
"ona, kenapa mereka cemberut gitu, apa mereka sedang ada tamu?"bisik kiraa sambil terus memerhatikan gadis-gadis itu.
sontak leona menoleh ia sedikit geli mendengar penuturan kiraa itu.
"menurutmu?"
ia memijat kakinya yang sangat pegal, ia anggota osis bukan atletis, ia menghabiskan hari harinya dengan berkas berkas dan keamanan Sekolah.
"mereka begitu setiap hari, bahkan sebelum kau kemari"
"jadi,jangan pedulikan mereka"
"terus apa penyebabnya?" seolah belum puas, ia menanyakan nya lagi kepada leona.
bukannya bodoh atau semacamnya, namun jawaban leona sih yang bukannya membuat penasaran kierra pupus malah membuatnya menjadi lebih penasaran.
"ish!"
"mereka cemberut begitu karna pangeran mereka jarang ikut basket atau lomba lomba gitu!"
"reno?"
"ha? kau tau?!"
kiraa menatap sejenak raut wajah leona yang tampak kaget mendengar dirinya menyebut nama itu.
"ah, kau tentu tau"
"siapa yang tidak tau coba" ia memalingkan pandangannya ke arah orang orang yang sedang bermain basket.
"banyak yang membicarakannya tanpa sensor" seketika wajah kiraa mendatar, ntah kenapa.
"eh! iya juga, mereka benar-benar keterlaluan, sepertinya keamanan kurang ketat!"ia mengepalkan tangannya seolah olah ia kesal.
"kau suka dengannya?" niat kiraa hanya basa-basi karna sebenarnya ia bosan dengan semua hal ini, jadi ia terus berpura-pura sakit kaki.
"heh! sampai aku bisa menemukan ujung dunia pun aku tidak akan pernah suka dengan orang itu!"ia langsung berdiri tegap.
kiraa pun tersenyum simpul, menurutnya leona sangat imut di pandangannya.
"xixi, hanya bercanda,ona"
setelah cukup bermarah-marahan, leona duduk kembali.
"kau sangat tampan jika begini leona" ia menaik turunkan alisnya, membuat orang marah adalah salah satu hobinya.
"perempuan heh!" pekiknya.
"pahamu sangat mulus, ona"kiraa meraba raba paha leona yang tertutupi baju olahraga.
mereka tadi sempat berganti baju, mana mungkin mereka berolahraga menggunakan rok se paha, malahan lelaki yang bermain basket akan mencuri-curi pandangan dengan leluasa.
"hey! geli"ia terus menerus menepis tangan cabul kiraa, namun semakin sering ia menepis, semakin sering juga tangan itu mengelus elus paha leona.
tak jauh dari keberadaan kiraa dan leona, seseorang sedang menatap datar ke arah 2 orang itu.
lebih tepatnya ke arah kiraa.
entah mengapa setiap ia pergi selalu ada kiraa di pandangannya, membuat ia stress berkelanjutan.
"cih" decihnya.
seperti saat di asrama, waktu itu ia selesai membeli sesuatu di kantin, setelah melakukan perjuangan ia kembali ke asrama untuk melihat teman-temannya.
dan sialnya, ia melihat 2 orang yang sedang berjalan menuju asrama.
karna tujuannya dan 2 orang itu sama, mau tak mau ia terlihat seperti membuntuti, padahal kenyataannya ia ingin pergi ke kamarnya yang di kuasai teman-teman iblisnya, mengapa ia mengatakan mereka ada lah iblis?, karna mereka itu pengganggu, sama hal nya seperti nyamuk yang menjadi salah satu musuhnya.
tak butuh waktu lama ia sampai ke lorong yang lurus menuju kamarnya.
saat ia melewati suatu kamar sebelum kamarnya, ia melirik pintu yang terbuka dan lampu yang menyala, padahal matahari bersinar begitu silaunya.
namun dengan cepat ia menepis pikiran itu, toh itu bukan urusannya.
dengan santai ia membuka pintu kamarnya, untung iblis-iblis bermuka tampan itu tidak menguncinya, jadi ia hanya perlu membukanya dengan gagang.
begitu terkejutnya ia ketika melihat 2 gadis yang masuk ke dalam list seseorang yang ia benci itu menyentuh area kekuasaannya.
marah? tentu saja bahkan jika pembunuhan itu tindakan yang mulia, ia tidak segan-segan untuk membunuh 2 gadis galak itu.
sampai sekarang, urat-uratnya masih terpapang begitu jelas walaupun hanya mengingatnya.
tapi anehnya, mengapa ia sekarang datang dengan baju basket kebanggannya itu.
