
"Khelema?"
"kakak!!!".
Menggunakan 2 nama panggilan yang berbeda ini, membuat bingung bukan?.
*srugg.
Selayaknya rindu lama yang sudah jarang bertemu, Prist memeluk erat kakaknya, dan begitupun dengan Reno yang membalas balik pelukan tersebut sambil menekuk lututnya.
"Khelema, kenapa laki-laki itu datang kemari bersamamu?"
"Khelema 'kan tahu jika saat ini kakak tidak suka disibuk-kan oleh paman-paman aneh."
Dalam pelukan hangat yang kakaknya berikan, sebuah bisikan tepat disamping telinga Prist terdengar begitu jelas.
"Uh..., paman pillo berkata ingin mengantarkan pesan-tak-beriwayat untuk kakak muda, Dan dia juga mengatakan agar tidak perlu takut untuk ikut bersamanya"
"... Gadis baik. "
Reno berdiri dengan tangan yang meraih pucuk kepala Prist, lalu mengelus-elus lembut rambutnya.
Khelema dan Prist adalah satu orang yang sama, yang membedakan-nya hanyalah posisi nya. Ketika kakaknya memanggil, nama yang disebut adalah 'Khelema'. Ketika bukan kakak-kakaknya, pasti yang di lontarkan adalah 'Prist'.
Sedang kan nama PRIST sendiri adalah sebutan mulia bagi nona ter-muda itu dari semua orang yang telah mengetahui SIAPA dirinya sebenarnya.
"Kalian, kemari lah" Reno mengajak mereka.
-
"Ayo Pierre, kita akan menjelajahi pulai baru ini!".
"ahahaha, iya nona!"
-
Pemusnahan berkas berlatarkan tempat seperti perpustakaan, yang memiliki bilik-bilik tinggi dengan kertas-kertas yang bertumpukan. Namun selain bilik-bilik tersebut, tempat Pemusnahan menyimpan beberapa tanaman pemberi udara karena memang ruangan itu tidak memiliki jendela.
Dan hanya lampu besar-mewah yang menerangi tempat itu.
Tetapi satu hal yang lebih unik dan menambah 'pikiran lain' saat melihatnya, yaitu tungku perapian dengan api yang masih membara.. Apakah ini yang sebenarnya dimaksud PEMUSNAHAN BERKAS?
***
"Hehehehee.. Prist tidak membayangkan bahwa makhluk ganas ini dapat berguna lebih dari membakar sesuatu"
"Tetapi ini juga membakar, bukan 'kah nona berpikir begitu juga?"
"Ouppss, kau benar Pierre".
Ketika Pillonefe dan Reno sedang duduk di kursi yang menghadap meja panjang, Prist dan Pierre dengan penuh suka cita membakar Marsmello di perapian.
Dan tak hanya itu, mereka bahkan melakukan itu didepan kedua mata mereka sendiri sembari menghangat kan diri didepan perapian tersebut.
....
"Ada apa?, kenapa kau datang secara tiba-tiba di jam yang bukan jam pertemuan kita?"
"Sebelumnya, saya meminta pengampunan anda akan tindakan mendadak saya."
"Berita ini mengenai Damian So Holc'kert."
"... Kepala sekolah itu?"
"..."
Pillonefe menarik nafas begitu dalam.
"Damian, ntah apa rencana barunya kali ini, namun.. Dia bertingkah aneh."
"sebelum saya mengatakan keanehan apa yang diperbuat oleh Damian So Holcker, saya akan menceritakan cerita unik yang mungkin berhubungan".
"Silahkan bercerita, Pillonefe"
Ujung bibir Pillonefe terangkat, mengukir senyuman tak tertebak tentang apa yang selanjutnya dia lakukan.
Kenyataannya, dia mengambil kertas polos beserta alat tulis untuk menggambar sesuatu.
"Awal nya, saya mengunjungi toko bunga yang terletak di dekat Kediaman Fian Sweedy. Tetapi saya melihat kesempatan emas dengan kepergian anak perempuannya yang dirumorkan buta itu yang mengarah ke taman negara.. Lalu pasukan gerbong 3 dilepaskan untuk merampok nya.
