I WANNA RESET

I WANNA RESET
ruang osis #41



Setelah kejadian beberapa hari lalu,kini bisa-bisanya ia di bawa seenaknya tanpa tau apa alasannya ke ruangan osis.


Membuat repot saja.


---


"Aww!" ringisnya tanpa henti.


*plak!


1 tamparan lagi untuk tangan mulus kiraa.


"Berhentilah meringis dan memukul, tangan ku tidak mempunyai masalah dengan mu, namun ia terkena imbasnya" ucap kiraa memberi nasehat untuk segera menyudahi acara obat-mengobati ini.


Awalnya benar, kiraa sangat senang dan lega, mengetahui leona yang nampak biasa-biasa saja, dan dengan senang hati menawarkan diri dengan banyak kata-kata mutiara untuk mengobati lengan leona yang lebam.


Namun sekarang, ia menyesal, kata-katanya terbuang sia-sia di hadapan leona. ia meringis dalam hati.


"Ini yang sekian kalinya aku memberitahumu"


"agar pelan-pelan!" bentaknya langsung.


"Yaudah obati sendiri lukamu itu!" akhirnya kiraa ikut kesal dengan penolakan leona di setiap olesannya.


"Siapa juga yang mau diobati"


"Dan siapa juga yang menyetujuinya!" debat mereka berdua.


Sekali dua kali, murid-murid lain menatap heran kepada dua orang itu, dengan adanya mereka, semua ringis kesakitan yang lain berhenti sangking kagetnya.


"Kierra!!" teriak seseorang.


Seketika perdebatan itu terhenti, teralih untuk melihat siapa yang berteriak sekencang itu.


"Cesa!!" mereka berdua pun berpelukan selayaknya orang yang sudah lama tak berjumpa.


"Induk dan anaknya, cih!" leona mencibikkan bibirnya.


"Kau tidak apa-apa?"


Pertanyaan ini, kembali di ajukan ke kiraa.


Ia Merasa bingung.


Bukan hanya leona, cesa pun ikut berkata hal yang tak ia pahami.


"Apa kau tidak di kejar kembali?"


"Kenapa kamu tinggalin aku?" ia menatap kiraa dengan sedih.


Oh, ia paham.


Ia langsung melihat ke arah leona, ternyata ini alasannya.


"Aku sudah tidak di kejar"


"Lucy berada di mana?"ia berpura-pura mengedarkan pandangannya.


"jangan takut,lucy sudah pergi" ia memegang baju kiraa dengan erat.


"Ah,baguslah"


Ia menghembuskan nafas beratnya dengan susah.


"susah sekali membuang nafas berat!"


"Yang lainnya?"ia melihat sekitar dengan seksama.


"yang lain? Siapa?"ia memiringkan kepalanya.


"kau disini dulu ya, beri obat perempuan keras kepala itu!" ia melirik leona tajam.


Leona yang di tatap hanya pura-pura tak melihat.


-


"Ck ck ck! Sehat?"gurau kiraa.


Namun, mereka hanya melihat sebentar lalu memalingkan wajahnya.


"Hah, susah ya mendapatkan teman dari pada musuh!"gumamnya, ia memutar bola matanya jengah.


Saat seseorang lelaki berjongkok di depan seorang gadis, kiraa memberikan kotak pertolongan pertama ke depan mereka berdua.


ia menggeleng melihat kelakuan 2 makhluk beda jenis itu.


*bug!


"euchh!" lirih kiraa memegangi kepala belakangnya yang sangat perih.


Dengan cepat, ia membalikkan badannya, melihat seseorang yang berada di belakangnya.


Namun ia tidak bisa melihat orang di depannya itu, ia hanya melihat dada yang sangat lebar,pasti orang yang di peluknya akan merasa tenang dan hangat, itu pasti...eh kenapa kierra mempedulikannya- .


dengan terpaksa ia menyusahkan dagunya untuk mendongak melihat manusia yang berani membuat kepalanya sakit.


"Kau!-"pekik kiraa tertahan.


Ternyata itu reno.


"hmm?" ia meminggirkan buku yang tadi ia pegang di depan wajahnya.


"Kau tidak liat aku sedang berdiri disini?"ucap kiraa sambil menggesekkan giginya, sebal rasanya.


"oh?"


"Gitu saja?"ia bertambah kesal dengan orang di depannya.


Dengan datar, reno berlalu pergi melewati kiraa.


"ha?"


"Anak ini kenapa sih!" ia memijit pelepisnya.


Hari ini, benar-benar hari buruk baginya.


Rasa pegal menyelimuti kakinya, ia ingin segera duduk dan meregangkan jari-jari kakinya.


Saat di lihat keadaan teman-teman sekelasnya yang dingin itu baik-baik saja, kiraa segera meninggalkan mereka yang terpaku menatap nya.


"Sudah selesai?" ucap kiraa tiba-tiba.


"Sudah sih... Tapi sedikit tidak mulus" ia meminggir dan memperlihatkan lengan leona.


