I WANNA RESET

I WANNA RESET
beradu argumen bersama keluarga busuk? #4



"Kierra, apa yang ada di pakaianmu itu?"


"oh ini, ini adalah benda yang berharga bagiku" ucapnya sembari menarik sebuah boneka dari saku-nya.


Kalau diingat-ingat, kemana 'pun Kiraa pergi pasti akan membawa boneka yang berbentuk kucing ini, 'sungguh kebiasaan yang memalukan, tetapi sampai saat ini aku tetap suka membawanya, meski boneka itu 'tlah hilang'.


"wah, begitu lucu!, Rara boleh membawanya?"tanya rara.


"ya, tidak masalah... tapi, sepertinya boneka ini lebih besar dari pada tubuhmu" Kiraa melirik ke arah Rara yang saat itu ingin sekali memegang boneka tersebut.


"tapi Rara ingin sekali!!!", dia mengulurkan tangannya.


"huh, baiklah. tapi kalau kau tidak sanggup, ya salahkan dirimu"


dengan begitu Kiraa memberikan boneka-kucing itu dengan anggapan yang sama.


Dan setelah itu...


"aish... kenapa berat sekali??..uh... apa kau mengisinya dengan batu??, ambil lah kembali!!"


"huft. iya-iya, memang siapa yang menyuruhmu menjadi keras kepala?"


Kiraa menarik kembali boneka miliknya. terlihat jelas sekali bahwa Rara sampai ber keringatan ketika membawa benda mati tersebut.


"iya-iya Rara meminta maaf.. "


Rara akan berjanji bahwa ia tak 'kan memegang benda imut terkutuk itu lagi, didalam hatinnya.


Setelah berbincang begitu lama dan mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit, mereka berdua akhirnya sampai juga di depan sebuah gerbang-rumah.


"ini tempat tinggalmu? "


"tentu saja, apa aku terlihat seperti ingin membawamu kerumah orang lain?"


ia menatap Rara dengan heran, dia begitu karena suasana hatinya menjadi buruk selama mereka akan bertemu dengan keluarga yang selama ini sudah tak pernah ia sapa.


"rumah sebagus ini sedangkan kamu kurus seperti ini"


Rara menunjuk rumah keluarga Kiraa kemudian bergantian ke arah Kiraa sendiri,


seakan menunjukkan perbandingan yang jelas.


namun jauh dari itu, Rara merasa iba karena dia bersumsi bahwa Kiraa telah dianiaya didalam rumahnya sendiri.


"jangan terkejut seperti itu, aku jadi merasa semakin terhina."


"ngomong-ngomong...apa kau memiliki makanan darurat?", tanya Kiraa.


"aku ingat ada sekitar dua buah makanan.. memang kenapa?"


"oh tidak begitu, hanya saja aku tidak ingat kalau aku makan atau tidak pagi ini" kebetulan sekali, dari dalam perut Kiraa terdengar suara 'makhluk' yang meraung-raung.


"ini-ini!! kau bisa memakan salah satu makanan darurat ku"


"karena jika kamu mati, aku akan sangat kesusahan"


Kiraa kaget ketika ada sebuah roti yang muncul tiba-tiba dari kedua tangan mungil Rara. besarnya 'pun sepadan dengan besar dan tinggi Rara.


"nah, seperti inilah seharusnya kau melayani tuanmu"


"lalu, jika kamu menyuruhku berbuat kejahatan, aku harus berbuat kejahatan?" dengan mata yang bundar, dia mengatakan kalimat itu.


"tidak begitu juga... "


dapat di simpulkan jika Rara ini makhluk yang suka salah tanggap. Kiraa tidak tahu apa ini karena makhluk itu bukanlah manusia atau karena memang otaknya bekerja seperti itu.


"ayok masuk"


tanpa basa basi Kiraa membuka gerbang rumah lalu berjalan menuju pintu utama.


*ceklek.


Setelah membuka pintu utama, terlihatlah keluarga Kiraa yang sudah menunggu di ruang tamu dengan gambaran muka yang tak tertahankan(marah).


"baru ingin pulang?, kemana saja kamu hingga pulang seluruh ini?" kata seorang wanita yang berumur 40 tahun-an yang menyandang status ibu tiri.


"mah, jangan begitu kasar kepada kakak. dia juga keluar rumah karena sesuatu hal"


dia memasang topengnya seperti biasa, yang dapat membutakan mata kedua orang tua Kiraa.


