
"untung saja air nya tidak tinggi di atas lutut!" gumamnya tanpa sadar.
ia mengangkat roknya yang terasa berat.
saat sudah berada di permukaan, kiraa dengan cepat berkata "ini sebenarnya tubuh siapa?"
"e-eh"
"mana penjelasanmu?" ucapnya kembali dengan penuh tekanan.
"a-aku tidak pernah berpikir akan ada kesalahan seperti ini"
"t-tapi-tapi! mungkin ini bisa di sebut keberuntungan!" rara terus meyakinkan bahwa yang di rasakan kiraa adalah hal normal.
"keberuntungan dari mana!"
"hai?" sapa seseorang yang baru saja sampai.
kiraa langsung menoleh, menutupi rara yang sekarang berada di belakangnya.
"a-hai!" gugupnya, kiraa juga tersenyum canggung kepada orang itu.
"kau berbicara dengan siapa, kakak cantik?" bingungnya.
"kakak cantik?"
"aku? berbicara dengan siapa?"
"ya?..." jawab lelaki itu.
kiraa langsung mengangkat rara dan menunjukkannya didepan lelaki itu.
"kau ingin menunjukkan.. angin? kak?"
ia menajamkan pandangannya, menatap kiraa dengan tatapan tak bersahabat.
"tidak melihat ya?! baguslah"
"ah! tidak-tidak! lupakan saja~" elaknya, sambil mengibas-kibaskan tangannya.
"ini, roti selai kacang kesukaan kaka" ia memberikan sepotong roti ke arah kierra.
karna kiraa juga lapar, ia langsung mengambil roti itu, berpikir juga harus menggunakan tenaga bukan?.
"Terima kasih"
....
"kaka, seharusnya kakak pergi kerumah sebelum siang"tatap nya dengan dingin.
"lelaki baik, masalahnya kaka cantik ini tidak tau rumahnya sendiri"ia meringis sembari memakan rotinya.
" ya.. Terima kasih rudah mengingatkan"kata kiraa dibuat sesopan mungkin.
"ngomong-ngomong, kau mau kemana?"
lelaki itu tampak terdiam sejenak, bukan karna ia tidak bisa menjawabnya. nyatanya ia terus menatap kiraa dengan lamat.
sampai kiraa sendiri bingung harus bagaimana.
"aku sedang berjalan, ingin kemari"
"namun, tidak disangka-sangka aku menemukan kakak yang sedang santai duduk di air"
"hey! itu tidak disengaja ya!"
"oh, kalau begitu aku pulang terlebih dahulu, se-"
"sampai jumpa" jawab cepat laki-laki itu.
aneh.
"ra, aku harus bagaimana?"
"apanya yang bagaimana?"
"kau ini! aku tidak tahu rumahku dimana!"
"ya... maksudku rumah perempuan ini"
"aku juga tidak tahu, jadi jangan tanya aku" jawab rara.
sembari berjalan, kiraa menatap setiap toko atau pedagang disana. lumayan ramai menurut kiraa.
yap, memang berbeda jauh dengan pasar didunia kiraa. makanya rara sangat bingung dengan semua hal di dunianya, sekarang 'pun ia kebingungan di dunia orang lain.
"sangat.. sangat aneh jika pemilik tubuh ini menanyakan dimana rumahnya kepada orang sekitar, bukan?." ia sangat buntu kali ini.
"hmm... tapi! boleh dicoba dari pada kiraa tidak pulang, itu sama anehnya"
"kau benar, tumben pintar?"
"aku selalu pintar!!"
"ya, lah!"
-
"permisi..."
"ada apa?!"jawabnya sambil membersihkan gelas dengan kain.
"galak"
"apa disini ada yang bernama flora Azreimun yuna"
lelaki itu sontak mematung.
"orang lain yang tidak dikenal, tidak boleh mengetahui identitas seseorang begitu saja" ucapnya , ia kembali membersihkan gelas nya hingga benar-benar bersih.
"jika tidak kenal, mengapa saya begitu tau nama panjang flora dari pada anda?"
"saya dari keluarga nya yang ingin melihat keadaan flora saat ini"
lelaki yang sudah berkumis itu tersentak mendengar penjelasan kiraa.
"namun saya tidak tahu dimana letak rumahnya? apa anda bisa membantu?" ucapnya sekali lagi sebelum mendapatkan jawaban.
"kenapa jadi diskon?" bingung kiraa.
