
"dasar manusia jadi-jadian! " ia terus menggunakan segala kata untuk menjelekkan lelaki itu, reno.
Iya memang, disini sudah sangat terlihat siapa rajanya dan siapa pembantunya.
Kiraa bersusah payah membersihkan sisa peperangan mereka menggunakan kain, sedangkan reno berlehai-lehai di kursi makan.
Jika di perhatikan, situasi ini seperti raja yang memerhatikan kinerja pembantunya, jika melakukan kesalahan, langsung penggal kepala.
"Jangan melihatku seperti itu!" risih kiraa.
"Narsis"
*jleb!
"hanya satu kata kier! ayolah! tahan-tahan..." ia meremas kain yang ia pegang.
"Kau sedari tadi terus melihatku"
"Aku tau itu"
"Aku tidak melihatmu, lagi pula jika melihat wajahmu mataku sakit"
"untuk apa menyiksa diri"
"Kau-"
Kiraa langsung menoleh.
LOH.
lelaki itu tidak menatapnya.
"apa aku benar-benar narsis? tapi aku tau betul dia sedang menatapku tadi!" dengan perlahan-lahan kiraa kembali menatap air yang berada di lantai itu.
2 detik kemudian, ia kembali menatap belakang.
Namun tidak sesuai keinginan, lelaki itu masih tidak menatapnya.
"kok rasanya jadi gila ya?"
"pff-"
Dengan cepat kiraa menoleh, ia tadi mendengar dengan jelas ada seseorang yang menahan tawanya, tapi mana mungkin si dingin jadi-jadian itu kan?.
"Kau tertawa?" kiraa mengerutkan dahinya.
Reno menoleh.
"Tidak ada, kau salah dengar"
"Hah!"ia menghembuskan nafas kasarnya.
"gantian ih!"
"Hmm? aku?"
Lama-lama kiraa tidak tahan ingin memukul mulut itu yang benar-benar menyebalkan.
Ia pun akhirnya menyusul Reno dan ikut duduk di kursi satunya.
"Gila ya? Masa aku terus yang bersihkan!"
"Kau juga ikut-ikutan tadi!" tak terimanya.
"Kau duluan yang memulai!"
"Kau juga mau saja balas dendam!"
"Coba siapa yang duluan curi esnya tanpa sepengetahuan pemiliknya?, cih"
"loh-loh! bukannya itu untuk semua ya? lagian dia juga ikut minum,kok hanya aku yang di salahkan?!"
"Akhh!" frustasinya.
Debat dengan lelaki jadi-jadian yang berparas tampan itu tidak akan ada habisnya.
Malas juga menanggapinya.
"Pijatkan kakiku"
Ia menaikkan kakinya ke pangkuan Reno, dengan spontan Reno melempar kaki itu, bukannya selesai, kiraa melakukan hal yang sama kembali.
"Apa-apaan kau!"
"Aku lelah!"
Ia memejamkan matanya, dan mengetup bibirnya.
Reno terdiam, melihat kiraa yang seolah ingin tidur itu.
Namun ia tidak berbuat apapun.
di saat Reno sedang termenung,datanglah seseorang yang membuat keduanya ter peranjak.
Dengan cepat, Reno bersembunyi di bawah meja makan.
Sedangkan kiraa berdiri setegak mungkin.
"Emm..." bingung cesa.
"ya ampun ces!"
"Kau kenapa kesini?"
"Ha?"
"Seharusnya aku yang bertanya, kau sedang apa disini?"
"Aku dari tadi mencarimu tau!"
Kiraa bernafas lega, setidaknya yang membuatnya kaget adalah cesa, gadis polos, kalau saja yang lain, mungkin benar-benar di lempar keluar dari sekolah.
Ngomomng-ngomong di lempar dari sekolah, dimana lelaki tadi yang bersamanya?!.
"Kau kenapa?"
Cesa ikut menoleh ke kanan dan kekiri seperti yang dilakukan kiraa.
"Ah- tidak ada apa-apa"
"Kenapa kau mencari ku?"
"Kita akan buat acara makan-makan di kamar ku!"
Cesa sangat antusias, ia bahkan melayangkan tangannya keatas, menunjukkan seberapa besar ke bahagiaannya.
"Kenapa tidak di dapur, kamar ku atau leona?"tanya kiraa asal, ia menunjuk berbagai tempat seperti yang ia katakan.
"ha? Kau mau di kamar mu?"
"Eh, tidak-tidak!"
Ia langsung melambaikan kedua tangannya di depan badannya.
"Oh oke"
"Jadi nih?!"
"Tentu saja!"
"Yeeeey, aku bersihkan kamar ku dulu ya!"
"Aku juga"
Ia tersenyum kecil sambil menatap cesa dengan tatapan sayunya.
"Oh ya, kau sedang apa disini?" ia celingak-celinguk melihat sekeliling yang nampak sepi, hanya dihuni oleh kiraa seorang.
"Ah!"
"Yaudah, ayo pergi" cesa langsung menarik lengan kiraa dan membawanya pergi.
Sebelum melewati pintu, kiraa terlebih dahulu melempar kain yang ia buat untuk membersihkan tadi.