Seolah tahu jika kami mengikuti, mereka memutar balik tujuan mereka ke Pemukiman Erdon"
*srak, srek.
Tangan Pillonefe bergerak memegang pensil di tangannya.
Lelaki itu menggambarkan beberapa titik tempat dengan jalan yang mengarah ke titik-titik lainnya,
"Begitu mengejutkan, gadis itu tidak buta dan sangat pandai dalam bersilat lidah. Membuat kami hampir melakukan kesalahan besar..."
"Jangan memotong pembicaraan-mu sendiri ketika berhadapan dengan ku".
"he.., baik tuan."
"Supir gadis itu juga memiliki ketangguhan yang lebih dari pelayan pada umumnya, mereka berdua menghabisi tim saya dengan... Membuat mereka terluka dan tidak sadarkan diri" pillonefe terlihat tidak percaya dengan perkataannya sendiri. Jarinya 'pun terangkat dan menggaruk rahangnya.
"Apa kau yakin mereka tidak ada yang mati satu 'pun?"
"Untuk saat ini tidak ada."
Dia membenarkan posisi duduknya.
"Ketika saya meninggalkan gadis itu, atmosfer Damian tercium. Ntah apa karena dia mengikuti putri dari Fian Sweedy atau mengikuti saya, namun itu benar-benar memuakkan"
"Damian mengikuti anak seorang pengusaha?. Lagi pula kenapa kau ingin merampok nya?"
Reno membuka sebuah buku berjudul "11 Pilar Kerajaan Malam" dan melewati setiap bab-nya secara sengaja.
"Anda tahu siapa saya, tuan. Sebagai Mafia yang bosan, saya memiliki banyak waktu luang untuk bersenang -senang. Saya juga tidak benar-benar berniat untuk merampoknya melainkan ingin menculiknya, namun sebagai gantinya .... Dia membuat saya tertegun."
Pillonefe menghela nafasnya.
"Pelatihan terhadap laki-laki berlatar belakang perampok kecil seperti kelompok gerbong 3 memang tidak akan lebih dari tim utama. Itu adalah kenyataan yang buruk, huftt!!"
"Kau sudah ingin membicarakan pasal masalah bebanmu?, tutuplah mulutmu."
*tak.
Dia meletakkan buku tadi dan mendatangi Prist juga Pierre.
"Ekk??.. Tuan!! Anda begitu tega telah meninggalkan saya!!"
"Bagaimana dengan peta buatan saya ini!!!"
...
*hup!
"Paman!, bukan 'kah ada pertemuan malam ini?!! kau tidak perlu risau.. Disana paman bisa memperdebatkan hal itu"
"Paman harus pula menyiapkan berkas untuk malam ini, dan jangan biarkan ada yang lolos!!!"
Tegas. Jika berada di dekapan kakaknya tercinta, ia bisa begitu menyeramkan dan sombong karena disitulah singgah sana-nya berada...
"Hehee, kakak Pillo, kami pergi memakan marsmello ya!, sampai jumpa lagi" ucap Pierre yang menyampaikan salam perpisahan.
----------------
"Tempat ini terlalu besar untuk di jelajahi. Sebenarnya dimana Lelaki itu berada??"
"Aku bahkan sudah lelah" ia menaikkan kedua telapak tangannya ke pinggang.
Bila dia tidak menemukan tanda-tanda Dian diruangan Aquarium itu, untuk kembali ke ruang-tamu... Pasti akan lebih sulit, karna tenaganya telah habis terkuras untuk melewati lorong-demi-lorong dan sekarang harus melewati itu semua lagi?, jangan berharap Kierra akan sudi.
"Aishh, aku melihat dengan benar dia berjalan kearah sini, apa dia lari ketika tahu aku mengikutinya?"
Sepertinya Dian bukan tipe yang rela lari dan menghilangkan Karisma-nya hanya untuk tidak diganggu Kiraa...
