
°
°
°
[jam menunjukkan pukul 03:39]
"apa-apaan itu...?" ia mengusap kedua matanya.
"mungkin hanya kelelahan saja..."
wajahnya begitu suram.. dan entah kenapa pandangannya begitu gelap. atau kah ini dikarenakan lampu yang dimatikan?
namun tiba-tiba rara terbangun! dan duduk dengan kedua mata yang tertutup.
"ada apa Kierra...?, padahal Rara tidak cukup tidur hari ini..."
Rara terbangun disebabkan oleh gumam-an Kiraa yang berada tepat disebelahnya.
Kiraa 'pun menjelaskan apa penyebabnya..
"tidak ada, hanya saja tadi aku bermimpi aneh... aku bermimpi di suatu tempat yang gelab dan ada meja. yang aku ingat begitu jelas adalah di atas meja tersebut terdapat paha-ayam yang sangat besar!!"
"hmm, paha.. ayam?"
"oh, ya. semacam makanan yang gurih.."
[ paha-ayam, makanan super menggiurkan yang dibuat dari tepung, potongan daging ayam, dan perasa. ]
"ohh"
"ish...itu tanda nya kamu sedang kelaparan... ", setelah mengatakan itu, dia kembali berbaring diatas kasur dan kembali memejamkan matanya.
"nah. kalau begitu ayo pergi membeli makanan"
Kiraa berdiri untuk mengambil tasnya, kemudian memasukkan beberapa harta-benda yang menurutnya penting.
dan begitu juga dengan Rara. dia kembali terbangun dengan raut wajah kesal.
"jangan mengada-ada Kier!, ini masih tengah malam menuju fajar... apa diwaktu seperti ini ada penjual yang buka?"
"kau ada benarnya juga. kalau begitu, kita pergi dari rumah ini dulu, dan saat pagi menjelang baru kita beli makanan" usul Kiraa yang tetap menguatkan keinginannya untuk paha ayam.
"kamu yakin?"
"iya aku tidak suka berada dirumah ini. jika kita pergi, mungkin kita bisa mencuri makanan untuk bertahan hidup"
"itu perbuatan jahat Kierra"
Rara sudah tidak dapat berkata-kata lagi. lagi pula kewajibannya hanya menjadi pelindung saja, dan selain itu dia hanya akan memberi pengarahan untuk tuannya, itupun jika diperlukan.
"hehe, tapi sekarang aku mau membawa sesuatu yang mungkin menghabiskan sedikit waktu" Kiraa melihat sekeliling.
"apa yang dibawa?... hoamm..."
"kau tidak perlu tahu"
"heh.. mau tahu saja tidak diperbolehkan!" ungkapnya dengan kesal.
"hmm... Ra, ini sudah masuk musim apa?"
"ohh?"
"kalau menurut keadaan dan hawa yang disekitar sini seharusnya musim tanaman, dan ya, kemarin itu aku melihat pohon raksasa di tempat aku terjatuh. dan itu sangat indah!!, bagaimana jika kita mengunjunginya?"
awalnya hanya ditanya musim apa, tapi karna Rara suka berbicara banyak, jadinya perkataannya merambat seperti rumput.
"aku hanya bertanya ini musim apa, aku tidak peduli tentang cerita mu" Kiraa tetap fokus mencari.
"ish!!, aku 'kan kasih tahu supaya kamu juga bisa melihat betapa indahnya pohon itu!"
"..."
dan kata-kata Rara 'pun tidak berakhir hingga beberapa waktu kemudian..
'lama-lama aku akan menggila jika mendengar perbincangan ini sampai akhir... suaranya seperti tikus yang terjepit.'
'ngomong-ngomong pohon seperti apa yang dimaksud makhluk ini?'
penasaran akan membawa seseorang ke sebuah masalah yang baru. sekuat mungkin Kiraa menghindari hal tersebut.... mungkin untuk sekarang.
beberapa menit berlalu, akhirnya gadis itu telah menemukan apa yang ia cari. lalu, dengan cepat ia memasukkan barang itu.
