I WANNA RESET

I WANNA RESET
Pemabuk yang jatuh hati #50



Semua terulang..


Kau yang disana kembali berada di depanku


kau yang tersenyum selayaknya ingatakan yang tak terduga.


Saling menatap seakan dunia memperbolehkan


Apakah kau menjanjikan, Bunga Penghangat hati?


haha, marilah kita bersenang ria, sephoren ne~


——————————————


11 pilar kerajaan malam, penganut diri yang tak luput dari ambisi dunia. Yaitu 11 posisi agung yang menjadi bagian terpenting dari kerajaan malam.. < Isera Guran night >.


"Lioc, kau dengar itu?"


"Nyanyian malam.. Mengusik, bukan?"


"..."


"Diam lah."


Marcher la luna, pengusik sebenarnya yang memiliki tingkat posisi ke-4 dari 11 peringkat. Tidak banyak informasi tentangnya, meski dialah pencari berita terbesar disana.


*klo-tak. Klo-tak.


"Lioc itu tidak senang dengan kedatangan suaramu"


*koak! Koakk!


"Kau dengar itu?".


"Ryasa nona, cukup. Hari ini anda membawa hewan itu lagi.. ,lain kali saya akan membawanya".


"baik, baik.. "


Ryasa, putri kerajaan ter-muda dari Kerajaan Isera. Peringkat ke-6.


Dibelakang Ryasa selalu terdapat Lioc disana yang hadir untuk melayani tuan putri itu, jika Ryasa urutan ke-6, uniknya Lioc berada di urutan ke-5. Hal itu dapat terjadi karena Lioc berasal dari Kerajaan tetangga yang martabatnya lebih tinggi.


Itulah yang membuat Lioc sedikit lebih tidak sopan kepada putri Kerajaan ter-muda tersebut.


Lioc berpindah demi meningkatkan kedamaian antar negara, dan terpilih menjadi pelayan setia sang putri yang memiliki kepribadian buruk. -Dan penyanyang gagak.


-


"Hai~"


Peringkat 2 menghadap.


"Berryl??"


Semua orang menoleh menatap peringkat tertinggi di antara mereka.


Kali ini rapat-bundar hanya dihadiri sedikit orang, ialah peringkat 7,8,9,2,4,5,6. Beginilah suasana di keluarga 'buatan' mereka.. Yang kekurangan beberapa orang dikesempatan kali ini.


"Bukan 'kah kau sibuk akhir-akhir ini?, Ratu benar-benar membuat rencana yang besar musim ini".


"Ya. apa kau senggang?"


Mereka bertanya secara beruntun, membuat yang ditanya merasa semakin tertekan.


"Tentu saja aku sibuk, namun inilah salah satu jadwal ku hari ini... Tetapi, setelah kalian berbicara seperti itu, kurasa kalian yang menyibuk-kan ku sekarang"


Berryl menghembuskan nafas beratnya. Terlihat kelelahan yang menyatu dengan kegelisahan di raut wajahnya.


Beberapa waktu berlanjut mereka sudah berada di kursi, duduk dengan anggun dan ber-etika...menunggu rapat dimulai. Begitu mengejutkannya, Westoln muncul saat rapat bermulai. Semua pasang mata menatapnya dengan tajam bahkan sebagian dari mereka mematung seperti batu.


"..."


SIAPAKAH WELSTON?, ada berita yang mengatakan. Bahwa, pada dahulu kala dia memiliki kekasih yang manis dan hangat sehingga pada kematian dari kekasihnya itu, dia selalu menyanyikan lagu dan memainkan alat musik di fajar-hari sampai hari ini juga, dan itu telah berlangsung 3 tahun. Jika berbicara tentang posisi apa yang sekarang dijalani Welston, ia adalah pemilik posisi dibawah berryl, yaitu peringkat 3 dari 11 peringkat.


"Sampai hari ini pun aku masih bertanya-tanya, kenapa peringkat tertinggi itu jatuh kepadamu. Yang jelas-jelas lelaki-menyedihkan!" dengan tangan yang ia dekap didadanya, Ryasa menyinggung Welston yang selalu tidak bisa lepas dengan kegiatan bermain alat musik dan bernyanyinya yang Ryasa beri nama 'RITUAL PEMANGGILAN'.


Namun ocehan itu tak didengar oleh Welston, seolah ia berusaha untuk tidak terjerumus kedalam perbincangan mengenai kekasihnya...


Rapat 'pun kembali dimulai setelah tertunda beberapa saat.


"Ehem.. Satu per satu, pengembangan yang Ratu lakukan terhadap perdesaan itu akan mengambil korban."


"Aku telah melihat beberapa laporan tentang itu, dan sepertinya kalian bisa menentukannya sendiri..."


*Srak. Srak..


Berryl melempar pelan kertas yang menunjukkan hasil-hasil laporan dalam minggu ini.


Tatapan serius juga terpampang ketika membagikan kertas itu.. Yang biasanya memberikan kehangatan dan senyuman pereda kegelisahan, ternyata dapat memiliki tatapan seperti itu ketika menunggu tanggapan dari rekan-rekan nya.


