
[55 : END S1]
"Dannnnn, aku akan mengatakan keresahan ku akhir-akhir ini kepada om Dian~".
---
"Itu lah mengapa aku berakhir dengan Ali disini. Jujur, aku tidak menyangka bahwa om akan datang pada saat-saat yang bagus"
Dari awal dimana Kiraa menelpon hingga alasan mengapa ia menginginkan Kediaman Dian untuk beristirahat sejanak.. Semua itu ia ceritakan dengan ringan kepada Pria kekar didepannya. Kini, Kiraa menunggu tanggapan Dian tentang ceritanya.
"Hmm, begitu ya. Sebenarnya masih banyak pertanyaan ku tentang ceritamu, apa lagi bagaimana kau bisa bertemu dengannya. Tetapi kau terlihat sangat lelah"
"Ayo bertemu dengan temanmu, Ali. Setelah itu langsung beristirahat"
"Tetapi...
Belum sempat Kiraa menyebutkan kelanjutan perkataannya, Dian segera melangkah menjauh dari pandangannya.
ah.. Sudahlah. Lupakan tentang itu."
Secara mau-tidak-mau, ia memutuskan untuk mengejar Dian hingga ke-ruangan tamu tanpa saling berbicara satu sama lain.
... Sesampainya di tempat.
Ali yang terduduk dengan gerak-gerik gelisah segera bangkit dan berlari ketika Kiraa muncul.
Disamping Kiraa, Dia menunduk lemas dengan raut yang sedih.
'Apa anak ini sedang memain kan peran atau hal lain sebagainya?.'
'Dia terlihat ingin sekali diberi rasa iba', benak si Kiraa.
"Nona, apa anda marah kepada saya karena tuduhan tadi?. Saya sedang dalam pikiran yang tidak baik saat itu.. " perasaan tulus seseorang terkadang memang susah untuk dilihat, dan dengan masa yang saat ini lebih-dari-hitungan(banyak) -nya orang yang berwajah-dua. Rasanya tak mungkin dapat di tebak. namun, perasaan yang ditunjukkan oleh Ali benar-benar mengagumkan.
Lebih lagi sesuatu bisikan yang menggema di tubuhnya... Yang seolah telah menenggelamkan tubuh Kiraa sampai dasar laut. Itu sesuatu perasaan yang aneh. Dan inilah yang ingin Kiraa katakan ke Dian.
"Apa?, aku? Marah? Sepertinya kau salah paham"
"Bisa saja aku merasa terkejut, tetapi jika kau berpikir aku marah.. Kau salah besar."
"Oh benar. Perkenalkan, ini lelaki yang saat itu aku sebut om. Kau bisa memanggilnya 'paman-tidak-sah' -ku" Ia menghadap ke Ali. Lalu berganti ke Dian.
"Dan ini Ali, rekan pertama-ku"
Merasa tanggung jawabnya terselesaikan, tak lama setelah nya mereka akhirnya berbincang di lembutnya sofa.
Ntah bagaimana pula, Kiraa lupa tentang pembahasan 'keresahan-nya' kepada Dian meskipun Kiraa sudah pulang ke Asrama-nya.
***
*brak.
Kiraa menutup lemari di kamarnya.
"Kau sudah terbangun?, sejak kapan?"
Selagi berbicara dengan Rara, ia mengganti pakaiannya dengan pakaian asli miliknya.
Secara saat ini adalah sore menjelang malam, tidak mungkin lagi hari ini ia bisa pergi ke sekolah.
"Aku rasa saat siang tadi"
Rara mengusap air yang keluar dari ujung matanya hasil dari tidur panjang.
"Rara, bisa 'kah aku mengatakan sesuatu?"
"Ini tentang 'keajaiban' itu."
"Keajaiban?..."
"AH!!" Rara baru teringat.
"Itu adalah perjalanan yang seru ya?, meskipun harus ditunda secepat itu"
Kiraa terpaku melihat Rara yang merasa bersemangat dan terbang kesana-kemari.
'Jadi mimpi itu adalah kenyataan...' sekarang ia tidak dapat mengelak.
Tangannya bergerak menggapai makhluk kecil itu, dan menyeretnya ke tempat tidur.
Karena terlalu keras, bunyilah suara hentak-kan. Semacam 'BUK'.
"Aku ingin kesana lagi untuk yang kedua kalinya. Bisakah kau membawa ku?"
"Apa sekarang?, tidak, tidak!. Aku tidak memiliki kekuatan yang cukup setelah membawamu berpindah dunia" Rara menggeleng hebat kepalanya. Walaupun tertidur hampir 1 hari penuh 'pun tidak akan cukup untuk memulihkan tenaganya.
Berpindah tempat mungkin lah sesuatu hal yang biasa bagi makhluk seperti mereka. Tetapi berpindah dari satu-dunia-ke-dunia dan membawa seseorang, pasti memerlukan banyak kekuatan.
