
"KIERRAAA!!!
Rara mencoba meraih tangan Kiraa, tetapi sayangnya tidak tergapai.
*BRUK.
-
...
"apa yang terjadi barusan?, gempa?" ucap sang penghuni rumah.
"aku 'pun tidak tahu.."
-
"Kierra!!, apa kamu tidak apa-apa??" Rara segera meluncur kebawah dan mengecek keadaan gadis itu.
"duh... kau kira suara keras seperti itu tidak akan membuat ku mati?"
"cobalah realistis sedikit, dan bantu aku berdiri"
"ah iya, raihlah tanganku.."
....
"huh akhirnya."
"masih ku tunggu..."
Kiraa masih terduduk dengan tangan yang ditautkan kepada Rara. dia tidak sedikit 'pun bergerak meski Rara telah menaruh semua tenaganya.
"eh... kau sangat berat Kierra!!"
"hah??, kenapa aku yang salah?"
"habis nya kau berat sekali, aku sampai tidak bisa menarikmu.." Rara menggerutu.
"kau nya saja yang terlalu kecil.."
"yasudah, kita akan berjalan-jalan dan mencari makanan" Kiraa bangkit, lalu membersihkan pakaiannya yang terkena debu dan tanah.
"kita akan kemana?" Rara bertanya.
"mungkin ke taman kota?, aku dengar disana banyak yang menjual makanan ringan, dan mungkin ada toko 'paha-ayam'"
"ini baru fajar, apa benar ada penjual se-pagi ini?"
"jangan khawatir, kita akan sampai dalam beberapa jam."
"aku yakin kita akan sampai saat pagi. jadi, ikuti saja aku"
'hmm'
'apa begitu jauh?, bagaimana jika dia lelah?', kata Rara di dalam hatinya. ia takut untuk mengungkapkannya langsung, dan memilih untuk menurut saja.
***
setelah begitu lama menempuh perjalanan, mereka akhirnya sampai juga di pinggir kota pada jam 7 pagi.
begitu sampai, Kiraa menarik nafas segar.
ia begitu senang ketika semuanya berbuah hasil yang bagus.
"hah!, sangat melelahkan...",
"hmm. perkotaan memanglah ramai. oh, ya disitu ada jualan minuman, ayo kita membelinya!" Kiraa menunjuk suatu tempat.
"AYOO!!", kata Rara dengan semangat.
sepanjang perjalanan, banyak pasang mata menatap geli kepada Kiraa yang berbicara sendiri.
namun apakah Kiraa peduli?
apapun yang mereka pikirkan, Kiraa lah yang merasakannya.. bagaimana rasa dari kematian, dan sebuah keberuntungan apa yang tidak pernah didapatkan oleh orang lain.
-
"UWAHH~ , siapakah nama minuman cantik ini~"
setelah merasakan minuman yang berasal dari bumi, Rara begitu terpanah dan lidahnya terasa ingin terus meminumnya.
Kiraa melirik Rara.
"kau sepertinya menyukai itu, ya?. itu adalah air kelapa dingin"
"kenapa aku tidak pernah merasakannya, ya?" ia menggumam.
"sungguh menyedihkan, tetapi lupakan saja."
*sruppp...
Melihat Rara yang begitu senang, Kiraa tak dapat memalingkan wajahnya dari makhluk itu dan terus tersenyum manis.
setelah sekian lama, gadis itu merasakan kebersamaan dengan seseorang.
*ohh?
secara tak sengaja Ia melihat sebuah toko yang begitu menarik perhatiannya.
"Rara!, ada toko roti disana"
"toko roti?" Rara menoleh ke-arah dimana Kiraa menatap.
"kau ingin kesana?"
"ya, aku merasa ingin kesana dan mencicipi roti-roti itu"
mereka berlari dan menyebrangi jalanan dengan semangat. kedua orang ini adalah penggemar roti, dan keinginannya untuk merasakan roti tidak akan terhentikan.
*DUG.
