
Beberapa peregangan ia lakukan, ia tidak menyia-nyiakan waktu yang berharga ini.
Mungkin di lain hari, sewaktu liburan kiraa tidak akan melakukan hal ini lagi.
"aku penasaran bagaimana reaksi alya saat ini"
"kemarin cesa mengatakan bahwa aku di kejar pesuruh lucy? Bukannya itu yang aku inginkan?" gumamnya lebih lanjut.
*tuk!
"Awww!" pekik kiraa sambil memegangi kepala belakangnya.
"Siapa yang melemparkan kaleng begini?!"
"Aku" ucap leona tiba-tiba dari arah belakang.
Sontak kiraa langsung berbalik dan menatap kedua orang itu.
ia memutar bola matanya dengan jengah.
"Ish, kenapa kierra tidak membangunkan leona dan cesa!" protes cesa.
Bangun-bangun dengan mata yang masih sayup memanglah sesuatu yang biasa di lakukan setiap paginya, tidak perlu bersiap-siap untuk sekolah, memang menyenangkan, namun saat membuka mata dan melihat salah satu temannya yang sudah tidak berada di sampingnya, itu membuat khawatir dan sekaligus kesal.
Uh, tapi untungnya, bukan hanya dirinya yang bernasib seperti itu.
"Kurasa kalian bisa bangun sendiri, jadi tidak perlu"
Kata kiraa dengan santai.
"Jadi apa arti pertemanan kita?!" seru cesa mendramatis.
"sudah lah, jangan memperpanjang masalah"
"Jadi kenapa kau keluar? berolahraga?"
"Iya, bukannya matahari pagi sangat bermanfaat?"
"Iya iya! jangan tanya balik!"leona mngibas-kibaskan tangannya.
"Tapi...kalau ramai seperti ini bukannya lebih baik ada pemandunya?"
Cesa melihat sekeliling.
"Anggota OSIS sepertinya sibuk dengan masalah yang kemarin,jadi tidak bisa memandu"
Kiraa menggelengkan kepalanya, sungguh, perutnya seperti di penuhi kupu-kupu yang berterbangangan.
"Yang harus memandu seperti ini biasanya anggota osis atau guru!"leona menjelaskan.
"Kau kan anggota osis, tidak ada kerjaan juga, kenapa tidak kau saja yang memandu?"ucap cesa kembali.
"Kier, ini teman mu semakin berani saja"ia menunjuk kening rara.
"kan dia selalu mengikuti kita, jadi wajar jika begitu"
"Ngomong-ngomong, itu juga temanmu"
"Tapi, dulu tidak seperti ini"
Leona menunduk agar bisa melihat wajah cesa dengan seksama.
"Sudah lah, lebih baik kita jalan-jalan saja"
"Aku juga ingin membeli makanan"
"Hah? Kau bawa uang?"cesa kembali menatap kiraa dengan bingung.
Kiraa mengerjap.
"Tidak"
"Terus pakai uang siapa?"
"Sebentar, aku akan ambil uangku"
Cesa melangkahkan kakinya, namun seketika ia terpaku saat mendengar perkataan Leona.
"Aku yang akan bayar,kau tidak mau, huh?"
"Eh-"
-
"Kita akan kemana?"
Tanya leona.
"Ntah" jawab kiraa jujur.
Ia benar-benar hanya ingin berjalan saja tanpa gangguan.
Terlihat dari wajahnya, kiraa seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Berjalan bersama temannya bukanlah sesuatu yang membahagiakan, namun membawa uang berjalan itu sangat membuatnya tenang.
Kan,tidak perlu khawatir saat ingin membeli sesuatu, uang simpanan pun aman.
"Eh, leona?" panggil seseorang tiba-tiba.
Membuat 3 gadis itu menoleh.
"Oh?" ucap leona dengan raut wajah datar.
"Kau juga sedang berjalan-jalan?"ia mendekat dengan perlahan.
"ya... Seperti yang kau liat"
"Tapi aku bingung, kenapa kau bisa ada disini juga"
"Seperti kamu, aku juga mempunyai luka di tangan"
"melepuh karna tertumpah air panas, itu sangat perih,jadi bagus untuk dijadikan alasan"jelasnya tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Ia tersenyum lebar ke arah leona, kierra dan cesa, ia juga sama seperti leona yang berjalan-jalan dengan temannya.
"oh"
"Kalau begitu nikmati liburan kalian, aku juga akan menikmati liburan sehari ku!"
Ia lagi-lagi tersenyum manis, kierra dan cesa membalas walau itu senyuman kaku.
Setelah orang itu pergi, baru kiraa berani membuka suara.
"Wah, sepertinya kalian lumayan dekat"ia masih menatap kepergian gadis itu beserta temannya.
"Kata siapa?"
"Kita tidak berteman, hanya dia yang mudah berbaur"
"Oh, kukira..." ucap cesa.
"Jadi kalian berdua anggota osis?"kiraa bertanya.
ia sedikit penasaran dengan hubungan antar sesama osis itu, setidaknya biarkan dirinya mengetahui isi sekolahnya sendiri.
"Ya, itu saja"
"Makanya kau berkata seperti tadi"
Setelah itu mereka terdiam, sama-sama tidak berani mengomentari kembali kejadian tadi.
-
"Aku ingin permen kapas!" rengek cesa saat melihat lelaki tua yang berjualan permen kapas di pinggir taman.
Dengan berat hati leona menuruti permintaan dua iblis kecilnya.
"Enak banget kalian ya!"