"eh, itu reno kekasihku kan!" mereka baru menyadari kehadiran reno.
dengan lancang, mereka meneriaki kata-kata apapun yang berinti memuja lelaki itu.
namun seperti angin lewat saja, reno beraut wajah datar itu melangkah menuju area basket dengan kerennya.
"bilangnya jarang, bahkan gak pernah ikut beginian, tapi hari ini?"
"ona?" ia mencoba menggerakkan tubuh leona yang tegang itu.
"bisa-bisanya ia menebar pesona lagi!"
kesal leona.
bukan hanya gadis-gadis, pemain basket pun ikut bersorak-sorak, pasalnya siapa pun yang setim dengan reno, timnya akan awet menang walau mereka hanya perlu bersantai-santai saja.
"ya ampun, demi apa pangeran sekolah main lagi!"
"pokoknya harus se tim ini mah!"
"heh, tim ku ya!"katanya tak mau kalah.
akhirnya reno memilih suatu tim, ia benar-benar tak mengharapkan suatu kemenangan, melainkan ia menginginkan pujian dari seseorang.
ntah siapa orang itu, hanya saja ia ingin sekali.
permainan itu pun mulai, beberapa kali ia membiarkan bola di tangannya lolos, namun ia tak membiarkan satu bola pun masuk ke areanya.
dengan santai ia mendapatkan 1 kemenangan, 2,3,4 hingga lima, itu semua ia yang masukkan.
sedangkan musuh hanya mendapatkan 1,itupun mereka harus merelakan keringat nya hanya untuk permainan biasa ini.
semua gadis bersorak sorak kegirangan melihat keringat reno yang jatuh hingga leher nya.
namun tatapan orang tersebut bukan ke arah penggemarnya, melainkan seseorang yang menatap dirinya dengan tatapan tak berteman.
"ngapain juga natap gitu,gak suka banget liat gadis cantik apa?"
"ingat diri!" suara rara tiba-tiba.
"diam, makhluk kecil!" gumam kiraa tanpa sadar.
tak di duga-duga reno tersenyum ke arahnya, sontak membuat kiraa memundurkan wajahnya.
"leona, jam istirahat mau datang kan?, yok pergi aja, males liat penghuni gunung es"cetus kiraa, ia menarik-naik lengan leona untuk di ajak pergi.
leona pun hanya mengangguk-angguk sembari menepis tangan kiraa yang membuatnya risih.
"nih"
"ha?" bingungnya.
"udahan" singkatnya.
"lah,kenapa?"
"pegel"
"eh..."
--
*tuk.
"kier? makan?"tanya leona.
"sama in aja"
"oh, tunggu" ucapnya, setelah itu ia pergi mengantri untuk memesan makanan.
setelah kiraa dan leona sampai dikantin, mulai banyak orang yang pergi ke kantin juga.
jadinya mereka ke duluan oleh orang orang.
setelah menunggu cukup lama, leona kembali membawa makanan dan minuman yang di inginkan, dengan segera ia menaruhnya dan ikut duduk di depan kiraa.
*srupp...
ia meneguk jus jeruk manisnya yang menjadi kesukaan gadis berparas cantik dan tomboy.
"ona" panggil kiraa setelah menelan satu sendok nasinya.
"jangan panggil aku begitu!" tegasnya, ia menajamkan tatapannya namun kiraa tidak takut malahan tertawa kecil.
"kurasa, sekolah ini tidak sesederhana itu"
bisik kiraa.
sontak leona menghentikan aktivitasnya, tangan yang seharusnya menyuap mulut leona itu ia taruh kembali.
"maksud?" ia menatap kiraa datar se datar datarnya.
karna hal tersebut, kiraa semakin yakin tidak ada yang beres.
"maksudku disini pasti ada seseorang yang kurang" ia mengambil sendoknya dan memukul piring leona hingga menyebabkan suara.
mengerti apa yang di katakan kiraa, leona kembali memakan nasinya yang belum tuntas ia lahap.