
...--FLASHBACK--...
"om!" panggilnya dengan penuh semangat.
setelah kierra selesai bersiap-siap,ia langsung membuka gagang pintu itu, lalu masuk.
"hmm?"singkat om dian.
"hih!"
ia memutar bola matanya jengah.
"kenapa sih!" ia menatap kiraa dengan bingung.
"tidak ada apa apa"
"tidak jelas"
"om gak ada niatan beri semangat buat bu kantin?"
"kasian loh"
"tidak"katanya tanpa melihat kiraa.
"sebenarnya aku mimpi apa sih! kok aku bisa ketemu orang seperti ini"
setelah menempu perjalanan yang lumayan lama, mereka pun sampai ke daerah rumah bu kantin, kiraa masuk kerumah itu sendirian, ia sudah membujuk dian namun orang itu tetap tidak mau, alhasil kiraa sendiri yang kesana dan memberi semangat untuk bu kantin.
*cklek!
"sudah?"
kiraa menoleh.
"iya"
lalu ia memasang sabuk pengaman dan duduk manis.
"gimana, apa dia masih sedih?"tanya om dian.
namun ia tidak mendengar respon, malah ia mendengar suara kiraa yang membuka pintu.
"hey! mau kemana?" paniknya.
"om tunggu disini, jangan kemana mana!"
"ha?" ia terbengong bengong melihat kepergian kiraa.
entah mengapa tiba-tiba kiraa pergi dengan tergesa gesa, hal itu membuat dian semakin gelisah, sesekali ia memukul setir mobil itu.
-
"kau sudah terlalu bosan hidup ya?" ejek nya, ia adalah segerombolan orang yang sering melukai orang sekitar sana, bahkan ada yang sampai tewas.
*bug!
suara itu hasil dari tangan kiraa, ia membanting kepala orang itu ke dinding.
"kau salah"
"bagaimana dengan dirimu?"ia membisikkan kata kata tersebut di telinga orang tadi.
"tuan!"
mereka langsung menyerang kiraa tanpa aba-aba.
kiraa menghindar, ia menendang punggung salah satu dari mereka.
"dasar gadis sialan!"umpatnya dengan wajah yang memerah sangking kesalnya.
"kasar sekali"
kiraa menjambak orang itu yang mau memukulnya.
"kau sangat tampan"
"jika wajah mulus mu di hiasi darah" ia tersenyum kecil.
-
"lelah?" ia tersenyum puas melihat karyanya.
ia mengambil sebuah pisau yang tergeletak di sekitar sana, pisau itu sudah berkarat, namun tetap saja jika benda itu terkena kulit mulus seseorang pasti akan mengeluarkan darah.
kiraa memperhatikan pisau itu.
"yah,berkarat"
"k-kau mau apa?" gugupnya.
kiraa mendekat, lalu berjongkok tepat di depan orang itu.
"lelaki itu tidak boleh menangis"
"ha?"
kiraa mengarahkan pisau tersebut ke wajah orang yang berada di depannya, pisau itu dengan mulusnya merobek kulit lelaki itu, dari alis hingga pipi.
"arggg!!"ia memegangi mata kirinya.
darah terus mengalir, menetes hingga tanah dan memberikan kesan tak terlupakan bagi orang yang merasakannya.
"perkenalan yang indah" ia menyaksikan kepedihan orang itu,tanpa rasa kasian.
"menerutku ini membosankan, namun ini pertama kalinya aku melakukannya, jadi tangan ku bergetar" ia meletakkan pisau di depan orang tersebut.
"kenapa k-kau melakukan ini!"
"di tanya segala lagi! tadi belagu banget sekarang tanya kenapa!"
ia tersenyum getir, jika di perbolehkan ia ingin menyuapi orang itu dengan makanan hewan.
"sekedar hadiah kecil, karna kau pernah mengajariku"
orang itu mendongak, ia bingung apa maksut perkataan itu
kiraa duduk di depan orang itu.
"lagian menyenangkan jika kita imbang"
"apa kau pernah melihat festival?"ucapnya lagi, namun kali ini ia hanya basa basi tanpa maksut tertentu.
"tidak"
"oh"
"oh ya, aku sarankan kau tidak melaporkan kejadian ini" "karna aku pemula, dan bayarlah pengobatanmu sendiri, aku tidak punya uang"
kiraa berdiri, ia menatap mereka beberapa detik lalu pergi dari hadapan mereka.
"kenapa keningmu?" khawatirnya, ia memerhatikan luka tersebut lekat lekat.
"tidak apa,om"
"om ada sapu tangan?"
"ah, iya!" dian memberikan sapu tangan yang sering ia bawa.