"Hah... Bagaimana rasanya?" ejek kiraa, ia melihat lengan leona yang sudah di baluti banyak obat, namun tidak rapi.


"Haha! Makanya jangan merepotkan!"


Ia memukul bahu leona dengan kasar, tentu langsung terkena tepisan.


"Sakit!" pekik leona dengan tatapan elangnya.


"Maaf maaf!"


"Oh iya on! Karna kamu satu-satunya yang waras, sebenarnya apa yang terjadi saat aku pergi?"


Sebelum menjawab, leona menatap mata kiraa terlebih dahulu baru ia palingkan ke arah lain.


"Setelah kau pergi, segerombolan lelaki berbaju hitam masuk, padahal penjaga sudah melarangnya, namun di saat jam istirahat itu penjagaan sekolah melemah,beberapa orang pergi untuk makan siang"


Leona memotong ucapannya.


"baju hitam? jas? bukannya mirip saat aku menemukan reno itu?"


"Pertama,Mereka mengacau di daerah kantin, hingga beberapa kaca pecah..."


"Tentu kerugiannya cukup besar"


"pasti pengeluaran om dian menambah, xixi."


"Tapi kenapa mereka kesini?" tanya kiraa.


"Ya mana aku tahu! Mereka mengacau dan langsung pergi begitu saja"


"kalau mereka mencari reno, bukannya langsung ketemu? kan orang itu dimana-mana!"cerocosnya tanpa henti.


lagi-lagi ia tak paham kemana ujung dari permasalahan ini, padahal ia butuh waktu sebentar saja untuk mempelajari sihir dan berbagai macam bela diri, setelah itu ia akan kuat dan tak perlu memusingkan hal seperti ini lagi.


Namun sepertinya jalan kiraa sedikit di persulit.


"Hey?!" ia terus menerus melambaikan tangannya di hadapan kiraa.


"Eh- iya?" jawab kiraa spontan.


"Kau kenapa sih, melamun begitu!"


"Tidak ada"


"Terus saat itu reno kemana?"


Saat mengatakan nama reno, ia pelankan, takut jika tiba-tiba ada yang mendengar.


Tau kan, orang itu bukan orang yang bisa di panggil seenak jidat.


"Ha? Dia?"


"Setauku dia masih ada di sekitar sekolahan" ucap leona dengan pasti.


"Ohh, begitu ya?..." kiraa menunjuk dagunya.


"Kenapa kau bertanya tentangnya?"


Entah mengapa, Tiba-tiba ia merasa ingin terus bertanya kepada gadis di depannya.


"Eh! tidak, Tidak ada!" elaknya.


Tanpa sengaja, kiraa menatap bangunan tinggi yang merupakan tempat berlindung murid sekolahannya.


Seolah paham, leona langsung berbicara tentang bangunan itu.


"Hanya sekolah kita yang di kacaukan, mereka tidak berniat melakukan hal tersebut kepada bangunan 'itu' "


Walau sedikit berbelit-belit, yang terpenting kiraa tahu artinya.


"Oh~"


"Baguslah" leganya.


*drttt... Drttt...


Ponsel leona bergetar, dengan cepat ia mengambilnya.


"Hey kier! Kau di panggil tuh,sama ketua kelas sebelah!"ia melirik kiraa yang sedang berdiri di tempat.


"ha? Aku?" bingungnya.


"Iya"


"Tapi kenapa?"


"Kesanalah agar tau" perintahnya.


-


Dengan langkah pelan, kiraa menyusuri koridor.


Mencari keberadaan ruangan OSIS.


Ntah itu dimana, yang terpenting ia menemukannya.


Kali ini ia berhenti di depan pintu suatu ruangan,kiraa berjongkok untuk mengambil batu besar yang salah tempat.


*cklek!


Bersamaan dengan kiraa yang berjongkok, pintu itu juga ikut terbuka.


Ia melihat kaki orang tersebut, sepatunya juga lumayan unik menurut kiraa.


"Ah! Kierra ya?" panggil orang itu.


Dengan pelan kiraa berdiri, mengsejajarkan tinggi nya yang hanya se daun telinga lelaki itu.


"Ya" ucapnya dengan wajah sedatar mungkin.


Itu hanya untuk jaga-jaga, siapa tahu lelaki di hadapannya masuk ke buku daftar orang yang menyebalkan bagi dirinya, halaman 2.


"Bagaimana jika kita masuk terlebih dahulu?" ia tersenyum ramah menyambut kedatangan kiraa.


Dengan senang hati kiraa memasuki ruangan itu, saat di perhatikan, ruangan itu memiliki keunikan tersendiri, sepertinya OSIS menggunakan tempat ini hanya untuk bersantai, bukan untuk membicarakan hal serius.


"dingin ya..."


Memang seharusnya tempat seperti ini yang paling bagus dari yang lain.


Dan paling mewah.


"Silahkan"


Lelaki itu mempersilahkan kiraa untuk duduk di salah satu bangku disana.