
"Terima kasih Ali, sudah menemani Sofia selama disana" ibu sofia berkata demikian.
"itu memang pekerjaan saya, nyonya".
'ali?... nama pelayan itu ali?'
satu hal yang kini ia baru ketahui, yaitu nama pelayan tersebut.
"ayo duduk nak".
"iya, mah"
"oh iya, bi bawakan minuman untuk Sofia dan bawakan hadiah yang telah kita siapkan!"
mendengar itu, Kiraa bertanya-tanya dalam benaknya.
'huu, apa aku akan mendapatkan hadiah?'
"Ha- diah?"
"benar, sofia." "kami menyiapkan hadiah ini ketika Ali memberi tahu kami jika kamu akan kemari"
jawab ayah sofia sembari memegangi tangan kiraa.
tanpa diketahui siapapun, kiraa mencoba menghembuskan nafas beratnya dan menatap kesembarang arah seolah ia benar-benar buta. namun didalam hatinya, ia mencoba mengutuki Ali yang sepertinya telah merencanakan semua ini dari awal.
"jadi dia mendatangi asrama ku pagi-pagi buta untuk janjinya kepada orang tua Sofia?, lalu apa saja yang dia lakukan selama aku tidak menjadi Sofia?" "bagaimana jika orang itu tidak dapat dipercaya?"
"wah, wah! minuman nya sudah sampai!" teriak senang ibu Sofia.
bibi-pembantu 'pun memberikan minuman ke atas meja beserta hadiah yang tadi dimaksud.
Tanpa aba-aba, ibu Sofia mengambilkannya dan menunjukkannya ke hadapan Sofia.. Kierra dengan senang hati menerima pemberian itu dan menebak-nebak isi dari kotak yang terbungkus tersebut. "mama, apa benar ini hadiah yang kalian siapkan hanya untukku?, ini sangat mengejutkanku!"
"tentu, mama ingin membuat sebuah kejutan kecil. semoga kau menyukai pemberian kami ini ya!"
Kiraa tersenyum.
'padahal aku bukan anak kalian yang sesungguhnya, tetapi hal seperti ini yang tidak akan dilakukan kedua orang tua ku bahkan kalian lakukan'
'begitu beruntungnya Sofia' 'aku harap dia tidak akan menyesal, pff-'
menahan tawa yang hampir lepas begitu saja, Sofia palsu mulai merobek bungkus hadiah yang diselingi tepuk tangan ringan seluruh orang yang melihat.
...
"... jepit rambut?" Kiraa meraba-raba bentuk hadiahnya, dan benar. itu jepit rambut bermotif Bunga-Matahari.
seketika suasana menjadi canggung.
"Sofia.. apa hadiahnya tidak seperti yang kau bayangkan?"
"kami berpikir, jika hiasan itu sangat serasi dengan rambutmu dan kepribadianmu"
"maka dari itu pilihan kami adalah jepitan itu"
"Tidak. aku tidak kecewa akan hal apapun, ma. namun hanya menyayangkan diriku ini yang tidak dapat melihat warna dari hiasan cantik ini"elak nya.
Selama 'Sofia' buta, setidaknya dia bisa menggunakan indera 'menyentuh' nya dan itu sangat berguna, namun untuk selamanya dia tidak bisa melihat warna yang menjadi salah satu bagian terpenting dari dunia ini.
lucunya, Sofia maupun Kierra sama-sama berpura-pura menjadi buta, dan mengambil kesempatan dari kekurangan peran 'Sofia' ini untuk kepentingan pribadi mereka. oleh sebab itu kierra tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas kejahatan yang dia lakukan.
"Sofia ku yang malang, warna hiasan itu adalah kuning. kau tahu makna yang tersimpan dibalik hiasan ini?"
"kuning itu melambangkan keceriaan serta kebahagiaan di padang bunga matahari. sedangkan jepit rambut ini mengartikan harapan ku yang akan selalu melindungimu dengan kebahagiaan dari warna kuningnya".
"begitu ya... Terima kasih atas hadiah yang sangat berarti ini, mah.. pah"
Ia mengambil salah satu hiasan itu dan memakainya di rambut sisi kiri miliknya.
"oh?, kenapa kau tidak memasangkan hiasannya di sebelah kanan?, biasanya kamu akan menaruh hiasan apapun disisi kanan.. apa itu tidak nyaman?"
Akhirnya setelah beberapa waktu berada didalam kediaman keluarga Sofia, ada seseorang yang menaruh kecurigaan terhadap perilaku aneh Sofia, yaitu ayah Sofia sendiri. bukan 'kah baru sekarang ada yang mencurigai adalah pertanda bahwa tingkat Akting kiraa tidak dapat diremehkan begitu saja?
'Papa Fian adalah orang terdekat yang Sofia punya, bukan mama ataupun bibi'
'apa gadis ini dekat dengan semua lelaki dirumah ini?, bagaimana jika ada yang mengetahui rahasia Sofia selain Ali?'
'aku harus pulang cepat.'
"pa, mah.. sebuah kebahagiaan dapat berkumpul dengan kalian semua disini, termasuk bibi. tetapi sangat disedihkan, karna aku ada tugas rumah yang diberikan guru yang harus aku laksanakan"
"kita akan bertemu lain kali, ya?" ucap Sofia yang sudah melupakan masalah tadi.
