I WANNA RESET

I WANNA RESET
panci yang menggelegar #17



kiraa melangkah mencari kotak p3k, ia mengelilingi setiap sudut dengan teliti, dan tak butuh waktu lama ia menemukan benda tersebut.


kiraa pun melangkah menuju sofa,kiraa berdiri didepan ibu kantin itu.


"kiraa obat kan ya?" katanya dengan tenang sambil tersenyum tipis.


"tidak perlu! kiraa kan seorang tamu!"


"ah~lucu sekali panggilannya!" batin ibu itu.


"tidak apa"


kiraa pun menunduk, ia mengoleskan obat kepada kaki perempuan paruh baya di depannya.


ibu itu berusaha menahan rasa perih di kakinya, kiraa melirik sekilas wajah ibu tersebut yang mulai berkeringat, kiraa pun memperlembut gerakannya.


"sudah,beristirahatlah dan jangan banyak gerak"


"ya ampun,Terima kasih!"


"iya,tidak masalah" kiraa pun meletakkan kotak itu ke meja kembali.


"kierra, maaf ya nak, gak bisa kasih apa apa ke kamu"ibu itu menunduk menatap kakinya yang di balut.


" emang ibu mau kasih apa?"


"aku tidak ulang tahun" ia mendudukan dirinya di samping ibu kantin.


"ya, bukan begitu"


"ibu tidak membuat cemilan dan sebagainya, hanya teh saja"


"ibu ada ada saja, teh itu cukup loh!"


" iya iya~" ibu itu melebarkan senyumnya.


tiba-tiba kiraa teringat sesuatu.


"oh tentang seseorang yang dipintu... itu anak ibu ya?" tanya kiraa.


ibu tersebut memudarkan senyumnya dan menatap kebawah.


"iya" ia tersenyum tipis.


"kenapa dia pergi semalam ini?"


"hmm, ntah lah mungkin ia ingin mampir ke tempat temannya"


"bukannya kata ibu, anak ibu berada di luar negeri?"


perempuan tersebut membulatkan matanya.


"ehh, itu.. "gelagapnya.


"baru pulang ya?"


kiraa membantu ibu itu untuk menjawab.


"iya! iya..."


"apa anda mempunyai masalah pribadi dengan anak anda?"


ibu itu terdiam, bibirnya terasa berat untuk mengungkapkan isi hatinya.


"jika tidak bisa,tidak apa"


lagi-lagi ibu itu terdiam melamun, keheningan pun muncul.


"kiraa pamit dulu, jaga diri anda ya,bu kantin" kiraa pun berpamitan, ia membungkuk namun tidak di respon sama sekali oleh ibu yang ber anak 1 itu.


kiraa pun berjalan menuju pintu dan menutupnya dengan perlahan.


di luar, ia nampak menghembuskan nafasnya berat.


"bagaimana?"


kata seseorang yang berada di dalam mobil.


"apa yang om harapkan, hmm?" ia berjalan menuju mobil tersebut.


"hahaha"


"om gila ih!" ia memasangkan tali pengaman.


"maaf maaf!" ia menyeka air matanya.


didalam mobil hanya ada keheningan,sekarang sudah larut malam walaupun begitu jalanan tetap lah ramai.


saat berbelok untuk menjauh dari jalan raya.


"om, apa kau liat anaknya tadi?"ia bersedakap sambil melirik dian.


"oh, iya dong"


mereka sekarang sudah lumayan jauh dari jalan raya.


"bisa bisanya aku mati matian berjalan dari jalan raya sampai rumah orang ini"


"huh!"


"kenapa?"


"eh-tidak tidak"jawab kiraa cepat.


"apa kamu dapat informasi lain?kier?"


"dia anaknya?"


"gitu doang?" dian terkaget oleh jawaban kiraa.


"ck, terus apa yang om harapkan?!"


"yaa om berharap kamu tau cerita kelam nya"


"masih bertahap kali om!"


kiraa termenung memikirkan kejadian tadi.


"oh ya om!" kiraa memegang lengan om dian secara tiba-tiba membuat dian terkaget.


"kenapa tiba tiba begitu sih?!"


"hehe, gak sengaja om soalnya kiraa baru inget juga" ia nyengir seperti kuda.


dian hanya bisa bergeleng geleng.


"itu om, tadi aku liat anaknya keluar dengan nafas yang tidak teratur, sepertinya ia marah"


"lalu aku juga melihat ibu kantin terduduk lemas dengan kaki dan pipi yang terluka"


"hah beneran?"


"gak, bohongan, ya benar lah"


"hmm kalo gitu mereka lagi ada masalah tuh"


"iyah tuh!"kata kira membenarkan.


tak terasa mereka sudah sampai di lingkungan rumah.


"oke om!" teriak kiraa.


dian menatap kiraa dengan tatapan yang sulit di artikan, membuat kiraa merinding saja, namun dengan cepat ia menyingkirkan pikirannya itu.