Perkenalkan, dia adalah Adelia adik tidak-kandung Kiraa. dia itu bagaikan manusia bertopeng, yang bisa merubah wajahnya kapan 'pun dia membutuhkan perhatian. itulah yang membuat masalah untuk Kiraa yang dahulu tidak sempat membalas perlakuan Adelia, adiknya.


"HUH?? bisa tidak ya mengundang seseorang untuk membunuh anak ini!"


'aku juga ingin... tetapi entah mengapa aku merasa sulit untuk menghadapi keluarga ini...'


'tetapi jalan terbaiknya adalah untuk tetap tegas terhadap kelakuan 'putri' ini' ia mengepal tangannya yang basah karena keringat.


"aku tidak tau rencanamu, tapi jika ada bahaya aku akan membantumu."


'iya-iya... sejak kapan kau bisa mendengar suara hati?..'


tiba-tiba Rara menghilang.


"kenapa melamun nak?, bicara!, kenapa di jam selarut ini baru pulang!" kata ayah Kiraa yang saat itu sedang marah besar.


"ha." Adelia diam-diam tersenyum senang melihat kakaknya yang dimarahi oleh ayah mereka.


'ayah yang tidak memiliki harga diri.'


Kiraa menyesal telah terlahir dengan mendapatkan orang tua yang dengan mudah diberi 'bahan bakar', lalu 'berkobar-kobar' tanpa tahu arah.


"aku hanya makan diluar lalu pulang" balas kierra dengan singkat.


"SUDAH BERANI MEMBANTAH?!"


"apa? membantah?, tidak salah dengar?. aku rasa anda yang sedang menaikkan nada bicara anda saat ini, lalu kenapa saya yang disalahkan??" ia mulai menjawab.


Sebenarnya jantung Kiraa berdetup sangan kencang saat ibu tiri nya menaikkan nada bicaranya, tapi saat ia mengingat bagaimana perlakuan mereka terhadap dirinya di kehidupan lampau, ia tak dapat menahan diri.


"kalau anda tidak ingin saya keluar selarut ini, siapkan makanan di ruang makan dan biarkan aku makan"


"dan seharusnya kalian bangga karena aku dapat mencari makananku sendiri tanpa bantuan kalian"


"APA??, kau sekarang tidak tahu sebesar apa pengorbanan ayahmu ini?!!, kau tidak tahu balas budi, ya!"


"padahal kami membesarkanmu meskipun kau tidak berguna"


3 melawan 1?, yang benar saja??


"apa kalian berdua setidaknya menganggapku anak kalian?", ia tak menjawab tetapi ia memilih untuk memojokkan sang musuh.


*humpp!!.


"mah... pah, seharusnya Adel berbagi makanan atau membelikan makanan untuk kak Kierra, ini salah Adel yang membiarkan kakak keluar...hic..", semoga berhasil. pasti itu yang menjadi harapan Adelia saat ini.


Kiraa dengan segala ketegarannya menahan diri untuk tidak menjambak gadis itu.


"Adel, jangan salahkan dirimu, ini adalah salah kakakmu. kau tidak pantas untuk menanggung kesalahannya"


Ayah Kiraa menenangkan putri ke-duanya untuk tidak menangis.


"liat itu adik kamu yang baik, memiliki perasaan bersalah. dia menyalahkan dirinya untukmu, dan sedangkan-"


belum saja ibu tiri Kiraa menyelesaikan kata-katanya, Kiraa menguap begitu lebar dan kencang sehingga suara wanita tadi terendam.


"Hoammm!!!, tidak terasa sudah begitu malam saja, ya. kalau begitu aku tidur terlebih dulu, selamat tinggal~"


Kiraa berjalan melewati ruang tamu dengan santai untuk menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


"HEH. orang tuamu belum selesai berbicara!!" ibu tua itu berteriak karena telah diabaikan.


"ya,ya,ya...matahari akan segera muncul, jadi persiapkan kata-kata kalian untuk nanti"


*tab.tab.tab *duk!


"hah..."


"anak tidak tahu diri." kata sang kepala rumah yang sudah lelah.


***


Begitulah. sebenarnya aku lelah baradu argumen jadi aku memutuskan untuk tidur saja. dan berharap saat terbangun aku akan mendapat kata-kata yang lebih indah.


....


malam ini adalah malam yang menegangkan, banyak aura kekesalan yang muncul dari semua anggota keluarga, pembantu yang melihat kejadian itu hanya bingung karna perilaku Kiraa yang tak seperti biasanya, dan kedua orang tua Kiraa yang semakin murka. mungkin malam yang menegangkan ini berakhir sampai sini...