I WANNA RESET

I WANNA RESET
sofia atau haiden? #34



"Emm... Apa kita harus pergi?..." tanya cesa sedikit takut.


"Ya"


"Kita harus pergi!"


Sudah cukup ia merasa terganggu, namun saat ia hendak berdiri, kiraa merasa sesuatu yang sedikit dingin menyentuh punggungnya.


Itu adalah ulah reno, dia menempelkan sebuah gelas berisi air yang berwarna sedikit coklat di punggungnya.


kiraa bingung, saat ia biarkan, malah reno semakin menjadi-jadi, dia terus menerus menyodorkan gelas itu kepada punggung kiraa.


"Ck!" decak nya.


Dengan kesal ia menerima gelas itu, tanpa seseorang pun yang mengetahuinya.


"Hai?" cesa kebingungan dengan tingkah laku kiraa.


"E-eh?"


"Apa ada sesuatu?"


Ia berkata dengan tatapan penuh kekhawatiran, yang membuat kiraa merasa tidak enak.


"Cesa kau pergi lah dulu"


Ia melambai-lambaikan tangannya untuk mengusir cesa.


Dengan lugu, cesa mengangguk sembari melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu.


Kiraa pun akhirnya bernafas lega, walaupun di belakangnya masih banyak teriak-teriak antusias gadis-gadis.


"Kenapa sih orang itu kasih minuman begini!"ia kembali memerhatikan gelas itu lebih lekat.


Dan kiraa menyadari sesuatu.


" ya ampun... Teh dingin yang sudah mencair..."gumamnya.


"Mari kita lihat, sepenting apakah sampai-sampai si 'pangeran' sekolah itu memberikan teh ini kepadaku"


Ia memutar gelas tersebut, dan aneh nya ada sepotong kertas yang menempel di sedotan itu.


"Kenapa tidak sekalian kau menyemplungkannya ke dalam minuman saja!"


..."Ingin tau? halte bus, selesai sekolah"...


Itu isi potongan kertas tersebut, jengkel dan bingung, itu yang dirasakan oleh kiraa saat ini.


Rasa jengkel dan bingungnya itu bertuju kepada orang yang saat ini berada di belakangnya, namun kiraa tak berani untuk menunjukkannya.


Bisa-bisa ia di amuk 1 sekolah.


Setelah membaca pesan tersebut, kiraa lalu beranjak pergi dari kantin, tentu dengan jalan yang ia hentak-hentakkan, sangking malasnya.


"Dasar, tidak ada yang lebih bagusan gitu!"


"Teh dingin aja bangga!" gumam kiraa sedikit pedas.


*srupp!


...---...


"Apa kau baik-baik saja?"


"Tentu"


"Aku tidak akan sakit" ucap kiraa di hiasi senyum yang lebar.


"Aku hanya takut..."


"Takut apa?"


"memang ada sesuatu yang bisa terjadi kepadaku?"


"Kau terlalu percaya diri"


"Tapi aku suka"ia tersenyum kecil.


"Kau jatuh cinta kepadaku tuh" goda kiraa.


"Ih, mana ada!"


*kringg!!


Kiraa dan cesa sontak terdiam.


"Sepertinya bel sekolah sedikit rusak!"


"Cepat sekali ya"


"Iya"


"Kalau begitu, sampai jumpa!"


"Hemm!" cesa mengangguk kuat.


"Jangan lupa percaya diri!" teriak kiraa.


Cesa yang mendengar pun merasa malu, dan segera menutupi wajahnya.


-


langit berubah menjadi warna oren, namun yang di tunggu tak kunjung datang.


"Sangat mengesalkan."


Lagi-lagi, ia hanya bisa memainkan ponselnya yang terdapat game pembuang rasa bosannya.


Dengan tenang kiraa terus memencet layar ponselnya, tanpa ekspresi.


Membuat janji yang tidak sah, dan di buat menunggu puluhan menit membuat perasaan kiraa bercampur aduk.


Dari perasaan kesal, sampai batas tertinggi kesal,yaitu pasrah.


"Dasar siluman."umpat nya kembali.


Ia terus menerus mengumpati reno yang tak kunjung datang, karna keseringan, ia terus menerus mengumpat serakahi Reno hingga memenangkan permainan dengan mudah.


"Berguna juga orang itu" kiraa sedikit tersenyum.


*bug!


Kiraa terkaget,ketika sebuah plastik bening yang membungkus roti di dalamnya itu jatuh ke jaket di pangkuannya.


Kiraa terdiam, bahkan sampai ia kalah di game karna banyak melamun.


"Kau tidak mau?"


