I WANNA RESET

I WANNA RESET
kertas jera #20



jam istirahat ke 2 pun berbunyi, 3 gadis tersebut terdiam beberapa detik.


"ke kantin?" tanya leona kepada 2 temannya.


cesa pun hanya menatap kiraa untuk meminta persetujuan.


"jangan dulu, mendingan kita ke ruangan guru" ucap kiraa di selang-selang kesibukannya yang sedang melepas jaketnya.


"lah kenapa?" tanya cesa.


kiraa hanya terdiam,leona yang tadi sedang melirik lirik ke arah lain tiba-tiba menepuk bahu cesa dan tak melepas pandangannya.


"cesa, itu kan pak alex!" ia benar benar yakin jika ia melihat guru kelas A, yaitu pak alex.


cesa pun menoleh melihat kearah yang sama seperti leona, ia tak kalah kagetnya disaat melihat pak alex yang seperti mengintimidasi mereka.


cesa dan leona otomatis menatap kiraa dengan tatapan bertanya.


kiraa pun hanya tersenyum manis sembari manaikkan bahunya.


"pasrah saja" itulah arti dari tindakan kiraa.


kiraa pun menggandeng kedua tangan temannya itu.


"yok, kita masuk" kata kiraa dengan gembira.


cesa dan leona akhirnya hanya pasrah,apapun yang dikatakan guru mereka sudah siap untuk menerimanya.


semua murid dibubarkan, mereka pun langsung menuju tempat yang bisa memanjakan perut mereka, yaitu kantin.


kiraa pun melepas gandengannya, dan membuka ruang yang di datangi pak alex.


sesampainya didalam, kiraa dan yang lainnya melihat sosok Pak alex yang duduk di kursi kebanggaannya dengan kaca mata.


pak alex pun akhirnya menyadari keberadaan 3 gadis itu yang sedari tadi hanya diam.


"ekhem" deheman itu berhasil membuyarkan lamunan mereka.


"siapa yang mewakili?" kata pak alex yang masih menatap bukunya.


mereka pun gusar, saling menatap dan saling menyalahkan.


"ona, duduk lah, kau kan yang ketua kelas" kiraa mendorong pelan punggung leona.


"lah kenapa gwa?lu kan yang ngusul rencananya" ia melirik kiraa.


cesa dan kiraa pun tersenyum manis, membiarkan leona yang berdiri paling depan.


"kan kau ketua kelasnya" kata kiraa lagi.


leona pun mendengus kesal,ia menarik kursi dengan gaya kasarnya.


pak alex melirik ke arah leona.


"kalian berdua, majulah!" ia meninggikan suaranya.


kiraa dan cesa tersentak, dengan sigap mereka memajukan dirinya beberapa langkah.


"hah" hembusan nafas kasar pak alex.


"kalian di hukum karna kesalahan apa?"ucap nya saat meletakkan buku di meja.


"anu pak, cesa di hukum karna tidak mengerjakan tugas" ia mengacungkan jarinya.


alex menaikkan sebelah alisnya.


"dan kau, anggota osis?" ia beralih menatap leona lekat-lekat.


"ekhem, ekhem"


"kalo gw-eh maksutnya aku,gak sengaja lupa menyampaikan ulangan harian pas guru sedang ada keperluan pribadi"ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan 95% leona sengaja.


"sedangkan kau? kierra?"


"eh, bapak kan sudah tau" ia tersenyum manis.


"hah" lagi-lagi ia menghembuskan nafas kasarnya.


"kalian itu di hukum biar kalian jera, bukan untuk membuat onar!"


bentak pak alex membuat 3 gadis tersebut terperanjat.


"buat apa kalian di hukum?"


cesa mendongak.


"bapak kan udah kasih tau" kata cesa dengan polosnya.


kiraa terbelalak menderngar perkataan cesa. namun dengan cepat ia mengacungkan jempolnya ke arah samping yang terdapat cesa.


"jawab saja!" katanya dengan penuh penekanan.


"biar jera pak..." jawab mereka dengan kompak.


"apa kalian mau di hukum lagi?" ia menatap mereka satu per satu dengan tatapan tajamnya.


namun tidak di tanggapi.


"tulis 5 lembar penuh dengan kata 'saya jera' "


ia membenarkan duduknya kembali.


"ais... sekarang pak?" kata kiraa dengan mata bulatnya.


"tidak, nanti saat matahari kegigit bulan" cetusnya membuat cesa sedikit bingung dan takut.


"eh, emang matahari bisa di makan?, apa lagi di makan bulan?" ia bergidik ngeri.


perkataan leona membuat gelak tawa kiraa semakin menjadi jadi, ntah lah, padahal hanya sepatah kata seperti itu, namun sangat di tanggapi olehnya.


