
kini kiraa telah siap dengan pakaian santainya, ia juga tidak tau dari mana baju baju yang ia kenakan, pasalnya ia hanya datang kerumah ini dengan membawa 1 atau 2 saja.
tapi karna ada yang lebih bagus di lemari kamarnya, kiraa langsung pakai saja,baju yang ia bawa masih berada di dalam tas dan tak tersentuh.
kiraa menuruni anak tangga, ia tak sengaja menatap dian yang berada di bawah, seperti dirinya, om dian berpakaian biasa.
"tau aja kalo aku tidak tau tempatnya!" benaknya.
kiraa mendekati sofa, ia terdiam melihat om dian yang duduk manis menonton televisi.
"ekhem!" dehem nya agar dian mengetahui keberadaannya.
namun nihil, om itu tidak menoleh atau terusik sedikitpun.
"ekhem!" dehemnya lagi.
ah, sudah lah!
"om dian!" teriak kiraa.
semua pembantu sontak menoleh, pelayan lelaki juga bergeleng geleng tak percaya.
"ya ampun, kiraa!"
"om gak tuli kok!" ia menutup telinganya dengan kedua tangannya.
namun kiraa tak mendengarkannya ia berjalan ke dapur mengambil beberapa buah segar dan beberapa minuman.
kiraa menoleh.
"eh- omong omong di mana ya tempatnya..." ia tersenyum canggung ke arah dian.
"ikut sini" ia berdiri dan menuntun kiraa ke suatu ruangan.
ruangan itu sederhana namun luas, warna dinding berwarna putih,lantai yang berdecit ketika di injak.
membuat kiraa sedikit bergairah untuk belajar.
"woah!" kagumnya.
"wih bagus banget" kata rara secara tiba tiba.
dengan cepat kiraa menutup mulut rara, rara pun menghilang dengan sendirinya.
"ini tempatnya"
"masuklah!"ucapnya memberi kode.
beberapa pembantu pun masuk, membawakan makanan yang kiraa ingin bawa tadi.
dan tak lupa beberapa alat untuk latihan, kiraa sangat terkagum kagum saat melihatnya.
"kiraa, ke sinilah"
dengan sigap kiraa mengikuti jalan dian.
"nih, lihat lah"
kiraa terkagum kagum kembali, ia melihat seseorang yang terdiam dengan warna tubuh yang semuanya putih, seperti patung dengan tombol di pipinya.
sungguh kiraa seperti menjelajahi masa depan yang bahkan ia tidak tau bagaimana gambarannya.
"woah! itu robot?"
"tentu"
"mau coba bertarung?"
"bisa?"
dian mendekati robot itu lalu menoleh ke arah kiraa.
"ya bisa lah"
dian menghidupkannya, lalu mundur, memberi tempat untuk kiraa.
kiraa memukul pelan robot itu, sekedar mengetes saja, namun yang tak di sangka sangka robot itu mendekat dan menyerang, tentu kiraa kaget, ia berlari tak tentu arah dan robot itu masih mengejar dirinya.
"om!" teriak kiraa, dian pun panik, bukan karna robot nya namun kiraa nya.
dan bisa bisanya kiraa berlari kearahnya dian, dian dan kiraa pun sama-sama dikejar oleh orang buatan yang bernama robot itu.
"ngapain di bawa kesini kiraa!" ia berlari sekuat mungkin, walaupun ia yang mempunyainya namun jika begini dia tidak berdaya juga kan.
"huff... om udah tua jadi harus sering sering lari..."
"om masih muda ya kiraa!"
dian akhirnya memencet tombol itu dan berubah menjadi warna merah.
robot yang sedang menindih dian pun ter jatuh,dian pun menangkapnya.
"kau boleh turun"ucapnya dengan nafas yang masih tersenggal senggal.
"eh-" kiraa pun sadar jika ia sedang berada di atas meja dan segara turun.
"huh... kenapa diam saja saat di serang?" ia memijat keningnya dengan penuh beban.
"aku tidak tau bagaimana cara dia melawan ku, jadi ya begitu deh, ngetes doang, hehe"
"sini ku angkat" ia menawarkan tenaganya untuk membantu dian mengangkat robot itu.
kiraa pun mengangkat robot itu.
