
"aku tidak mau" kata anak tersebut yang duduk di kursi.
ibu tersebut menatap anaknya sedu.
"makanlah, kau pasti lapar" ia berkata dengan lembut selembut kain.
"aku tidak mau, kau itu dengar tidak sih!" bentaknya.
hal itu membuat ibu tersebut kaget dan menjatuhkan taplak atau nampan tersebut dan bubur itu jatuh ke kaki nya.
hal itu membuat ibu tersebut meringis kesakitan.
"tapi nak..."
"ah,sudah lah tidak ada gunanya berbicara dengan mu!" ia pun berjalan dan menyenggol ibunya sendiri yang menahan rasa sakit di punggung kakinya.
tapi dengan sekuat tenanga ia mengikuti anaknya tersebut.
"nak tunggu!" teriak ibu itu sambil menyeret kakinya yang melepuh.
sampainya di ruang tamu, ibu itu dengan pantang menyerah mengikuti anaknya.
sampai dimana anaknya bosan mendengar teriakan ibunya ah bukan, menurutnya itu bukan ibunya.
"nak, jangan pergi sekarang sudah malam!"
"ah, jangan teriak terus, telinga ku sakit mendengar teriakan mu itu!" ia memegang telinganya.
"lagian terserah kalau aku pergi kemana kek, itu bukan urusanmu!"
"tapi kau baru saja sampai" ia terus menahan rasa sakit kakinya namun rasa sakit jika ditinggal anaknya itu lebih menyakitkan baginya.
"aku kesini hanya mengambil uang untuk sekolahku!tetapi ternyata tidak ada, sia sia aku kemari menghabiskan uang"
"tetapi ib-"
"ibu kau bilang! jika kau merasa dirimu seorang ibu ya biayain lah sekolah anakmu, bukan hanya dengan kata katamu itu"
"lagian aku dari awal tidak mempunyai seorang ibu"
*deg...
kata kata tersebut sangat menyakitkan, anaknya sendiri yang ia kandung selama 9 bulan itu tidak menganggap ia sebagai ibunya.
"nak, aku ibumu, ibu kandung mu!"
"halah, ibu macam apa kau, aku mendingan hidup bersama ayah dari pada bersama mu!" teriak nya.
betapa sakit nya ia ketika anaknya sendiri membentak nya.
"nak, jangan seperti ayahmu, ia tidak baik untuk m-"
*plak!..
suara tamparan itu sangat menggema, sampai sampai ujung bibir ibu tersebut berdarah.
"jangan pernah menjelekkan ayah!"ia mencengkram dagu perempuan tersebut yang diketahui adalah ibunya.
lelaki tersebut melepaskan cengkramannya dan membuat perempuan tersebut terjatuh dengan kasar.
dia yang di perlakukan seperti itu hanya bisa menatap sedih sambil mengeluarkan butiran butiran di ujung matanya.
"ayah bahkan lebih kaya dan lebih baik dari mu" ia menujuk wajah ibunya dengan telunjuknya.
ia pun dengan cepat berjalan menuju pintu, saat membukanya ia terhenti dan berdiam disana.
ibu itu merasa heran, walau begitu ia tidak mempunyai tenaga untuk berdiri.
"ah, halo"
"aku kemari untuk membawakan makanan" kiraa tersenyum, iya itu kierra.
lelaki tersebut melihat keranjang yang di pegang oleh kiraa.
"apa kau mau?"
tanpa menghiraukan perkataan kiraa,lelaki itu berjalan dan sedikit menyenggol bahu kiraa.
"apa kau tidak kasihan dengan ibumu?" ucap kiraa saat melihat perempuan paruh baya yang terduduk di lantai.
lelaki tersebut berhenti.
"jika kau kasihan rawat dia saja, aku tidak sudi"
tanpa basa basi ia melanjutkan jalan nya dan menaiki sebuah motor yang berada di depan rumah tersebut.
kiraa hanya terdiam.
"apa aku dibolehkan masuk?" kata kiraa sembari tersenyum manis ke arah ibu tersebut, ibu itu adalah ibu kantin yang ia jumpai pagi tadi.
karna perkataan kiraa,membuat ibu kantin itu buyar dari lamunannya dan segera berdiri.
"oh, kierra ya?"ia menghapus air matanya dengan kasar.
"iyah"
"mari masuk!" ibu kantin itu mempersilahkan kiraa untuk duduk.
kiraa menurut dan duduk di salah satu sofa.
ia melihat sekeliling yang menurutnya sangat indah, tidak mewah namun enak di pandang.
terukirlah sedikit senyum di wajahnya, sampai akhirnya ia melihat beberapa barang berserakan.
ia juga melihat kaki dan pipi ibu kantin tersebut yang terluka.
