
.
.
"rekan yang kompak. he."
————————
"hmm.. mobil mu rusak parah. ini semua karena perampok itu" Ia memandang wujud mobil Ali yang benar-benar memprihatinkan.
"saya takut jika mobil ini akan terbakar, dan kita akan kesulitan saat pulang".
"apa ada kemungkinan seperti itu?" Kiraa menoleh.
"sebenarnya tidak banyak kemungkinan terjadinya kebakaran pada mobil, saya hanya mengiranya dari pukulan kuat tadi"
Ali kembali menatap Kiraa pada kedua matanya. suasana canggung 'pun terbuat.
"kita tidak bisa hanya berdiam diri. aku akan mencoba mencari jaringan dan kau coba hidupkan mobilnya"
Ia hendak mengambil ponsel Ali yang tertinggal di dalam mobil dan menyimpan pisau dapurnya di kaos kakinya, namun hal lain terjadi diluar dugaan dan mengagetkan Ali maupun Kierra..
*cklek.
"kierra.."
Om Dian.. sudah lama sekali nama itu tidak disebut oleh Kiraa, dan sekarang, pria gagah tersebut hadir di depan mata nya. Dian telah berubah meski perubahannya hanya terlihat samar-samar. kini dia lebih tinggi, bentuk tubahnya juga semakin membesar, tetapi satu hal yang tetap sama yaitu raut wajahnya yang masih datar seperti terakhir kali melihatnya.
"om." kiraa mematung.
menuruni mobil merah-pekat yang terlihat mewah, Dian dengan tampang menawan-nya mendatangi Kiraa yang tidak dapat berkata apapun, sedikit-pun.
"apa kamu baik-baik saja?".
Dian menyentuh pundak Kiraa sembari mengecek kondisi gadis
itu.
"jadi.. dia om yang anda bicarakan?, ... sebenarnya, anda begitu mencurigakan sejak awal, Kierra. karena semua kejadian perampokan ini kalian berdua yang memulainya, benarkan?."
"apalagi saat berada di mobil, pasti rencana itu yang kalian bicarakan".
'aku?'
"kau saat ini bertingkah laku aneh, Ali. kau tahu itu?"
"perihal apa aku mengundang para penjahat untuk menyerang diriku sendiri?, dan lagi, ini bukan saatnya untuk membicarakan hal tidak masuk akal seperti itu"
"kita membutuhkan pertolongan dari om Dian secepat mungkin."
tak dapat dipungkiri, Kiraa sangat kesal dengan perkataan Ali yang terucap secara tiba-tiba sekali dan ada di situasi yang tidak mendukung seperti saat ini.
tetapi demi kebaikan bersama, Kiraa memilih untuk menjawabnya dengan kata-kata yang singkat, padat, dan jelas untuk dimengerti oleh Ali.
"om. bisakah kami berdua menumpang di mobil mu?, untuk mobil lelaki disana.. apa tidak masalah ditinggal disini?"
"ohh.. kau benar-benar serangga kecil yang licik, Kierra. untuk sekarang silahkan gunakan kendaraan saya terlebih dahulu, dan untuk mobil lelaki itu serahkan saja kepada bawahan om"
"dia akan membawanya untuk diperbaiki di tempat perbaikan terdekat".
"om Dian begitu baik hati~"
"diamlah dan cepat masuk ke dalam mobil, saya akan mengantar kalian berdua. dan jangan lupa ceritakan masalah ini disana."
Dian dengan sergap membuka pintu mobil merah-pekat nya dan memerintahkan 'bawahannya' untuk segera keluar.
sebelum Kiraa mengikuti Dian, ia berkata sesuatu ke Ali tanpa meliriknya sama sekali...
"tunggu apa lagi?, aku akan membuat kesepakatan atas nama 'rekan kerja' dengan mu. tidak boleh ada penganiayaan selama uang mengalir"
"jika kau tidak ikut, kau disini saja, ya."