"sudah sudah! ini ruangan saya, bukan rumah mewah kalian!"


"tapi pak saya tidur di tempat pos gitu,saya sangat bahagia jika bapak mengatai tempat bernaung saya mewah"kata kiraa dengan maksut bercanda, sebenarnya ia malu mengucapkan kata kata itu, ia pikir itu candaan yang menggelikan.


"keluar!"bentak pak alex, bisa bisa ia akan tertular sifat tidak tau malu kiraa jika membiarkan kiraa disisi nya.


"haik,haik!" kata kiraa kembali.


leona pun berdiri lalu pergi ke arah pintu keluar, dan juga ikuti oleh kiraa dan cesa.


saat membuka pintu leona terkaget, ia melihat seseorang yang terjatuh di hadapannya, terciptalah suasana yang canggung.


"pff-" sebisa mungkin ia membungkam tawanya.


"ouchh..." ringis orang tersebut yang tak lain adalah etanis,si iblis jadi-jadian.


"ih, kamu dengan sengaja menguping pembicaraan orang ya?!"tuduh cesa dengan amat tamat polos.


"pak boleh gak ngasih saran untuk menghukum dia" "mumpung orangnya masih disini" ia menoleh ke arah pak alex yang sedang meminum kopinya.


*pyurr...


"keluar kalian!" "sial banget punya murid seperti mereka!" ia mengipas kipas sembari mengasihani mejanya yang basah.


"iya,iya pak!!"


"cepetan ih, ntar bapak marah!"


"ish, gak liat apa ada orang gini, kasian tuh mana badannya seharga ber juta jutaan bahkan totalnya milyaran" sendir leona yang bertuju kepada etanis.


"ck!"geram etanis.


dengan cepat ia berdiri membersihkan badannya yang terkena debu.


"cih, debu aja di permasalahin, jadi ingin cepat cepat keluar dari osis aku tuh biar bisa nampar kamu" ucap leona.


tanpa sadar alex mendekat, kiraa dan cesa sadar karna mereka berada di belakang, namun leona tidak sadar dan terus berada di ambang pintu.


"minggir!" perintahnya.


bahu leona pun di tarik, membuat leona menepi.


"lu!-"


"apa?"kata pak alex dengan aura dinginnya.


"eh- bapak... hehe, gak papa kok" ia tersenyum getir melihat gurunya yang berada di hadapannya.


"sudah sana, sebentar lagi bel mau bunyi, kalian gak mau dihukum karna perut kalian yang bunyi itu saat belajar?"


"eh- iya Pak, iya saya ke kantin dulu!" katanya tanpa permisi.


"ck, ck ck!" ia menggeleng.


"kalian juga! awas bapak liat kalian nangis pengen makan!"


"makanya bapak minggir dulu sih!"ucap leona.


tanpa berkata pak alex pergi berjalan menuju ruang yang di tempati para guru untuk membahas pelajaran dan laporan, ya sejenis itu.


mereka melihat punggung pak alex yang sudah hilang di belakang tembok"


dengan cepat mereka keluar.


*klek!


suara pintu yang tertutup.


mereka saling menatap.


"terus?... " kata kiraa, ia menatap kedua manusia itu secara bergantian.


"oh, kalian pergi saja ke kantin"


"ada laporan yang harus aku tangani" kata leona dengan senyum yang memperlihatkan gigi putihnya.


"kau, cesa?"


"tidak ada tuh"


"yaudah kalau begitu aku makan dengan cesa dulu,semoga beruntung"kiraa sedikit mendongak, ia menatap bola mata leona yang tinggi melebihi ukurannya.


"ah, makasih sayang!"


"tapi,beruntung tentang apa?" bingungnya.


"udah sana!" kiraa memutar badan leona 360°, lalu mendorongnya.


"semoga beruntung itu kamu anggap saja seperti 'semoga hari mu menyenangkan'"


"aku tau pasti kau akan stress melihat lembar laporan" katanya sambil berkacak pinggang.


leona hanya menjawabnya dengan senyuman, lalu pergi.


sedangkan cesa dan kiraa sedang bingung.


"hmm, ces atau sa, ayo kek kantin"


"laper nih" ia memegangi perutnya yang berbunyi, padahal tadi di jam makan siang pertama ia sudah makan, namun kenapa sekarang perut itu meminta lebih?.


"oh, sama, yaudah kamu aja yang beli"


"aku boleh gak, n-nitip?" ia menunduk,perkataan cesa yang pelan membuat kiraa berjuang keras kedepannya, dan harus sering sering membersihkan telinganya.