
*duk!
*duk!
*duk...
"hais!" kesal kiraa, ia sudah di senggol sekitar 3 kali lebih.
"hey!" panggil kiraa, orang yang dipanggil pun menoleh.
bukannya meminta maaf, orang itu hanya melihat kiraa sebentar dan pergi dengan wajah yang datar.
wah!.
sebelum kiraa protes ia sudah di senggol lagi,terpaksa ia harus turun terlebih dahulu, bisa bisa ia akan terjungkal kalau lama-lama berada di tangga ini.
*kring!!
kiraa melihat sekeliling ia mencari sumber suara itu.
"pengumuman! diharapkan semua murid-murid datang ke area basket" kata seseorang.
karna hal tersebut murid-murid lainnya berbincang bincang dan setelah itu mereka berlomba-lomba pergi ke arah belakang.
kiraa pun hanya mengikuti segerombolan orang-orang.
...---...
"ini mau ngapain sih?" kiraa melipat tangannya.
"semuanya harap tenang!"
perintah seseorang yang berada di atas panggung,ia lumayan cantik, dengan rambut yang ia ikat tinggi.
"hari ini di tetapkan, kalian akan tinggal di asrama"
semua orang pun berbincang, ada yang senang, ada juga yang tidak sependapat.
wanita yang berada di panggung melihat ekspresi masing masing orang, ia menghela nafas.
"semua nya harus mengikuti aturan baru ini, tidak tolakan" tegasnya.
semuanya terdiam.
"hey! apa asramanya mewah dan tidak kotor! kalo kotor aku tidak ma-"kata etanis secara tiba-tiba.
"kepala sekolah yang membuat keputusan dan asrama itu!" sontak etanis terdiam dengan seribu kekesalan.
"oh, begitu ya... eh tapi kepala sekolah yang mana?!" gumam kiraa.
"kalian akan di beri kertas, disitu ada nomer kamar kalian dan jangan tanya dimana asrama itu berada" katanya.
semuanya mengangguk pelan.
"sekarang ambil kertas kalian masing-masing"
barisan pertama mulai mengambil kertas yang nomernya acak, kiraa berpikir, siapa kah yang akan sekamar atau sebelahan dengan nya?.
kini giliran barisannya untuk mengambil kertas tersebut, ia mengantri paling belakang, berharap mendapatkan nomer cantik dan teman sekamar yang cantik.
ia maju untuk mengambil nomer, ia berada di depan wanita tadi, wanita itu memberi kertas namun ia mendapat tepisan dan membuat tubuh wanita tadi meminggir, memberikan ruang untuk orang yang berada di depannya.
orang itu adalah leona, anggota Osis yang terkenal, ia menatap tajam wanita tadi, dengan cepat ia memberikan kertas yang ia bawa.
"ah,iya"
kiraa pun menerimanya.
"jangan berfikir aku membantu mu"
"tadi aku tidak sengaja menemukan nomer cantik jadi karna tidak digunakan ya aku beri ke kamu aja!"
kiraa hanya terdiam linglung, jujur ia tidak mengerti perkataan leona yang menurutnya tidak masuk akal.
kiraa pun turun dari panggung.
setelah mendapatkan kertas ia langsung keluar dari aula basket, ia memerhatikan nomer dan alamat asrama.
"ku kira dimana, ternyata seperti asrama pada umumnya, tidak jauh dari sekolah"
ia menatap dinding yang tinggi.
...[no : 299]...
[datang lah sekitar jam 7,lebih cepat lebih baik,kalian bebas memakai pakaian apa saja, setelah menyimpan kebutuhan kalian segera lah ke ruangan ganti untuk mengganti baju kalian dengan seragam sekolah, jika ingin menyimpan barang kalian simpan lah di loker, jika belum mengerti,tanya ke kakak kelas atau guru, dan jangan lupa patuhi aturan.]
"apa hanya aku yang sepanjang ini tulisannya?" heran kiraa
kiraa berdiri di depan gerbang, ia sedang menunggu, namun yang ditunggu tidak segera hadir, kiraa merasa sakit di kaki nya, ia melihat banyak murid seperti dirinya yang di jemput ada juga yang membawa kendaraan sendiri.
"kemana sih om tua itu!" kesalnya.
3 detik kemudian-
"his!"
ia menghentakkan kakinya,di dalam hati kiraa mengutuki dian yang tidak menjemputnya.
"kenapa kalau tidak di harapkan datang tiba tiba, sekarang saat di butuhkan malah tidak ada!" gerutunya dengan kaki yang menyusuri jalan raya yang padat karna sekarang waktunya orang orang untuk pulang dari kegiatan mereka.
"Hai kier!"
kiraa terhenti lalu menoleh ke belakang.
"kau juga!" ia mencekik rara dan menggerakkannya di udara.
