I WANNA RESET

I WANNA RESET
kerajaan ansel #37



dengan wajah yang datar, rara menoleh ke arah kierra yang sangat menyebalkan, menjengkelkan, menyusahkan.


itu baru sebagian penyebutan untuk kiraa dari rara.


"apa kierra pikir rara pembohong?"


jika rara berkata seperti itu, jadi teringat saat kiraa dan rara saling bertemu, dimana mereka masih canggung untuk mengeluarkan sifat asli mereka.


"eh, jangan salah paham!"


"aku cuman gak nyangka kau seserius itu tentang perkataanku tadi"


"tapi, jadi kan?..." kiraa mengedipkan kedua matanya beberapa kali.


cara untuk memohon yang benar.


"iya iya ish!"


"tapi sebelum itu, kau ada waktu tidak?"


"waktu?"


"jika penting mungkin ada"


"owh" singkat rara.


ia sedikit berfikir.


"kau bisa mengajakku kapan saja"


dengan sikap yang aneh itu, kiraa tau pasti ada sesuatu yang mengganjal dalam hati rara.


-


"kenapa kesini?"


kiraa akhirnya tidak pulang walau langit telah menggelap dan udara yang bertambah dingin.


tadi, sebelum ini, rara mengajak kiraa untuk kesuatu tempat, beralasan akan mengajarinya sebuah sihir dari barang yang di tuju rara.


ya, kiraa ikut-ikut saja, tentunya karna 'sihir' yang di maksud rara.


jika bukan karna sihir adalah jalan pertamanya untuk berubah, ia tak akan mau ketempat gelap hanya karna kemauan peri kecil itu.


"gelap banget sih!" pekik rara, ia memegangi tengkuknya dengan perasaan tak beraturan.


"yang kuat sedikit!"


"jika bukan karna kita pergi ke desa itu untuk mengambil barang mereka, mungkin tidak akan sejauh ini"


"perumahan ra, bukan desa"


"aku lupa"


setelah berjalan beberapa menit, mereka akhirnya sampai ke suatu tempat yang menurut kiraa biasa-biasa saja dan tidak ada keistimewahan.


"tidak ada yang istimewah, ra"


"memang tidak ada"


"tapi lihat lah"


rara menunjuk ke bawah, penasaran, kiraa mengikuti arah telunjuk rara, dan ia terfokus ke arah tunjuk itu.


sebuah abu yang mengumpul, kiraa merasa bingung karna dari tadi angin sangat kencang, bahkan beberapa plastik berterbangan, namun kenapa sebuah abu yang hampir seperti debu itu tidak terbang bahkan seperti tidak tersentuh sama sekali.


karna penasaran, ia mendekat.


"itu fotomu"


kiraa sedikit terperanjak,ia membulatkan matanya karna kaget bercampur bingung.


"f-foto ku apa?"


"kau bilang kertas kecil yang berisi gambar itu foto"


"dia tadi menggunakan itu untuk menjadi kau"


"me-menjadi aku?" ulang kiraa untuk memastikan apa yang ia dengar.


dengan anggukan hebat,rara menjawab kiraa.


"iya"


"oh, jadi tadi yang kau maksud sebuah foto itu ini?"


"kau liat dia membakar ini?"


"tidak"


"tidak?"


"berarti hanya cahaya saja yang kau lihat?"


"oh ya, sama sebuah topeng"


"kau tau sihir macam apa itu?"


walau ia bingung dengan topeng, kemunculan iblis dan lain sebagainya, ia berusaha untuk mengsetarakan pembicaraannya dengan rara.


"sihir ya...kalau mengsatukan kedua jenis darah yang berbeda untuk mengajukan perjanjian sih aku tau"


"tapi untuk cara menjadi seseorang, aku tidak tahu..."


"ya ampun!"


"halaman keberapa itu, 159...89?..."


"rara masih belajar, apa iblis itu lebih kuat dari rara atau setara?"gumam kiraa.


"245?... -"


"ra"


"ya?" jawab rara dengan cepat.


"jadi rencana mu untuk sisa foto ku ini apa?"


"oh, foto itu ya?"


"aku berencana untuk membawanya ke tanah kerajaan Ansel, karna disana ada ketua"ucapnya dengan girang, ia sudah lama tidak pernah ke wilayah itu, apa lagi bertemu dengan ketuanya atau yang bisa disebut guru dalam hal sihir.


sekalian menambah pengetahuan tentang sihir.


"tanah kerajaan a...nsel?"kata kiraa dengan nada pelan, takut jika ia salah sebut.


"a-ah iya"


"ansel itu apa?"bingung kiraa.


" ansel ya..."


"semacam... "


jujur rara tidak tau harus mengartikannya dengan kata apa.


"apa ini?"


rara menoleh.


"tanah yang kita injak..."


"seperti itu!"


"nama seluruh desa nya itu kerajaan ansel?..."


"ya begitu!"


"oh"


setidaknya kiraa merasa lega karna telah mengetahuinya.


"tapi untuk apa kau membawanya kesana, kau mau memasak dan menggunakan sisa fotoku sebagai bumbu masak kalian?"


"ih, bukan!" kesal rara.