Apapun itu, ayo kita berjalan sedikit lebih lama, dan mengistirahatkan pikiran dari hal-hal melelahkan.
"Hoamm!!, eh, kenapa kau berada disini?".
'OM DIAN?!!'
Disaat dia sedang menurunkan 'penjagaan'nya dan menjadi ceroboh, Dian tanpa ada tanda-tanda, datang dari arah belakang dan mengejutkan Kiraa.
Sontak Kiraa menegang dan memutar arah tubuhnya.
"Kenapa kau tidak bersama dengan teman mu?"
"Itu.. Ada hal lain yang ingin aku katakan, sebab itu aku mengikutimu"
...
"Ohh, seharusnya kau berjalan ke arah kiri tepat di samping pintu besar tadi, karena disanalah kamar saya berada"
Dian melangkah mendekat.
"O.. Oh... Apa aku seharusnya tidak berada ditempat ini?".
"tidak-tidak..., untuk seseorang seperti dirimu, tidak mungkin hal seperti 'izin-mengizin' ada" gumam Dian dengan mata yang masih enggan untuk terbuka.
'Apa?, omong kosong seperti apa yang lelaki ini lontarkan??!!'
"Maksud om?, aku tidak mengerti sama sekali."
Untuk beberapa saat, bibir yang sangat indah itu bergerak. seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan, namun ditarik kembali. Tetapi semua itu hanya sementara...seolah ilusi, Hal itu semua menghilang, dan Dian berjalan lurus melewati Kiraa tanpa membahas hal barusan.
"apa yang membawamu kepadaku?, padahal temanmu itu terlihat ketakutan saat kau meninggalkannya"
"...Aku tahu. Masalah ini ada kaitan-nya dengan lelaki itu"
"Untuk itu, aku memiliki satu permasalahan..., bukan 'kah dia cukup lumayan untuk seorang pelayan sepertinya?"
Kedua belah pihak tertegun.
'Hey, tidak-tidak... Aku tidak benar-benar bermaksud seperti itu ya!"
'Kau pasti akan mengejek ku'.
"Kau begitu mendambakan pria tampan separah ini?..."
'Cukup...' Kiraa menggeram
"Lupakan saja, masa-bodoh-dengan-pria-tampan. Permasalahannya, dia adalah pelayan yang berbeda"
"Aku pikir jika aku menitipkan lelaki itu disini, sesuatu bagus akan terjadi kepadanya"
Hal seperti 'kekuatan' yang Kiraa maksud. Dan ya, Kiraa adalah wanita berkedok gadis yang sungguh gila, tetapi melihat kelebihan dari Ali, banyak kemungkinan yang akan terjadi maupun tidak terjadi. Semua hanya membutuh kan 'pengantaran' kepada yang dapat mengajari.
"Hmm?, kau menemukannya dimana?"
Kiraa mengernyit.
"Apa om perlu tahu?, anggap saja seperti kucing yang aku temukan di daratan sungai!"
"Baik-baik, Kierra kecil... Sebenarnya, apa saja yang kau tahu?"
"Dan apa keuntungan bagi kita untuk menerima lelaki itu disini?, semua itu harus dipertimbangkan karena om tidak membuat penampungan sejauh ini" tangan yang kekar dengan urat yang sangat menonjol, menyentuh kaca salah satu Aquarium disana.
Kiraa nampak berpikir keras.
'Keuntungan?, keuntungan seperti apa?, aku bahkan tidak tahu latar keluarganya'
'Dan lagi... Bagaimana saat itu aku bisa bertemu dengannya, ya?. tuanya diriku ini...'
"... Ah, iya! Om Dian. Aku belum sempat bercerita tentang masalah tadi"
"Mungkin jika aku menceritakannya, kau akan mengerti"
Dian tersentak lalu menatap kedua mata Kiraa dengan kebingungan yang memenuhi raut wajahnya.
"Dannnnn, aku akan mengatakan keresahan ku akhir-akhir ini kepada om Dian~"
Kiraa mengedipkan sebelah matanya dengan senyuman yang akan membuat Dian semakin penasaran.