"kalau begitu saya permisi, Terima kasih atas segalanya" sopan kiraa dengan kalem.
namun tidak dijawab oleh lelaki itu.
"emmmh yumami!!"ucap rara setelah berusaha berdiam tanpa berbicara dengan kiraa.
ia melirik, menatap rara yang begitu senang.
"kau suka yu.. yu.."
"yumami kier!"
"nah"
"apa itu?"
"kau akan tahu jika sudah melihatnya, karna aku bingung bagaimana harus memberitahu mu..."
"ya, ya! sekarang aku yang tidak mengerti apa-apa di duniamu!"
sekarang kiraa dengan mudah menemukan rumah pemilik tubuh yang ia huni ini.
namun,bisa dipastikan sebelum hasil yang bisa dibilang memuaskan ini, tentu ada waktu dimana kiraa akan di susahkan.
"kita mulainya dari mana?" bingung rara.
"tentu langsung bertanya dengan orang sekitar, lah"ia langsung berjalan ke arah salah satu toko yang menjadi targetnya untuk ia tanyai.
"ey, tunggu dulu!"dengan sekuat tenaga rara menarik kerah baju kiraa.
"ada apa sih?!"
rara menunjuk kantong kain yang berada di pinggang kiraa.
"sejak kapan ada kain di pinggangku?" ia mengambilnya.
saat dibuka, ia melihat kertas kecil yang digulung beserta beberapa koin didalamnya.
"mata uang apa ini, sih?!"histerisnya.
" wah ada uang didalamnya!"Gembira rara.
"berarti bisa beli makanan dong?"
"makanan..."
"eh! ra, kalau ini bisa di gunakan untuk membeli makanan, berapa banyak roti yang aku dapatkan?!"
"kau sangat menyukai roti ih! yang lain dong!" kata rara tidak suka, menurutnya kiraa sangat tidak adil.
"jawab aja!" ucapnya sambil tersenyum tipis yang menyeramkan.
"iya, iya! lima!!"
"gadis baik!"
"jika uang segini bisa membeli 5 roti, maka apa yang bisa aku dapatkan? "
"melihat baju ku yang lumayan bagus dari yang lain, sepertinya aku orang yang lumayan mampu,orang yang mampu tidak mungkin membawa uang sedikit.. setidaknya gadis ini tidak semiskin itu 'kan?"
"kierra! coba liat, dia menuliskan sebuah catatan!"
ia menunjukkan kertas kecil tadi yang bersama uang koin.
kiraa langsung menyambar kertas itu.
saat dilihat, sungguh, bahasa apa itu...
"ra, kau bisa membacanya?"
"tentu"
"dia menulis, flora Azreimun yuna r-roti... li-"
"lima?"
"kok... tahu?"
"kierra gitu, ngomong-ngomong, sekarang roti sangat langka ya?"
"ya begitulah, sekarang cuaca sering berubah-ubah, dan orang-orang yang sering membuatnya kini berkurang..."
"jadi, walaupun sekedar roti, mereka sudah menganggap dirinya seperti orang kaya saja"rara tertawa kecil, menurutnya sangat lucu.
kiraa tiba-tiba merasa tujuannya untuk pergi kerumah semakin kuat, di bantu oleh catatan, uang, pengalaman rara, dan tentu kepintaran nya yang entah datang dari mana.
"jangan salahkan aku, jika uang mu disalah gunakan ya?" ia tersenyum kecil.
dan akhirnya ia mengajak rara untuk membeli sebuah kain, untuk menutupi dirinya agar tidak ada yang mengenalnya.
"tapi ngomong-ngomong aku bisa kembali 'kan?" tanyanya.
"ya, seharusnya bisa sih,kan kamu dari sana"
"jangan berkata 'seharusnya'."
"hehe..."
"kierr!! itu toko yumaminya!!" gembiranya, sambil menunjuk-tunjuk sebuah toko yang sedang dibanyaki pengunjung.
dengan cepat, rara terbang kearah toko itu, ia menatapnya binar.
"weah..." melihat makanan itu, rara sampai meneteskan air liurnya.
"sshtt! kita bukan mau makan ra~" kiraa menarik rara hingga sampai di toko sebelahnya.
mereka berdua pun masuk ke toko itu.
"ini milik perempuan ini?" gumamnya begitu tak percaya dengan toko yang lumayan besar itu.
saat kiraa datang, semua orang menoleh, lalu kembali ke dunia mereka sendiri.
"flora!!"