"ouchh... "
ringis Kiraa sambil mengelus keningnya yang me-merah.
Ia yakin bahwa ia telah menabrak sesuatu. dan tabrakan itu sangat keras, beruntungnya ia hanya terpental dan tidak terjatuh lagi.
bayangkan jika itu terjadi... bagaimana keadaan tulang ekornya?
"ehh... " Kiraa mendongak.
"ehem".
mereka berdua saling menatap dengan canggung.
'apa barusan.. aku menabrak... dadanya?'
"eh..
... maaf om, saya tidak melihat ada tiang-listrik- eh orang maksut saya... "kata Kiraa yang bercucuran keringat dingin.
"tidak apa-apa, apakah kau baik-baik saja setelah menabrak tiang- eh saya maksudnya?"
*duh.
'bagaimana ini.. orang asing ini sudah memiliki dendam dengan ku pada awal pertemuan kita'
"haha, tentu saja saya baik-baik saja.. saya tidak akan sakit oleh dada anda..." kata kiraa yang semakin lama semakin mengecil suaranya.. berharap orang itu tidak mendengarnya.
"om sendiri juga tidak kenapa-kenapa 'kan?, kalau begitu saya pergi dulu" ia pun melanjutkan langkahnya menuju kedalam toko roti itu.
setelah kiraa rasa orang asing itu telah pergi, ia kemudian bernafas lega.
"ada apa Kierra?" Rara terheran-heran.
"itu... ck!"
"dia begitu mengintimidasi dengan tubuhnya yang besar itu.."
"hmm" Rara menoleh kebelakang.
"sudahlah, lagi pula dia sudah pergi"
"tapi auranya seakan masih ada disekeliling ku"
dia tidak merasakan aura-aura seperti yang dirasakan Kiraa, dan baginya tidak ada hal semacam itu sejak memasuki toko.
"lupakan saja Rara.."
kiraa 'pun memesan roti yang ia inginkan, lebih tepatnya yang ada di poster depan toko.
"baiklah, ini pasti akan menyenangkan." Kiraa kembali dengan membawa sekantong roti dengan ukuran besar.
"mengapa sebanyak ini??, apa kau tidak takut kekenyangan hingga mati?"
"jangan berkata buruk. ini adalah roti untuk kita berdua, dan juga uangku masih cukup untuk kedepannya"
"kalau tak bersisa, bukan salah Rara"
"baiklah-baiklah.. tidak akan ada yang menyalahkan mu, huh", "ehh... "
tiba-tiba Kiraa teringat sesuatu..
"yah... pada akhirnya paha-ayam akan menjadi omong-kosong belaka...", batin Kiraa.
Saat membuka pintu toko yang terdapat lonceng-nya ketika pintu dibuka.., Kiraa terkejut melihat seseorang didepannya.
"akhh!!... "
"OM??!!!"
saat ini.. ia tidak tahu bagaimana raut wajahnya yang terkejut. mungkin lebih buruk dari yang ia pikirkan.
"oh, sudah selesai?"
"om!, kenapa anda menunggu saya didepan pintu??" ia menatap lekat-lekat lelaki didepannya.
"jangan begitu percaya diri."
"lalu untuk apa anda disini??, apa anda tahu sikap anda ini bisa membuat orang lain terkena serangan-jantung?"
"hmm.., benar juga"
lelaki tersebut menggosok tengkuknya.
'lelaki asing yang aneh.'
"jadi apa motif anda?, apa anda sedang menunggu seseorang?"
"emm... itu, bisa kita bicara ditempat lain?"
Dia terlihat begitu serius ketika berkata. sebenarnya apa alasan lelaki itu yang sebenarnya?
"aku tidak bisa memercayai ini. bagaimana jika dia bukanlah orang yang baik?", batin Kiraa.
'Ra, kau mendengar ku 'kan?, cepat!! tolong aku!!"
"aku juga tidak tahu harus berbuat apa..."
"tetapi tenang saja, Rara akan melindungi Kierra jika terjadi sesuatu" kata Rara sembari menunjukkan gerakan menghajar.
