
"ha? nitip?" "yaudah"ia berbalik hendak pergi ke kantin, namun ia terhenti ketika punggungnya di tepuk.
"h-hey hey, aku kan belum kasih tau apa yang mau aku beli"
"eh- iya juga" *plak! ia menepuk dahinya sendiri.
"hmm"
"aku mau beli es jeruk"katanya bersamaan dengan jari yang menunjuk pipi.
"gak ada lagi nih?"
"gak kok, soalnya aku bawa bekal lagi"
"oh, oke tunggu ya?"kiraa memegang bahu cesa dan sedikit di tekan.
"oke lah"
kiraa dengan cepat menuju ke kantin, cesa dan murid yang lain tercengang disaat melihat kiraa yang berlari,sampai-sampai ia menabrak seseorang.
"larinya seperti orang yang di kejar hantu,atau di kejar penagih utang?" ia berbicara dengan dirinya sendiri.
cesa pun terdiam di tempat,ada bagusnya ia menunggu agar kiraa tidak perlu repot-repot mencarinya.
*bug!
cesa terperanjat karna senggolan dari seseorang.
ia segera meminggir, dan memegangi kaca matanya.
"tidak ada sopan sopannya..." gumamnya.
sekolah ini tidak mengenal kesopanan, semua orang bisa sesuka hati jika mereka mempunyai kekuasaan, maka dari itu pembullyan adalah sesuatu yang biasa di sekolah ini, dan yang lebih parahnya mereka semua diatur oleh anggota OSIS,dan itu yang cesa tidak sukai.
ya pastinya semua orang ingin menjadi salah satu anggota OSIS jika seperti itu, ya kan?.
yang mempunyai kekuasaan itu bagaikan manusia, dan yang di bully itu adalah hewan peliharaan yang selalu mengikuti perintah pemiliknya.
...---...
dengan cepat cesa berlari dengan kepala yang menunduk, ia juga menyempatkan diri ke kelasnya untuk mengambil bekalnya, lalu pergi kesuatu tempat yang sepi.
dan hanya ada dirinya dan kierra... orang yang kemarin sempat mengechatnya.
cesa tersenyum tipis dengan mata yang sayu di balik kaca mata bundarnya.
beberapa menit kemudian ia tetap tidak membuka kotak bekalnya, ia terus terdiam memegangi kotak itu dengan mata yang tertuju daun-daun, lebih tepatnya ia melamun sembari menunggu kiraa.
"cesaa!" panggil seseorang.
cesa pun menoleh ke arah sumber suara, ia tersenyum saat melihat kiraa dengan hati-hati membawa dua minuman yang sama dinginnya.
"e-eh" ia menyeimbangkan minuman yang ia pegang agar tidak terjatuh, jika benar-benar terjatuh mungkin kiraa akan mengamuk, pasalnya,uang yang ia miliki sudah menitipis dan tenaganya yang terbuang sia sia.
"nunggu lama ya?" "jangan salahin aku"ucapnya kembali.
"aku gak akan nyuruh kamu minta maaf kok, aku tau kamu malu" katanya dengan polos.
kiraa menggelengkan kepalanya lalu duduk di samping cesa.
"polos berlebihan itu tidak ba - ik." tekannya.
cesa hanya terdiam, ia tidak paham.
"nih!, jeruk terpilih!"
"pilihan bu kantin"kata cesa.
kiraa menjawabnya dengan tawa kecilnya, ia tidak tau harus berkata apa saat di hadapan cesa.
"eh- cesa aku duluan aja ya!" katanya dengan tergesa gesa.
"eh...iya"
"emang mau ngapain?" tanya cesa sambil menatap kiraa yang berdiri, padahal ia baru saja duduk.
"itu loh, kita kan dihukum nulis di kertas"
"emm"
"oh ya!"
"nah aku mau ngerjainnya sekarang, soalnya kalo malam mungkin gak bisa"
"oh...yaudah" seketika raut wajahnya lesu, ia menunduk menatapi bekalnya.
kiraa tersenyum tipis.
"hey, aku hanya ke kelas, bukan pergi selamanya" ia merangkul bahu cesa.
"besok kita ketemu lagi kan" ia mendekatkan wajahnya ke arah cesa.
karna hal itu pipi cesa memerah, ia mengalihkan pandangannya.
"ululu" jahil nya, kiraa menunjuk pipi cesa.
"yasudah, aku ke kelas dulu sebelum bel masuk, dadah~"pamitnya.
ia berjalan mundur dengan tangan yang melambai lambai, dan setelah itu ia menghilang dari pandangan cesa.
cesa pun juga pergi, toh sekarang tidak ada kiraa yang menemaninya jadi buat apa ia masih disini, lebih baik ke perpustakaan.
sedangkan kiraa, ia berjalan menuju kelasnya yang berada di atas.
"lagi-lagi sepi" gumannya saat menaiki tangga.
ia terus berjalan, kiraa sempat melihat beberapa orang turun ke bawah sembari berbincang.
benar-benar tidak ada yang mempedulikan dirinya.
"saya jera, saya jera, saya jera..."
"gak pusing apa, liat tulisan yang gitu gitu aja"
kiraa pun akhirnya sampai di depan kelasnya,ia melihat pintu yang berada didepannya.
terdengar hembusan nafas kasar, siapa lagi kalo bukan kiraa.
"kenapa mesti di tutup coba!"
kiraa dengan segera memegang gagang pintu dan membukanya.
begitu terkejutnya ia ketika menabrak sesuatu yang keras.