"Terima kasih"
"kenapa tidak pakai tisu?"
"eh, iya juga ya" "udahlah relakan saja, bekas ingus juga loh!"
"sebenarnya kau kenapa?"
"sebentar lagi larut malam, om mau menginap di rumah bu kantin?"
"eh, tidak!"
"nah makanya!"
-
"seharusnya ia tidak kenapa napa kan jika berada di sekolah?"
"boo!"
"hah!" ia membalikkan badannya.
"kau sedang apa?"ia tersenyum kecil, ia adalah kierra.
"tidak ada" dinginnya
"woah, sepertinya kau mengantar seseorang kesekolah"kiraa melihat lihat sekolah itu,lumayan besar juga.
"bukan"jawabnya dengan tegas.
"berarti kamu yang sekolah?" ia menatap lelaki tersebut.
"ha? bukan lah!"
"terus?"
"aku sibuk!" ia membuka mobilnya.
"apa kau mengenal dia?"
"dia buta ya? tapi kemarin aku melihatnya pulang sendiri deh"
sontak lelaki itu menoleh.
"k-kau tau?!"paniknya.
"tidak tidak, aku bercanda"
"tapi aku ingin berteman dengannya"ia berjalan ke arah gerbang, namun ia langsung di hadang.
"e-ey!"ia menghadang kiraa.
"tapi aku ingin masuk!"
"k-kau tidak boleh berteman dengan nya"
"minggirlah!"kiraa menyenggol lelaki itu dengan kasar.
"t-tapi..." ia menggeleng.
dengan tiba-tiba lelaki itu menggendong kiraa, sontak semua orang yang melihatnya menatap bingung.
"hey, kau mau apa!"
kiraa memberontak, emang dirinya karung? yang di bawa seenaknya.
"hey!"
*bruk!
lelaki itu menaruh kiraa di mobilnya.
"sstt!"
"kau tidak boleh berteman dengannya" tegasnya.
"kenapa emangnya"ia bersender.
"dia tidak sebaik yang kau liat"
"tapi aku tidak melihat dia adalah orang baik baik"
"ha? kau tau?!"
"tentu"
"otak gadis ini sering berpindah-pindah!"
"tolong jangan beritau siapa pun"mohonnya.
"emang siapa yang mau!"
"sangat mengesalkan!"jengkelnya.
"ya, baru tau?" ucap kiraa bermaksud sedikit bercanda. .
"menyeramkan!"
kiraa terdiam, ia mendekap tangannya di dada.
"kalo begitu turunlah, buat apa kau disini!" usirnya tanpa peduli bagaimana reaksinya.
"sepertinya kau tidak suka pekerjaan seperti ini" ucap kiraa dengan dingin.
"apa maksutmu?" ia menautkan alisnya.
kiraa menoleh, ia memperlihatkan senyum kecilnya.
"bukannya kau benci dengan pekerjaannya namun terhadap orangnya, bukan?"
"a-apa m-maksutmu!"
"kan benar dugaan ku!" ia kembali tersenyum, namun kali ini senyumannya lebih lebar.
"kau membenci nonamu bukan?"
"kau membenci perilaku nonamu yang semena mena seperti diriku"
lelaki itu terdiam.
"bagaimana jika begini, kita ajarkan dia kekerasan yang sebenarnya"
"apa maksutmu?" bingungnya.
"seorang anak, perempuan atau pun lelaki harus tau betapa mengerikannya dunia, namun bukan berarti tidak ada kebahagiaan, namun hanya sedikit penderitaan"
"ayah nona mu akan mengerti kok"
"kau pasti tersiksa dengan tugas yang kamu tidak sukai namun harus di lakukan seperti menjaga nona mu"
lelaki itu masih terdiam, memikirkan perkataan kiraa yang sebenarnya menyemangati dirinya.
"nona mu itu bisa berjalan dengan baik, namun semua orang tidak bisa melihat dengan benar, hanya kau yang bisa melihatnya karna kau adalah penjaganya"
"kau menghasut ku bukan?"
"eh kelihatan banget ya?"
"namun bukan berarti aku tidak terhasut"ia tersenyum miring.
" jadi kau menyetujuinya?"
"tentu" jawabnya dengan yakin.
"apa kau mempunyai seseorang yang sama benci nya dengan nonamu"
"aku tidak tahu pasti, tapi ada satu orang yang berperan menjadi salah satu pembantu nona, sebenarnya ia sangat menyayanginya sih"
"dan dia adalah orang yang paling tersakiti di rumah itu"
"jika dia membencinya, bukan lah hal yang wajar?"