I WANNA RESET

I WANNA RESET
keanehan #32



beberapa menit mereka terdiam dengan keadaan bediri sembari menunggu cucian mereka selesai.


"kau tidak lelah apa berdiri seperti itu terus?" kiraa mencoba mencairkan suasana yang mencekam, walaupun dirinya masih emosi dengan sifat keras kepala lelaki di sampingnya.


"kau?"


dan sifat serba bertanya kembalinya...


"ck! " decak kiraa.


"kau yang membunuh gadis itu kan?"


seketika bola mata kiraa membulat, ia langsung menatap reno bingung.


"oh" singkatnya.


seolah tau apa jawaban kiraa ia langsung mengambil baju nya yang sudah tercuci.


lalu meninggalkan kiraa sendirian.


"hey!-"panggil kiraa.


"gila ya?"


"bajunya tidak di keringkan dan lansung ia bawa?"


"tapi ngomong-ngomong dia berbicara apa ya?"


"ah sudah lah, emang orang gila"


"tidak waras"


kiraa langsung mengambil baju seragam nya yang kering, ia membawanya ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


ia tidak berniat menggantinya di kamar cesa, karna jam segini pasti cesa sudah terbangun dari tidurnya.


setelah mengganti pakaian ia coba coba untuk pergi ke kantin, siapa tahu buka, karna ia rindu masakan bu kantin di saat pertama kali datang.


dan tak disangka-sangka bu kantin yang beberapa hari lalu baru kehilangan anaknya sudah kembali bekerja seperti biasa, ia sedang merapikan tempat duduk.


terukir senyum manis di wajah kiraa, dengan jalan yang cepat ia mendekati bu kantin itu.


"bu kantin!" sapanya dengan ceria.


"ya ampun, nak"


"ibu kaget" ia memegangi daerah jantungnya yang kiraa tebak, jantung nya berdetak sangat kencang.


"hehe.."kiraa cengengesan dan menampilkan gigi putihnya itu.


" pagi-pagi udah ke kantin aja, gak lagi ngerjain tugas yang kelupaan kan? "tanya bu kantin.


kiraa yang mendengar pun tertawa terbahak bahak,menurutnya itu sangat lucu.


" aku bukan pelanggan setia yang menulis tugas di kantinmu, bu"ia masih tidak menghentikan tawanya.


"bisa aja kamu nak" ibu itu juga ikut tertawa, walau sudah kehilangan anaknya, setidaknya ada seseorang yang mau menemaninya.


"bu kantin, biarkan kikierra yang membersihkannya"


"loh, tidak perlu, ibu bisa sendiri"enggannya.


" nanti kalau kamu yang membereskannya terus ibu mau ngapain"


" jadi terlihat seperti memperbudak gadis kecil ibu ini"


"kalau begitu aku memesan makanan dan minuman"


"mari bersama sama memperbudak"


"ada ada saja kamu kiraa"


ibu itu pun langsung pergi untuk membuatkan pesanan kiraa, dan kiraa membersihkan meja meja.


mereka berdua sama-sama bekerja, kedua terlihat sangat serius, sesekali mereka bercanda gurau dan saling tertawa bersama.


secara tiba-tiba ada beberapa gadis yang datang, mereka berjalan mendekati kiraa dengan gaya sombongnya.


mereka menggunakan seragamnya tanpa rompi hitamnya, di pinggang salah satu perempuan itu terdapat jaket yang ia ikat.


ia juga memakai beberapa polesan di wajahnya.


"Hai, kierra?" panggilnya dengan nada sombong walau terkesan ceria.


kiraa yang merasa namanya di sebut langsung menoleh ke arah samping.


"ada apa?" bingung kiraa.


"oh, kau benar benar kierra?" ia bersedekap dada.


"ya?"


kiraa memperhatikan satu persatu dari mereka.


para gadis itu saling berbisik bisik dan menatap kiraa remeh.


kiraa yang merasa di bicarakan langsung ikut bersedekap dada dan memasang wajah datar.


"oh, begitu ya"


"tidak ada yang penting sih, tapi kami ingin berbicara sesuatu kepadamu"


"bicara apa?"


"hmm, kau tidak sabar ya"


"kau tau pembulian 'kan?"


ia mendekat lalu berjalan memutari kiraa.


"kenapa?"


gadis itu berhenti di samping kiraa.