"ya ampun, tembok apa lagi ini!"gumamnya
ia segara mendorong sesuatu yang ia tabrak tadi.
"aduh!..."lirihnya.
kiraa langsung membuka matanya dan melihat sesuatu yang ia dorong tadi, kiraa melihat seseorang yang tergeletak di llantai dengan tangan yang memegangi bokongnya.
"waw!" ucapnya kemudian ia tertawa puas.
"ya ampun!" ia memegangi perutnya.
orang yang berada di lantai itu hanya bisa berdecak kesal, dia berdiri dan menghampiri kiraa.
ia mentoel dahi kiraa dengan kasar, hingga kiraa terpental.
"ouch!..." lirih kiraa.
"sudah bosan hidup?"
"kalo pelajaran iya, kalo nyawa masih sayang"ia kembali terkekeh.
namun lama kelamaan tawanya mereda, bagaimana tidak reda, hanya dirinya sendiri yang tertawa.
"iya, iya!"
"gak usah sok marah gitu!"cetusnya.
kira berjalan menuju bangkunya, tidak ada gunanya ia adu omongan dengan orang gak jelas itu.
kiraa merogoh tasnya, ia hendak mencari kertas dan pena.
saat ia rasa sudah mendapatkan barangnya, kiraa menarik tangannya dan mulai menulis.
lelaki tadi pun berjalan ke arah bangku-bangku dan duduk di bangkunya, ia merebahkan kepalanya di lengan dan terus menatap kiraa dengan teliti.
kiraa menulis kata demi kata yang hanya itu itu saja, membuatnya sedikit stres, apa lagi rambutnya yang terurai lembut, terkadang helai rambut itu menghalangi pandangannya.
lelaki di sampingnya menatapnya lamat-lamat dengan tatapan aneh.
dengan kasar kiraa menyelipkan rambutnya di telinganya dan terus menulis.
"Arghh!"
lelaki itu terkaget saat mendengar suara kiraa, ia terperanjak dari duduknya.
"ck!" decaknya.
"eh... maaf loh, soalnya males banget nulis gini!" protesnya.
"makanya jangan buat masalah!"otak udang!"ucapnya sambil membenarkan posisi duduknya.
"heh! bisa bicara ya?"ia bersender.
"punya mulut kok"
"hehe, oh ya nama mu siapa sih?"
kiraa meletakkan penanya di bawah hidung.
"gak penting"
dia menutup matanya dan menaruh tas di mejanya agar menumpu kepalanya.
*bug!
ia merebahkan kepalanya seperti yang di lakukan orang di sampingnya.
"penting lah, masa nanti manggil 'hey hey!' gitu?"
mata kiraa dan mata lelaki itu bertemu, begitu indah nya momen ini, sampai sampai salah satu dari mereka tidak ada yang mau memutuskan tatapan itu.
"hey, namamu apa sih!"perkataan kiraa mampu memutuskan tatapan itu.
"ehem!" ia menegak kan tubuhnya.
"Revano!" ucapnya dengan dingin.
kiraa hanya ber 'oh ria,dan ia kembali menulis, ditatap nya lagi kierra dengan seksama, sampai membuat kiraa risih.
"kenapa sih! kalo suka bilang aja"
"cih"
tanggapan macam apa itu, kalo bicara itu niat sedikit kek!.
kiraa pasrah, biarlah lelaki itu berbuat semaunya, ia hanya ingin menyelesaikan tulisannya.
*kringg!
kiraa menghentikan kegiatannya sebentar lalu menatap lelaki tadi yang bernama reno atau revano, lelaki itu pergi keluar,kiraa menatap dengan rasa bingung.
kiraa dapat mendengar suara murid murid lain yang berteriak histeris, kiraa menutup telinganya.
"apaan sih!" kesal kiraa.
tiba-tiba seseorang masuk perlahan dengan santai, ia duduk di samping kiraa.
kiraa terbelalak, itu reno!, ya ampun kenapa ia masuk kembali!.
"tutup mulutmu bodoh!"
kiraa mengetup bibirnya dan menelan air liurnya, susah banget menelannya!.
"ck, situ yang bodoh kok aku yang dikatain,sadar diri!" gumamnya dengan kesal.
"diam lah,atau ku potong lidahmu!"ancam nya.
seketika kiraa mengetup bibirnya kembali, ia meneruskan tulisannya dengan tergesa gesa.
yang lainnya pun memasuki kelas, mereka tidak henti-henti nya menatap lelaki yang bernama reno itu dengan tatapan penuh kagum.
"ck, udah ber berbulan bulan kalian belajar disini tetap saja kagum dengan muka datar gitu? heh!"
ia benar benar mengutuki muka yang menurutnya tidak ada bagus bagusnya.
...---...
pembelajaran pun telah usai, kiraa merapikan buku-bukunya dan alat-alat tulisnya.
*tuk
"huh!" kiraa memutar bola matanya jengah, capek sekali rasanya, punggungnya juga sudah mengeluarkan suara.
"heh! ambilin!" suruh kiraa dengan menunjuk pena di antara kiraa dan reno, untungnya mereka duduk di bangku paling belakang.
reno hanya menatap pena itu,dan tidak berkata apapun.
dengan terpaksa ia mengambil pena miliknya.
"sialan!"gumamnya dengan badan yang ia tekuk dan tangan yang memanjang.
saat mendongak ia menatap reno yang juga menatap dirinya.
"hm!" ia melengos.