"Apa ini namanya menginjak harga diri?"
reno bergegas untuk keluar dari kolong meja, namun ia sial.
ia terpaksa memundurkan dirinya ke tempat semula karna kedatangan etanis yang tiba-tiba.
"Hah!"pekiknya.
"Kok bisa basah begini!"
Ia mendatangi kulkas, dan menatap jijik air yang membasahi lantai itu.
"Ck ck ck! Siapa yang melakukan ini!"
"Aku liat kamera pengawas saja lah!"
Ia berjalan menjauh dari area tempat makan.
Saat kembali ia terkaget, ia sudah tidak melihat air yang berceceran di lantai.
"Hantu air?"
-
*kresk!
"Woa, sudah habis?"
Ia menatap makanannya yang sudah habis, tinggal tersisa beberapa serpihan di paling bawahnya, tentu ia tak akan menyia-nyiakan sisa itu.
"Ini baru pertengahan" ucap leona tiba-tiba, membuat kiraa terpaksa menatapnya.
"Aku hanya tentang makanan, kalau dia?baru pertengahan sudah terlelap"
"Dia kelelahan, jadi lebih cepat tidur"
"Ish!"
*tuk!
"Sejak kapan kau membela nya seperti itu!"
Ia melemparkan bungkus makanan tadi ke arah leona.
"Buang ke tempatnya!"ketus leona.
"Kau saja, aku sudah menemukan posisi bagus untuk bersantai!"
"Dasar!" ia menyatukan bungkus kiraa dengan bungkusnya, agar mempermudah dirinya untuk melemparnya ke tong sampah milik cesa.
"Kierra"
"kau tidak bingung? Tiba-tiba, segerombolan orang mendatangi sekolah kita tiba-tiba?"
Akhirnya leona bercerita.
Kiraa menengok.
"Ntah lah" ia mengindikkan bahunya.
"Mungkin anggota kalian yang di cari"santai kiraa,sambil melanjutkan acara menonton film horornya.
"tapi kan, kita semua berada disana, terus kenapa mereka tidak menangkap salah satu dari kita?"
"Jadi, kau merasa mereka mencariku begitu?"
"Loh, siapa yang bilang itu kau!"
"Kan kau terus mengelak, ya mungkin kau berpikir seperti itu"
"Lagian, kalian kan tidak lengkap"
"mereka akan ku katai bodoh sih, kalau mereka tidak pernah tau kenyataan itu"
Kiraa terus mengemili jajan ke 3nya.
"Kau curigaan ih!" sebalnya.
"sekarang masalah menumpuk, balas dendam ke keluarga sendiri, memperpanjang keyakinan keluarga sofia, menyelesaikan permasalahan tentang kierra ke dua"
"akh!! aku bisa gila akan itu!"
"sudah lah, yang terpenting belajar bela diri dan sihir terlebih dahulu!"
"Cepatt!!"
"Iya iya!" saut seseorang dari arah dalam.
Kiraa berdiri dengan gemetar, satu gadis mandi saja butuh beberapa puluh menit, sampai kakinya kesemutan.
Padahal ini pagi yang belum pagi-pagi banget.
Bahkan matahari masih malu-malu untuk menampakkan diri.
Kiraa bersender,lelah batin jika ia berada di ruangan itu dengan kebisingan.
Kiraa tanpa sengaja menatap seorang gadis, yang mungkin nasibnya sama dengannya.
"Hai." serunya dengan tatapan lelah.
Gadis itu membalasnya dengan senyuman kaku.
Toilet yang bisa di gunakan untuk mandi bertotal 6.
2 hingga 5 orang memaksakan diri untuk berganti baju di luar.
Kalau kiraa sendiri sih, tidak sudi.
Walaupum sesama perempuan, ia memiliki jiwa malu yang tinggi.
Tiba-tiba nyalinya menciut saat melihat, bentuk badan orang di sampingnya.
Dengan mata yang terbelalak, kiraa memojok dan menatap ke bawah.
"penyakit kok di pelihara." cibirnya, bukan untuk dirinya yang terlihat datar, namun untuk gadis di sampingnya tentunya.
Setelah satu orang keluar, kiraa segera masuk.
Ia mengunci rapat-rapat pintu itu agar tidak di lihat siapa pun.
-
Setelah melepas pakaiannya, ia segera memasang baju yang ia bawa, baju berwarna putih, yang terlihat kebesaran,dan celana santai pendek selutut berwarna hitam.
"Akhirnya! Hhmpp!..." ia merentangkan tangannya keatas.
Sesampainya diluar, ia segera menghirup nafas sedalam-dalamnya.
Tentu seperti yang ia katakan kemarin, hari ini kiraa akan berolahraga dengan bebas.
"Wah..." kiraa terdiam.
Ternyata bukan hanya dirinya yang ikut berolahraga.
Gadis-gadis tadi yang selesai berganti baju pun ikut keluar, seperti yang di lakukan kiraa.
"ternyata pemikiranku terlalu basi"
Tidak masalah, itu bukanlah penghalang baginya untuk melanjutkan apa yang ia ingin lakukan.