
"hey... hey!"
ia menepuk-nepuk punggung kiraa
"hah?" kaget kiraa.
"kau sedang apa?"
"di luar dingin"
"kau terlihat pucat!"cemas cesa saat melihat kiraa dengan kondisi yang memprihatinkan.
"hah...apa?" ia masing terlihat sangat bingung.
cesa bertambah khawatir saat kiraa bertingkah aneh.
"ayo masuk dulu..." ajaknya.
dengan patuh kierra melangkah, ternyata ia hanya bermimpi, namun kenapa ia bermimpi dengan keadaan berjongkok.
"sebentar lagi waktu makan malam"
"mereka sudah bersiap-siap untuk makan, kita juga harus bersiap" cesa terus memegangi tangan kiraa tanpa longgar sedikitpun.
*cklek...
kiraa terpaku melihat banyak nya orang di tempat itu.
"ayo kita cari tempat sunyi" bisik cesa.
ya, walaupun mereka berdua jalan didepan semua orang, bagai angin lewat, mereka tidak melihat kiraa dan cesa.
"apa kau baik-baik saja" ia mendudukkan kiraa di bawah lantai yang beralas karpet.
"aku tidak apa-apa" elak kiraa.
"tapi kau terlihat pucat, sakit kah?"
"tidak tidak, mungkin hawa dingin diluar membuat kulitku berubah warna menjadi lebih putih"
"aku harap begitu..."
"apa kau mau makan dengan ku?..." ucapnya dengan ragu-ragu.
"ha? tentu"
"tapi kenapa tidak bergabung dengan mereka"
"a-ah itu, k-kita bisa berbicara berdua saja, karna disana terlalu bising, j-jadi biarlah hanya kita berdua..."
"niatku..." lanjutnya.
mereka pun sama-sama berdiam diri.
"yaudah, bawa makanannya kemari"
"b-baik!" antusias cesa.
saat kepergian cesa, kiraa tersenyum geli melihat keantusiasannya itu.
kiraa melihat lihat sekitar, awal masuk, ia sudah kagum dengan tempat ini, karna tempat yang kata cesa adalah tempat makan utama ini sangat lah luas.
beberapa saat kemudian cesa kembali dengan membawa dua mangkuk dan minuman.
"apa kau mau menonton sesuatu?"
"mau, film apa?"
"emm, film. romantis?..." ucapnya dengan wajah yang memerah sangking malunya.
"wah, kau suka yang begituan ya ces?!"
"eh..."
"gak gitu,hanya sedikit..."
"santai saja"
"ayo" ajak kiraa.
dengan tergesa gesa cesa membuka kaca jendela, kiraa sempat bingung, namun setelah itu kiraa terkaget.
cesa membawa laptop di genggamannya.
"kau menyembunyikannya di luar?" heran kiraa.
"ya, takutnya akan di ambil jika di taruh sembarangan"
"benar juga"
--
"ya ampun"kiraa segera menutupi pandangan cesa dengan telapak tangannya.
"hey!"
"kau masih terlalu kecil untuk melihat hal seperti itu"
"tapi kenapa kau tetap melihatnya?!"
"karna aku sudah tua!"
"terserah aku dong!"
"kalian sedang apa?"
tiba-tiba seseorang wanita datang menghampiri kiraa dan cesa.
"eh-"
dengan cepat kiraa menutup laptop tadi yang digunakan untuk menonton film.
"t-tidak ada b-bu..." jawab mereka serentak.
"makan malam sudah selesai, kalian boleh kembali ke kamar kalian masih masing"
"ba-baik bu..."
akhirnya wanita itu pergi dari hadapan cesa dan kiraa.
"huh, untung..."
"cesa...hiks... "
dengan mata yang berkaca kaca ia memegang lengan cesa.
"k-kenapa?! "
"kan belum ketahuan!"
"aku harus tinggal dimana?"
"ha?"
"aku tidak punya baju di sini..."
cesa terdiam
"kau bisa memakai baju ku..."
"Aaaa, cesaa!!!!"
"udah udah,ayo kembali kekamar"
"tapi sekamar dengan mu ya?"
"iya iya!"
...---...
"udah tidur?" gumam kiraa.
namun ia tidak mendengar jawaban, sudah di pastikan cesa telah tertidur sangat lelap, jadi kiraa bisa leluasa.
dengan pelan kiraa menapakkan kakinya ke lantai.
ia mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di meja belajar cesa.
saat di hidupkan, mata kiraa menyipit merasakan silaunya cahaya ponselnya.
"aku tidak mempunyai nomer om ya?" tanya nya kepada diri sendiri.
setelah mengetik nomer, kiraa segera menelpon orang tersebut.
sialnya, beberapa kali kiraa menelpon namun tidak mendapat jawaban.
beberapa detik kemudian.
"aarg!! sudah lah!-"
"ada apa hah?!"
terdengar suara serak dari arah ponsel, dengan cepat ia menempelkan ponsel itu ke daun telinganya.
"h-halo om?"
"cepat! ada apa!"
"om mau tidur lagi!"
"ehehe" ia tersenyum senyum tidak jelas.
