
"emang kita punya rumah?" tanya rara tanpa malu.
*jderr...
jantung kiraa serasa di panah.
"haduh... benar juga"
"kierra!"
"ha?" cengo kiraa.
"ngapain ngelamun!"
"oh, gak papa kok"
ia coba menyakinkan rara untuk tidak curiga.
"eh itu ada jalan keluar"
kiraa menunjuk jalan yang di penuhi daun-daun, dan itu tidak jauh dari club garden.
kiraa berjalan mendekat ke semak semak yang dipenuhi daun.
"apa aku muat ya?..." ia berjongkok sembari menyentuh semak semak yang membentuk terowongan.
"di coba aja" ucap rara, padahl dirinya tidak tau kenapa kierra ingin pergi dari tempat ini dengan jalan pintas, kan ada pintu besar.
kierra emang ada ada saja, batin rara.
kira pun mencoba menundukkan kepalanya dan mencoba masuk, dan apa yang di rasakan kiraa?, tentu saja tertusuk tusuk oleh daun yang merambat,tetapi ia berusaha untuk merangkak lebih jauh dan tak terasa sudah di ujung saja.
akhirnya ada angin luar yang segar, menurut kiraa di sekolah itu tidak ada angin segar.
kiraa meregangkan tubuhnya, dan terdengar suara tulang nya.
"sempit ih!"
"lah kamu ikut juga?" kiraa menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah rara dengan tatapan penuh tanda tanya.
"iya, tadi rara ikutin kierra dari belakang"
"kenapa gak dari atas aja!" teriak kiraa.
"ya kan aku ikutin kierra aja"
"ah, sudah lah"
"kita pulang"
ucapan kiraa terus bergentayangan di pikiran rara, ia terus bertanya tanya dimanakah rumah kierra.
...---...
saat kiraa berjalan lurus dan diikuti rara dibelakang, kiraa melihat sebuah mobil hitam.
hal itu tidak membuat kiraa terkaget sama sekali, yang membuatnya kaget adalah orang yang di dalamnya.
kiraa membulatkan matanya ketika melihat orang yang di dalam mobil itu membuka kaca mobilnya, dan menampakkan seseorang lelaki.
itu om dian.
"ha, ngapain orang itu datang!?"
kiraa pun memutuskan untuk pura pura tidak melihat dan berjalan ke arah lain, yang terpenting tidak ke arah orang itu!.
tetapi seketika langkah kiraa terhenti karna suara om dian yang menusuk telinganya padahal ia bisa mengabaikan ucapannya dan terus berjalan, tapi kakinya tidak bisa di ajak kerja sama saat ini.
"mau kemana?" ucap om dian.
kaki kiraa tidak kuat untuk melangkah, rasanya ia ingin mengutuki kakinya tersebut.
kiraa dengan terpaksa pun memutar badannya dan menatap om dian, ia tersenyum kecut.
"ternyata ada om ya~, maaf kiraa gak liat" kata kiraa yang dibuat sedrama mungkin.
"kalo gitu masuk lah" ajak om dian yang masih menatap kiraa.
"tidak usah om" jawab kiraa sembari tersenyum ramah.
...beberapa detik pun berlalu....
*ceklek...
"jalan!" kata kiraa dengan raut wajah datarnya.
om dian yang melihatnya pun tersenyum penuh kemenangan.
saat di perjalanan tidak ada yang memulai pembicaraan,hanya ada kecanggungan diantara mereka.
akhirnya pun om dian memulai perbincangan dengan pertanyaan-pertanyaan ringan.
"bagaimana sekolahmu?"kata dian yang sekilas menatap kiraa.
"hmm, ya seperti biasa"
"menyenangkan atau sebaliknya?" ia terus menatap jalan dan sekali kali melihat jam.
"apa yang ada di benak om, itulah jawabannya"
dan itulah perbincangan terakhir mereka yang abstrak.
setelah menempuh waktu yang cukup lama mereka pun sampai di suatu tempat.
"ha? ini kan rumah om dian" ia melihat ke arah jendela yang menampilkan lingkungan rumah om dian.
setelah menatap rumah itu ia berganti menatap ok dian.
mereka pun masuk ke gerbang.
om dian tersenyum menatap kiraa.