Kiraa masih diam.


"Yasudah"


Ia hendak mengambil kembali roti itu, namun segera mendapat tepisan dari kiraa.


"Sesuatu yang di berikan, tidak boleh di ambil kembali" ia menjauhkan roti itu dari tangan reno dan menunjukkan tatapan tajamnya.


seperti kucing yang tidak mau tulang ikannya direbut orang lain.


Reno menarik kembali tangannya.


*kresek.


"kau..."


"Hubungan mu dengan sofia..."


"Hemm?"


"Aku tidak berpacaran dengannya?" ia membundarkan matanya, membuat kiraa menjadi lebih terkesan imut dan lugu.


"Kau sangat bodoh"


karna tidak Terima, ia segera mengubah mimik wajahnya.


"Kau lebih bodoh, menempelkan kertas di sedotan!"ia menatap Reno datar.


"cuih!"


Ia menjauhkan wajahnya.


"sangat tidak ahli!"


"Aku akan mengambil roti itu kembali"


"Hey hey! Tadi aku berkata apa hah!"


"Tidak boleh di ambil kembali!" tegas kiraa.


"Jadi apa hubunganmu dengan sofia?..."


"Tidak ada hubungan apa-apa! kau sangat aneh!"kiraa kembali menyantap rotinya.


"Hah?"


"Kau kenapa sih!"


"Kalo pusing mendingan ke rumah sakit jiwa!"


"Aku bicara apa tadi?"Reno mendekatkan wajahnya ke wajah kiraa.


Karna kaget dan bingung kiraa menjauhkan wajahnya dan menghadang Reno dengan tangannya.


"aduh..." ringisnya, saat tangan kiraa menempel ke wajahnya.


"Tadi kamu bilang aku dan haiden mempunyai hubungan ap-..."


"...y-ya semacam itu" ia kembali mengingat-ingat.


"Oh"singkatnya, lalu kembali menggigit roti.


"kau sangat aneh"


"haiden siapa lagi!" gumamnya.


"langit sudah gelap, seharusnya kau dan aku sudah kembali, sebelum mereka curiga"


"Ya..."


reno tetap tidak mengubah raut wajahnya, ia hanya fokus meyantap roti yang berada di genggamannya.


"Ya kalo gitu ayo berpisah! Jangan diam saja!" kesal kiraa.


"Apa kau tidak tega meninggalkan seorang gadis?"


"Jangan bercanda!"


"Jika kau di culik pun aku tidak peduli" elaknya.


"Ya ya ya, aku sakit hati" ia memutar bola matanya dengan jengah.


Kiraa beranjak.


"Kau juga harus pulang!" ucap kiraa sebagai kata perpisahan.


Karna langit mulai menggelap, mau tak mau ia harus pulang, dan membersihkan kamarnya yang belum sempat ia selesaikan.


-


"Kierra!"ia langsung memeluk kiraa dengan erat.


"hey, ada apa?" bingung kiraa.


Cesa mendongak, tangannya masih melingkar di pinggang kiraa.


"Nonton film lagi ya?"


"heh!"


"Ku kira apa!" ia melepaskan pelukannya dan menatap cesa datar.


"Hehe..."


"Sini laptop mu!"


"Kau buatkan makanan saja!"


"baiklah"


"Laptopnya ada di luar-"


"Bawah jendela?"saut kiraa dengan cepat


"Eh- kok tahu?..." bingung cesa.


"Kebiasaan!"


Satu kata dari kiraa, setelah itu ia langsung pergi ke bangunan yang terlihat lebih ramai dari sebelumnya.


.


Saat kiraa masuk, semuanya terdiam, lalu meminggir.


Kiraa yang paham hanya bisa memasang wajah datar tanpa emosi nya, begini lebih nyaman menurutnya.


-


beberapa menit kiraa menunggu, namun cesa tak kunjung datang, jujur, kiraa sangat tidak pandai menggunakan laptop, apa lagi mencari film yang menarik.


"Huh! Maaf ya!"


"Soalnya agak susah untuk mengambilnya..."


Cesa datang membawa dua mangkuk yang berisikan mie seperti kemarin.


Sedangkan kiraa duduk di bawah, tangannya terhenti ketika mendengar suara cesa.


"Tidak apa"singkatnya.


Ia langsung beranjak dari duduknya dan berjalan keluar.


"Eh- mau kemana?!" panik cesa.


"Aku mau ganti baju dulu!"


"sekalian mandi!"


"Eh- oh oke!"


kiraa berjalan ke luar, memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatnya, sedikit mengerikan jika seseorang melihatnya ke asrama lelaki.