
"emh!" ia menutup dirinya dengan selimut lembut.
"nona,ini sudah pagi, waktunya anda berangkat ke sekolah" ucap seorang pembantu yang sedang merapikan perlengkapan sekolah gadis itu.
"ish, apaan sih!" ia terbangun, lalu segera beranjak dari ranjangnya.
"hati hati nona!" khawatirnya, tangannya menggenggam jemari-jemari nonanya.
"sudah-sudah,aku hanya buta bukan tidak bisa bergerak" ia menutup pintu kamar mandi dengan kasar.
"tap-" ia menghentikan perkataannya.
ia hanya bisa menghela nafas beratnya,ia sudah bekerja bertahun-tahun di rumah ini, namun ia tidak pernah mendapatkan perlakuan baik atau kata terimakasih dari nonanya.
-
"mama!" ucapnya dengan girang.
wanita paruh baya itu menoleh, tentu ia sangat senang anaknya memanggil dirinya dengan ceria.
"hati-hati!"
"eh-" ia terdiam.
"au!"ringisnya.
"kan! " ia berlari dengan cepat menuju anak tersayangnya.
"kan mama bilang jangan ber lari-lari!" ia nampak sangat khawatir.
"hiks... sakit ma!" ia kembali meringis.
"nah kan!"
"nona!" kata seorang lelaki, mungkin ia bagian dari pelayan atau pembantu disini.
"tolong angkat dia!" ia memegangi tangan gadis manis itu.
dengan cepat, lelaki itu membopongnya.
ia menaruh tubuh mungil itu di sofa empuk.
"bi, ambilkan obat!"
"tidak usah mah!" tolak nya.
"tapi..."
"gak papa, lukanya bakal sembuh kok!"
"hah, kan mama sudah bilang, semangat mu untuk sembuh itu memang kuat namun untuk sekarang jangan di paksakan" ia menatap lesu gadis di depannya yang kini sudah beranjak dewasa.
"tapi bagaimana bisa kau melihat mama?" herannya.
"aduh! ibu tua ini curigaan banget sih!"benaknya.
"a-ah, aku tadi mendengar suara mama, jadi aku menebak nebak deh" ia tersenyum lebar seperti matahari.
"nak, mama sangat menyayangimu" ia menciumi tangan anaknya dengan penuh kelembutan.
namun gadis itu tidak merespon.
"aku mau ke sekolah dulu ya
ma!" ia beranjak dari sofa seperti tidak terjadi apa apa.
"apa masih sakit?"
"e-eh"
"au! masih sedikit sakit sih ma..." ia memegangi pergelangan kakinya.
"tuh kan!"
"gak papa, aku kesekolah dulu ya!"
"tapi-"
namun gadis itu sudah berlari keluar dengan tasnya.
"kau berutang penjelasan tentang tadi malam..."
...---...
"huh!" ia menatap ke arah jendela.
lelaki yang sedang menyetir mobil itu tersenyum simpul.
"nona akan segera melihat betapa indahnya kota ini, tenang saja"
"ha?"
"siapa yang ingin! malahan aku bosan melihatnya setiap hari di balik kaca mata ini!"
"hehe"ucapnya dengan senyum canggung nya.
sofia, seperti nama seseorang yang lugu, namun aku tidak begitu.
kini aku harus menjalani hari-hari dengan kaca mata sialan ini, menyedihkan, namun buat ku ini sebuah keuntungan, dimana orang tua yang tak pernah ku anggap itu lebih menyayangiku dari pada kakakku dan memberikan harta mereka kepada ku, hah, sesuatu yang sudah ku dapatkan ini adalah hal kecil, karna apa pun yang aku inginkan akan terkabul dan itu adalah sebuah keharusan.
...---...
baru saja sofia melewati gerbang, ia sudah di hampiri banyak orang.
"kau hari ini sangat imut!"diketahui mereka berkata seperti itu setiap harinya.
mereka adalah penggemar sofia, dengan senang hati mereka mengikuti sofia kemanapun ia pergi, karna jika begitu mereka bisa mendapatkan peluang untuk menjadi kaya dan bekerja sama dengan perusahaan orang tua sofia.
"ah, aku sangat terharu" ucapnya malu malu.
"ya ampun lucunya!"mereka merasa gemas dengan tingkah laku sofia.
*kring!!
semua terdiam.
"sepertinya aku butuh bantuan"
"sofia biar aku saja yang menuntun mu"
"aku saja sofia"
mereka berlomba lomba menawarkan diri agar bisa menuntun sofia, padahal ia bisa berjalan sendiri.
saat di kelas, pelajaran untuknya tidak terlalu susah,ia hanya perlu menghafal dan mendengarkan.
karna tingkat pengingatan sofia sangat buruk, ia berencana menulis diam-diam agar cepat ingat dan hafal.
"emm, gimana ya" tangannya bergerak kesana kemari karna terlalu gugup.
"ah, tulis di laci aja!"
jika ia merobek kertas sendiri, itu akan menimbulkan suara dan ia akan di curigai, lebih amannya ia meminta seseorang untuk merobekkannya.
