I WANNA RESET

I WANNA RESET
Reinkarnasi #30



"apa terjadi sesuatu?"


ucap leona.


"tidak ada"


"oh"


beberapa saat leona terdiam, ntah apa yang ia pikirkan.


"mau tambah?"


ia mendekatkan wajahnya.


"teh dingin"


"heh! udah ada minuman, ngapain pesan lagi!" setelah mendengar penuturan kiraa,dengan otomatis, leona menggebrak meja.


"ye, makanan aja bisa nambah, kenapa tidak dengan minuman"ia memicingkan matanya.


"yaudah, iya!"


"ada-ada saja anak ini!" gumamnya.


ia pun kembali memesan teh dingin seperti kata kiraa.


"ona" panggil kiraa.


sontak leona menoleh.


"jadi yang aku katakan benar?"


"apa-"


"tadi loh!"ucap kiraa memotong.


"jadi kau curiga?" ia menaikkan sebelah alisnya.


"ntah"


dengan santai kiraa menaikkan bahunya dan menunjukkan ekspresi mengesalkan.


"benar sih..."


walau bagaimana pun, ia sebagai anggota osis harus meberi tau semua kisah di sekolah ini ke pelajar baru.


"aku mendengar bahwa ketua osis jarang di jumpai orang"


"kau pernah melihatnya?"


"ya gak lah!"


"selain ketua osis, beberapa murid lainnya juga pergi entah kemana"


"contohnya ratu kecantikan!"


"waw, bisa gitu ya"ucap kiraa disela-sela perkataan leona.


"dan diketahui ratu kecantikan itu menyukai reno"


"dia terus, dia terus, kenapa gak sekalian guru alex itu yang suka!"umpat kiraa di dalam hatinya.


ia sungguh muak dengan orang itu, cih, dingin begitu di sukai banyak orang, kenapa gak sekalian suka dengan kulkas,malahan kulkas lebih berguna dari pada orang itu.


"geli banget, kek gak ada lelaki lain aja"


"contoh-contoh gak waras yaaa,begitu"kiraa kembali meminum jus jeruk nya, setelah itu ia meminum teh dinginnya.


leona yang melihatnya sedikit kesal dan ingin muntah.


"mau plastik?"


"kau kira aku mau muntah?!" pekik leona.


--


setelah menghabiskan waktu berdua di kantin bersama leona, kiraa segera ke aula kembali.


disana ia sudah tidak melihat si songong 'itu', sedikit bingung, namun kiraa kembali sadar dan mengikuti titah sang guru, disana ia sangat menikmatinya walau di beberapa gerakan kiraa tak mampu.


"tubuhku yang tidak bugar atau tulangku yang di masa lalu keikut!"


setelah 1 jam lebih mereka berolahraga, pak guru menyudahinya dan membiarkan semua orang pulang, karna sekarang langit mulai bewarna oren.


dengan tergesa-gesa leona mengajak kiraa untuk mengganti pakaian di toilet, selain lebih leluasa mereka juga sedikit enggan berada di sekitar semua gadis-gadis yang disana, apa jangan-jangan, mereka bukan perempuan?.


--


"heh, kasih bajuku!"


"nah!"


"pengap gak?" ucap kiraa.


"hmm!"


"hey, rok ku juga!"


"bisa gak sih tunggu!" urat-urat leona pun bermunculan dengan wajah yang memerah.


*wink!


leona melempar sebuah rok kepada kiraa.


beberapa menit hening, tidak ada satupun yang mau membuka suara.


hingga terdengar suara tapakan sepatu dari arah sampingnya.


"hay!" antusias kiraa.


dengan cepat leona mendongak.


"kiraa!!!"


...---...


"dasar mesum!"


leona terus menerus memukuli kiraa, beberapa kali kiraa meminta maaf namun pukulan itu malah semakin keras dan kencang.


"hiks, maaf dong"


"kan penasaran doang"


"kau perempuan!"


"ngapain penasaran?!" ia terus menerus memukul lengan kiraa, sesekali menyentil kening kiraa.


"loh, kau tidak tau?"


"aku adalah lelaki sejati"


ia menyelipkan rambutnya dengan gaya lentiknya, membuat gelak tawa leona menjadi jadi.


*Cittt!...


suara decitan ban mobil.


mobil itu bewarna hitam pekat yang mengkilat, kiraa menebak, itu pasti kendaraan yang menjemput leona, jika bukan itu ya...ntah lah.


"eh, ra"


"kau bisa memperpendek namaku jika dibutuhkan,dan jangan di ubah-ubah" ia mendatarkan raut wajahnya.


"eh, iya-iya"


"jadi apa?" leona memiringkan kepalanya.


"... -biasanya" lanjut kiraa.


"haha!"


"banyak sekali" ia lagi-lagi menepuk punggung kiraa dengan keras,sampai sampai kiraa hampir terjungkal.