"Tapi tenang lah, aku tidak menginginkannya sekarang"
Kiraa menghembuskan nafas, bersamaan tubuhnya yang jatuh ke permukaan ranjang.
"Aku juga lelah setelah apa yang terjadi hari ini...." hmm~ hmm~.. Ia bergumam dengan sendirinya.
"Biasanya batas tertinggi-nya itu 3 kali dalam sehari, dan itu juga pesihir yang mampu melakukannya"
"Memang Kiraa kenapa?, Ada seseorang yang menyusahkan dirimu lagi 'kah?" Rara merasa khawatir.
Seketika Kiraa terbawa suasana dan mengingat kejadian tadi saat munuju Asrama...
-
10 menit berkendara, dia sedikitpun tidak mendengar suara dari seseorang yang duduk disebelahnya.
Karena khawatir dan penasaran, dia melirik wajah yang menghadap ke jendela itu beberapa kali.
"Apa dia adalah paman anda yang sesungguhnya?"
"Saya ingat bahwa anda menyebutnya 'paman-tidak-sah'"..
Lirikan ke-3, akhirnya dia melihat wajah yang sangat samar-samar menatap kearahnya.
Wajah itu.. Tidak dapat dikenali oleh sebab yang tidak diketahui.
Tetapi wajah itu yang telah mengelabuhi banyak orang hanya dengan sedikit hiasan-di-wajah nya.
"benar. Dia bukan paman ku, melainkan seseorang yang kuakui", "kenapa kau bertanya?".
"'kurasa, Kierra tidak tahu pasti 'SIAPA' paman yang diakuinya tersebut'. Itulah yang ingin saya sampaikan setelah menjadi rekan-sah anda"
Senyuman miring yang dibuat Ali pantas mendapat apresiasi dari Kiraa secara terhormat, Karena meskipun tersenyum mengerikan seperti itu.. Didalam benak Kiraa hanya menganggap raut wajah itu sebagai sesuatu yang patut ia 'beri cinta'(cubit) di pipi-nya.
"Apa maksudmu?, Kenapa aku bisa tidak tahu dengan seseorang yang dekat denganku?"
"Lalu, apa anda tidak tahu Damian So Holckert??" tampaknya ia sangat terkejut dengan kata-kata yang Kiraa keluarkan.
Dan sekarang, Kiraa sendiri semakin dibuat bingung oleh Ali.
"Damian.. So Holckert?"
"Iya!, dia adalah satu-satunya keturunan dari keluarga kaya itu, So Holckert"
"Apa kau sebelumnya tidak tahu mengenai ini?"
Dengan tegas Kiraa mengatakan "tahu. hanya saja aku tidak yakin dengan kecurigaan ku itu." meski kini ia sedang melamun memikirkan kata-kata Ali. Yang bisa ia lakukan hanya berbohong dan tentunya tidak membongkar dimana dan bagaimana mereka dapat bertemu.
"Kau juga jangan lupa dengan perjanjian kita tadi"
"Ohh..iya!, saya tidak akan melewatkan kesempatan ini!"
"Sejujurnya, selama anda tidak menjadi nona Sofia, saya dalam banyak kesulitan untuk menyembunyikan diri saya dan mengatur perdagangan yang di-dirikan oleh paman sofia. Agar tuan dan nyonya tidak curiga..".
Kiraa sudah menduga. Memang salah dirinya juga karena menyelesaikan segala masalah dalam satu aksi, dan membuat Ali dalam kesulitan. Tetapi inilah pilihannya. Dan kedepannya tidak akan...
"Aku menjenguk mu besok malam, karena aku harus ber-sekolah. Dan aku juga akan melihat peningkatan mu di hari pertama"
tanpa sadar, mereka sudah berhenti di dekat halte sekolah.
Kiraa 'pun membuka pintu mobil Ali yang telah diperbaiki dan segera turun sebelum ada yang melihat-nya.
"Itu sudah lebih dari cukup bagi saya, Kierra".
....
"Huh.. Sepertinya kita salah bertemu dengan seseorang, Rara. "
Ia bangkit kembali, dan mulai sadar dari lamunannya.
"Seseorang?, maksud Kierra?"
"Apa kamu ingat om Dian??, lelaki yang memiliki karisma itu?. Ternyata dia adalah keturunan dari keluarga terpandang"
Di sore yang menjelang malam ini, kepala Kierra terasa berputar-putar.
Memikirkan bagaimana bisa ia tidak menyadari itu?, padahal dari Kediamannya saja sudah megah sekali. dan sekarang Ali mengetahui rahasianya.
"Bukan 'kah dari awal memang begitu?"
"Iya juga ya. Dian.. Damian.. Dian, Damian"
"Namanya juga tidak berbeda jauh"
"Dan sekarang 'pun akan susah jika kita ingin memutuskan hubungan dengan Damian itu..., secara terpaksa aku mengakui jika aku masih memerlukan kekuatannya untuk menjadi 'wanita kuat dan hidup bebas' di kota ini"