
"Sedikit" jawabnya.
"Apa?!"
"Emm, sepertinya iblis kedudukan tinggi." ucapnya, tanpa mendengar teriakan rara.
"Jadi apa yang bisa ketua lakukan agar mengusir perempuan itu"
"Sebenarnya jika di biarkan saja sih akan mati juga"
"Apa lagi mengingat bahwa iblis seperti itu sangat mahal untuk membayarnya"
Rara merinding.
"Tapi takutnya sebelum mati dia berbuat sesuatu kepada tuanmu,hingga mati"
"Sebenarnya aku harus berbuat apa?"
"Ini" ia melempar botol kecil yang berisi cairan berwarna merah pekat.
"Berikan ini, maka jiwanya akan lebih kuat"
"Apa ini..." rara menggantung kata-katanya.
"Yap!"ia mengedipkan sebelah matanya.
"Itu bisa mengakibatkan jiwa ganda, walaupun tidak sepenuhnya sih"
"Ketua! Apa itu tidak berbahaya?"
Panik nya, apa tadi katanya? Jiwa ganda? Yang benar saja.
Padahal rara ingin menuntaskan masalah ini dengan normal, bukan melahirkan kiraa lagi.
"Hey! Tenang!"
"Aku hanya bercanda! mana ada ramuan seperti itu disitu, ramuan ini akan membuat tuanmu memiliki keterikatan dengan penunggu sungai suci di kerajaan"
"Ohh, apa yang ketua maksud?" rara memiringkan kepalanya.
"Akhh! Ku pikir kau tau!"
lelaki itu berjalan mengarah ke dinding.
Rara terdiam mematung ditempat, menunggu orang itu agar berbicara kembali.
"Lihat" ia menatap ke salah satu bingkai di dinding itu.
"..."
"Siapa itu?" bingungnya.
"Salah satu orang yang pernah mengalami jiwa ganda, penunggu sungai suci"
"Siapa namanya?"
"vesper"
-
"Apaan ini?" kiraa mengangkat tinggi-tinggi botol yang diberikan rara.
"ramuan itu akan membuat mu kuat selama beberapa hari"
"Kau sudah bertemu ketuamu itu?"
Sebelum kiraa menyimpan botol itu di sakunya, ia mengelap botol itu terlebih dahulu.
"Sudah"
"Oh"
"Tapi ini benar-benar bisa membuat kuat? Untuk apa, apa aku akan melawan bos?" tanya nya berturut-turut.
"Jangan bertanya!!"
"Aku takut kalau kau kenapa-napa"
"Lawanmu itu iblis, bukan manusia biasa seperti mu"
Kiraa tersenyum.
"Kukira kamu akan lama berada disana"
Mendengar hal tersebut, rara dengan sigap menepis perkataan kiraa.
"Kiraa salah, aku berada di sana cukup lama kok"
"Benarkah?"
Kiraa menaruh dagunya di telapak tangannya.
"Jadi...apa yang kau gunakan dengan sisa foto ku kemarin yang kau bawa, hmm?"alisnya terangkat.
"emmm...." rara memalingkan wajah nya dengan tangan yang menggaruk kepala.
sangat pening rasanya.
Melihat gelagat rara yang aneh itu, kiraa menyimpulkan sesuatu dan beralih berdiri dari duduknya.
"Kalau kamu tidak mau bicara,ya tidak usah sekalian"
Setelah berkata,kiraa langsung pergi dari hadapan rara.
Rara awalnya terdiam, namun persekian detik kemudian ia terbirirt-birit menyusul kiraa.
*kriettt....
"Buku ku?" bingung kiraa.
Saat ia membuka pintu, ia melihat buku hariannya yang sudah tergeletak di depan pintu asramanya.
"Kenapa ada disini?" kiraa berjongkok, meraih benda tebal itu.
"Kau lupa menaruhnya mungkin"asalnya.
"Maaf ya, aku tidak menerima jawaban aneh dari mulutmu, jelas-jelas aku menaruhnya di meja!"
"Mungkin juga angin, lagian kau manusia, pasti bisa lupa"
"Kamu kiraa Ini didunia mu, angin saja bisa menggeserkan benda tebal ini"
"Ck!"
Baru saja bertemu beberapa menit lalu, dan sekarang langsung bertengkar saja.
Kierra berdiri, menghampiri meja belajarnya dan menaruh buku tersebut dengan asal.
Karna letih, ia berniat untuk tidur saja, kenapa tidak? Teman nya saja sedang sibuk, hari libur begini seharusnya ia gunakan untuk bersenang senang, namun apalah jadinya.
Setelah menaruh buku itu, kiraa mendudukkan dirinya dikasur lembut nan tersayangnya,saat ini.
menyentuh halus ujung kasur dan tersenyum simpul.
Sayangnya, rara menyadari itu dan ikut membanting dirinya di kasur lembut itu.
"Kier? Apa kau sibuk?" tanya rara sambil menatap langit-langit kamar.
Kiraa bingung, ia menoleh ke arah rara dan menatap malas gadis mungil itu.
"Kau ingin memintaku membelikan semua yang kau mau? Seperti hari pertama keluar dari rumah?"