"emm, hei!" ia menepuk pundak orang terdekatnya.
orang itu pun menoleh.
"ya? sofia?" ramahnya dengan suara kecil agar tidak ketahuan.
"emm, apa aku boleh meminta satu lembar kertas, atau ambil dari buku ku saja!"
"tidak usah! gunakan punyaku saja"
ia segera merobek kertas di pertengahan lalu menyodorkan nya ke sofia.
"itu, aku suka coret coret jika tidak ada pekerjaan, tangan ku sih tidak bisa diam"alasannya dan sedikit di hiasi tawa kecil sofia.
"ohhh" ia mengangguk angguk.
ia mencuri curi waktu dimana orang-orang tidak melihatnya.
saat ia melihat ke papan tulis, ia tidak sengaja melihat seseorang yang berada di luar dari balik kaca mata hitamnya.
"ha! itu siapa?!" ia hanya bisa melihat punggung orang tersebut, tiba tiba orang itu terhenti.
sosok itu hendak berbalik, namun sofia menunduk, tak berani melihat.
saat di lihat kembali ke arah luar, sofia tidak melihat sosok itu disana.
"siapa sih orang itu!"
...---...
sekrang waktunya untuk istirahat, sofia dan juga teman-temannya sedang asik berjalan, sebenarnya sofia sangat-sangat jijik dengan mereka, namun jika di pikir pikir, mereka cukup berguna.
"sofia, apa kau ingin memakan sesuatu?" ia bertanya dengan semangat.
"eh, iya deh, perutku berbunyi"
"aku ingin kentang dan jus"
"oke! " dia pun berlari ke arah kantin untuk memesan pesanan sofia.
sofia tersenyum, ia terlihat puas.
"au!" lirih nya, ia menyenggol lengan seseorang.
"kau! kalau berdiri itu jangan disitu! kan nona sofia kesakitan!" teriaknya dengan penuh amarah.
"hah?" padahal ia yang di senggol, namun ia yang kena amukannya, ah sudah lah tunduk saja.
"m-maaf maaf!" ia menunduk berkali kali.
"kau! -"
"sudah lah, tidak apa, lagian aku yang salah" ucap sofia.
"ya ampun nona sofia itu memang berhati malaikat!" teriak mereka dengan girang.
"cih! kalo bukan ada mereka, kau benar benar ku habiskan"
mereka memegangi lengannya sofia dengan lembut, seperti bulu yang halus.
"aku turut kasihan padamu,nona"
sofia membelalakkan bola matanya, suara ini, ia mengenalnya!.
sofia mendongak,ia terkaget.
"k-kau!" ucapnya gelagapan.
namun yang di tatap hanya tersenyum dengan kening yang berdarah darah.
mereka semua terkaget saat melihat darah itu.
"emm, a-apa kau tidak apa apa?"
"tentu"
"tapi keningmu berdarah!"
"ah" ia memegangi keningnya.
"tenang saja, aku pergi dulu ya" ucapnya dengan senyum lebar.
sofia terdiam, dengan ekspresi kagetnya.
"o-orang yang kemarin itu!"
"sofia! ini pesanan mu"
namun sofia tidak merespon, ia mematung di tempat.
"sofia, kau tidak apa apa?"
"t-tidak apa apa kok" ia mengelap keringat nya.
...---...
langit telah berubah menjadi warna oren.
entah kenapa mobil yang seharusnya menjemputnya belum menampakkan diri.
"emm sofia, kau boleh kok ikut dengan mobil ku" prihatin ya.
"cih, seharusnya aku yang begitu, dasar sombong!"
"tidak usah, aku sudah di jemput kok, tapi aku suruh untuk mengantarkan yang lain, kasian mereka tidak di jemput"
"tapi bahaya jika kau sendirian, atau aku temanin aja?"
"tidak, tidak usah"
"baru di jemput cepat sudah belagu!"
"emm, baiklah" lalu ia masuk kedalam mobilnya, sebenarnya ia merasakan firasat buruk, namun ia juga tidak bisa menentang keputusan sofia.
"orang itu! kenapa sih!"
"kakiku keram!"
tiba-tiba mobil berhenti di depan sofia.
"kau, awas saja akan ku beri tau ayah!" ia mendekat ke arah mobil itu.
namun ia terhenti ketika ada tangan yang memeluknya.
"kau-"
"emmm!"
sofia merasa sesak karna ia di dekap dengan kencang.
*bruk!
ia terkulai lemas di tanah, ia melihat kaki seseorang yang berjalan mendekat.
"k-kenapa supir i-itu tidak membantu ku..."
pandangan sofia mulai menggelap, lalu ia pingsan.
"maaf kan saya, nona..."ia membungkuk untuk memberi hormat.
"kau tidak perlu meminta maaf, itu tindakan yang benar kok" ia tersenyum manis.
orang itu membuka maskernya.
"apa kau senang?"
"hmm."
"tentu"
"kalau begitu angkat dia" ia menarik tangan sofia yang lemas.
"kau saja" ucap supir itu.
"tidak tau balas budi!"kesalnya.