"baiklah jika memang seperti itu.. mama selalu memberikan yang terbaik untukmu, nak."
dibantu oleh ali, Sofia berdiri dan memeluk singkat kedua orang tuanya. dan selesai berpamitan, Sofia ataupun Ali segera masuk kedalam mobil lalu bernafas lega ketika mereka telah berada jauh dari Kediaman keluarga Sofia yang megah.
"haaaah, dasar pria menyusahkan!".
"apa yang anda maksud, saya?"ali melirik ke belakang.
"kau akhirnya sadar."
"sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu, namun pertama-tama berikan aku ponselmu. aku ingin melakukan panggilan."
mengaku kalah, Ali memberikan ponselnya dengan perasaan sungkan dan wajah yang suram.
...
"om, apa kabar? " kierra mulai berucap.
'om?, siapa yang dimaksud wanita itu?'
-- 10 menit berjalan..
"nama anda kierra, benarkan?" Tanya Ali sedikit gugup.
"iya. ...kau ingin berkenalan denganku?"
"tidak, tidak." "hanya saja saya meminta anda untuk mencari pertolongan dari ponsel itu jika SAJA ada hal buruk yang terjadi kepada kita berdua"
"karena saya tidak memiliki firasat baik tentang beberapa orang yang mengikuti kita dibelakang"
'orang yang mengikuti kita? ...'
kierra langsung menoleh kebelakang, dan benar saja ucapan pelayan itu.
ada beberapa orang aneh yang menggunakan mobil dan kendaraan roda dua untuk mengejar mobil Kierra dan Ali.
kierra kembali menghadap kedepan.
"inilah alasan mengapa kau membawa mobilnya ke pe-desaan asing ini?, apa kau pernah kemari sebelumnya?"
"tidak. saya hanya mengikuti jalur, saya tidak dapat mengingat rute-rute yang jarang nona Sofia lewati!"
*huh..
"kau memang begitu patuh... sialnya kita terjebak di desa yang tidak memiliki sinyal sama sekali"
"panggilan suara dengan om 'pun sudah terputus semenjak kita memasuki desa ini.."
kiraa menunjukkan layar ponsel Ali yang tak memiliki sinyal.
"lalu apa yang harus kita lakukan?" Ali bertanya dengan sangat khawatir.
"tidak ada cara lain." wanita itu tersenyum bagaikan ada sebuah ide cemerlang yang menempel tiba-tiba di otaknya.
*(brukk)
kini Kiraa berpindah tempat duduk. yang semula dibelakang, sekarang duduk manis di kursi yang bersebelahan dengan Ali.
"a-..anda!-"
"apa Ali memiliki benda tajam?".
"tidak,saya hanya memiliki pisau dapur yang anda gunakan sebelumnya untuk.. ya, anda pasti tahu."
'pisau itu..'
"kau berniat untuk menghilangkan pisaunya?"
Ali mengangguk.
"kalau begitu jalan sampai dimana batas kemampuanmu berada."
"ingat jangan gugup,mengerti?"
"kita pasti akan berhasil!"
. . .
"uhh.."
'memang tidak ada jalan untuk kabur.'kesal Kiraa.
"maafkan aku, Kierra."
"ini bukan waktunya untuk maaf-maaf an, kau paham?"
Meskipun Ali mengemudi mobil-nya dengan sangat ahli, pengepungan tidak dapat dihindari.
satu motor yang lolos dari adegan selib-menyelib telah menghadang kendaraan Kiraa dan Ali, dan selesai menghadang. . sebagian dari mereka turun lalu memecahkan kaca mobil milik Ali begitu saja.
"CEPAT TURUN!! atau kami yang akan memaksamu keluar dari mobil ini!"
"duh, dasar pemaksa!!" sahut kiraa, yang pada akhirnya keluar juga dari mobil Ali.
melihat sekeliling yang sepi penduduk dan ramai akan kendaraan dari 'kelompok yang tak dikenal' membuat harapan untuk bebas dari jeratan mereka 'pun mengecil.
"apa mau kalian sebenarnya?" Kiraa mendahului.
"nona, mau kami itu tidak banyak.. kau tahu?, hanya setengah dari semua harta keluargamu, maka kami akan pergi"ucap salah satu orang dari kelompok yang mengepung kiraa.
"mereka menginginkan hal semacam itu. padahal kita saja tidak sempat mendapat bayaran"ia berbisik dengan Ali yang sudah keluar dari mobilnya.
"lalu apa yang akan kita lakukan, Kierra?"balas Ali.
"hmm" secara tiba-tiba, kiraa memegangi pundak Ali tanpa merasa terbebani. lalu mengatakan sarannya.
"dengan keluargamu saja, pelayan ku yang setia."
"anda mengatakan hal itu seperti itu tidak ada apa-apanya. saya menolak".
"ish!, keluargamu 'kan pasti sama kaya-nya dengan keluarga Sofia!" desis kesal gadis itu.
"lalu apa yang kau pilih, nona?"
memerhatikan gerak-gerik sang pengepung, sepertinya mereka memiliki kesabaran yang tinggi, ya?. mereka terlatih, namun terlihat tidak berhati-hati dan hanya menggunakan kekuatan 'mengepung' yang kuat. seharusnya jika dihabisi tidak akan menjadi masalah...
"aku memilih untuk tidak memberikan apapun."
"kenapa seperti itu?, kau tahu ini bukanlah sebuah pilihan dimana kau dapat menolak sesuka hati?"