'memang kau kuat?, jangan membuat ku malu dengan tubuhmu yang kecil, Rara'
"ishh, jangan membuat ku kesal" Rara 'pun menghilang.
***
"huh... baiklah. tempat mana yang ingin anda datangi?"
"ikuti saya."
*drap. drap. drap...
'aku akan dibawa kemana oleh lelaki ini?'
Dari pertemuan yang begitu aneh hingga diajak memasuki cafe terdekat.. Kiraa bertanya-tanya dimana letak kesalahannya.
apa karena tubuh lelaki itu yang besar sehingga membuatnya menciut?
"silahkan duduk" kata lelaki tersebut.
"ehem, kita langsung di intinya saja."
ia pun duduk di kursi yang di sediakan.
"jangan terburu buru. pesan lah sesuatu agar tidak canggung saat berbicara nanti"
orang asing itu 'pun mengambil dan membaca satu-per-satu menu cafe. dan Kiraa hanya bisa menurut dengan alur yang ada.
"saya memesan cappucino, kalau kau?"
"emm..."
'aku harus menjawab apa?, air putih? teh? atau jus???'
"tolong..., teh saja... " kata Kiraa sambil menutupi wajahnya dengan buku menu yang ia pegang.
"baiklah" lelaki itu tersenyum, lalu memanggil pelayan yang disekitarnya.
...
'bagaimana kita bisa berbincang dengan canggung seperti ini..'
ia meletakkan buku menu di atas meja secara perlahan.
setelah itu keheningan 'pun muncul dengan sendirinya, dan tidak ada yang mau memulai pembicaraan.
"kau ber-umur 17 belas-an?"
tanpa diminta, dia mulai berbicara dan bertanya hal-hal dasar mengenai Kiraa.
"benar, lebih tepatnya 18..." dia mencengkram pakaiannya.
"kenapa aku menjadi penakut seperti ini??, tapi lelaki ini sungguh menyeramkan!!", batinnya.
"ohh, berarti sebentar lagi akan tamat tahun ke-tiga?"
"benar."
akhirnya pelayan datang dan membawa pesanan Kiraa juga lelaki tak bernama.
"wah.. akhirnya, ya!!"
Kiraa "pun meminum sambil berharal agar tidak ada musibah yang menghantam dirinya
'aku anak baik. tidak akan ada musibah. semuanya damai. tidak akan ada musibah, damai-damai. tidak akan ada musibah, tidak akan!!!'
"jadi begini, ntah kenapa saya tertarik untuk mendaftarkan anda di sekolahan yang saya dukung. yaa.. lebih tepatnya memindahkan kamu"
*Brusszz....
Kiraa menyembur minuman yang ia minum tadi, dan sialnya minuman itu ter-kena wajah tampan lelaki tadi.
"eh... "
"maaf maaf, saya tidak sengaja!!, maaf!" Kiraa berdiri dan menunduk berkali-kali sambil mengatakan kata "maaf.."
"tidak apa-apa" dia mengambil tisu lalu membersihkan wajahnya.
'dasar wanita bodoh.'
"emm..." Kiraa berpikir sejenak.
"apa kau setuju?"
"bukan tidak setuju, tetapi saya tidak ada pengalaman sekolah menengah sama sekali..., saya tertinggal sangat jauh dan nantinya saya yang akan dibuat malu oleh diri saya sendiri."
"jadi tidak ada pengalaman sekolah menengah atas?, sekolah menengah pertama?"
"..."
"saya pernah. tetapi tidak dengan sekolah menengah atas. ngomong-ngomong, Terima kasih atas tawarannya, saya permisi dulu" Kiraa berdiri lalu berjalan membelakangi lelaki aneh itu.
"tunggu, bagaimana dengan ini"
Kiraa terdiam lalu menoleh.
'ada apa dengan mu???, apa kau tidak sadar bahwa aku menjauhi mu karena kau sangat mencurigakan??!!"