"uhuk uhuk! emang aku kenapa?!"ia menetralkan nafasnya ketika kiraa berhenti mencekik dan menggoyang goyangkan dirinya.
"dari mana saja kau!" ia berkacak pinggang.
"ha? aku?" ia menunjuk dirinya.
"aku pergi karna ada keperluan,didunia ku ada sedikit masalah" katanya kembali.
"aku juga ingin ke dunia mu, dan merasakan hal hal yang tidak ada disini"kiraa kembali berbalik arah dan berjalan dengan kecepatan yang normal.
rara menatap kiraa dengan lekat dari arah belakang, ia menarik kuat kuar lengan kiraa sampai kiraa meringis.
"au! kau kenapa ra!"
"kan kierra yang bilang sendiri pengen ke dunia rara, jadi kierra harus pingsan dulu"
"eh eh- gak ada cara yang normal seperti novel gitu kah?!" tanya kiraa dengan sedikit teriakkan ngeri.
"hah? apa novel?" tanya nya yang tidak mengerti apa apa.
kiraa menepis tangan mungil itu, ia juga sedikit tidak suka berdekatan dengan rara, bukan kenapa napa, hanya saja sekarang banyak orang menatapnya dengan geli dan ada juga anak kecil yang menanyakan perilaku kiraa kepada ibunya, parahnya, ibu anak kecil itu bilang bahwa sebentar lagi ia akan menjadi zombie dadakan.
bisa bisa ia mati di tempat karna menanggung malu.
kiraa terdiam di tempat, ia melihat ke arah sebrang jalan, tatapannya itu kosong, tidak menunjukkan ekspresi apapun.
rara pun merasa aneh dan melambai lambai kan tangannya tepat di depan wajah kiraa.
"hey kier!"
"ha?" ia baru tersadar.
"kau kenapa?"
"tidak ada, hanya melihat permen kapas" ia menunjuk dengan wajah yang datar.
"wah! itukan makanan daun yang kemarin pernah kita liat!"
"hey hey!" gelisah nya, namun rara tidak mendengarkan perkataan kiraa, ia terbang melewati mobil mobil.
"bisa bisa pamannya kesinggung..." gumamnya dengan keadaan pasrah.
ia menunggu kendaraan berlalu lintas.
...---...
*tuk.. tuk..
"tuan, nona sudah pulang"
"oh, baiklah, bisa kah anda membawakan saya teh" itu bukan pertanyaan melainkan perintah yang harus di patuhi.
"baik" singkatnya sembari menunduk pelan.
tempat itu pun tenang, sinar matahari yang hampir tenggelam itu pun menerobos masuk.
namun ketenangan itu seketika pudar ketika ada seseorang yang mendobrak pintu.
"hey,om tua namun tidak ber uban,kau,berhutang penjelasan!"
dian menoleh.
"penjelasan apa?"
kiraa mendekat dan duduk di kursi sebelah dian.
"kenapa tidak di jemput?"
"jidat ku berkerut menunggu anda ya!"tegasnya,terdengar suara hembusan yang tidak teratur.
"emm, om sepertinya lupa, lain kali saja" katanya dengan tenang, ia lanjutkan kembali membacanya.
kiraa bungkam, antara marah, lelah atau tidak tau mau bicara apa.
saat dian merasa tidak ada tanggapan, ia melirik kiraa.
"heh, sepertinya kau sangat mengharapkan kedatanganku"dian menyengir seperti kuda.
"siapa yang berharap!" dengan cepat ia membela diri.
"ganti baju sana!"
"bauk!"
"eh, bentar bentar!"
"hem?"
karna kesal kiraa merebut buku yang dian baca.
"liat sini dulu!"
"iya ada apa sih?" bingungnya.
"om mau gak?"
"mau apaan?"kini ia bertambah bingung dengan perkataan kiraa yang di putus putus.
"buta?"
"hah?!"
"iya, buta" jelasnya.
"ngapain mau buta?!" kaget dian dengan nada suara tinggi.
"gak ngapa-ngapain sih..."
"terus?"
"ada gak sih orang yang mau buta?"
"emm, kayak nya gak ada, orang mana yang mau tidak bisa melihat betapa indahnya dunia." ia mengambil buku yang tadi ia baca dari tangan kiraa.
"iya sih..."
"terus, ngapain masih disini?"
"oh iya"
"ajarin bela diri dong om!"
"buat apa?"
"ya buat bela diri"
dian menggeleng heran.
ia menarik nafas.
"sekarang?"
"eh-"
"di Terima nih?" ia membelalak kan bola matanya, se cepat ini kah di terima?.
"terus mau mu apa sih?!" jengkelnya.
"hehe"
"tunggu, aku mau ganti baju dulu"
kiraa tersenyum senyum tidak jelas setelah mendapatkan jawaban yang menurutnya cepat dari pada yang ia bayangkan.