Tetapi bagaimanapun keadaannya, Ali tetap bersedia ikut.
"tidak!, tunggu Kierra!!, saya ingin mengambil ponsel"
***
"selamat datang kembali, tuan"
Dian menarik nafas dan membuangnya bersamaan perasaannya yang berkalut.
"hah... ajak mereka untuk beristirahat dengan pelayanan terbaik. saya ingin kembali ke kamar saya"
"baik tuan."
pembantu sekaligus pelayan itu menunduk paham.
saat menaikkan pandangannya, dua sosok aneh menampakkan wujudnya dan mereka adalah Kierra, Ali.
Dari pada pergi untuk pulang ke tempat mereka memulai 'rencana' yang telah terselesaikan, Kiraa memilih untuk menuju ke rumah dimana Dian tinggal.
pembantu wanita tersebut membulatkan matanya, seolah dia benar-benar tak menyangka dengan kedatangan seseorang yang pernah menginjakkan kakinya di lingkungan itu.
"melihat reaksi bibi, sepertinya anda masih mengingat wajah saya"
sudah terlalu lama gadis itu tidak mendatangi kediaman Dian, sehingga hanya suaranya yang menandakan keberadaannya yang tidak sekedar haluan.
bibi pembantu 'pun tersenyum manis menghadap ke Kiraa
"sudah lama ya, nona. anda juga semakin menawan dari ingatan terakhir saya"
"anda terlalu memuji. kalau begitu saya permisi.. saya ingin berbicara dengan om Dian"
"saya akan menyerahkan lelaki dibelakang saya untuk anda layani"
"oh, baik nona".
Kiraa berjalan melewati pembantu tersebut.
"Kierra.!!" meski memang Ali bukanlah siapa-siapa dan dia merasa terasingi di tempat tidak dikenal itu, tidak seharusnya Kiraa, sang pemandu, untuk meninggalkan dirinya tanpa memberi penjelasan pada semua yang penuh tanda tanya ini.
. . .
*(huft.. huftt...)
peluh keringat membanjiri kening Kierra.
"dimana tempat om berada?" itulah tujuannya.
Kata-kata yang Ia lontarkan sebelumnya bukanlah omong-kosong, Kiraa ingin berbicara dengan Dian sekarang juga, jadi ia terpaksa harus berlari mengikuti jalan yang Dian lewati sampai lorong menakutkan yang penuh dengan lukisan acak(abstrak).
"setidaknya aku telah berlari hingga sini."
Ali tidak boleh dilupakan hanya karena ingin mencari paman-tidak-sah kepunyaan Kiraa.
"diujung sana terdapat pintu, terlihat sangat jauh jika dilihat dari jarak ini. semestinya lelaki itu ada disana"
singkatnya, Kiraa akhirnya sampai di pintu yang ia lihat tadi, dan membukanya.
jauh dari perkiraan-nya, ruangan itu tidak begitu terang-benderang dan hanya di sinari lampu lentera yang unik.
karena terpukau dengan keindahan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, Kiraa memelankan kecepatan berjalannya dan memutuskan untuk menikmati apa yang ada selagi mencari. Ali 'pun terlupakan dalam sekejap..
"tempat indah apa ini?, Aquarium berada dimana-mana. sejak kapan ada ruangan seperti ini di Kediaman om Dian?" Dia bertanya-tanya.
Aquarium dengan cahaya yang bersinar dari dalam membuat hal itu menjadi tontonan utama yang terpampang begitu jelas. ketika memsuki ruangan tersebut, kau akan disambut dengan patung wanita yang terlihat tidak biasa. namun Kiraa tidak menganggapnya penting dan melewatinya dengan Perasaan-ringan.
pencarian Kiraa terhadap Dian 'pun kembali berlangsung setelah itu.
***
*BUG.
*BUG..
*BUG...
*(brakk)
"Aduhh!!..."
...