"gimana kalau si bodoh aja"


"heh!" bentak kiraa.


"iya iya, kier"


"kalau gitu aku pergi dulu!"


leona mengangkat telapak tangannya, kierra yang melihatnya merasa bingung.


dan akhirnya kiraa hanay bisa memejamkan matanya.


"-eh" ia diam mematung, dengan pelan ia menepuk pucuk kepala kiraa dengan tatapan cengok nya.


"da~" ia melambaikan tangannya.


dan kiraa pun melambaikan tangannya juga.


*cklek!


"silahkan masuk, nona"


leona memandangan telapak tangannya.


"padahal berniat untuk tos..."


"terus gimana nasib ku?" gumamnya.


"Aaaa~..."


"harusnya aku meminta tumpangan..." lesunya.


ia berjongkok,memegangi perutnya yang terasa sakit.


setelah makan di kantin, ia merasa sangat kenyang, walau pun begitu ia memaksakan dirinya, jika ia tidak pernah olahraga, bagaimana ia bisa melawan musuh dengan kulit yang mulus ini.


dan entah kenapa tiba-tiba ia merasa sakit perut, dari daerah perut, rasa sakit itu naik hingga di kepalanya.


seketika pandangannya pudar, ia terbengong melihat tangannya yang putih dan dingin.


-


"yang mulia ratu!"


samar-samar suara itu terdengar.


"anda harus bertahan... hiks..."


"suara yang lembut..."


"yang mulia, bertahanlah... apa anda tidak ingin merawat putri anda?... hiks.."


kesedihan itu sangat menusuk bagi siapa pun yang mendengarnya, air mata jatuh begitu saja dari mata berwarna coklat itu.


"apa... anakku perempuan... lily?"


dengan lemah lembut orang itu bertanya, kiraa bingung, karna ia tidak bisa melihat apapun, semuanya gelap.


"yang mulia ratu, anak anda berjenis perempuan"


ucap seseorang, dari nada bicaranya, ia terdengar profesional.


"hah?"


"apa benar?!.." antusiasnya.


"empuk banget, ini dimana sih!"


kiraa terus berbicara yang sebenarnya hanya dia yang mendengar.


"putriku..."


"Ooekkk!! oekkk!"


"loh loh, apaan ini, aku kah yang menangis?"


kiraa membuka matanya, sungguh terkejutnya ia ketika bangun dan berada di tempat yang aneh.


kiraa melihat ke sekitar dengan tangisan tangisan yang tak pernah berhenti.


dinding yang berbentuk aneh, perabotan yang belum pernah ia jumpai, kasur yang bewarna putih polos dengan selimut yang sangat-sangat panjang dan lebar.


bulan pun bentuknya agak aneh.


"sayang... apa kau haus?..."


lagi-lagi suara lemah lembut itu yang kiraa dengar, sontak ia menoleh, ia melihat wanita cantik dengan rambut hitam pekat yang terurai dan gaun putih yang panjang sama halnya seperti kasur yang bewarna putih.


seketika tangisan kiraa berhenti.


"cup... cup cup..."


"maaf kan mama ya?..."


"mama tidak bisa merawat mu"


ia menjulurkan jari telunjuknya dan langsung di pegang oleh tangan mungil bayi.


"loh? tangan bayi? tanganku?"


"aku loh tidak berniat memegangnya!"


"ah lucunya..."


"mama sangat berharap bisa menggendong mu saat besar nanti... "


ia bisa merasakan tangan hangat anaknya, sama seperti bulan, baginya anaknya itu sangat bersinar malam ini, bagai permata, warna bola mata anaknya sangat bersinar.


jika diingat ingat oleh wanita itu, warna mata anaknya itu mirip sekali dengan mata kekasih hidupnya,ya... mereka kan ayah dan anak...


"yang mulia..."lirihnya memanggil.


"hmm? lily apa aku boleh meminta permintaan?"


ia tersenyum manis ke arah wanita yang berpakaian hitam putih itu.


"tentu... hiks!..."


"tolong jaga anak ku ya, selagi aku meninggalkannya..."


ia tidak melepaskan genggamannya dari anak yang baru ia lahirkan beberapa menit lalu.


"yang mulia ratu... " lirihnya kembali, air matanya benar benar sudah lolos sedari tadi dan terus menerus jatuh.


"kau jangan menangis... kan aku jadi ingin menangis juga... "


"benar juga..." ia menyeka sisa air matanya dengan kasar.


"apa 'Elizabeth' juga baik baik saja?"


"dia sangat baik, seharusnya anda mengkhawatirkan diri anda sendiri..."


"ada apa ini?kenapa sedih sekali"


"hah?! apa jangan-jangan aku bereinkarnasi seperti di novel-novel?!"


"terus siapa pemeran utama laki-laki nya?"