*srak-srak. Kiraa mengangkat tas nya dan meletakkannya dipunggung.
'jika makhluk itu tetap berbicara, aku akan meninggalkannya tanpa penyesalan'.
lagian Makhluk itu begitu mencurigakan dan ANEH..
tetapi ada yang Kiraa lupakan tanpa sadar... yaitu dimanakah roti yang diberikan Rara?.
"sudah jangan berkata aneh-aneh, jika 'wanita' itu mendengar..kita tidak bisa kabur lagi."
ia melangkahkan kakinya menuju jendela yang tertutup.
tanpa perlu basa-basi lagi, ia membukanya.
langit yang gelap dan bulan yang bercahaya terang membuat hati begitu tenang... pemandangan itulah yang membuat Kiraa yakin atas keputusannya. yaitu menjadi bebas.
"ish... Kierra sangat jahat..."
"kau memang harus tahu itu"
"kemari lah. dalam hitungan ke tiga,kita akan turun"
"bagaimana jika aku terjatuh??"
"buat apa jatuh ketika bisa melayang?"
"eh iya, hehe... Kierra takut ketinggian juga ya?"
Rara tersenyum miring. kenyataannya, bukan hanya manusia yang takut ketinggian. makhluk seperti Rara juga memiliki ketakutan yang sama.
"jangan ditanya, tentu saja aku takut!"
"lalu, kenapa malam tadi Kierra melompat dari ketinggian?"
saat itu memang benar Kiraa melompat dari bangunan yang lumayan tinggi, dan beruntungnya ia tidak mengalami cedera.
"huh, bukannya itu luar biasa?"
"haishh..."
lagi-lagi Rara hanya tersenyum menanggapi hal itu.
"baiklah, Rara. apa kau sudah siap?".
"tentu saja, tidak perlu khawatir. Rara bisa terbang!!" ucap Rara dengan semangat.
"nah itulah yang aku butuhkan."
"kalau begitu.."
"1..."
"2..."
belum saja hitungan ke 3, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang bergumam dan membuka sebuah pintu.
"apa kau sudah tidak waras??, kenapa pagi-pagi seperti ini kau sudah membuat keributan??!!-"
-"3!!!!"
"loncat!! ra! "
"eh...KIERRA!!! APA YANG KAU LAKUKAN?!!!" teriak ibu Kiraa yang melihat anaknya melompat dari jendela.
bulan yang merendah, dan matahari yang terlihat begitu kecil di sudut langit...,saat meloncat Kiraa menangkap rara dan membawanya ketempat yang jauh lebih jauh.
***
"dewa- tidak. tolong saya..huff... saya masih menginginkan kehidupan,...jangan biarkan...saya mati... "
Kiraa tertawa kecil ketika memerhatikan raut wajah ketakutan Rara.
"makhluk kecil!! bangun, kau mau selamanya di pangkuan ku?"
"eh... aku masih hidup?, HIDUP!!"
Rara sontak terbangun dan melayang-layang kembali seperti semula.
"sekalipun hari ini hari kematianmu, bukan 'kah mati dipangkuan ku itu terlalu.. istimewah?"
"kau harus ingat itu"
*humpp!.
makhluk itu membuat pipinya menggembul dan berlagak seperti sedang kesal.
"memanfaatkan kebaikan makhluk seperti kami ini sebuah kejahatan!" gumam Rara.
"mataharinya mulai terbit, sebaiknya kita segera turun dari atap ini sebelum orang-orang menyadari kegilaan kita"
Kiraa berucap dengan santai seolah tidak mendengar gumam-an Rara.
ketika Rara mengiyakan perkataan Kiraa,
tiba tiba Kiraa melangkah kebelakang dan mulai kehilangan keseimbangannya.
"KIERRA AWASS!!"-