"Aku sedang miskin oke?" kiraa memajukan kedua tangannya, menolak pemikirannya sendiri.
"Ish, bukan lah"
"Lalu?" kiraa memiringkan kepalanya.
"Apa kau tidak ingin mengenal namaku..."
"Aaaa! bukan, bukan seperti itu"elaknya.
Ia membuka sebuah halaman.
"Lihat" ia menunjukkan sesuatu yang ia maksud.
Rara merangkak mendekati buku itu, menajamkan matanya.
"Ha?" bingungnya.
"Lihat?itu namaku"
"Ya namamu memang kierra!"
"Iya, memang kierra, tidak ada kepanjangan"
"Jadi kita tidak perlu berkenalan"
Jelasnya lalu menurunkan bukunya.
"J-jadi tidak perlu berkenalan?"
"Tidak dong"
"Tapi ngomong-ngomong, siapa nama kepanjangan mu"
"seingatku hanya rara saja 'kan?"
"Rain yerlien" jawab rara antusias.
"Rain?"
"Iya"
"NAMANYA MEMANG SEPERTI DI ERA KERAJAAN SIH..."
Kiraa menggeleng.
"Tapi itu buku apa?" rara menunjuk buku yang di pegang kiraa.
"Buku ini? Buku yang tidak ku ketahui isinya" ia tersenyum kecil, bahkan rara hampir tidak melihatnya.
"Bukannya itu buku mu? Kenapa tidak tau?"
Bingungnya, sekaligus kesal.
"Ntah lah, mungkin memang tidak di takdirkan untuk ku baca" tak pedulinya.
"Ish!" rara kembali membanting tubuhnya.
"Kierra, apa kau tidak bosan?"
"Tentu saja, tidur bangun, tidur bangun itu tidak enak..." ia memerhatikan buku yang ia pegang, membaca tiap halamannya.
"Dulu, saat aku tidak ada sesuatu untuk dilakukan, aku bermain dengan air"
"Bahkan aku dengan ketua pernah berpura-pura menjadi warga biasa di desa"
"Akhh!" pekiknya setelah di pukul buku.
"Itu duniamu, mana ada disini"
"Tapi kier! Aku bosan!" rengeknya.
Kierra terdiam.
Lalu ia tersenyum.
"Bagaimana jika aku pergi ke dunia mu?" ntahlah, ia hanya mengasal.
"Hmmm... Aku baru saja pergi dari sana, aku tidak yakin perpindahan kita akan lancar..."
"Tapi, ayo kita coba!"
Dengan senang hati rara menerima permintaan kiraa.
Selain sekedar asal sebut, ia juga sebenarnya ingin mengetahui dunia seperti apa yang sering di sebut oleh rara.
"Tutup matamu"pinta rara.
Kierra pun menurutinya, dan mulai memejamkan matanya.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang hangat menyentuh keningnya, kiraa ingin melihatnya, namun tadi rara menyuruh untuk menutup mata, jadi ia urungkan keinginannya.
Setelah beberapa detik tidak ada perubahan, akhirnya sentuhan rara berubah, seperti terasa berbeda dari sebelumnya.
*byurr!
"aduh..." ringisnya.
"kasurku kenapa menjadi dingin" bingung nya, ia melihat ke sekitar tubuhnya.
"Kenapa aku ada di sini?" gumamnya.
*tuk! Tuk.!
Pandangannya beralih ke lututnya yang sedari tadi selalu di tendang.
"Hey? Hey?" panggil orang yang tak kiraa kenal, suaranya,bajunya, bahkan bahasanya, tapi bisa-bisanya ia mengerti.
Kiraa mendongak.
Ia melihat laki-laki yang sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.
Tampan, ia begitu tampan, bahkan kiraa terpesona untuk beberapa detik.
"Kau tidak apa-apa kan?"
Tanya kembali lelaki itu.
"Tidak apa-apa"jawab kiraa sambil memegang kepalanya yang sudah reda dari rasa pening.
"biar saya bantu" ia mengulurkan tangannya dan di sambut juga oleh kiraa.
Begitu bangun,ia rasanya ingin jatuh kembali. tentu karna bajunya yang begitu basah sehingga menambah beban bagi kiraa.
"Baju anda basah..."
"Saya bisa mencucinya jika anda mau"
"Tidak, tidak perlu" kiraa mengamati sekeliling yang jelas-jelas berbeda dari kamarnya.
"ah.."
"Sepertinya anda lapar, saya akan membawakan makanan kesini" ia tersenyum.
"Terimakasih"
Begitu lelaki tadi pergi, kiraa langsung memutar tubuhnya, mencoba mencari peri kecilnya.
"Ra!"
"Rara!!" panggilnya.
"Kwerra!!" teriak rara yang tak begitu jelas.
"Hah!"
Ia merasa tenang ketika melihat rambut putih rara yang mengambang.
Dengan sekali tarikan, rara keluar dari dalam air.
Kiraa mengangkat rara ke udara.
"Kenapa?"
"Kenapa tempat pendaratannya di air!"
"Hmmpp! Maaf-maaf"
"Kan rara sudah bilang, rara itu murid yang dibawah rata-rata" rengeknya.