"ibu akan siapkan minuman dulu ya"
"hmm, boleh juga, tapi jangan yang sulit dan melelahkan, teh ada?"
"eh, iya!" ibu kantin itu mengiyakan kata kiraa.
kiraa kembali memperhatikan setiap sudut ruangan itu kembali.
banyak foto seorang anak laki-laki, pasti anaknya, kiraa pun menghampiri setiap foto dan memperhatikannya.
"nak kierra" panggil ibu kantin.
"iya?" ia menoleh melihat perempuan itu.
"ini tehnya"katanya sambil duduk di sofa.
kiraa pun menghampiri ibu itu dan duduk di sampingnya.
"ini ada beberapa makanan, untuk ibu" ia memperlihatkan keranjang yang ia bawa.
"tidak kok"
"oh ya nak, kok kamu bisa tau rumah ibu disini?"
"itu, di kasih tau sama singa"
"leona"ibu kantin itu membenarkan.
"nah itu, ona!"
ibu itu hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah kiraa.
"tapi leona tidak tau nomer rumah ibu" jelasnya.
"eh..."
"aku hanya mengira ngira saja kok..."
"owh~"
"mana mungkin kan aku bilang kalau aku tanya om!"
...*flashback*...
*tok...tok...
kiraa mengetuk pintu yang bertuliskan perpustakaan, untungnya setiap tempat ada namanya.
"kiraa? masuklah!" kata dian mempersilahkan.
kiraa pun membuka pintu dengan pelan-pelan dan menatap seisi ruangan dengan seksama.
ia menatap om dian dengan enggan.
dian yang di tatap seperti itu langsung peka, dan menatap kiraa balik.
"jika ada yang ingin di tanya katakan saja" ucapnya.
namun kiraa menggeleng.
begitu lama kiraa hanya berdiri membuat kakinya pegal dan bergetar.
om dian yang mengerti hanya menghela nafas.
"katakanlah"
kiraa pun berjalan mendekat dan duduk di kursi yang ada.
"itu, om tau gak rumah bu kantin?"
"bu kantin?" bingung nya.
"iya, ibu yang biasanya masak di kantin"ucapnya lagi.
"oh~"
"tau?"
"iya" ia kembali melihat laptopnya.
"dimana?"
"emmm" ia memegang dagunya tanpa mengalihkan pandangan nya dari laptop.
"ish, dimana?" ia mulai kesal dengan om nya yang tidak menggubis dirinya.
"iya iya!" ia menutup laptopnya dan langsung menatap kiraa.
"alamatnya tidak lumayan jauh sih"
"ini"
dian memberikan kertas, membuat kiraa menaikkan sebelah alisnya.
"ini kertas apa?"kiraa menatap dian sambil memegang kertas tersebut.
"hanya sedikit informasi "
"ya~bukan sesuatu yang penting sih, tapi di situ tercantum nomer HP beserta alamat rumahnya" ia tersenyum memandangi gadis di depannya.
kiraa pun hanya ber oh ria.
"om kenal dekat gak?" katanya, ia melihat lihat isi kertas tersebut.
"tidak terlalu sih"
"bahkan jarang ketemu" jelasnya.
"hmmm" ia memegang dagunya sambil mengangguk angguk.
"emang buat apa sih?"
"eh, hehe... pengen kasih cookies"ia menggaruk garuk leher bagian belakang padahal tidak merasa gatal sama sekali.
"kalian dekat?"
"oh~tidak"
...---...
*flashback off
"yaudah diminum gih keburu dingin"ia tersenyum manis kepada tamunya ini.
"iya, terimakasih"
"oh ya, kierra anak baru ya?"
"he'em, murid baru" ia mengseduh tehnya, rasa yang manis, kierra suka!.
"oh ya, kok ibu bisa tau nama ku?"
"teman mu, leona, sering memanggilmu" ia masih terus menerus menahan rasa sakit di tubuhnya, mana mungkin ia menangis di depan tamu.
"eh, iya juga"
kiraa menatap lekat-lekat wajah ibu itu, ia juga melirik punggung kaki perempuan tersebut yang berdarah.
"anda bisa mengobati luka itu sekarang"
ibu itu sontak menatap kiraa, ia melihat senyum tipisnya, walaupun begitu ia tidak merespon perkataan kiraa dan terus berdiam di tempat.
"tidak bisa ya?"