
"oh ya, untuk mu" ia melempar sebuah kunci dengan namanya,kierra.
"ha?" ia hanya cengo saat menangkap kunci tersebut, ia tadinya ingin cepat-cepat keluar dari kelas membosankan ini tapi apa apaan guru ini!, melempar sesukanya.
"kunci loker, dan juga panggil saya pak alex atau apalah" ia berlalu meninggalkan kelas.
kiraa yang masih menangkap kunci tersebut hanya bisa berdiam tanpa berkutik.
"ah, udah lah, mendingan ke kantin, tapi apa katanya tadi? kunci loker?"
dan akhirnya kiraa pergi dari kelas itu, dan tatapan orang-orang memudar, mereka lebih mementingkan urusan sendiri-sendiri.
...---...
"loker yang ini bukan?" kata kiraa sambil memutar kunci di jarinya.
"coba dulu"
etanis dan yang lainnya sedang bersembunyi sambil memantau, seharusnya seperti ini.
kiraa yang merasa di perhatikan pun akhirnya menyadari ada seseorang yang menatap lekat ke arahnya.
kiraa semakin ingin membuka loker tersebut.
*clik...
apa apaan itu, seperti loker yang tidak di bersihkan selama bertahun-tahun.
ada tikus dan debu-debu disana
semua orang yang melihat pun menatap jijik ke loker kiraa.
dan apa reaksi etanis? tentu sangat bahagia, bahkan ia tertawa kecil.
...dan rencana yang kedua....
rencana drama.
etanis pun melangkah cepat mendekat ke arah kiraa.
"kierra apa bisa aku bantu? sepertinya kamu memerlukan." kata etanis sambil menunjukkan sikapnya yang sok imut itu,padahal kata kata itu bertujuan untuk mengejek.
"emh... bantuan? baiklah dengan senang hati!" kata kiraa gembira.
ia membalikkan tubuhnya menghadap etanis lalu memberi sesuatu yang dianggap sangat menjijikkan, yaitu tikus di loker kierra.
karna hal tersebut, etanis berteriak, karna tangannya menyentuh tikus, sangat menjijikkan, begitulah kata kata yang sekira nya cocok untuk tikus dari etanis.
tikus itu terjatuh dan berlari tanpa arah yang pasti, hal itu membuat murid lain resah saat tikus itu melintas di depan mereka.
"kau-" kata etanis ia menahan segala emosinya, ia ingin melanjutkan kata-katanya namun tidak bisa begini, masih banyak orang, ia harus menjaga Image, cukup tadi di kelas saja yang membuatnya emosi sampai tidak bisa di bendung.
"tunggu saja!"terlihat jelas mukanya menahan rasa jijik, malu, marah.
"oke, aku akan menunggunya"seperti bisa membaca pikiran, kiraa menjawabnya, ia hanya mengira-ngira dari raut etanis saja.
etanis dan yang lainnya pun berlalu meninggalkan keributan yang ia buat sendiri.
"huh... aku bersihkan atau tinggal saja ya?"guman kiraa.
tetapi ia memilih pilihan untuk meninggalkan loker, saat ini ia masih malas untuk melakukan sesuatu yang berat.
sakit tulangnya cukup kemarin saat bertarung melawan orang orang berbaju hitam.
oh ya ngomong ngomong di mana ya lelaki yang pernah aku jumpai itu?
kiraa pun melangkah meninggalkan loker dengan percaya diri.
yang lainnya pun membiarkan hal itu, anggap saja tidak pernah terjadi, tetapi sebagian masih merasa risih atas kejadian itu, dan mereka membuat jarak dari loker kiraa.
menurut mereka pembullyan itu hal wajar di sekolah ini, bahkan mereka juga pernah berada di tahap itu.
...---...
saat ini ia sampai di kantin, kantin yang sangat besar, dan berisik, hal itu membuat kiraa sedikit risih, tapi, tidak apa apa, dia sadar diri bahwa dia juga pernah cerewet dan itu sampai sekarang.
kiraa pun melangkah untuk memesan.
"teh,sama rotinya 2 ya?" pesan kiraa.
"teh, roti 2?" kata ibu penjualnya untuk memastikan.