"ya walaupun kau tidak sekaya kita, tapi mungkin kau mau menerima ajakanku"


tangannya terulur, ia hendak menyentuh pipi kiraa, namun kiraa menoleh.


karna kaget ia menarik kembali tangannya dan mengepal di belakang tubuh nya.


"hah?"


"aku bisa ikut ke kelompok kalian?"


karna melihat keantusiasan orang di depannya ia memalingkan wajahnya dan bersikap sombong.


"tentu, kau harus membanggakan ajakanku ini"


ia mengibas helai rambutnya.


"terimakasih atas ajakan anda"


kiraa membungkuk, memberi hormat.


sangking kegirangan nya,gadis sombong itu tak sadar jika ia melepaskan jaket di pinggang nya.


dan memakaikannya di pinggang kiraa.


"ha?" kaget kiraa.


"ini, aku hadiah kan ke kamu karna sudah patuh"


"benarkah?" tanya kiraa tak percaya.


"tentu, apa aku tidak akan miskin jika


memberikan baju murahan itu kepadamu"


tentu dengan senang hati kiraa menerimanya.


"jadi tunggu apa lagi?"


"cari lah murid-murid kutu buku yang bisa di buli" ucapnya.


"tentu"


setelah itu kiraa bergegas pergi dari hadapan gadis sombong itu dan teman-temannya.


"lucy"


"bukan kah dia terlalu lugu?"


"bukan kah orang begitu yang bisa di kendalikan?" ia tersenyum miring menatap kepergian kiraa yang masih membekas di pikirannya.


"iya juga ya"


"satu persatu semua murid di sini akan ku kuasai..."


"setidaknya yang ini tidak begitu sulit di taklukkan" ujarnya.


"mari kita lihat kinerja gadis kecil itu" ia kembali tersenyum miring.


mereka berjalan ke arah yang sama seperti kiraa, tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang mengamati setiap tindakan mereka.


ia terlihat tenang, udara yang lewat pun seperti enggan untuk berdekatan dengannya.


"2 teh dingin, bu"


...---...


"hey!"


"ikuti perintah ku!"


amuk kiraa.


dengan patuh gadis berkaca mata itu duduk di lantai, ia pasrah.


"wah, anak yang baik"suara lucy yang baru saja datang.


"ternyata secepat itu ya kau menemukan korban"


semua orang terkaget karna kedatangan lucy, si ratu pembuli yang selalu mengedar info info yang tidak pasti.


mereka yang ingin membantu gadis berkaca mata itu tiba-tiba bernyali ciut.


siapa yang tak kenal lucy margaret, orang kaya yang termasuk orang penting di sekolah ini, ia telah menguasai sebagian murid di sekolah ini, namun yang berbeda darinya adalah, ia tidak menyukai reno si pangeran sekolah, melainkan salah satu teman reno.


"kierra, apa kau akan membiarkan dia berdiam saja tanpa luka sedikit pun?"ha sut lucy.


tau apa yang di maksut lucy, kiraa segera melanjutkan aksinya yang sempat tertunda.


*dug!


kiraa menendang kaki gadis berkaca mata tersebut dengan pelan.


ia mendekatkan wajahnya.


dengan sekuat tenaga ia menjambak rambut kepang gadis itu, hingga wajahnya terangkat.


namun anehnya gadis itu tidak menangis atau semacamnya, hanya saja alisnya bergerut menahan rasa sakit di kepalanya.


"salah"


"ha? apanya yang salah?" bingung lucy.


"kalian sedang apa" tegas seorang bapak bapak yang bersetelan jas hitam.


"kau yang disana, lepaskan tanganmu dari rambut gadis itu!"


wajahnya mulai bewarna merah dan urat-urat di tangannya pun muncul, menunjukkan seberapa marah dirinya.


seolah terpanggil, kiraa menoleh dan melepaskan jambakannya dari rambut kepang itu.


bapak sekolah itu terdiam, ia membelalakkan matanya.


"saya cantik pak?" ujar kiraa tak tahu malu.


lucy yang mendengar pertanyaan kiraa pun ikut membulatkan matanya.


bapak itu tidak bergeming, ia masih asik dengan pikirannya sendiri.


*drttt... drttt...


suara ponsel kiraa.


ia membiarkannya dengan tangan yang masih ia angkat.


setelah getaran itu terhenti ia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya.


kiraa sempat terkejut saat melihat panggilan tak terjawab dari om nya, dengan tergesa gesa ia berjalan menuju gerbang.


kenapa?, karna semalam ia menyuruh dian untuk datang membawa barang serta pesanan yang ia suruh.