"Terlihat banget ya?" ucap kiraa sembari tersenyum-senyum tidak jelas.
kiraa tertawa keras.
Leona terus membuntuti kedua orang yang didepannya kemanapun mereka pergi, tentu tanpa bertanya 'kemana'.
"Sstt!!" bisik cesa, ia juga menyenggol lengan kiraa.
"Kenapa?" balas kiraa, tak kalah pelannya.
"Liat tidak?"
"Tidak tuh"
"Itu!"ia mengarahkan dagunya ke suatu arah.
"ish!"walaupun begitu, ia tetap menoleh.
" mereka?..."kiraa bergumam, namun dapat di dengar oleh cesa.
"Iya, bukannya itu murid baru?"
"Hmm, hmm"ia tetap menikmati permen kapasnya.
Siapapun itu, kiraa mana peduli, yang terpenting permen kapas nya habis di dalam mulutnya, takutnya saja,permen itu hilang karna terkena angin, bukannya sangat disayangkan?.
"mereka jadi pembicaraan ter-panas di sekolah..."
"Aku mau sapa mereka" inisiatif nya.
"Hai!"
Teriak cesa, kiraa masih sibuk dengan makanannya tanpa mendengar suara nyaring teman di sampingnya.
"Eh kier, mereka menatap ku kembali" dengan lugu ia menurunkan tangannya perlahan-lahan.
Kiraa kaget saat mendengar ucapan cesa, ia langsung menatap kearah depan, dan benar saja, beberapa pasang mata melihat ke arah kiraa dan cesa dengan bingung.
"Kamu ngapain? Sampai mereka menoleh begitu!" panik kiraa.
"Loh, kan aku sapa mereka" ia tetap membalas pertanyaan kiraa dengan jujur.
"Dasar!"
Dengan cepat jemari-jemari kiraa terulur untuk menggenggam erat pergelangan cesa.
Mengajaknya kabur, dari pada tetap tinggal dan menahan rasa malu.
"Tadi kau berpikir apa sih, sampai-sampai berani menyapa mereka?!" teriak kiraa sambil terengah-engah.
"Kan tadi aku sudah bilang, aku cuman menyapa saja!" jawab cesa dengan nyaring, ia terus berlari mengikuti lengan nya yang ditarik.
"Huft... Huft!.." suara hembusan nafas kedua gadis itu yang seperti berlomba-lomba.
"Tapi ngomong-ngomong dimana leona?"
Ia baru sadar, seperti ada sesuatu yang terlupakan.
"Entah, kan kamu yang mengajak ku kesini, kau bertanya kepadaku, aku bertanya kesiapa?" cesa menampangkan wajah lugunya yang membuat kiraa tak kuasa berlama-lama marah kepada gadis itu.
"Hei?"
Tiba-tiba suara leona datang arah samping.
"Kalian kenapa?" ia mengerutkan dahinya.
"Tadi kam-"
"-Tidak sedang apa-apa, kau sendiri dari mana?"lanjut kiraa, pasalnya ia membungkam mulut cesa secara paksa.
"Oh... Aku tadi bertemu dengan anggota osis lain"
"Eh! Ngapain?" bingung kiraa.
"Ck, masalah rapat"
"Padahal belum ada sehari..." gumamnya pelan.
"Hidup memang berat, jadi semangat ya!"antusias cesa.
"Ya,ya!"
"Ehh..."
Tiba-tiba suara ponsel cesa berbunyi.
Ia langsung bergegas mengambil benda pipih itu dari saku nya.
...
"Kierra, leona aku pergi dulu ya!"
"Katanya bibi ku lagi banyak pesanan roti, karna tau aku libur, dia memintaku membantunya untuk sementara"ia memerhatikan ponselnya sambil menjelaskan secara rinci maksudnya.
"Oh? Oke..."
"Tadi kau berkata roti?"ia memastikan apa yang ia dengar.
"iya...?" bingung cesa.
"Bawakan aku saat kau pulang ya"
"Oke!" jawab cesa dengan senyum yang mengembangkan.
"Tanpa biaya?" kiraa semakin semangat saat mendengar perkataan cesa.
"Iya,iya"senyum nya tetap tidak pudar, masih terus mengembang seperti bulan.
....
" kau baik - baik disini, jangan kemana-mana"
"Ingat, kau masih jadi buronan lucy" lanjut leona.
"Iya, iya!"
Ia memutar matanya jengah, menurutnya leona berlebihan dalam menanggapi kelakuannya.
"Saat aku rapat, bersihkan kamar ku ya?" mohon nya, ia terus menerus mengedipkan matanya.
"Ternyata..."
-
*srakk!!
"Dasar!!" teriak kiraa.
"Kau pikir dengan meninggalkan masalahmu kepadaku dapat membuatku berhenti, hah?!"
Ia berjongkok.
"Kierra, mantan anggota pembuli?" ucapnya dengan tajam.
"Ck, ck ck"
"Terasa sangat aneh jika kau mengumpati kierra dengan tubuh nya sendiri"kekeh nya.
*tuk.
Sebuah topeng jatuh mengenai sepatu manis nya yang sudah terlumuri darah.
"Makan lah."ujarnya.
"wah, kau sangat baik, namun ini bukan lah bayaran oke?" ia menarik ujung bibirnya.
Makan apa? Tentu saja memakan kelinci yang sudah di potong-potong oleh alya sendiri.
"Aku tidak pernah merasa sekesal ini, namun kekesalan itu membuatku sangat tidak sabaran"