...---...


di dalam kamar ia menjatuhkan dirinya ke tempat tidur, rasa lelah dan mengantuk tercampur aduk di dalam dirinya.


entah dorongan dari mana membuat kiraa terlelap dengan keadaan terlentang, tetapi mungkin di saat terbangun ia sudah berpindah posisi.


...---...


di pagi yang cerah, matahari sedikit demi sedikit mulai memancarkan cahayanya.


ini jam 06:45


sangat lah pagi untuk kierra yang malas bangun.


dengan perlahan ia membuka kedua matanya bersamaan, ia tertidur dengan posisi memeluk rara.


dengan cepat ia melempar rara, tangan kira bergerak untuk mengucek matanya yang masih lengket.


"heh, ini jam berapa?" katanya dengan suara khas bangun tidur.


*prang,prang!!!!


mata kiraa yang awalnya terpejam langsung terbelalak ketika mendengar suara tersebut.


"apaan sih! " teriak kiraa sambil menutup telinganya dengan bantal


[keadaan pembantu]


"sepertinya tuan mengumumkan peperangan"kata pembantu yang sedang mencuci dengan santainya.


pembantu yang lainnya juga tetap santai walau rumah ini bergetar.


"apapun bencana nya tetap lah menjadi pembaca sejati" ia menyapu sembari terus menatap buku novelnya.


dan berbeda dengan ke adaan kiraa yang stress.


"ya ampun om!"


"udah ih, kiraa udah bangun!"


rara pun ikut terbangun dari tidurnya karna lemparan dan suara yang menggelegar itu.


*clek!


om dian bersender di dinding dengan membawa panci, ia memakai baju untuk bersih-bersih.


"cepat lah bangun tuan kambing!"


"apaan sih, gak jelas" ia menatap datar ke arah dian.


"heh heh, 10 menit gak kebawah!udah om lempar dari lantai 2 sampai di lantai 1"tegasnya.


ia berjalan kembali sambil menutup pintu dengan keras, kiraa pun terperanjat.


"ih, mengerikan, sepertinya om ada tamu..."


dengan sigap kiraa menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sungguh mengesalkan, pagi-pagi sudah membuat keributan.


setelah itu kiraa keluar dari kamar mandi, ia sudah memakai lengkap seragamnya.


ia menatap rara.


"kau sudah bangun rupanya" ia mengikat rambutnya dengan wajah datar.


"sudah dari tadi malahan" rara menutupi sebagian tubuhnya dengan bantal.


"oh, karna kulempar atau karna konser om dian?" ia menaik turunkan alisnya


"dua duanya!"


"haha... maaf ya"


"iya iya!"


kiraa pun sudah menyelesaikan ikatan rambutnya, dengan segera ia menuju lantai satu untuk makan dan pergi ke sekolahannya.


"kau sudah bangun?"


"gak, ini aku lagi tidur"


kiraa pun menarik kursi dan duduk di kursi tersebut.


"tidak jelas namun lucu" ia menyelesaikan tahap terakhir dari masakannya.


"ini, makanlah"


"hmm"


"oh ya hari ini antar aku seperti kemarin ya" ia menyantap makanannya sembari menatap dian.


"iya iya"setuju om dian.


nyam... nyam... " om dian itu kepala sekolah?"


"he'em, kepala sekolah ke 2"dian mengangguk angguk.


kira pun melakukan hal yang sama.


"oh, begitu yaa..."


"makanya kemarin aku disuruh ngantar berkas semacam dokumen-dokumen gitu ke kantor kepala sekolah, tapi pas liat,ada nama orang lain, bukan nama om, dian"


"oh itu, iya om itu hanya yang memperbagus dan membeli sekolah itu"


"jadi untuk kepala sekolah ya dia"


"owhh~"


"sudahlah ayo, nanti om dan kamu terlambat"


"eh iya iya, om!"


kiraa pun menyiapkan kotak makannya, ia teringat kepada sebagian orang-orang yang berada di sekolahnya itu pada membawa kotak makan sendiri, ia juga ingin menikmati sensasi seperti itu, ahh~ kebahagiaan seorang siswa.


...---...


saat di dalam mobil muncul lah kecanggungan di antara mereka berdua, kiraa dan om dian.


pasalnya saat ini mereka berdua, kemarin mereka bertiga bersama pak supir, ya walaupun kemarin dan hari ini sama-sama tidak ada yang bicara sih...


sesekali om dian batuk untuk menghilangkan kecanggungan saat ini.


"kiraa, kau membawa kotak makan"


"eh, kok tau?"kata kira sambil menoleh menghadap dian.


"karna k-kau memegangnya..."ia berbatuk sambil menutup mulutnya, "pembicaraan yang abstrak!"


kiraa pun dengan cepat menoleh melihat tangannya,dan benar saja ia memegang kotak makan.


ia pun mengalihkan pandangannya dan menatap ke luar jendela.


semua kecanggungan ini di sebabkan oleh kejadian yang... gimana gitu...