"kalo mikir dulu saat mau ngelawan itu gak bakal bisa"
"gak semua orang bisa berfikir cepat, jadi pertama-tama kamu melawan menggunakan insting"
kiraa hanya terdiam dan sesekali mengangguk-angguk.
"sini"
dian mengatur robot itu untuk mendekap mulut kiraa, namun tidak terlalu kencang.
"kau bisa melakukan apa pun agar lolos dari dekapannya"
"wah giliran begini serius!"batin kiraa.
"jika kau berada di dekat barang-barang, semacam gelas atau apapun walau tidak tajam, sebaiknya kau berusaha untuk mengambilnya"
"mau mulai?"
kiraa mengangguk cepat, dian pun menghidupkan tombol di pipi robot itu.
saat kiraa merasa dekapan di mulutnya semakin kencang, ia dengan sigap melakukan aksinya.
ia ingin mencubit tangan robot itu, tetapi robot itu tidak mempunyai kulit, jadi ia tidak melakukannya,bakal sia sia usahanya.
kiraa sedikit berjongkok.
*bug!
ia membanting tubuh robot itu, tadi sebenarnya kiraa memegangi kepala robot itu.
jika ia benar benar didekap begitu oleh manusia, mungkin kiraa tidak akan melakukan hal itu.
"bagus, tahap pertama selesai dengan baik"
"udah dulu om" ia masih merasa sesak.
"istirahat lah"
"iya,iya"
kiraa duduk untuk meregangkan kakinya.
"om, nanti antarkan ke rumah bu kantin, ya"ia meneguk air putih.
"ha?bu kantin?"bingungnya.
"yang kemarin loh"
"bilangnya muda, tapi pelupa!" umpatnya.
"oh, kenapa?"
"mau jenguk, kemarin anaknya kecelakaan" ia mengingat ingat kembali lelaki itu.
"wah padahal masih muda"
"ohh" jawab dian singkat.
...---...
sekarang malam semakin larut, udara di tengah malam sangat lah dingin, udara terasa mencekam bagi kulit.
"kenapa ketinggalan sih!"
kata seorang gadis manis yang sedang mengumpati dirinya karena kelalaiannya.
"hiks... hiks!"
suara tangisan itu seperti meraba-raba telinga gadis tadi, ia sedikit terusik.
"diam! walau mau meminta bantuan pun,siapa yang mau membantu mu? haha!"
*sniff...
"kau!"
"tolong! hiks... tolong..." tangannya menjulur untuk meminta pertolongan, walaupun tidak terlihat wajah orang tersebut, air matanya mengalir deras seperti hujan.
yang di panggil pun menoleh, ia menatap lekat lekat.
"wah ada korban baru nih" ucapnya segerombolan lelaki itu tanpa malu.
"cih! jika kalian menyentuh ku, aku pastikan kalian hidup di penjara"
ia kembali menatap seseorang yang berlutut di tanah, air matanya terjatuh terus menerus.
dia mendekat.
"hah! kasian nya dirimu~"
"kalian! ini, ambil lah!"ia melempar sesuatu, tepat di depan seseorang yang tadi meminta bantuan.
mata mereka berbinar binar melihat beberapa lembar uang.
"wah wah! ternyata sangat kaya ya kau gadis manis!" ia mengambil kertas tersebut dengan penuh kegirangan, yang lainnya pun ikut menyentuh lembaran-lembaran itu.
"dasar mulut busuk" ia tersenyum geli mendengar perkataan segerombolan lelaki itu.
menurutnya, mereka tidak pantas untuk berkata dengannya seperti itu, ia juga punya selera yang tinggi.
dengan cepat ia berjalan menjauh dengan tongkat dan kacamata hitamnya.
seseorang yang tertunduk di tanah itu menatap tangannya yang kotor.
"sudah lah, menangis saja yang bisa kau lakukan!" ia berkata dengan nada yang tinggi.
seseorang yang berlutut itu mendongak melihat ke arah tembok, disana banyak sekali coretan-coretan tidak jelas yang menghiasi tembok tinggi itu.
ia mendekat, lalu membanting kan kepala ke dinding tersebut.
"k-kau"sontak mereka terkaget akan aksi nekat itu.
"oh~"
"apa karna kau tidak sanggup hidup lagi didunia ini hem?" ia berjalan mendekat dengan tatapan yang mengejek.
yang lainnya ikut tertawa puas.
*bug!