"ada apa denganmu?"
dia menjatuhkan sebuah tongkat panjang yang terbuat dari besi ke lantai.
tatapannya juga menajam, seolah dia sedang meremehkan seseorang yang terduduk dilantai itu.
"kamu yang kenapa!!, tega sekali membuat aku kesakitan seperti ini!"
"... huh?, bukannya kau yang meminta?, kenapa aku yang salah?"
"tidak, bukan aku. tetapi kakak yang menyuruh"
membuang nafas kasar, pemuda itu menautkan kedua alisnya dan kemudian bertekuk-lutut dihadapan 'MUSUH ABADI' nya. yang berumur tidak lebih dari 10-tahun...
"lalu, kenapa gadis ini menyalahkan diriku yang tidak memiliki urusan dengannya?"
"kamu tahu 'kan, kalau kamu bukanlah saingan yang sepadan dengan ku?"
"kamu meremehkan ku. kamu bukan malaikat yang baik!"
"kau tidak tahu olahraga yang ringan untuk anak kecil, ya?!"
'maaf, sejak kapan aku malaikat?'
"kau saja yang lemah, gadis kecil. lagian kakakmu tidak akan memarahiku sebab itu"
"huh... kakak pasti tidak akan menerima hal ini terjadi padaku"
*ceklek.
pintu Gym itu terbuka, membuat 2 orang tadi menoleh secara serentak.
*tak.. tak. tak.
"semesta menjawab pertanyaan dengan kenyataan. ... aku memiliki berita besar untuk 'dia'. dimanakah orang itu berada?" Lelaki itu melangkahkan kakinya, semakin dekat..dan mendekat. sedangkan kedua orang yang terdiam dilantai sana itu hanya menatap bingung dengan kedatangan 'pengirim pesan' yang bernama Pillonefe.
"kenapa kau menanyakan keberadaannya?, Pillonefe?"
"maaf, tetapi apakah saya dapat menanyakan kepentingan itu?, anda tidak mengatakan bahwa itu..."
"pesan tak beriwayat." pillonefe menjawab dengan benar apa yang ada didalam kepala pemuda itu.
'pesan tak beriwayat?, apa itu yang mengartikan pesan rahasia untuk kakak?'.
"ah, begitu ya.. saya tidak tahu dengan benar keberadaannya, namun nona Prist pasti mengetahuinya!!"
"eh -eh?.. aku?" gadis 10-tahun yang dipanggil 'Prist' itu membuka mulut mungilnya hingga membentuk lingkaran sempurna sembari menatap ke arah 2 laki-laki dewasa dengan tatapan kebingungan.
"benar." mereka menjawab dengan bersamaan.
"hehee~"
"setahu Prist, kakak 'terbaik' sedang berada di ruangan 'pemusnahan berkas'. Apa paman pillo pernah kesana sebelumnya?, aku tidak pernah kesana!. Prist pikir ruangan itu berbahaya, dari namanya saja 'PEMUSNAHAN'... urkk!!!"
Prist kecil yang naif.. dia begitu takut hanya dengan mendengar nama ruangannya saja?, meski tidak mengetahui isi didalamnya?
sebenarnya ruangan Pemusnahan Berkas itu tidak mengerikan sama sekali, tidak seperti yang dikatakan Prist. ruangan itu terlihat seperti ruangan pada umumnya, namun disana kegunaannya sangat penting, yaitu 'memusnahkan' berkas atau informasi yang memang harus dihilangkan. selayaknya informasi keluarga itu..
"Ha Ha Ha, nona muda kami memang begitu lucu."
Pillonefe berjalan lagi dan menuju pintu lain yang menghubungkan ruangan-ruangan lain pula.
"ini berita untuk kita semua, jangan takut untuk ikut bersama ku, nona Prist."
*(WAHH!!)
"kita bisa kesana?, ayo Pierre!!"
Dengan semangat yang membara, gadis itu beranjak dan menarik tangan pemuda disampingnya lalu membuntuti Pillonefe ke ruangan 'PEMUSNAHAN BERKAS'. ...