"iya!" kiraa memaklumi hal tersebut, karna disini sangat bising.
sambil menunggu, kiraa melihat lihat bentuk bangunan dan orang orang yang sedang bercanda gurau, sepertinya sebagian besar membawa bekal ya?.
walaupun udara di tempat ini dingin tetapi itu sangat bertolak belakang, kiraa tidak tahu juga.
kata ibu-ibu itu sambil menunggu pemesan mengambilnya.
"oh, terimakasih bu!"ia memberikan sejumlah uang, lalu mengambil sebuah taplak untuk membawa pesanannya yang di berikan ibu ibu penjual.
"iya terimakasih kembali!" kata ibu itu dengan senang hati lalu melanjutkan pekerjaannya.
kiraa pun berbalik dan berjalan mencari tempat yang kosong, namun sangat sulit, bisa juga kalau seandainya ia tiba tiba duduk di sebelah seseorang lalu ikut mengobrol, tetapi mana mungkin kierra melakukan itu.
ia dengan tidak sengaja menangkap meja di penglihatannya, itu cukup membuatnya bahagia lalu berjalan kesana.
dan tak di duga, banyak sekali pembullyan yang bahkan tidak ada yang menolong, hanya diliat saja.
"mereka pikir itu tontonan gratis apa?!"
kiraa pun duduk di kursi tersebut.
tak lama ada seseorang lelaki duduk berjauhan dari kiraa, itu membuat kiraa terganggung saat memakan rotinya.
"t-tidak bisa duduk dengan lembut atau sopan gitukah?" ucapnya didalam hati sembari terus bergetar.
"ni orang mau duduk atau turnamen!" gumamnya.
dan tak lama ada gempa kursi susulan, kiraa melihat hal tersebut, disampingnya ada etanis dan sekelompok teman-temannya, mereka terus bertambah namun tidak mempedulikan kierra yang sangat terpuruk.
"ayo siapa lagi yang dateng hah?udah di ujung nih!" batinnya, namun sebisa mungkin ia melanjutkan acara makannya.
walaupun tadi pagi ia sudah makan sih tapi sekarang ia lapar.
dan beruntungnya, ia melihat gadis yang pernah ia temui.
dengan mata yang berbinar binar ia membawa taplak nya dan menghampiri gadis tersebut yang masih melihat kesana kemari.
"Hai, cesa!" kata kiraa gembira di saat gadis tersebut menoleh kepadanya.
cesa! ingatkan?.
"oh, h-hai"
"hehe"
"kau lagi mau makan,kan?"ucap kiraa sambil melihat tentengan yang dibawa cesa.
"iya" ia berkata dengan sangat lembut.
kierra melihat kesana-kemari, cesa pun ikut melihat apa yang di lihat kierra.
"kalau begitu-"
"ah!" kagetnya.
"kita makan disana saja!" ia menunjukkan meja yang kosong.
kiraa pun menarik tangan cesa, membawa nya ke meja panjang.
kierra pun melepas genggamannya lalu duduk.
"sini! sini! "ia menepuk tempat duduk di sebelahnya.
cesa pun hanya menurut.
"mmhh, nyam..nyam.." kiraa mengunyah rotinya yang belum sempat ia habiskan beserta minuman tehnya. (nyam nyam gak tuh)
"kau mau tau nama ku gak?"
kierra menoleh menghadap cesa, mulutnya gelembung saat ia menahan makanannya sebelum di telan.
cesa bingung dengan pertanyaan mendadak kiraa.
"ah, sepertinya tidak penting ya" kiraa melihat ke langit-langit kantin.
"b-bukan!, penting kok! penting!" jawab cepat cesa, ia tidak mau menyakiti hati teman pertamanya sambil menelan makanannya.
"pff-, penting ya?"
"kierra"
"ha?" bingung cesa.
"namaku kierra loh" di akhirnya perkatannya,ia menambahkan ketawa kecilnya untuk tidak membuat kecanggungan.
"oh~kierra toh" polosnya.
ia tertawa tebahak-bahak namun ia kecilkan, sifatnya yang pemalu masih nyangkut kesini, tapi sepertinya jika terlalu lama dengan sifat barunya, ia tidak bisa menahan ketawanya yang sangat keras ini.
*kring... *kring... (suara bell berbunyi)