"Huh?, kau benar." Delina de, wanita menawan bercampur elegan yang bekerja sebagai bawahan setia Ratu yang memiliki banyak profesi tambahan. Delina dalam berbisnis adalah sosok wanita yang tidak banyak menunjukkan perasaannya, dan cenderung melakukan segala hal


Agar dapat mencapai target.


"Saya menyarankan, untuk menunda pengembangan ini dan menyelidiki tentang desa tersebut."


"Karna saya merasa jika kita melanjutkan ini, banyak pekerja yang akan mati dan itu akan memperlama prosesnya pada akhirnya". Ia peringkat ke-7.


"Hmm, bukan kah hal ini terjadi karena curah cuaca yang buruk?, aku dengar disana terjadi badai salju yang hampir menutupi seluruh permukaan desa"


Semua peserta rapat terdiam membisu, membuat perkataan Marcher seakan masuk akal ketika dipikirkan kembali.


"Ada saran tambahan?"


... Berryl mengangguk.


"Saranmu diterima."


"Semua masalah terselesaikan, bukan?"


"Kalau begitu rapat selesai" Ryasa berdiri, dalam setiap rapat.. Dia akan merasa bosan dan dia yang akan pertama kali keluar dari rapat.


Dan setiap Ryasa merasa bosan, Lioc harus hadir untuk menghiburnya.


"Tunggu, nona Ryasa!!"


Lioc mengejar nonanya.


"... Kita akhiri disini saja, Terima kasih semua yang telah hadir dan memberikan saran kalian"


"Tidak masalah berryl. Kami senang dapat meringankan pekerjaanmu, meski tahu pekerjaanmu itu tidak lah sedikit".


"Terima kasih juga rekan Delina.. Saya undur diri terlebih dahulu"


-


2 tahun berlalu.. 11 pilar yang pernah diceritakan itu sekarang tidak pernah terdengar kembali oleh penduduk kerajaan malam.. Nyanyian "pemabuk yang jatuh hati" pun tidak pernah terdengar. Semua semenjak 'kegiatan aneh' sang Ratu yang benar-benar memusnahkan mereka semua.


*klo-tak.. Klo-tak...


Langkah dua orang yang menyatu menapaki tanah pemakaman yang terpencil di sebuah hutan.


"Mereka mati cepat, ya?."


"Diam" "ayo pulang".


"Tetapi, kita baru saja datang yang mulia"


"Itu tidak berarti lagi, setelah aku melihat mereka... Sudahlah, kita masih memiliki pekerjaan dirumah".


—————————————————————


*(srekk.)


"ahh... " kenapa aku jadi merasa bersalah?.


"kenapa anda diam, nona?"


kiraa menoleh, beberapa detik yang lalu ia baru saja membunuh sebuah keluarga dengan pisau dapur.


ia ingat bahwa rencananya tidak seperti ini.. jika tidak salah, banyak rencana jahat yang tertanam dipikirannya.


namun secara tiba-tiba siasat membunuh menggunakan pisau muncul beberapa saat setelah dia dan 'bibi-pamannya' melakukan perbincangan.


"sekarang kita akan melakukan apa?" dia, lelaki yang menagih janji kierra yang telah terlupakan.


"hmm... ya kita harus melihatkan wajah kita kepada atasan-mu itu, lalu.. pergi ke tempat om".


"..tempat om?"


lelaki ber-jas hitam itu tampak bingung dengan panggilan yang tidak biasa baginya.


*klangg.


'pria ini sangat kuat, jika kuantar ke tempat om, apa om akan menerima dia?"


"lupakanlah. sekarang bersihkan sisa-sisa barang buktinya, dan pergi untuk mengambil bayaran dirumah sofia."


kiraa mengambil pakaian merah muda yang tersimpan di kamar bibi.


"kita akan pergi melakukan peran itu, lagi?".


"selama uang masih mengalir, aku dengan senang hati akan melakukan peran ini, dan kau yang akan menemaniku, benarkan?".


"a-.. a-ku.. aku.. "


"sekarang keluar lah. apa kau ingin melihatku berganti baju?"


*BRAKK!!


"... kurasa tidak."—


- [DIKEDIAMAN SOFIA] ...


20 menit telah berlalu. jarak antar rumah bibi Sofia dan Mansion kedua orang tua Sofia tidak terlalu jauh, hingga hanya dibutuhkan sekitar 20 menit-an untuk dapat pergi ke Mansion tersebut.


"cepat, dimana tongkat nya??"gugup kiraa.


...


setelah turun dari mobil milik.. pelayan setia keluarga Sofia. dengan segenap hati, pelayan itu menuntun Sofia alias kiraa untuk masuk kedalam.


Dan tak perlu banyak waktu, ibu dan ayah sudah berdiri tegap menyambut kedatangan sang bintang dengan senyum yang cerah.


"Sofiaaa~" sambut sang ibu dengan tangis rindu.


"mama" balas sofia.


dibalik senyuman kierra yang berperan menjadi sofia, terdapat senyuman bermakna yang terselubung ketika semuanya berjalan sesuai prediksi. dan tak lama lagi, ia akan mendapat bayaran... itulah poin penting-nya.


"mama, sofia sangat merindukan kalian"


"apa kamu tidak merindukan papa?".


"tentu saja. rindu papa Fian juga" dengan perlahan sofia berjalan kearah pria tinggi itu dan memeluknya, selayaknya anak yang merindukan ayahnya.