"om besok bawa barang-barang kiraa ya, semacam selimut dan lainnya"
"kau tidak memiliki barang disini"
"eh-"
"aku tau om..."
"terus?"
"tapi gak boleh minta gitu"
"om jahat bang-"
"iya iya!"
"udah sana!"
"eh tunggu dulu-"
"besok bawain kotak makan juga ya?"
"KIERRA" sebut dian dengan nada tinggi.
"eh- iya iya sampai jumpa om semoga mimpi indah!" ucap kiraa tergesa gesa.
dan akhirnya percakapan itu berakhir di tangan kiraa.
setelah cukup puas berbicara dengan omnya, ia segera duduk di kursi.
kiraa berniat tidur di kursi saja dari pada tidur dengan cesa.
ia mengambil selimut cadangan cesa yang ia simpan di lemari.
"aku masih bingung, kenapa orang itu membantu ku sejauh ini"
"apa karna ia kasihan melihat ku?"
"mungkin begitu"lanjutnya.
"hoammm..."ia menguap.
" intinya aku masih tidak berani berkata terimakasih atas kebaikannya..."
"toh... bisa saja dia mencelakai ku kapan saja..."
setelah berbicara dengan dirinya sendiri, kiraa tertidur dengan posisi duduk.
tidak peduli sepegal apa dirinya nanti saat di pagi hari, yang terpenting ia tidak mengganggu cesa yang selaku pemilik kamar.
...---...
"hoammm!!"
*bruk!
"aduh!!"pekik kiraa saat dirinya sudah berada di lantai dengan keadaan mengenaskan.
"pagi-pagi sudah mendapat pertanda...ouchh.."ringinsnya memegangi bokongnya.
dengan perlahan ia membuka matanya.
ia melihat cesa yang masih tertidur dengan posisi yang tak bisa di gambarkan.
sangat abstrak.
"aku yang terakhir tidur kenapa aku pula yang bangun se pagi ini?, cih" ia memegangi ujung meja untuk membantu dirinya berdiri.
lagi-lagi ia mengusap bokongnya.
"keluar saja lah!"ucap kiraa.
ia membawa baju sekolahnya untuk di cuci.
setelah sampai di luar, ia terlihat kesal ketika mesin cucinya sudah di gunakan oleh orang lain.
sejujurnya malas, namun bagai mana lagi, ia harus menggunakan mesin cuci bersama yang bisa digunakan untuk pihak laki laki maupun perempuan.
dengan jalan yang malas dan mata yang masih sipit, kiraa membawa katong plastik nya ke tempat yang kemarin ia gunakan untuk makan malam dan menonton film.
" hoammm! "ia menutup mulutnya.
sambil menunggu, sebaiknya ia melihat keluar agar cepat-cepat membuang rasa ngantuknya.
tangan kiraa terulur membuka jendela di depannya.
saat ia mengusap hidungnya dan memperjelas penglihatannya, ia terkaget, melihat seseorang yang menempelkan kedua lengannya di jendela.
"oh, hai"sapa nya dengan dingin.
"kau!-"
tiba-tiba matanya terbelalak, seperti meminum kopi di pagi hari.
orang itu tidak menjawab, dia naik ke jendela dan masuk ke ruangan itu, sontak kiraa memundur beberapa langkah.
"kau sedang apa?!" tanya kiraa tidak sopan.
"menurutmu?"
ia terdiam.
"kau sedang apa?"
bukannya menjawab reno malah bertanya kembali.
"aku sedang mencuci, lihat lah"
"buat apa mempunyai mata jika tidak di buat untuk melihat" sinis kiraa,ia menunjukkan mesin cuci yang menyala dengan dagunya.
"seperti itu lah aku"
"ha?" bingung nya.
reno berjalan mendekati mesin cuci kiraa dan memasukkan bajunya ke dalam.
"aku ingin mencuci" dinginnya.
"dia tidak punya plastik apa?! membawa bajunya di dalam bajunya!" ucap kiraa di benaknya.
"hey hey hey!"
"siapa yang mau berbagi mesin cuci dengan mu?"
kiraa mematikan mesin cuci dan menaruh baju reno yang basah ke mesin cuci yang satunya.
"terserah aku" ia kembali mengambil bajunya dan kembali memasukkannya ke mesin cuci kiraa.
"heh, siapa yang memperbolehkannya?!" ia menepis lengan reno dengan kasar.
"apa kau pemiliknya?"
"bukan tapi akulah yang pertama datang!" elak kiraa.
perdebatan sengit oleh sesama keras kepala itu berlangsung lama, hingga suara mesin cuci kiraa berhenti.
mereka terdiam, dengan cepat kiraa mengambil baju yang di pegang reno dan memasukkannya ke mesin cuci kiraa, sebaliknya, kiraa mengambil baju nya dan memasukkannya ke mesin cuci sebelahnya.
ia sekarang sedang mengeringkan seragamnya.
"tuh, puas kan?" kata kiraa dengan nada tinggi.
"tapi itu sama saja bukan?"
"beda!"
"beda tujuan, mengerti?"