"kalau bukan kesini, dimana lagi rumah mu?"
lalu lelaki tersebut turun dan tak menghiraukan gadis yang didalam mobil.
kiraa berpikir sejenak.
"bagaimana ia bisa tau aku tidak mempunyai tempat tinggal?!"
kiraa dengan segera membuka pintu mobil lalu berlari mengejar om dian.
"om dian!!!" teriak kiraa.
...---...
"om, om ngapain" katanya sambil menumpu dagunya.
"main sepak bola, ya jelas jelas lagi masak"kada dian yang sudah sibuk dengan alat alat masak seperti panci dan sebagainya.
"ya tapi kenapa?"
"ya untuk makan lah!" ia menggoreng goreng dan mencampurkan kecap, saus kedalamnya.
"kok gitu sih, jawabannya berbeda dengan jawaban yang ingin aku dengar"
"ah,sudahlah" ia menjatuhkan kepalanya di lengan, lalu ia melihat layar hpnya itu.
kira memainkan sesuatu game untuk menghilangkan rasa bosannya, dia yang melihat hanya menggeleng geleng kan kepalanya.
beberapa menit setelah itu, hasil masakan dian pun sudah tertata rapi, kiraa yang mulai mengantuk karna bosan pun melihat ke meja di depannya.
"ini piringnya"
"makan lah" ujar dian sambil menarik kursi untuk ia duduki.
seketika selera makan kiraa menaik,kiraa bisa merasakan bau makanan tersebut dari hidungnya.
kiraa pun dengan segera menaruh makanan tersebut di piringnya, setelah itu ia memakannya dengan lahap.
"enak sekali~" gumam kiraa.
gumaman itu terdengar hingga ke telinga dian, ia menatap terus ke arah kiraa sembari tersenyum lebar.
kiraa yang melihat om nya itu tidak makan pun heran.
"om kenapa gak makan?" tanya kiraa.
"eh iya, om baru mau makan nih"ia pun menyiapkan perlengkapan makannya.
tanpa berfikir kiraa pun melanjutkan makanannya.
setelah itu tidak ada lagi perbincangan hanya ada suara piring dan sendok.
"hmm, om setelah ini mau kemana?"
katanya saat melihat omnya sedang membereskan piringnya.
"eh"ia menoleh.
"tidak kemana mana, hanya ke perpustakaan untuk bekerja"
"owh..."
ia mencengkram barunya dengan sangat kuat, seperti ada sesuatu yang ia tahan.
"ternyata rumah ini ada perpustakaan sendiri, makanya tak heran rumah ini sangat besar"
"seberapa kaya sih orang ini"
"om pergi ke perpus dulu ya, kalau ada apa apa kesana saja" kata om dian.
saat dikira langkah om dian tidak ada kira dengan cepat menoleh kebelakang.
"huh!sudah tidak ada ya?"ia memegang dadanya.
"emm aku mau tanya sesuatu sih, tapi di jawab gak ya?" ia menggigit kukunya.
"ah sudah lah, tanya aja dulu!"tekadnya pun sudah bulat.
kiraa berjalan menelusuri setiap lantai untuk mencari perpustakaan dan akhirnya ketemu juga.
kiraa pun membuka pintu ruangan tersebut dengan pelan.
...---...
*tok... tok...
suara ketokan pintu.
tidak ada suara apapun selain ketokan pintu itu, disana sunyi.
"nak, makan lah, kau pasti lelah" suara tersebut sangat lah lembut, menunjuk kan seberapa sayangnya ia terhadap anaknya.
tetapi yang di dipanggil tidak menyaut sama sekali.
"aku tau kau pasti kesal kepada ibumu ini"
lagi-lagi tidak ada jawaban.
dan tidak sengaja, ia membuka pintu tersebut, pintu itu terbuka.
"ternyata tidak di tutup toh"
ia memegang gagang pintu tersebut untuk melihat keadaan anaknya.
tangan kirinya membuka pintu dan tangan kanannya membawa taplak yang di atasnya ada mangkuk berisi bubur dan gelas yang berisikan minuman.
ia membuatnya dengan hati yang gembira, berharap anaknya akan memakan masakannya.
saat pintu terbuka lebar, menampakkan anaknya yang duduk termenung dengan lampu yang dimatikan.
sontak membuat ibu dari anak itu menghidupkan lampu.
dan terlihat lah jelas wajah anak itu.