pintu sambil menguap, baru satu langkah ia keluar tiba-tiba ia di dekap seseorang dari sebelah kanan.


"emhh!!!"ia memberontak.


karna hal tersebut kiraa yang tadinya sedang menguap pun menutup kembali mulutnya.


"apakah ini balasannya karna kemarin aku menculik seseorang?!" benak kiraa.


"to-" kiraa hampir berteriak namun lagi- lagi ia dibuat terdiam.


ia merasa di dalam mulutnya ada sesuatu yang manis.


"jangan teriak" ucap seseorang.


"oh tidak!!"teriak kiraa di dalam hati, ia sangat mengenal suara ini.


orang tersebut memegang pundak kiraa, dan membawanya untuk duduk di lantai.


"hah, untung tidak tertangkap!"


kiraa dapat merasakan hembusan nafas seseorang yang berada di belakangnya, membuat kiraa sedikit geli.


namun ia sadar, dengan tiba-tiba dan kasar ia menepis tangan itu.


"kau! -" ia berdiri menghadap orang yang mendekapnya.