"aku tidak bisa memberi tahu mu, karna aku perlu memastikan! "


"tapi ini tentang sihir, jadi tenang saja"


"oh, ayo pulang"


kiraa melangkahkan kakinya menuju arah asrama, karna masih termenung ia sampai tidak memerhatikan itu.


"kierra!"


teriak rara sambil menyusul kiraa yang sudah berada jauh di depan.


"apaan sih!"


"kau tidak curiga?" bingung rara.


"apa yang harus aku curigai coba, toh menyangkut sihir, jika kau tau, aku pun tau"


"benar-benar tidak curiga, jangan di pendam ih kalo curiga!" renegk rara dengan wajah kesedihannya yang mendalam.


"kau kenapa sih?"


"aku tidak curiga ra!"


"percaya deh!"


*sniff.


"beneran kan?"dengan isakan kecil ia menatap mata kierra dalam-dalam.


sebenarnya kiraa bingung,bisa-bisanya peri kecil itu mengeluarkan isakan tanpa air mata setetes pun dari matanya.


kalau kiraa yang melakukannya, mungkin akan keluar air mata kecil karna menghayati.


"sudah ah, nanti aku di cari!"


dengan langkah yang malas, kiraa membuka pintu dengan pelan.


beberapa kali ia menahan rasa kantuknya namun tetap saja ia memejamkan matanya.


dengan pakaian jaketnya, ia lebih merasa tenang dari sebelumnya.


*cklek!


"woah!" ia menguap.


matanya terbuka, ia berusaha untuk melihat arah jalan untuk menuju tangga.


namun ia terkejut ketika melihat sosok seseorang laki-laki yang terdiam di tempat menatap dirinya.


keduanya sama-sama terdiam, hingga kiraa sadar dan langsung panik,tapi reno, lelaki itu, tidak bereaksi, ia hanya menatap kiraa datar dengan membawa 2 cangkir kopi hangat.


"a-ah"gugupnya, ia menunjuk kesana kemari untuk menjelaskan, namun bibirnya tidak bisa bekerja di saat-saat seperti ini.


karna terlalu lama kiraa terdiam, reno berjalan mendekat dengan wajah datar seperti dindingnya.


ya tentu kiraa sedikit takut.


detik per detik ia gunakan untuk berdiam di tempat,bersamaan dengan keringat yang berjatuhan,jantung kiraa pun ikut berdetak kencang.


rasa takut menyelimuti nya.


*bruk!


kaki reno menutup pintu dengan keras, membuat kiraa terperanjak, ia sangat ingin segera lari dari tempat itu, tempat yang ia gunakan untuk berbagi udara dengan makhluk es di depannya.


bukan jatuh cinta atau serangan jantung, lebih tepatnya ia takut di bilang aneh-aneh.


walau reno sudah mengetahui dirinya pernah masuk ke sini, namun kiraa tidak pernah mengatakan bahwa kamarnya ada di asrama ini.


"tutup pintu sesudah masuk"


"aku pun sudah tau, hanya saja kau membuatku tidak bisa menggerakkan tangan!" maki nya di dalam hati.


"aha! saya tau hal itu"


ia mengeluarkan senyumannya yang tertekan.


"aku tidak bertanya"


masih di posisi yang sama, tangan yang memegang kedua cangkir kopi dan kaki yang menempel di pintu.


"apa kau kuat begini terus? hah!" benak kiraa dengan senyuman iblisnya.


*tap...


"aouch!!!" ringis kiraa.


ia memegangi pipinya yang sudah berwarna merah karna terkena cangkir kopi itu.


Reno dengan sengaja menempelkan cangkir kopi yang bagian kiri ke pipi kiraa, cream nya pun menempel juga.


"heh"


ia lalu berjalan menjauh dari kiraa.


tentu kiraa berkoar-koar saat mendapatkan perilaku keji dari lelaki itu.


"dasar lelaki gila!"teriak kiraa.


"kau tidak tau yang mana perempuan yang mana laki-laki,yah!" lanjutnya.


bukannya menjawab, Reno malah terus berjalan seakan suara kiraa hanya suara nyamuk yang berterbangan.


*piw! piw!


"kau curang!"kesalnya.


"ey,aku tidak curang!"


"kalau kalah yah,Terima saja"


"enak ya, kau hanya berkata tanpa bisa aku tampar!"


"tentu saja, makanya lain kali jangan taruhan sama anak itu" ia terus menerus menatap bukunya.


dan sedihnya, ternyata masih bersambung.


"kan! terkena balasan!" ia tertawa.


"cih!"


*cklek!


pintu kamar itu terbuka, menampakkan Reno yang sedang membawa dua buah cangkir yang sama panasnya.


"wah kopi ku!"


ia merentangkan tangannya dengan bahagia, setelah Reno memberikan kopi tersebut, ia mengernyit.


"ren! aku mau kopi itu!"


"tidak" dinginnya.


"loh!"


"kan yang ku suruh kopi itu!"


"aku salah tadi"


"kok bisa?!"


"keminum"


"yaudah sini,bekas mu juga tidak masal-"


ia terdiam ketika mendapatkan tatapan tajam dari Reno.


"aish!"


"kau biasanya tidak suka yang ada hiasannya, kenapa sekarang tiba-tiba berubah!" dengan kesal ia kembali memainkan gamenya.